Konsultasi Islam

Mengatasi Masalah dengan Syariah

AMAR MAKRUF NAHI MUNGKAR

Posted by Farid Ma'ruf pada 13 Januari 2007

Soal:

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan amar makruf nahi mungkar? Apa pula yang dimaksud dengan mengubah kemungkaran (taghyîr al-munkar)?

Jawab:

Amar makruf nahi mungkar merupakan salah satu ciri yang hanya dijumpai pada kaum Muslim; tidak ada pada umat-umat lain. Bahkan keistimewaan umat Islam justru dicirikan dengan adanya sifat amar makruf nahi mungkar. Banyak ayat yang menyebut tentang amar makruf nahi mungkar dan menggandengkannya dengan sifat-sifat kaum Muslim. (Lihat: QS Ali Imran [3]: 110).

Menurut mufasir al-Qasimi, sifat tersebut (yakni amar makruf nahi mungkar, pen.) menjadi keutamaan yang Allah berikan kepada umat Islam, dan tidak diberikan kepada umat-umat lain (Al-Qasimi, Mukhtashar Min Mahâsini at-Ta‘wîl, hlm. 64, Dar an-Nafa’is).

Yang disebut dengan makruf menurut timbangan syariat Islam adalah setiap itikad (keyakinan), perbuatan (amal), perkataan (qawl), atau isyarat yang telah diakui oleh as-Syâri‘ Yang Mahabijaksana dan diperintahkan sebagai bentuk kewajiban (wujûb) maupun dorongan (nadb). (Dr. Muhammad Abdul Qadir Abu Faris, Amar Ma‘ruf Nahi Munkar, hlm. 19, Darul Furqan).

Dengan demikian, beriman kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya; pada Hari Akhir, surga dan neraka, dan lain-lain dianggap sebagai perkara yang makruf dan diperintahkan, serta terkait dengan itikad (keyakinan/keimanan). Pelaksanaan shalat, shaum, zakat, haji, sedekah, berjihad fi sabilillah dan sejenisnya; tercakup di dalam perbuatan-perbuatan (amal) yang makruf. Mengucapkan kata-kata yang haq, memerintahkan untuk menjalankan kewajiban agama, dan melarang terjerumus dalam hal-hal yang diharamkan; juga tergolong pada perkara yang makruf.

Jadi, makruf disini berarti al-khayr (kebaikan). Oleh karena itu, amar makruf berarti perintah atau dorongan untuk menjalankan perkara-perkara yang makruf (kebaikan), yang dituntut atau didorong oleh akidah dan syariat Islam.

Sebaliknya, yang dinamakan dengan mungkar menurut timbangan syariat Islam adalah setiap itikad (keyakinan/keimanan), perbuatan (amal), ucapan (qawl) yang diingkari oleh as-Syâri‘ Yang Mahabijaksana dan harus dijauhi (Abu Faris, ibid, hlm. 20, Darul Furqan).

Dengan demikian, syirik kepada Allah, percaya pada ramalan bintang dan dukun, menyandarkan nasib pada mantera-mantera dan paranormal, dan sejenisnya, adalah keyakinan yang mungkar. Begitu pula minum-minuman keras (khamar), berzina, mencuri, ghîbah, berdusta, bersaksi palsu, tajassus (memata-matai) seorang Muslim, korupsi, suap, meminta bantuan militer kepada negara kafir untuk memerangi sekelompok umat Islam, tunduk pada dominasi negara-negara kafir, menelantarkan urusan rakyat, mengambil harta milik masyarakat (milik umum) tanpa legislasi syariat, menjalankan hukum thâghût (selain hukum Islam), dan sejenisnya; termasuk tindakan-tindakan mungkar.

Jadi, mungkar di sini berarti as-syarr (keburukan). Oleh karena itu, nahi mungkar berarti perintah untuk menjauhi perkara-perkara yang mungkar (keburukan), yang dihindari oleh akidah dan syariat Islam. Amar makruf nahi mungkar diwajibkan oleh syariat Islam. (Lihat: QS Ali Imran [3]: 104).

Adapun taghyîr al-munkar (mengubah kemungkaran) adalah juga diwajibkan atas setiap Muslim. Hanya saja, caranya telah ditentukan oleh Rasulullah saw. Beliau bersabda:

«مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَاِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَاِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ،
وَ ذَلِكَ اَضْعَفُ اْلإِمَانِ»

Siapa saja di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya; jika tidak mampu, hendaklah dengan lisannya; jika tidak mampu, hendaklah dengan hatinya. Akan tetapi, yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman. (HR Muslim).

Menurut Qadli Iyadh, hadis itu terkait dengan sifat-sifat seseorang tatkala mengubah kemunkaran. Orang yang hendak mengubah kemungkaran berhak mengubahnya dengan berbagai cara yang dapat melenyapkan kemungkaran tersebut, baik melalui perkataan maupun perbuatan (tangan). Jika seseorang memiliki dugaan kuat (yakni jika diubah dengan tangan akan muncul kemungkaran yang lebih besar lagi, seperti menyebabkan risiko akan dibunuh atau orang lain bakal terbunuh karena perbuatannya), cukuplah mengubah kemungkaran itu dilakukan dengan lisan; diberi nasihat dan peringatan. Jika ia merasa khawatir bahwa ucapannya itu bisa berakibat pada risiko yang sama, cukuplah diingkari dengan hati. Itulah maksud hadis tersebut (An-Nawawi, Syarh Shahîh Muslim, jilid II/25).

Berdasarkan hal ini, seseorang yang mampu mengubah kemungkaran. Yang dimaksud dengan mengubah kemungkaran melalui hati adalah menasihati pelaku kemungkaran, kemudian (jika hal itu dilakukan, atau tidak mampu dilakukan karena adanya risiko kemungkaran yang lebih besar) memutuskan hubungannya dengan kemungkaran dan pelakunya melalui tindakan: tidak duduk bersama-sama pelaku yang tengah melaksanakan kezaliman atau tindakan mungkar; tidak minum-minum (khamar) bersama-sama; tidak makan-makan (makanan yang haram) secara bersama-sama dengan pelaku, tidak melayani/memfasilitasi dan mendorong mereka melakukan kemungkaran; dan sebagainya.

Dari paparan tersebut tampak bahwa pihak yang paling bertanggung jawab dalam melakukan amar makruf nahi mungkar dan mampu mengubah kemunkaran dengan tangan (kekuatan) adalah pemerintah atau negara. Negara memiliki seluruh pranata yang memungkinkannya bisa menjalankan amar makruf nahi mungkar dan melenyapkan kemungkaran dengan tangan (kekuatan)-nya seketika.

Masalahnya, di tengah-tengah kaum Muslim saat ini pemerintah atau negara telah berubah menjadi dâr al-kufr, syariat Islam diganti dengan sistem hukum thâghût, sekularisme dijadikan dasar negara, kedaulatan bukan di tangan Allah Swt. melainkan manusia (yaitu rakyat), kekufuran merajalela di seluruh lapisan, dari dasar hingga ke cabang-cabangnya, ideolologi kufur (seperti Komunisme, Kapitalisme-Demokrasi dan semacamnya) merajalela dan menjadi panutan kaum Muslim, bahkan dibelanya mati-matian. Artinya, negara telah menjadi pelaku atau pemelihara kemungkaran itu sendiri. Lalu apa yang harus kita lakukan?

Jawabannya, bahwa kaum Muslim saat ini harus terlibat dalam proses taghyîr al-munkar secara global dan inqilâbî (revolusioner). Caranya adalah dengan mengembalikan lagi sistem hukum Islam melalui eksistensi negara yang mendasarkan diri, menjaga, melaksanakan dan mempropagandakan akidah dan syariat Islam; yaitu melalui Negara Khilafah yang merujuk pada manhaj Nabi saw. Tentu saja, semua itu harus melalui tahapan/metode yang dilandasi oleh perjalanan Rasulullah saw. membangun Negara Madinah, bukan berdasarkan metode lain.

Jika di tengah-tengah kaum Muslim tidak terbersit upaya untuk mengubahnya, bahkan dengan hati sekalipun (membiarkan dan tidak peduli dengan kondisi kaum Muslim saat ini yang didominasi oleh kekufuran), berarti iman dalam dirinya telah sirna, dan kemungkaran akan menyelimuti seluruh umat manusia. Pada akhirnya, pintu azab Allah yang sangat pedih akan terbuka. Rasulullah saw. bersabda:

«وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلاَ
يُسْتَجَابُ لَكُمْ»

Demi jiwaku yang ada dalam genggamannya, kalian memerintahkah kemakrufan dan mencegah kemungkaran atau Allah akan menimpakan azab atas kalian, kemudian kalian berdoa kepada-Nya, lalu doa kalian tidak akan dikabulkan. (HR at-Tirmidzi).

[AF]

 

About these ads

4 Tanggapan to “AMAR MAKRUF NAHI MUNGKAR”

  1. latiaf said

    Bismilahirrahamanirahim
    Dalam menegakan amal makruf nahi mungkar…sering terjadi kekerasan dan penzoliman dari pemerintah kepada golongan lain dengan kekerasan,dengan undang2,dengan membubarkan atau dengan mengusir…
    Serpti sering kita saksikan di negara2 Arab,dimana gol.islam minoritas(syiah Sufi dll) dianggap ajaran sesat dan kemudian dilarang dan di zolimi.

    Kalau kita lihat di Indonesia, ada golongan islam yang melempari restaurant yang berbuka bulan puasa…MUI mengharamkan Ahmadiha Jil dll

    Apakah begini dlm menegakan Syariat islam yang anti kekerasan itu,anti diskriminasi?

    Akibat yangpaling buruk sekarang ini adalah dimana gol.Syiah dan Sunni Radikal saling bunuh membunuh karena berbeda agama.Sedangkan mereka semuanya adalah bersaudara seiman(QS.49:10-11).

    Jadi melihat kepada Hadist ditas tadi,golongan yang kuat menggunakan Hadist itu sebagai justify untuk menghantam gol.islam lain2nya.

    Sesunguhnya ajaran islam yang dibawa oleh Rasul adalah ajaran islam yang berkasih sayang.Musuh sendiri pun haruslah di cintai dan kasihi asal mereka tidak memerangi Agama dan Rasul.seperti ayat dibawah ini.
    Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang(yahudi,Nasrani,Ahmadiah dll) yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (QS.60:8)

    Kemudian Rasul menjelaskan ayat diatas;
    Kamu belum lagi beriman kepada Ku,kalau kamu belum mencintai tetangga kamu(baik islam maupun non islam) HR Muslim

    Jelaslah bagi kita bahwa ulama2 yang berkuasa tidak dibenarkan menzolimi, diskriminasi terhadap gol.islam yang berbeda pendapat dan berbeda aqidah, berbeda agama, walaup[un anti Tuhan sekali pun. Ulama2 haruslah berlaku adil, tolerensi dan anti diskriminasi.

    Demikian respond saya terhadap:cara menegakan amal makruf nahi mungkar.Semoga bermanfaat
    wassalamu’alaikaum wr wb

  2. sufian said

    DAKWAH TO NON-MUSLIM
    2 02 2010

    Dakwah means to proclaim and tabligh means to convey. Allah has ordered us to proclaim or to convey the Great Kalimah to those who have not recited the Great Kalimah. The Great Kalimah is I bear witness there is no God except Allah and I bear witness that Muhammad is the Prophet of Allah. Dakwah or Tabligh is the first order of Allah and it is the easiest order to perform. The only prerequisite to do dakwah, the person knows the Great Kalimah. It has no other prerequisite other than knowing the Great Kalimah. A person upon reciting the Great Kalimah has the responsibilities to convey the Great Kalimah to others who have not recited the Kalimah. Prophet Muhammad s.a.w has said in the meaning, conveys to others even if you know only one sentence. To convey the Great Kalimah to others is an order of Allah and it is the first order of Allah that a person must do upon entering Islam. The first order of Allah is not observing five times daily prayers. The first order of Allah is to convey the Great Kalimah to those who have not accepted the Great Kalimah.

    The first order is only to proclaim or to convey the Great Kalimah to others who have not accepted the Kalimah and not to make the person to embrace Islam. The order is a very simple and it is the easiest to perform when compared to all other orders of Allah. Everyone who knows the Great Kalimah should be able to convey the Kalimah to others. The order is only to convey and not to make the person to embrace Islam. None can give guidance except Allah. Whomever Allah wants to give guidance will get guidance and whomever Allah wants to be deviated will be deviated. None can give guidance except Allah. Allah only orders us to convey and Allah does not orders us to give guidance .The work of giving guidance is the work of Allah and we are only being ordered to convey or to proclaim the Great Kalimah to others. When we think that Allah has ordered us to convert the non-Muslim to Muslim then the order becomes very heavy. The work of converting the non-Muslim to Muslim is the work of Allah. When we have taken the work of Allah then the order becomes very heavy on us. We will make excuses not to do the work of dakwah.

    Nowadays Muslim believes that the religious scholars can only do the work of dakwah. They also believe that Muslim must be correct first before we can give dakwah to non-Muslims. When dakwah means to proclaimed the Great Kalimah to the non-Muslims, the work of dakwah should be the work of all Muslims and not only the religious scholars. Allah has made the work of dakwah obligatory to all Muslims and upon entering Islam; the first order is to do dakwah. When a person does the work of dakwah, Allah will make his iman strong. When Abu Bakar enters Islam, the first order that Prophet Muhammad s.a.w asked him to do is to convey the Great Kalimah to others. On the same day, Abu Bakar entered Islam he has conveyed the Great Kalimah to many others who has not recited the Kalimah and some of them embraced Islam. On the contrary, we asked the person who has just embraced Islam to pray five times daily solat and not to convey the Great Kalimah to others. We believe that the first order of Allah is to perform five times daily solat and not to convey the Great Kalimah. When a person upon entering Islam does not do the work of conveying the Great Kalimah, then his or her iman will be weak. First, their iman should be strengthened by asking them to do the work of conveying the Great Kalimah and when their iman has increased then only we asked them to do five times daily prayers.

    Dakwah means to proclaim, tabligh means to convey the Great Kalimah, and it is the first order of Allah to all Muslims. It is the easiest order of Allah. Allah has ordered all Muslims to do dakwah even if they know only the Great Kalimah. Allah has given the work of dakwah or tabligh to all Muslims and all Muslims are capable of doing the work of dakwah. Allah has made the work of dakwah simple and easy because it is the means of attaining iman. Iman is the most valuable thing that all men must have. Without iman, Allah will not accept the amals of men. Without iman, men will live in miseries in this world and in the hereafter will have to go to hellfire. Iman is the most important thing that men needs. Because iman is very important and it is the needs of all humankind, Allah has made the work of attaining iman simple and easy. When a person after reciting the Great words conveys the great words to others then Allah will make his or her iman strong. Nowadays Muslim has very weak iman because they have left the work of conveying the Great Words to others. They have left the work of dakwah because they believe that the work of dakwah is to make the non-Muslim becomes Muslim. Allah is the one that will make a non-Muslim to becomes Muslim and Allah has ordered us only to convey the Great Kalimah to the non-Muslims.. Whether the non-Muslim that we have conveyed the Great Kalimah becomes Muslim or not, we are successful since we have obeyed the orders of Allah.

    When we say to a non-Muslim, enter Islam and bear witness that there is no God except Allah and Muhammad is the Prophet of Allah, certainly, you will be successful, then we have conveyed the Great Kalimah. Dakwah is a very easy task to do. It does not require knowledge except knowing the Great Kalimah. When we do dakwah, we are not responsible to convince them about Islam and we are not responsible to make them to enter Islam. When we do dakwah, we are only responsible to convey the Great Words to them. In case they refused, then we make doa so that Allah gives them hidayah to enter Islam. In order to do dakwah we need to give only times. Even the poor can do dakwah. We have to give the minimum 45 minutes daily to do the work of dakwah. When we meet the non-Muslim, we give dakwah and when we meet Muslim, we remind each other about Allah and ask him to do the work of dakwah. If you are interested to learn the work of dakwah and the work of reminding the Muslims the importance of the work of dakwah, please contact Shahrul Nizam 0126267945.

    Dr.Nasoha Saabin
    February 2010
    Kuala Lumpur, Malaysia

  3. siti hariyah said

    ISI KOMENTAR LATIAF GAK NYAMBUNG

  4. [...] Kalau difikirkan dari dasarnya, memang agama Islam sudah men-state-kannya dari awal-awal lagi iaitu “Amar makruf nahi mungkar”. Walaupun sesuatu benda itu bagi anda tidak ada [...]

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 983 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: