Konsultasi Islam

Mengatasi Masalah dengan Syariah

Hukum Isbal

Posted by Farid Ma'ruf pada 13 Januari 2007

Publikasi 16/06/2004

hayatulislam.net – Soal: Ustadz yang terhormat, saya mau nanya tentang hukum isbal. Ada sebagian orang yang mengatakan bahwa isbal dianggap salah satu dosa besar yang diancam dengan ancaman yang keras. Mohon penjelasannya.

Jawab: Dari Ibnu ‘Umar diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda:

Barangsiapa memanjangkan pakaiannya karena sombong, maka Allah tidak akan melihatnya kelak di hari kiamat.” Kemudian Abu Bakar bertanya, “Sesungguhnya sebagian dari sisi sarungku melebihi mata kaki, kecuali aku menyingsingkannya.” Rasulullah Saw menjawab, “Kamu bukan termasuk orang yang melakukan hal itu karena sombong.” [HR. Jama’ah, kecuali Imam Muslim dan Ibnu Majah dan Tirmidizi tidak menyebutkan penuturan dari Abu Bakar.]

Dari Ibnu ‘Umar dituturkan bahwa Rasulullah Saw telah bersabda:

Isbal itu bisa terjadi pada sarung, sarung dan jubah. Siapa saja yang memanjangkan pakaiannya karena sombong, maka Allah swt tidak akan melihatnya kelak di hari kiamat.” [HR. Abu Dawud, an-Nasa`i, dan Ibnu Majah]

Kata khuyalaa’ berasal dari wazan fu’alaa’. Kata al-khuyalaa’, al-bathara, al-kibru, al-zahw, al-tabakhtur, bermakna sama, yakni sombong dan takabur.

Mengomentari hadits ini, Ibnu Ruslan dari Syarah al-Sunan menyatakan, “Dengan adanya taqyiid “khuyalaa’” (karena sombong) menunjukkan bahwa siapa saja yang memanjangkan kainnya melebihi mata kaki tanpa ada unsur kesombongan, maka dirinya tidak terjatuh dalam perbuatan haram. Hanya saja, perbuatan semacam itu tercela (makruh).”

Imam Nawawi berkata, “Hukum isbal adalah makruh. Ini adalah pendapat yang dipegang oleh Syafi’iy.

Imam al-Buwaithiy dari al-Syafi’iy dalam Mukhtasharnya berkata, “Isbal dalam sholat maupun di luar sholat karena sombong dan karena sebab lainnya tidak diperbolehkan. Ini didasarkan pada perkataan Rasulullah Saw kepada Abu Bakar ra.

Namun demikian sebagian ‘ulama menyatakan bahwa khuyala’ dalam hadits di atas bukanlah taqyiid. Atas dasar itu, dalam kondisi apapun isbal terlarang dan harus dijauhi. Dalam mengomentari hadits di atas, Ibnu al-‘Arabiy berkata, “Tidak diperbolehkan seorang laki-laki melabuhkan kainnya melebihi mata kaki dan berkata tidak ada pahala jika karena sombong. Sebab, larangan isbal telah terkandung di dalam lafadz. Tidak seorangpun yang tercakup di dalam lafadz boleh menyelisihinya dan menyatakan bahwa ia tidak tercakup dalam lafadz tersebut; sebab, ‘illatnya sudah tidak ada. Sesungguhnya, sanggahan semacam ini adalah sanggahan yang tidak kuat. Sebab, isbal itu sendiri telah menunjukkan kesombongan dirinya. Walhasil, isbal adalah melabuhkan kain melebihi mata kaki, dan melabuhkan mata kaki identik dengan kesombongan meskipun orang yang melabuhkan kain tersebut tidak bermaksud sombong.

Mereka juga mengetengahkan riwayat-riwayat yang melarang isbal tanpa ada taqyiid. Riwayat-riwayat itu diantaranya adalah sebagai berikut:

Angkatlah sarungmu sampai setengah betis, jika engkau tidak suka maka angkatlah hingga di atas kedua mata kakimu. Perhatikanlah, sesungguhnya memanjangkan kain melebihi mata kaki itu termasuk kesombongan. Sedangkan Allah SWT tidak menyukai kesombongan.” [HR. Abu Dawud, an-Nasa’i, dan at-Tirmidzi dari haditsnya Jabir bin Salim].

“Tatkala kami bersama Rasulullah Saw, datanglah ‘Amru bin Zurarah al-Anshoriy dimana kain sarung dan jubahnya dipanjangkannya melebihi mata kaki (isbal). Selanjutnya, Rasulullah Saw segera menyingsingkan sisi pakaiannya (Amru bin Zurarah) dan merendahkan diri karena Allah SWT. Kemudian beliau Saw bersabda, “Budakmu, anak budakmu dan budak perempuanmu”, hingga ‘Amru bin Zurarah mendengarnya. Lalu, Amru Zurarah berkata, “Ya Rasulullah sesungguhnya saya telah melabuhkan pakaianku melebihi mata kaki.” Rasulullah Saw bersabda, “Wahai ‘Amru, sesungguhnya Allah SWT telah menciptakan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya. Wahai ‘Amru sesungguhnya Allah SWT tidak menyukai orang yang melabuhkan kainnya melebihi mata kaki.” [HR. ath-Thabarni dari haditsnya Abu Umamah] Hadits ini rijalnya tsiqah. Dzahir hadits ini menunjukkan bahwa ‘Amru Zurarah tidak bermaksud sombong ketika melabuhkan kainnya melebihi mata kaki.

Riwayat-riwayat ini memberikan pengertian, bahwa isbal yang dilakukan baik karena sombong atau tidak, hukumnya haram. Akan tetapi, kita tidak boleh mencukupkan diri dengan hadits-hadits seperti ini. Kita mesti mengkompromikan riwayat-riwayat ini dengan riwayat-riwayat lain yang di dalamnya terdapat taqyiid (pembatas) “khuyalaa’”. Kompromi (jam’u) ini harus dilakukan untuk menghindari penelantaran terhadap hadits Rasulullah Saw. Sebab, menelantarkan salah satu hadits Rasulullah bisa dianggap mengabaikan sabda Rasulullah Saw. Tentunya, perbuatan semacam ini adalah haram.

Berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar, yakni perkataan Rasulullah Saw kepada Abu Bakar ra (“Kamu bukan termasuk orang yang melakukan hal itu karena sombong.”), menunjukkan bahwa manath (obyek) pengharaman isbal adalah karena sombong. Sebab, isbal kadang-kadang dilakukan karena sombong dan kadang-kadang tidak karena sombong. Hadits yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar telah menunjukkan dengan jelas bahwa isbal yang dilakukan tidak dengan sombong hukumnya tidak haram.

Atas dasar itu, isbal yang diharamkan adalah isbal yang dilakukan dengan kesombongan. Sedangkan isbal yang dilakukan tidak karena sombong, tidaklah diharamkan. Imam Syaukani berkata, “Oleh karena itu, sabda Rasulullah Saw, ‘Perhatikanlah, sesungguhnya memanjangkan kain melebihi mata kaki itu termasuk kesombongan.’ [HR. Abu Dawud, an-Nasa’i, dan at-Tirmidzi dari haditsnya Jabir bin Salim], harus dipahami bahwa riwayat ini hanya berlaku bagi orang yang melakukan isbal karena sombong. Hadits yang menyatakan bahwa isbal adalah kesombongan itu sendiri —yakni riwayat Jabir bin Salim—harus ditolak karena kondisi yang mendesak. Sebab, semua orang memahami bahwa ada sebagian orang yang melabuhkan pakaiannya melebihi mata kaki memang bukan karena sombong. Selain itu, pengertian hadits ini (riwayat Jabir bin Salim) harus ditaqyiid dengan riwayat dari Ibnu ‘Umar yang terdapat dalam shahihain….Sedangkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Umamah yang menyatakan bahwa Allah SWT tidak menyukai orang-orang yang sombong hadir dalam bentuk muthlaq, sedangkan hadits yang lain yang diriwayatkan Ibnu ‘Umar datang dalam bentuk muqayyad. Dalam kondisi semacam ini, membawa muthlaq ke arah muqayyad adalah wajib….”

Dari penjelasan Imam Syaukani di atas kita bisa menyimpulkan, bahwa kesombongan adalah taqyiid atas keharaman isbal. Atas dasar itu, hadits-hadits yang memuthlaqkan keharaman isbal harus ditaqyiid dengan hadits-hadits yang mengandung redaksi khuyalaa’. Walhasil, isbal yang dilakukan tidak karena sombong, tidak termasuk perbuatan yang haram.

Tidak boleh dinyatakan di sini bahwa hadits yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar tidak bisa mentaqyiid kemuthlakan hadits-hadits lain yang datang dalam bentuk muthlaq dengan alasan, sebab dan hukumnya berbeda. Tidak bisa dinyatakan demikian. Sebab, hadits-hadits tersebut, sebab dan hukumnya adalah sama. Topik yang dibicarakan dalam hadits tersebut juga sama, yakni sama-sama berbicara tentang pakaian dan cara berpakaian. Atas dasar itu, kaedah taqyiid dan muqayyad bisa diberlakukan dalam konteks hadits-hadits di atas. [Tim Konsultan Ahli Hayatul Islam (TKAHI)] 

About these ads

124 Tanggapan to “Hukum Isbal”

  1. Heri Setiawan said

    di forum myquran.org sepertinya sudah cukup clear untuk masalah isbal, ulamapun berbeda pendapat… sepertinya semua sepakat isbal kalo ndak ada sedikitpun rasa sombong masih diperbolehkan…

    • herman said

      aslmkm mas heri..
      permasalahan sombong bukan karena sifat dalam hal isbal, tetapi karena tidak mendengar perintah Alloh, dalam hadist ibn majah Alloh membenci orang yang memakai celana lebih dr pd mata kaki, simak hadist dibawah ini:

      ibnu majah 3564

      حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ أَنْبَأَنَا شَرِيكٌ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ عَنْ حُصَيْنِ بْنِ قَبِيصَةَ عَنْ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ قَالَ
      قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا سُفْيَانَ بْنَ سَهْلٍ لَا تُسْبِلْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُسْبِلِينَ

      Telah menceritakan kepada kami [Abu Bakar bin Abu Syaibah] Telah menceritakan kepada kami [Yazid bin Harun] telah memberitakan kepada kami [Syarik] dari [Abdul Malik bin 'Umair] dari [Hushain bin Qabishah] dari [Al Mughirah bin Syu'bah] dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai Sufyan bin Sahl, janganlah kamu memanjangkan kain sarung atau celana melebihi mata kaki, karena Allah membenci orang-orang yang memanjangkan kain sarung atau celananya melebihi mata kaki.”

      jadi jelas yang disebut sombong disini adalah mengabaikan kebencian Alloh bukan karena sifatnya yang sombong.

      wass/herman

      • orang kampung said

        Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
        Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Ketika sedang tidur, aku bermimpi melihat banyak orang sedang berkumpul dengan mengenakan pakaian yang beragam, ada yang menutupi sampai dada dan ada pula yang kurang dari itu, lalu lewatlah Umar bin Khathab dengan pakaian YANG IA SERET. Mereka bertanya: Bagaimana engkau menakwilkan mimpi itu wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Agama. (Shahih Muslim No.4403)

        Bagaimana Sdr Herman Menjelaskan Pakaian yang diseret itu? Bukankah Umar r.a salah satu sahabat terbaik?

      • herman said

        ini hadist yang mas sampaikan (muslim 4403)… dan isinya bukan YANG IA SERET silahkan simak hadistnya :

        حَدَّثَنَا مَنْصُورُ بْنُ أَبِي مُزَاحِمٍ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ صَالِحِ بْنِ كَيْسَانَ ح و حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَالْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ الْحُلْوَانِيُّ وَعَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ وَاللَّفْظُ لَهُمْ قَالُوا حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا أَبِي عَنْ صَالِحٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ حَدَّثَنِي أَبُو أُمَامَةَ بْنُ سَهْلٍ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ يَقُولُا
        قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ رَأَيْتُ النَّاسَ يُعْرَضُونَ وَعَلَيْهِمْ قُمُصٌ مِنْهَا مَا يَبْلُغُ الثُّدِيَّ وَمِنْهَا مَا يَبْلُغُ دُونَ ذَلِكَ وَمَرَّ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ وَعَلَيْهِ قَمِيصٌ يَجُرُّهُ قَالُوا مَاذَا أَوَّلْتَ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الدِّينَ

        Telah menceritakan kepada kami [Manshur bin Abu Muzahim]; Telah menceritakan kepada kami [Ibrahim bin Sa'd] dari [Shalih bin Kaisan]; Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakan kepada kami [Zuhair bin Harb] dan [Al Hasan bin 'Ali Al Hulwani] dan ['Abad bin Humaid] dan lafazh ini milik mereka. Mereka berkata; Telah menceritakan kepada kami [Ya'qub bin Ibrahim]; Telah menceritakan kepada kami [Bapakku] dari [Shalih] dari [Ibnu Syihab]; Telah menceritakan kepadaku [Abu Umamah bin Sahl] bahwasannya Aku mendengar [Abu Sa'id Al Khudri] berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Ketika aku sedang tertidur, maka aku bermimpi melihat orang banyak dengan mengenakan baju. Baju mereka ada yang sampai batas dada dan ada pula yang kurang dari itu. Tak lama kemudian Umar bin Khaththab lewat sambil mengenakan baju yang menutupi tubuhnya.’ Para sahabat bertanya; “Ya Rasulullah menurut engkau bagaimana ta’wil mimpi itu?” Rasulullah menjawab: “Itu adalah tentang masalah agama.”

        mungkin mas bisa tanyakan juga ke temen mas yang ahli dalam nahu sorof, tidak mungkin nabi mengeluarkan hadist yang bertentangan, jadi alangkah lebih baik kalau kita lebih mutawari (berhati-hati) karena melebihkan celana dari mata kaki ada ancamannya yaitu :
        1. shalatnya tidak diterima
        2. neraka
        3. Alloh benci

        didalam hadist lain juga (bukhari 3415, 6491, 6492, tirmidzi 2210, ahmad 11387, 22089) dijelaskan bahwa yang diseret itu adalah baju/pakaian bukan sarung/celana. jadi jangan di putar balikan.

        mohon maaf jika tidak berkenan
        wassalam/herman

  2. rOZMA said

    Ass.saya juga mempunyai teman yang sangat menentang tentang isbal atau dia suka mengatakannya musbil!tapi saya berpendapat kalau seorang laki2 boleh memakai celana yang panjang , karena biasanya orang yang setuju sekali dengan isbal maka ia akan selalu memakai celana yang 3/4 karena dia takut dengan hukum isbal,tapi menurut saya sendiri tergantung orangnya lagi , jadi kembali ke niatnya orang itu,sombong atau enggak! githchu!wass.

  3. Ahmad Abu Faza said

    ” Kain dibawah mata kaki tempatnya di Neraka” (HR Bukhari)

    **Apa apa yang mendapat ancaman Neraka adalah DOSA BESAR

    Dari Ats’asy bin Salim, beliau berkata: Aku mendengar bibiku bercerita dari pamannya, beliau berkata, “Ketika aku berjalan menyusuri kota Madinah, tiba-tiba ada seseorang dibelakangku yang berkata, “Tinggikan sarungmu! Karena itu lebih menunjukkan kepada ketaqwaan!” ternyata dia adalah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, aku lantas berkata “Wahai Rasulullah, ini hanyalah sebuah kain yang indah.” Beliau bersabda “Tidakkah di dalam diriku terdapat keteladanan?” setelah kupandang ternyata sarung beliau itu hingga pertengahan betis.” (HR. Tirmidzi, shahih)

  4. wangi said

    Saya melihat esensinya adalah tidak boleh sombong dan menunjukan kemegahan. Pada zaman itu dan budaya setempat, menyombongkan kedudukan dan status sosial ditunjukan dengan memakai pakaian model seperti itu.

    Kondisi saat ini dan pada budaya kita, orang menyombongkan status sosial tidak dengan memanjangkan atau memendekan sarung atau jubahnya, tapi dengan pakaian bermerek yang harganya jutaan, mobil mahal, parfum mahal dll. Kalau di qyas-kan, esensi dari perintah itu adalah jangan menyombongkan diri, pada konteks saat ini misalnya jangan pakai pakaian yang mahal berlebihan karena itu termasuk sikap sombong.

    Mudarat apa yang saya buat kalau saya pake celana melebihi mata kaki????

    • abu keisya said

      sesungguhnya Allah ta’ala menurunkan syariat bg hambanya adlh untuk menguji ketakwaan hambanya..tdk selamanya apa yg disyariatkan itu hambanya mengetahui manfaat atau mudhorat dr syariat itu.seorang hamba hanya disuruh utk taat atas apa2 yg diperintahkan allah dan rasulnya.sehingga Allah ta’ala menggolongkan tingkat ketakwaan hambanya dr ketaatannya mengikuti syariat dan menjauhi larangannya.
      semuanya tinggal pilihan hambanya,mau menjadi hamba yg taat atau tidak…

      • Abu Bagja Kusuma said

        Ana setuju sekali dengan pendapat antum, sekarang ini banyak orang yang malu menunjukan ketaatanya kepada Allah, malu bila dikatakan dengan sebutan tertentu jika celananya diatas mata kaki, kita banyak malu terhadap pandangan manusia tapi tidak malu terhadap Allah, perintahnya selalu diselisihi.

  5. Najib said

    Kontroversi.

    Kontroversi tentang isbal (juga jenggot), sepertinya tak akan pernah selesai. Ini terjadi karena sudut pandang yang perbeda. Satu pendapat mengatakan, apa yang dikatakan Rasul adalah perintah sehingga wajib untuk dilaksanakan. Pendapat lainnya mengatakan, apa yang dikatakan Rasul adalah berhubungan dengan konteks saat itu, sehingga yang lebih penting adalah apa hakikatnya dan lihat juga konteks dan relevansinya.

    Kondisi ini bisa diibaratkan dua orang sama-sama buta yang memegang gajah. Yang pegang kaki akan bilang gajah itu seperti batang pohon kelapa. Yang pegang belalai akan bilang gajah itu melengkung yang ujungnya berlubang. Tak akan ketemu bukan? Dan apakah itu salah? Atau dua-duanya benar? Terserah saja bagaimana Anda menilainya.

    Begitulah adanya.

    Kontroversi tentang isbal tak jauh berbeda dengan kontroversi lainnya seperti: sholat subuh pakai qunut atau tidak, bismillah dalam sholat dibaca keras atau pelan, saat duduk tasyahud jari telunjuk digerak-gerakkan atau tidak, mencukur jenggot haram atau tidak, jadwal idul fitri ditentukan dengan rukyat atau hisab, mana yang lebih tepat: Minggu atau Ahad, puasa atau shaum, agama atau dien dan seterusnya. Sepertinya, tak akan ketemu bukan? Dan itulah wajah kita sekarang ini. Dalam hal ini, pendapat saya adalah silahkan masing-masing melaksanakan apa yang diyakininya, sepanjang niyatnya untuk melaksanakan ajaran Islam, bukan karena niyat yang lain.

    Pendapat Imam yang empat (yang biasa disebut madzhab) juga tidak sama. Padahal beliau-beliau adalah ulama yang tidak diragukan lagi kualitasnya.

    Berbeda pendapat itu hal yang biasa. Yang tidak biasa adalah keharusan mengikuti suatu pendapat tertentu.

  6. Bin Wisnu said

    Perbedaan antara orang tawadhu dan orang sombong diantaranya adalah:

    Orang tawadhu senantiasa merendahkan dirinya dihadapan hukum2 Allah dan Rasul-Nya, sehingga ketika dalil akan suatu hukum sudah jelas dan berasal dari Kitabullah ataupun as Sunnah, tanpa banyak cakap ia senantiasa melaksanakannya dengan sepenuh hati.

    Sedangkan orang sombong senantiasa memperdebatkan suatu hukum dan mencari-cari celah keringanan hukum sehingga ia bisa terbebas dari hukum tsb dan mengikuti syahwat duniawinya, bahkan ketika dasar hukumnya sudah jelas dan berasal dari Kitabullah dan as Sunnah.

    Semoga Allah ‘Azza wa Jalla senantiasa menggolongkan kita menjadi orang2 yg tawadhu. Amin.

    • daud said

      Setuju dengan bin wisnu, suatu pemikiran yang baik.

    • nugie said

      Mantaff!!

    • iding rosyidin said

      tapi maksudnya ini kmn nih???

    • Ana setuju pendapat saudaraku Bin Wisnu…. Itulah salah satu ciri orang bahil menyelisihi dalil yang ada… Apakah mereka lebih pintar dari Allah dan Rasul-Nya?????? Audzubillahi min dzalika…!!! Seharusnya kalau belum bisa melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya (secara kaafah), kita sebagai manusia yang tidak lepas dari dosa tetap harus mengakui “dalil” shohih tsb dan meminta ampunan kepada Allah Ta’ala bahwa,anhum belum bisa men jalankan perintah-Nya dan i’tiba kpd Rasul-Nya. Seraya tetap memohon agar diberi kemudahan dan hidayah-Nya. Wallahu a’lam

  7. wangi said

    Saya hanya bertanya :
    “Mudarat apa yang saya buat kalau saya pake celana melebihi mata kaki????”

    Tidak bermaksud sombong, hanya sekedar bertanya karena memang saya tidak tahu jawabannya. Mengenai dalilnya sudah banyak yang menyampaikan pada saya, dan memang seperti uraian di atas lah dalilnya, saya kira tidak ada yang memperdebatkan dalilnya.
    Mohon ada yang memberi jawaban atas pertanyaan tersebut.

    Terima ksaih.

    • abu keisya said

      sesungguhnya Allah ta’ala menurunkan syariat bg hambanya adlh untuk menguji ketakwaan hambanya..tdk selamanya apa yg disyariatkan itu hambanya mengetahui manfaat atau mudhorat dr syariat itu.seorang hamba hanya disuruh utk taat atas apa2 yg diperintahkan allah dan rasulnya.sehingga Allah ta’ala menggolongkan tingkat ketakwaan hambanya dr ketaatannya mengikuti syariat dan menjauhi larangannya.
      semuanya tinggal pilihan hambanya,mau menjadi hamba yg taat atau tidak…

  8. Bin Wisnu said

    Menurut hemat saya yang awam, mudharatnya adalah bahwa kita telah mengabaikan sunnah Rasulullah SAW, dalil2nya sudah dipaparkan o/ saudara2 kita sebelumnya. Lalu, dg menggunakan celana yg melewati mata kaki, maka celana kita berpeluang terkena najis dari lantai / jalan karena celana kita mudah menyentuhnya, terutama saat kita ke wc. Sedangkan jika celana kita terkena najis & kita shalat, maka shalatnya tdk sah, jika shalat kita tdk sah, berarti kita dalam keburukan. Wallahua’lam.

    Dan sekarang saya ingin tahu, mudharat apa yang anda peroleh jika anda menggunakan celana tdk melewati mata kaki?

    • kucing Mama said

      Alangkah baiknya jika saat sholat pake yang khusus, seperti sarung, baju taqwa, dsb.
      so, saat waktu sholat tiba, kita bergegas2 memakainya tu pakean khusus sholat. :-)

      • ongky said

        Menggunakan pakaian yang bersih dari najis ketika sholat merupakan salah satu syarat sahnya sholat. Alhamdulillah, jika antum bisa menggunakan pakaian khusus untuk sholat, lebih baik.

        Namun tetap tidak menggugurkan bahwa isbal memang dilarang oleh Rasululloh SAW.

  9. wangi said

    Saudaraku Bin Wisnu :

    1. Anda mungkin memendekan celana anda di atas mata kaki, namun ternyata anda masih bersikap takabur dengan merasa lebih berilmu, sementara orang lain anda pandang awam. Walaupun memang kenyataannya seperti itu, tetap saja sikap sombong tidak disukai dalam Islam, spt yg diuraikan dalam hadist mengenai isbal tsb di atas. Maaf hanya saling mengingatkan.

    2. Kalau alasannya karena najis, bagaimana dengan rekan2 muslimah yang mengenakan busana muslimah, kan tertutup sampai pakaiannya menyapu tanah????

    3.Tidak ada hal yang memberatkan untuk memanjangkan atau memendekan pakaian, celana saya sendiri kebanyakan ngatung karena badan saya kurus dan tinggi.

    4. Mengenai pertanyaan anda pada saya, saya tidak dapat menemukan mudaratnya baik celana itu dipanjangkan melebihi mata kaki ataupun dipendekan.

    5. Baik saya uraikan pandangan saya untuk saudara bin Wisnu.
    Coba renungkan, pikiran utama dari hadist ini: mengenai “memendekan gamis” atau mengenai “sifat sombong”????. Menurut pandangan saya tema utama dari perintah yang agung ini adalah untuk tidak bersikap sombong. Sementara berpakaian megah dengan memanjangkan gamis adalah praktek dari orang2 yang sombong pada keadaan saat itu.
    “Dari Abdullah bin Umar Rodhiallohu anhuma berkata : berkata Rosululloh Shollallohu alaihi wa Sallam : “ barang siapa yang memanjangkan kainnya dengan sombong , Alloh tidak akan melihatnya pada hari kiamat kelak”,
    Abu Bakar berkata : “ wahai Rosululloh sesungguhnya sebelah kainku melorot (karena kendor), tetapi aku selalu berusaha menjaga kain itu dari isbal , Rosululloh Shollallohu alaihi wa Sallam bersabda : “sungguh engkau bukan termasuk orang yang berbuat sombong” “.
    (HR. Bukhori 7/19, 10/254, 378, Abu Daud (4085), Nasa’I 8/208, Ahmad 2/147, Al humaidy (649),Ath thobroni dalam Al kabir 12/299, 301, Al baihaqi 2/243, Al baghowi 12/9)
    Al Bukhari juga merawikan dalam bab yang sama, dari Abu Bakhrah, katanya: “Kami sedang bersama Rasulullah ketika sedang terjadi gerhana matahari. Beliau berdiri lalu berjalan menuju mesjid sambil menyeret-nyeret sarungnya karena tergesa-gesa. (hadits no. 5785)
    Dari riwayat tersebut jelas Nabi saw. menekankan soal “sombong” sebagai satu-satunya alasan.
    Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi saw. bersabda : Seorang laki2 sedang berjalan berjalan dengan berpakaian amat mewah yang membuat dirinya sendiri merasa kagum, sementara rambutnya tersisir rapi, ketika tiba-tiba ia ditelan oleh longsor tanah. Maka iapun terus-menerus berteriak ketakuatan sampai hari kiamat.(hadits no. 5789)
    Jelaslah dari hadits di atas yang dipermasalahkan adalah “sombong” atau ‘bangga diri”. Kalau isbal dilarang seharusnya sisiran rambut yang rapih juga dilarang dong, sesuai hadits di atas.
    Muslim telah merawikan hadist dari Abu Hurairah, dan juga yang bersumber dari Ibnu Umar melalui beberapa jalur, diantaranya: “Barang siapa menyeret sarungnya, tidak ada maksudnya selain untuk membanggakan diri, maka Allah tidak akan memandangnya pada hari kiamat. (Shahih Muslim dengan syarah Nawawi, cetakan Asy-Syab juz 4/795 bab “Tahrim Jarr Ats-tsaub Khulaya).
    Sekali lagi, kalau menyimak sadits di atas dan hadits2 lainnya, secara jelas Nabi saw. menekankan soal sombong sebagai satu-satunya alasan.

    An-Nawawi dikenal sebagai seorang tokoh yang tidak suka mempermudah, ketika menguraikan hadits tentang “orang yang menjulurkan sarungnya” ia berkata:
    Adapun yang dimaksud dengan sabda Nabi saw. sebagai orang yang menjulurkan sarungnya adalah orang yang melakukannya sehingga sarungnya itu menyentuh atau hampir menyentuh tanah, sambil menyeretnya dengan sikap sombong. Makna tersebut dapat diketahui dari hadits yang lainnya yg berbunyi : “Allah tidak akan memandang kepada orang yang menyeret tsaub-nya dengan maksud menyombongkan diri. Adanya keterangan tentang sikap menyombongkan diri, membuat lingkup ancaman keras terhadapnya terbatas hanya apabila hal itu dilakukan demi menunjukan kesombongan. Buktinya Rasulullah saw. mengizinkan bagi Abu Bakr dengan ucapan beliau: “Engkau tidak termasuk mereka”. Sebab, kalaupun ia menyeret sarungnya, maka hal itu tidak dsertai sifat sombong.

    Jadi saudaraku bin Wisnu seperti uaraian di atas itulah saya memahami hadits ini. Menurut hemat saya, sungguh sayang peringatan yang agung ini mengenai “sikap sombong” yang implikasinya luas, direduksi menjadi masalah panjang-pendeknya pakaian saja, sesuai teks harfiahnya saja tanpa memperhatikan konteksnya. Lagi pula kalau kita hanya memperhatikan teks harfiahnya saja, maka hadits2 itu hanya berlaku untuk “tsaub”, pakaian yang berupa jubah, sedangkan celana panjang seperti adat pakaian kita tidak dibicarakan.

    Saya tentunya tidak ingin melanggar perintah Nabi swa. Namun saya sebisa mungkin memahami tujuannya, sehingga bisa mengarah kearah perbaikan ahlak secara prinsipil, bukan hanya sebatas praktek fisik saja. Sebagai contoh: kenapa kebanyakan WC di mesjid atau surau bau, sedangkan di mall atau rumah ibadah agama lain lebih bersih. Karena kita merasa yang penting bersuci sesuai fikih, udah itu saja, tanpa memperhatikan tujuan dari pada bersuci yang kalau diperluas mencakup higienis dan sanitasi secara umum.

    Terima kasih.

  10. wr. wake up said

    subhanallah…….

    sungguh luar biasa keika kita mau mengerti dan saling memahami kondisi orang lain….

    saudaraku…

    prinsip kesederhanaan sangat dianjurkan oleh nabi muhammad saw…
    dan juga pemeliharaan rasa agar kita tidak takabur/sombong dengan nikmat dan anugrah Allah SWT..

    dan saya rasa(rasa saya lho ini)he…
    memahamisebah tuntunan itu tidak hanya dpahami secara tekstual akan tetaiperlu adanya pemahaman terhadap makna yang terkandung didalamnya….

    kasuistis: ketika seseorang memakaipakaian tdk isbal akantetapi ksombongan masih adadalam dirinya dibandingkan dengan seseorang yang memakaipakaian isbalnamun penuh dengan kerendahan hati mana yang lebih utama……..???

    saudaraku………….
    yang berhak menghukumi itu hanya Allah SWT….
    dan kita itu hanya berhakutuk saling mengingatkan sesuatu yang terlupakan dan menyampaikan sesuatu yang belm tersampaikan… agar tdkterjadi kesalahpahaman…
    tolong kajikembali pemahaman saudara2 sekalian…sekali lagi tolong jgn merendahkan,prinsipkita disini adalh saling berbagi ilmu..OK

    • kucing Mama said

      sippppppppppp. setuju

    • ongky said

      betul. sombong atau tidak sombong memang dikembalikan lagi ke orang masing-masing.

      namun yang digarisbawahi adalah: maukah anda melaksanakan perintah Rasululloh SAW?

      Saya sebelumnya termasuk orang yang malu dengan tidak isbal. Saya berpikir, tidak isbal = tidak keren. Malu kalau ketemu rekan kerja dan teman-teman. Mana ada cewe yang mau deket kalau saya tidak isbal. Tanyakan diri anda sendiri, saya rasa jawabannya sama. Kita malu dengan pendapat orang lain.
      Tapi ya antum, kita tidak malu kalau menolak perintah Rasululloh SAW. Ana dahulu seperti itu. Ana akuin.

      Meskipun kita berdalih bahwa “kita tidak sombong kok dengan isbal”, tapi pemikiran bahwa anda tidak mau malu karena tidak mau terlihat “jelek”, atau “tidak umum” dengan tidak isbal itupun sesungguhnya merupakan bentuk kesombongan.

      Ya antum, ana berdoa insya Alloh kita termasuk hamba-hamba Alloh SWT yang mendapat hidayahNya.

      Coba antum rasakan, 1 hari menggunakan celana yang tidak isbal. 1 hari saja! Insya Alloh rasa sombong ingin terlihat keren oleh pendapat orang lain itu sama sekali tidak ada ya antum. Antum bisa merasakan bedanya. Tidak ada lagi perasaan “aku keren”, atau “aku tidak kampungan”, dsb.. yang ada adalah, “aku adalah seorang muslim. Insya Alloh, Alloh SWT ridho denganku”. Titik.

      Antum tidak bisa menyangkal, atau menolak sebelum antum merasakan sendiri.

      Allohu A’lam.

  11. wangi said

    Saya setuju 100% dengan pendapat saudara Abu Abdillah. Mencari-cari rukhsah dengan cara tafliq, nyari enaknya aja mengikuti hawa nafsu, tidak bisa dibenarkan. Saya juga setuju mengenai metoda mentarjih pendapat ulama yang anda uraikan di atas.

    Tapi walaupun melakukan metoda yang sama ternyata hasil akhirnya bisa berbeda, dan ini adalah wajar. Kalau terjadi diskusi yang bertentangan, bukan berarti perseteruan, justru adalah penambahan wawasan sehingga kita bisa merenungkan pendapat2 yang lain.

    Saya kira kita tidak boleh bosan bertukar pikiran walaupun bersebrangan pendapat.

    • Ruswandi said

      Didalam kalimat saudara wangi maaf saudara atau saudari, mengatakan :” Menurut hemat saya, sungguh sayang peringatan yang agung ini mengenai “sikap sombong”…………………….
      Kok Menurut hemat saya, wangi ini siapa? ulama? ataukah seykh dari keturunan……….mana?
      Sudah dijelaskan saudara Herman diatas permasalahan sombong bukan karena memang niatnya untuk takabur, namun sombong karena tidak patuh pada perintah Allah Dan Rasulnya.
      Untuk saudara-sauaraku yang seiman mohon jangan kalimat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam disingkat Saw dan Allah Subhanahuwata’ala jangan disingkat Swt. Kalau masih saja menggunakan kata-kata singkatan Saw dan Swt masih perlu dipertanyakan….nya.

  12. KANGMUS said

    Berbicara tentang Isbal sebagaimana temen2 di atas panjang lebar menguraikan, tentunya kita tdk bisa melupakan kondisi sosio geografis Arab. Coba kita lihat fenomena geografis Arab, sangat jelas di depan mata kita terlihat begitu banyak padang pasir. Tentu saja debu yang bermacam2 sangat mudah diperoleh. Itu artinya, selain Isbal yang tidak ada rasa kesombongan dari penggunanya, ada satu persoalan yg penting yaitu kebersihan.

    Kesombongan dan pentingnya kebersihan sangat diinginkan oleh Islam. Itulah mengapa, saya lebih sepakat jika pelarangan Isbal dikaitkan dengan kesombongan dan ketidak bersihan. Rasul saat itu sangat tidak suka apa yang disebut sebagai sombong dan najis alias kotor. Zaman kultur Arab saat itu, merupakan zaman atau era di mana masyarakatnya sangat gampang sekali untuk bersikap sombong dan tidak memperhitungkan kebersihan. Itulah mengapa secara universal oriented sebenarnya hadis tersebut diturunkan.

    Artinya sekali lagi, jika di era saat ini banyak umat Islam melakukan isbal dengan karena kesombongan, maka kondisi yang demikian itulah yg patut utk dilarang secara moral sebagaimana intisari hadis. Begitu juga saat ini, ketika setiap orang melakukan tindakan “isbal” atau apapun celana dan pakaian yang dipakai seperti; berpakaian batik, celana jin, ketat & tdk ketat atau apapun pakaiannya dengan disertai sikap sombong, maka yang seperti itulah isbal yang sesungguhnya saat ini. Itu karena pelarangan Isbal sangat terkait dengan kesombongan dan kebersihan.

  13. Orang awam said

    Numpang ikutan komentar, saya orang awam, bener kata temen sebelumnya isbal itu sama halnya dengan subuh yg pake qunut/tidak dll. Sebenernya saya salut banget sama orang salaf, saya punya temen awalnya biasa aja tapi sekarang dia salaf, bagus banget tuh temen saya, dari kata-katanya selalu meluncur hadist-hadist nabi. Termasuk mengenai isbal ini dia bersikeras isbal itu haram. Lha padahal temennya banyak yg make celana semata kaki dia bilang dosa kamu !!!. Ih serem juga ya ngeliat perubahan temen saya itu, bagus sih tapi jadi sombong menurut saya, sebab selalu bilang kalau orang lain itu salah dia yg bener. Naudzubilahimin dzalik.Kalau begitu, kumaha euy …

    • Imad said

      Assalamu’alaikum Wr. Wb.
      Saya juga hanyalah orang awam dan orang biasa, namun saya juga berusaha menjadi manusia yang lebih baik dengan menempuh jalan muslim. Menurut saya bukanlah yang terpenting menilai teman anda sombong atau tidak, namun lebih pada kesadaran dan menilai diri sendiri. Hanya karena anda menganggap teman anda sombong dan anda berprasangka buruk padanya, bukan berarti anda tidak boleh mengikutinya. Kita harus menilai diri kita, siapa yang lebih baik, teman anda yang memperingatkan bahaya isbal ataukah kita yang hanya berdiam diri saja tidak peduli terhadap isbal. Menurut saya teman anda tidak salah, justru dia bagus mengingatkan sekitar akan bahaya isbal yang mendekati keharaman.

      Ikutilah teman anda itu bila dia mengatakan kebenaran yang tak terbantah, dan ingatkanlah secara halus apabila anda merasa dia bersikap sombong. Tidaklah setetes nila prasangka anda padanya harus merusak susu sebelanga yang dia tawarkan pada anda. Itulah cara muslim, tidak meninggalkan peringatan hanya karena pemberi peringatan itu memiliki kelemahan yang sangat kecil.

    • Insya Allah dia tidaklah sombong akhi. Dia hanya memperingatkan mana yang haq dan mana yang batil. wallahu a’lam.

  14. Orang awam said

    Saya jadi tertarik soal masalah ini, saya browsing tentang isbal, kayaknya saya dapat penjelasan yg sungguh bijak menurut saya. Berikut yg dpt saya copy paste-kan. Sepertinya perlu kita contoh dech, jangan dijadikan masalah besar, karena sesungguhnya perbedaan itu adalah suatu rahmat ( bener kagak …?)

    Perlu penyamaan persepsi masalah isbal adalah merupakan khilaf para ulama dan bukan masalah yang disepakati oleh semua ulama (qath’i), demikian realitasnya. Pendapat dari ulama manapun patut kita hormati, kita dapat mencontoh perbedaan pendapat antara Imam Malik dan Imam Syafi’i dalam memberi fatwa mengenai qunut shalat subuh. Imam Malik berpendapat bahwa qunut sholat subuh adalah Bid’ah, sedangkan Imam Syafi’i mengatakan bahwa qunut shalat subuh adalah sunnah muakad, dan apabila tidak dilakukan diganti dengan sujud syahwi.

    Kedua ulama ini tidak saling mengklaim bahwa mereka yang paling benar atau menuduh salah satu dari mereka kafir atau sesat. Karena kapasitas dan keilmuan kedua ulama tersebut, maka tindakan dan perkataan mereka pun sangat bijak. Dikisahkan, bahwa Imam Syafi’i pernah mengimami shalat subuh para murid Imam Malik, maka saat itu Imam Syafi’i meninggalkan Qunut Shalat subuh.

    Hal inilah yang patut dicontoh oleh umat muslim saat ini, daripada kita berdebat terhadap hal yang tidak ada habis-habisnya yang merupakan khilaf ulama sampai saat ini dan saling menjatuhkan, lebih baik kita mempererat persaudaraan dan bersatu padu mengumpulkan kekuatan dalam membentengi umat dari musuh-musuh islam yang sebenarnya,

    ….. Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir…… (QS Al-Maidah/5 : 54)

    Ingatlah, dalam disiplin ilmu Tasawuf, seseorang tidak dapat menuduh orang lain (sesama muslim) kafir dan pasti masuk neraka walaupun kita bisa melihat tanda-tandanya dan “bunyi” di dalam hati kita, ini sama halnya dengan merampas hak prerogatif Allah Swt. Demikian, wallahu a’lam.

  15. assalaamu’alaikum

    Mengenai cerita Imam Malik shalat di masjid Imam Syafi’i atau sebaliknya, saya sendiri belum pernah membaca literatur tertulis mengenai hal itu. Mungkin kalau ada yang punya referensi, bisa di-share kepada kita semua?
    syukran..

  16. wisga said

    Assalamu’alaikum wr wb
    Allah telah menjadikan Islam sebagai agama yang mudah namun tentu saja tidak dimudah2kan. Saya menangkap inti dari masalah isbal ini hanya terkait dengan kesombongan untuk menunjukkan indahnya pakaian. Kita harusnya tidak saling menyalahkan dalam hal2 furu’ dan harus bersatu dalam masalah pokok (ushul). Jangan sampai kita megharamkan apa yang dihalalkan Allah karena mungkin dosanya lebih besar daripada isbal itu sendiri. Wassalam

  17. Ali said

    Orang yang melakukan isbal karena sombong ia mendapat dua dosa yaitu dosa sombong dan isbal, dan Allah pun tidak akan memandang serta mensucikannya kelak di akhirat berdasarkan hadits,“Barangsiapa memanjangkan pakaiannya karena sombong, maka Allah tidak akan melihatnya kelak di hari kiamat.” [HR. Jama’ah]( masih banyak lagi hadits-hadits shohih yang semakna dengan ini, mungkin antum bisa cari sendiri di Silsilah As Shohihah karya Imam Besar Ahlul Hadits Syaikh Al Albani). Dan barangsiapa melakukan isbal dengan tidak sombong ia terkena hadits ” Apa yang berada dibawah mata kakimu maka tempatnya di neraka”.
    Jadi isbal hukumnya haram baik karena sombong atau tidak.( Silaka antum cari sendiri fatwa ulama’ Ahlusunnah seperti Syekh Al Albani, Syekh Bin Baz, Syekh Utsaimin dan badan fatwa Lajnah Dai’mah).
    Afwan

  18. asbi Samli said

    Semoga limpahan rahmat dan hidayahnya dicurahkan kepada kita semua.

    Saudaraku, sesungguhnya saya juga masih bingung akan hukum isbal dan jenggot pada waktu lalu, namun ketika membaca fatwa – fatwa
    1.Al Imam, Al’Allamah Syaikh Muhammad Nasiruddin Al-Albani, Ahli Hadits Abad ini, Ulama besar Yordania dan dunia Islam saat ini, Dosen tertinggi di Universitas Islam Madinah
    2.Syaikh Abdul Aziz bin Baz( Rektor Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia, Ketua Umum Lajnah Dai’mah lil Ifta – lembaga Fatwa dan riset Univeristas Islam Madinah.
    3. Syaikh muhammad Shalih Al-Utsaimin, Guru Besar Fakultas Syariah
    Universitas Islam Madinah,dan Anggota Lajnah Dai’mah lil Ifta
    4. Dan Semua Ulama di Saudi Arabia menyatakan hal tersebut.

    Akhi atau ukhti, saya tahu dalam masalah fikhi,para ulama selalu berbeda pendapat dalam banyak hal, khususnya 4 imam Mahzab. Akan tetapi mereka selalu berusaha agar fatwa yang dikeluarkan harus berdasarkan Al-Quran dan Hadits.Jika kita melihat perbedaan pendapat di kalangan ulama,maka kita harus melihat yang mana fatwa dari ulama – ulama itu yang kuat dalilnya maupun hujjahnya.

    Akhi/ dan ukhti, ….-maaf-…Jangan BERFATWA tentang suatu masalah tanpa ilmu,mengapa saya mengikuti fatwa ulama – ulama besar di saudi karena mereka meupakan ulama yang sudah tidakdiragukan lagu keilmuannnya akan hadis dan pendapat para ulama terdahulu dalam maslah ini.

    Jadi, untuk apa kita mendengar fatwa dari mereka yang mencoba mengomentari masalah ini,yang kapasitas keilmuaannya masih dipertanyakan dibanding dengan ulama – ulama tersebut di atas.

    NASIHATKU : dalam melihat suatu masalah, tanyakan kepada orang – orang yang sudah diragukan lagi ilmu dan akhlaknya, jangan mendengar fatwa dari orang – orang yang masih diragukan keilmuannya. BAru saja melihat tahu 1,2 hadis atau beberapa pendapat – pendapat ulama suadah berani mengeluarkan fatwa.

    • mengatakan bahwa Ulama lebih unggul daripada ulama bukanlah alam pemikiran Islam.
      Semua perkataan, dg dasar ilmu, dari selain Rasulullah SAW memiliki nilai yg sama.
      Ga ada bedanya antara Al Albani dng kyai Indonesia…
      Seorang tokoh ulama atau siapapun dia, terkenal karena dia terkenal
      seorang yg terkenal belum tentu bagus semua pendapatnya…
      wallahu a’lam
      inilah pemikiran Islam ahlus sunnah.

  19. Bujank said

    “..ulama besar di saudi karena mereka meupakan ulama yang sudah tidakdiragukan lagu keilmuannnya akan hadis dan pendapat para ulama terdahulu dalam maslah ini.”
    Masalahnya adalah: siapa yg memberi jaminan bahwa HANYA Albani saja yang paling shohih pendapatnya? atau Bin Baaz saja..? Ulama lain tidak diakui? Imam yg 4 sudah diakui kredibilitasnya di antero jagat negara muslim di dunia ini..sedangkan Ulama Saudi kok (maaf) dipaksakan HARUS diakui oleh semua muslim oleh yg pro-saudi.
    Bahkan Albani juga banyak hadistnya yg bertentangan (kuat dilemahkan, lemah dikuatkan) dr para Ahli hadist terdahulu.. padahal ada HADIST: Generasi terdahulu lebih baik dari generasi sesudahnya (Generasi sesudahnya lebih jelek dari generasi sebelumnya) jadi bisa jadi masih lebih SHAHIH Ulama Hadis terdahulu dr yg sekarang… lagipila tidak ada keharusan harus ikut ulama saudi kan.. ini merupakan pilihan, dan pilihan ini toh menjadi TANGGUNG JAWAB PRIBADI tiap muslimin ulama mana yg diikuti hingga kelak di akhirat. ini merupakan HAK, dan HAK tidak bisa dipaksakan..wallahua’lam

  20. masduqy said

    berbicara tentang isbal,memang terdapat banyak khilaf.namun mari kita dalil penunjang lain yang bisa untuk dijadikan dalam pengambilan sebuah hukum baik yang bersumber dari al-Qur’an ataupun alhadits.
    “jika terdapt perbedaan dikalangan umatku,maka kembalikanlah kepada al-Qur’an dan Hadits”(hadits)
    “hukum itu berjalan ada atau tidak berdasar ilatnya”(kaidah ushul fiqih)
    “sesungguhnya semua amal itu dinilai dari niatnya”(hadits)
    “siapa yang berijtihad, kemudian ijtihadnya benar, maka baginya 2 pahala, dan jika ijtihadnya salah, maka baginya 1 pahala”(qaul)
    “janganlah kamu berbuat apa yang tidak kamu ketahui”al-Qur’an)

    dari bebrapa teks yang kami tuliskan ini mka kita bisa mengambil kesimpulan terhadao hukum isbal.

  21. sandee said

    Tidak akan habis jika kita semua membahas dalam masalah fikih, karena sama-sama punya pendapat yang bisa dijadikan hujjah.
    Namun sebaiknya ambillah teladan dari Rasulullah shallahu alaihi wassalam, insan utama yang jauh dari sifat kesombongan. Namun toh, anehnya beliau shallahu alaihi wassalam tetap memakai pakaian di atas mata kaki.
    Jadi saudaraku, siapakah yang patut diteladani? Apakah orang-oramg kebanyakan ataukah Rasulullah shallahu alaihi wassalam yang jauh dari kesombongan? Siapakah yang patut kita teladani melainkan Rasulullah shallahu alaihi wassalam jika memang kita lebih mencintainya daripada mengambil teladan dari orang kebanyakan?

    Sekian

  22. dblackclown said

    saya bocah awam yg msh bengal tp pgn lbh baek duniaakhirat,,
    dan saya brusha bwt memulai dr penmpilan..
    tapi kok,,
    malah,,binguuung jadinya ni mas, mba…

  23. enrico said

    ass, menurut saya isbal tetaplah haram. jika kita mengacu pada
    “Sesungguhnya sebagian dari sisi sarungku melebihi mata kaki, kecuali aku menyingsingkannya.” Rasulullah Saw menjawab, “Kamu bukan termasuk orang yang melakukan hal itu karena sombong.”

    terdapat kata “kecuali aku menyingsingkannya”. ini berarti sisi sarung dari Abu Bakar melorot maka ia menyingsingkan sarungnya, hal ini dimaafkan karena ketidaksengajaan Abu Bakar.

    tetapi jika tidak melorot maka hukumnya haram.

    untuk lebih mudahnya, hadist adalah perkataan Rasul SAW.
    andaikan Rasul masih hidup dan berkata kepadamu bahwa isbal itu dilarang, apakah kita perlu kita bertanya lagi tentang hukumnya.

    mohon maaf jika ada salah kata, karena manusia tidak luput dari kesalahan

    Wass

  24. Sunu said

    Klo ada yang mengatakan “oh saya kan tidak sombong” berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar, yakni perkataan Rasulullah Saw kepada Abu Bakar ra (“Kamu bukan termasuk orang yang melakukan hal itu karena sombong.”), menunjukkan bahwa manath (obyek) pengharaman isbal adalah karena sombong. Sebab, isbal kadang-kadang dilakukan karena sombong dan kadang-kadang tidak karena sombong. Hadits yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar telah menunjukkan bahwa isbal yang dilakukan tidak dengan sombong hukumnya tidak haram.

    pandangan lain tentang hadits ini:
    Tetapi hal ini khusus untuk Abu Bakar ra yang telah berusaha untuk tidak isbal akan tetapi tidak sengaja isbal dan Abu Bakar ra juga sudah mendapatkan tazkiyah(pensucian) dari Nabi. Tentu kita bukanlah Nabi yang bisa mentazkiyah seseorang sebab Nabi mengatakan bukan berdasarkan hawa nafsu belaka “wa ma yanthiqu a’nil hawaa”. Kita juga tidak bisa mengetahui hal ghaib yaitu mengetahui hati seseorang, yang bisa kita lihat adalah zhahirnya saja.

    Jadi berdasarkan kumpulan hadits-hadits nabi tentang Isbal di atas, maka pendapat yang kuat adalah kita dilarang isbal secara mutlak terutama lagi sewaktu shalat. wallahu a’lam

    • tatarudin said

      Pandangan lain tentang hadits Abu Bakar itu khusus untuk Abu Bakar tidak tepat krna akan berdampak gugurnya hukum2 islam yg lain ketika Nabi bersabda kepada sahabat2nya yg lain, dan Nabi diutus utk seluruh umat manusia. Setuju..isbal dilarang secara mutlak, namun klau dgn sombong itu haram, namun tanpa sombong itu makruh saja, wallahu a’lam

  25. awisawisan said

    assalaamu’alaykum

    inilah yang menjadi salah satu pertanyaan di hati saya,
    tepatkah jika menyamakan keadaan pada zaman Rasulullaah (shalawt selalu untuk Beliau) dengan zaman sekarang ini?

    ‘afwan jika ada salah kata,
    saya hanya insan dho’if yang masih berjalan mencari kebenaran yang paling haq

  26. afraafifah said

    > awis

    anda shalat kan…?

    rasulullah shallallahu’alaihi wasallam pun dr sjak zaman bliau dan ketika perintah shalat turun, shalatnya kita dgn bliau ttp sama kan..?

    hanya saja yg beda..soal keduniaan… dulu rasul naik onta..qta naek mobil, pesawat, dll..

    smoga tdk ada lg keraguan dihati anti ^_^

  27. Jericco said

    Waow debat kusir. Sama sama bloon debat aja.
    Isbal tetap haram tau.
    Pingin liat siapa sih yang menghalalkan isbal? Di kitab apa? Halaman berapa? Tunjukkan kitab aslinya.

  28. Sudah jangan gitu ah :)

    Tawadhu-tawadhuan aja deh

    Yuk urusin yang lain…Islam kan bukan ISBAL doang

    Malu ah sama yang lain

    Karena menurut saya dua-duanya punya pegangan yang kuat. Tapi yang jelas kalau saya ke kantor pakai kaos kaki yang nutup mata kaki tuh….semoga Allah mengampuni kita-kita semua….Amien

    Fuad

  29. leo said

    sesama ikhwan harus saling bijaksana, kembali saja pada pemahaman para ulama ahlu sunnah dikalangan para masyaikh dakwah salafiyah di zaman kita.

  30. adib said

    ulasan saudara wangi cukup bagus di awal akan tetapi sayang di akhir saudara wangi intinya mengatakan “mudharat apa bila isbal tanpa kesombongan”.Rasullullah adalah teladan bg kt smua.byk hal yg rasullullah ajarkan akal manusia blm mampu jawab apa manfaatnya atau mudharatnya.Apakah saudara wangi tahu apa mudharat bila kita minum pakai tangan kiri? Atau apa mudharat bila saudara wangi tidak isbal?.dalam masalah isbal,lebih lah dekat kepada kebenaran apabila kita tidak isbal baik sombong atau tidak mski mgkn jg isbal tanpa kesombongan tidak lah haram.wallahualam

  31. al-Adaab (Safrin) said

    orang yang paling patut kita contohi adalah Rasulullah, dan Rasulullah itu tidak isbal alias celananya di atas mata kaki

  32. HaPur said

    Hikmah Larangan Isbal :
    1. lebih menjaga pakaian bersih dan suci, sebab pakaian yg terlalu panjang lebih memungkinkan mudah terkena kotoran dan najis.
    2. secara fitrah laki2 harus lebih gesit. Dengan batas pakaian yg dipertengahan betis akan memungkinkan gerakan yg luwes dibanding dgn pakaian yg sampai bawah mata kaki apa lagi sampai menyeret pakaiannya. Hal ini juga menegaskan bahwa laki2 tidak boleh mirip wanita yg kodratnya lemah lembut.
    3. Terhindar dari mubazir dan berlebih-lebihan dalam pakaian.
    4. lebih menunjukkan ketakwaan kepada Alloh SWT. Sebab dgn mengikuti contoh Rasul kita akan termasuk menjadi umat yg baik.

  33. zaky said

    jangan terlalu kaku/jumud, islam itu agama yang mudah jangan lah dipersulit. emang dosa atau tidak kita yang menentukan?.. sifat rosullulah tidak lah kaku seperti kakunya faham2 antum.

    wasalam

  34. Abu Hanifah Sofyan said

    Dua pendapat yg bersebrangan ini masing2 memiliki argumentasi.
    Yang lebih cenderung terhadap argumentasi yang mengaharamkan isbal, silakan utk tdk melakukannya. Yang lebih cocok dengan pendapat yang membolehkan isbal, silakan melakukannya jika mau.

    Kesombongan disepakati keharamannya. Isbal tidak diepakati haram/halalnya. Debat kusir yang hanya cari menang2an tidak disertai sikap tasamuh (mengahargai pendapat org lain) hanya akan menimbulkan permusuhan antara sesama muslim. Sedangkan permusuhan sesama muslim sudah jelas keharamannya. Para ulama madzhab, para mujtahid, para mufti dan org2 sholih lainnya selalu saling menghargai perbedaan pendapat. kenapa kita orang awam malah ribut merasa diri paling benar.

    Hukum fiqh hasil ijtihad hanyalah bersifat dzan (dugaan kuat), tdk bersifat yakin. Hanya Allah Yang Maha Mengetahui, ketika kita merasa paling benar berarti telah bersifat sombong di hadapan Allah.

    Mari saling mengharagai perbedaan pendapat. Masih banyak yang harus diurusi kaum muslimin. Bukan masalah ini tdk penting, tetapi kalau akhirnya menimbulkan perpecahan justru akan bertentangan dengan inti ajaran Islam itu sendiri.

    Wallahu ‘alam

    • tatarudin said

      Terserahlah mau dzan atau bukan, tidak ada masalah dalam istilah, namun akibat penggunaan istilah itu yg harus diperhatikan, sesuai dgn amalan para ulama terdahulu yg saleh atau tidak, klau tidak sesuai berarti itu batil. Dzan dalam al-qur’an tidak selalu tercela, misalnya dzan/persangkaan akan adanya kebangkitan (al-Muthaffifiin:4). Boleh yakin dgn suatu pendapat fiqih selama menjaga adab berbeda pendapat sebagaimana para ulama telah berbeda pendapat namun mereka lembut satu sama lain..

  35. musyary said

    siapa yg bisa menjamin seseorang untuk tidak sombong, padahal ISBAL sendiri itu adalah suatu bentuk keSOMBONGan.

    Abu Bakar R.A. merupakan pengecualian (karena Rosululloh SAW, benar2 mengetahui karakteristik beliau)

    sedangkan kita??
    ya, ikuti saja aturannya!!

    ndak usah nawar-nawar!!

    aturan Alloh yang diturunkan lewat Rosul Nya, bukan layaknya aturan buatan DPR dan lembaga2 lain di Indonesia yang bisa “mulur-mungkret” dan bisa ditawar-tawar (kayak pas ketilang polisi ja)

    sekali lagi syariat Islam bukan untuk ditawar atau diperdebatkan, tetapi untuk dilaksanakan!

    Wallohu a’lam bisshowab

    • tatarudin said

      Pandangan hadits Abu Bakar itu khusus untuk Abu Bakar tidak tepat krna akan berdampak gugurnya hukum2 islam yg lain ketika Nabi bersabda kepada sahabat2nya yg lain, dan Nabi diutus utk seluruh umat manusia. Setuju..isbal dilarang secara mutlak, namun klau dgn sombong itu haram, namun tanpa sombong itu makruh saja, wallahu a’lam

  36. ibn sholih said

    assalamu’alaikum wr.wb

    g usah debat lah akh…

    klo mau yang terbaik ikutin ja RASULULLAH Muhammad SAW (ALLAHumma sholli’ala Muhammad)
    RasuLULLAH Ja g isbal

    Insya ALLAH…..
    Menurut saya (ni cuma menurut saya lho) klo emank g boleh isbalnya karena sombong aja pastinya “Umar,Ustman,dan ‘Ali” RodhiALLAHuanhuma lebih berhak isbal daripada kita

    WALLAHu ‘alam

  37. Shollu 'ala nabiy.... said

    shollu ‘ala nabiy

  38. Salafiyin said

    Assalammu’alaykum warah matullah wabarakatuh…

    Sebenarnya banyak ayat-ayat didalam Al-Qur’an yang memerintahkan kita untuk taat kepada Allah dan RasulNya, dan siapa yang mendurhakai Rasul maka ia durhaka kepada Allah. Seperti dalam surat:

    Ali-Imran: 32 “Katakanlah: “Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”.”

    Ali-Imran: 132 “Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat.”

    Al-Ahzab: 33 “dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”

    An-Nisaa': 59 “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

    Dari banyak koment yang ana baca ada yang menuliskan tentang masalah fatwa seperti komment nomor 18, masya Allah perintah untuk tidak musbil adalah sesuatu yang disyari’atkan (wajib hukumnya), bukan fatwa, ana rasa semua perkataan ulama ahlussunnah sepakat bahwa hal itu dilarang karena perintah itu ada dalam hadist-hadist atau riwayat-riwayat yang shahih.

    Perlu kita fahamkan kembali bahwa arti sunnah sesungguhnya, kalau ditinjau dari segi bahasa bermakna jalan atau perjalanan hidup. Adapun menurut istilah syari’at sunnah adalah semua perkara yang bersumber dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam selain dari Al Quranul karim baik berupa ucapan, perbuatan, ataupun taqrir (pembenaran sikap beliau) dari hal-hal yang memiliki dalil secara syar’i.

    Inilah sunnah yang kita maksudkan, bukan sunnah dalam pengertian hukum fiqih (bila dikerjakan akan mendapatkan pahala dan jika ditinggalkan tidak apa-apa).

    Kalimat sunnah lebih luas maknanya daripada itu. Segala sesuatu yang diperintahkan, diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alayhi wassalam dinamakan sunnah. Dengan kata lain sunnah adalah ajaran nabi. Jika kita ditanya apa hukumya mengikuti ajaran nabi? Niscaya semua kaum muslimin akan menjawab wajib. Dan sebaliknya, barangsiapa yang mengingkari ajaran Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam maka dia adalah ahlul bid’ah.

    Ada satu bahasan menarik yang pernah dibahas oleh beliau Al Ust. Abu Karimah Asykari dalam kajiannya kitab Bulughul Marom Kitabul Jami Hadits ke14.
    Ana tulis seperti apa yang beliau katakan dengan sedikit perubahan agar tidak rancu kalimatnya, semoga bermanfaat…

    Bolehkah musbil, tapi tidak sombong?

    Dari Abu Hurairah radiyallahu anhu berkata: Rasulullah salallahu ‘alayhi wassalllam bersabda, “Allah tidak akan melihat dengan pandangan rahmat pada hari kiamat kepada siapa yang memakai (menurunkan) kainnya karena sombong.” (Bukhari – Muslim)

    Maka dari hadist ini menunjukkan sangat-sangat tercela orang yang menggampang-gampangkan menurunkan kainnya sampai menutupi mata kakinya (musbil), haram bahkan termasuk dosa besar karena mendapatkan ancaman dari Rasulullah salallahu ‘alayhi wassalllam.

    Bahkan dari riwayat lain dari Abu Dzarr radiyallahu anhu, Rasulullah salallahu ‘alayhi wassalllam bersabda, “Ada 3 golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, tidak dilihat (dengan pandangan rahmat) dan tidak dibersihkan dari dosa, serta mereka akan mendapat azab yang sangat pedih, yaitu pelaku isbal, pengungkit pemberian dan orang yang menjual barang dagangannya dengan sumpah palsu.” (HR Muslim)

    Dan dari hadist Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Apa saja yang berada di bawah kedua mata kaki maka itu tempatnya di Neraka.” (HR. Bukhari).

    Hadist ini menunjukkan mutlak pelarangan itu bagi laki-laki, sebab bagi wanita ada tambahan dari riwayat tersebut karena Ummu Salamah ketika mendengarkan hadist nabi salallahu ‘alayhi wassalllam ini beliau bertanya: “Bagaimana dengan wanita, apa demikian juga?” Jawab Rasulullah salallahu ‘alayhi wassalllam: “yazidna sibbran, dia tambah sejengkal” Beliau Ummu Salamah berkata: “Kalau demikian terlihat kakinya”. Jawab Rasulullah salallahu ‘alayhi wassalllam: “Wala yazidna ‘alayh, tambah lagi satu hasta”. na’am jangan mereka tambah lagi.

    Hadist ini menunjukkan bahwa para wanita di jaman Rasulullah salallahu ‘alayhi wassalllam pakaian mereka itu terseret disaat mereka itu berjalan, na’am. Sampai tidak terlihat kaki mereka.

    Ada sebagian orang berhujjah: “Tapi kan saya melakukannya tidak sombong…”

    Masya Allah jangan kalian mensucikan diri kalian merasa diri bebas dari sombong. Para sahabat Rasulillah salallahu ‘alayhi wassalllam mereka adalah orang-orang yang khawatir terhadap diri mereka ditimpa kemunafikkan, ini merasa diri tidak sombong.

    Ada yang berhujjah: “Kalau nggak sombong kan berarti nggak haram…”

    Mana ada orang yang sombong mengaku dirinya sombong? na’am. Tambah lagi Rasulullah salallahu ‘alayhi wassalllam dalam riwayat lain yang shahih beliau mengatakan: “Berhati-hatilah kalian jauhilah menurunkan kain menutupi mata kaki! Karena itu justeru menunjukkan kesombongan” jadi menurunkan kain dibawah mata kaki menunjukkan kesombongan kamu. Tanda kesombongan ya itu, kecuali dalam keadaan ia tidak mampu untuk menjaga seperti Abu Bakar Asy sidiq radhiyallahu ‘anhu karena kurusnya beliau, beliau sudah berusaha menaikkan turun lagi, na’am mungkin waktu itu jenis pakaiannya sulit untuk dieratkan, dikuatkan sehingga sering turun dan itu dimaafkan oleh Rasulullah salallahu ‘alayhi wassalllam, Kata beliau salallahu ‘alayhi wassalllam: “Kamu tidak termasuk orag yang melakukannya karena sombong”. itu karena Abu Bakar Asy sidiq radhiyallahu ‘anhu sudah berusaha untuk menaikkan, kalau yang berhujjah tadi sengaja untuk diturunkan.

    Ada lagi yang manhajnya manhaj mengangkat sarung tapi disaat ada ikhwan, nggak ada ikhwan diturunkan, mereka ini salah juga, jangan takut kepada manusia takutlah kepada Allah mestinya, Allah yang melihat perbuatan mereka, na’am.

    Dan ini sama sekali bukan ciri-ciri suatu kelompok tertentu, kalau mau masuk kelompok tertentu ciri-cirinya harus dinaikkan kain sarungnya, karena ada sebagian orang menyangka bahwa ini adalah ciri-ciri Islam jama’ah, bukan…
    Itu bukan suatu ciri-ciri kelompok tertentu tetapi itu sunnah Rasulullah salallahu ‘alayhi wassalllam, na’am…

    Wallahu’alam bisshowab.

    • kalao bisa baca khazanah Fiqh islam lintas mazhab mas Salafiyin….
      jangan hanya membaca kitab2 “ustadz-ku” atau yang mengklaim sebagai “salafy” saja…
      kalau itu belum km lakukan…, perdebatan or diskusi ini ga akan selesai….
      kamu pakai dasar A yg lain pakai dasar B (utara selatan kawan….)

  39. ananda said

    Rasulullah yg paling mulia akhlaknya, dan paling berhak untuk dikatakan tidak sombong saja, beliau mengangkat celananya hingga pertengahan betis. Padahal kalau Rasulullah mau menjulurkannya hingga bawah mata kaki, bisa saja, dan tinggal ngomong : ‘ saya kan berakhlak mulia, dan ngga mungkin sombong, jadi ngga apa2 di bawah mata kaki’ (seperti kebanyakan orang saat ini kalau berhujjah).

    Mereka generasi salaf yg paling berhak untuk tidak sombong saja takut untuk terjerumus kesombongan dgn menjulurkan hingga ke bawah mata kaki, bagaimana generasi sekaranng yg nggak jelas kualitas akhlaknya bisa mengatakan bawah ‘Saya kan nggak sombong”
    Padahal tipikal orang2 seperti inilah yg sombong, krn enggan untuk menerima perintah Rasulullah, yang katanya perintah seperti itu kuno, kampungan, arabian banget, dll.
    Sombong kan ?????

    Teman saya ada yg samapi saat ini hanya bisa menggulung celana dan kadang menjulurkan hingga bawah mata kaki, tapi dia mengakui akan mulianya mengikuti perintah Rasulullah mengenai pakaian ikhwan ini. Tapi dia masih malu dgn orang2 sekitar, dan takut. Tidak apa2, mudah2an dia mendapat kekuatan esok harinya.

    Lebih baik mengakui akan kebenarannya meskipun masih takut utk melakukannya, daripada mencari2 pembenaran, seolah2 hal yg dilakukannya benar…..
    yg seperti ini sulit utk bertaubat…

    mudah2an ikhwan di sini dapat hidayah.

  40. hawru_ubaa said

    @saalfiyin
    @ananda
    Koment kalian mantaff.. barokallohu fikumma!
    menyumpal mulut mereka yang enggan meninggalkan isbal dg dalih “saya kan tidak sombong”

  41. zacky said

    wangi Berkata:
    Agustus 3, 2007 pada 4:37 pm

    Saya melihat esensinya adalah tidak boleh sombong dan menunjukan kemegahan. Pada zaman itu dan budaya setempat, menyombongkan kedudukan dan status sosial ditunjukan dengan memakai pakaian model seperti itu.

    Kondisi saat ini dan pada budaya kita, orang menyombongkan status sosial tidak dengan memanjangkan atau memendekan sarung atau jubahnya, tapi dengan pakaian bermerek yang harganya jutaan, mobil mahal, parfum mahal dll. Kalau di qyas-kan, esensi dari perintah itu adalah jangan menyombongkan diri, pada konteks saat ini misalnya jangan pakai pakaian yang mahal berlebihan karena itu termasuk sikap sombong.

    Mudarat apa yang saya buat kalau saya pake celana melebihi mata kaki????

    zacky jawab:
    mudaratnya adalah anda tidak mentaati Allah dan rasulnya, karena jika anda mengamalkan perintah tersebut berarti bentuk ketaatan kepada allah dan rasulnya, sami’na wa atho’na(kami mendengar dan kami mentaatinya) beitulah caranya menjunjung rasul kita bukan dengan lisan saja tapi dengan mengamalkannya, jangan membenturkan logika dengan sunnah rasulullah seperti orang yang tidak punya iman.

  42. abu khansa said

    isbal…oh isbal

    ada yang membolehkan….ada yang melarang….masing2 punya dalil sendiri…silahkan pakai yang mana yang dianggap benar menurut pemahaman dalilnya (kuat-kuatan dalil hehe..)…jangang sampai menghujat,,apalagi sampai perang saraf….

    mari kita gandngan tangan…masih banyak amalan lain yang sudah diketahui secara pasti (wajib) hukumnya atau sunah muakad,,semisal bagaimana agar HUKUM-HUKUM ISLAM bisa cepat mengentaskan umat islam dari keterpurukan ini…

  43. abrari said

    isbal sendiri udah termasuk kesombongan pak…

  44. Dalam konteks sekarang, celana panjang nyaris menyentuh tanah atau celana panjang yang pendek diatas mata kaki gak ada hubungannya dengan soal sombong-menoymbong. Melainkan lebih relevan dengan faktor estetika saja. Kalau untuk acara formal, celana diatas mata kaki cenderung tidak estetik. Itu aja. Mohon maaf, saya pake tafsir kontekstual, mungkin saat jaman Rasulullah bahan untuk bikin pakaian itu masih langka sehingga orang makin kaya maka akan menghabiskan bahan baju yang makin panjang, sampai melambai2 dan beberapa meter menyapu jalan. Akhirnya jadi simbol kesombongan. Nah, apakah dengan kondisi saat ini dimana bahan baku melimpah itu relevan atau tidak? Saat ini mode pakaian justru makin tipis, yu can see, hemat bahan baku dan membuka aurat. Jadi makin banyak bahan baku dan menutup aurat malah makin baik. Jadi menurutku, aku kok lebih cenderung pake substansinya, bukan apa yang tertera secara tersirat.

  45. ibadurrahman said

    mengapa kita debat kusir masalah furu’,islam itu mudah jangan dipersulit,insya Allah kalau mereka shalat dan hatinya bersih dari su’udhon merekalah yang bertaqwa.lalu,bagaimana dengan saudara-saudara kita yang pakaianya minim-minim,itu PR kita???kemudian yang paling urgen adalah masih banyak masjid yang kosong,ini adalah skala prioritas yang harus di utamakan dalam islam.ingat debat tidak menambah kerukunan,justru membuat futur dan jiwa jadi kotor.lakukan saja mana yang kita yakini benar,masih banyak saudara2 kita yang tidak mau ke mesjid karena gak bisa shalat.

  46. dnz said

    untuk saudaraku yg seiman,taufiqelrahman

    dalam membahas Islam,
    tidak ada tolak ukur sekarang dan masa lalu,
    tidak ada toleransi tuk relevan atau tidak untuk setiap hukum Islam yang sudah ada dalam Al-Quran dan As-Sunnah.

    bukan masalah “makin banyak bahan baku dan menutup aurat malah makin baik” (misal) tetapi sudah banyak larangan keras dari Rasulullah SAW untuk menjauhi yang namanya isbal.

    apakah kita lebih memilih faktor estetika manusia daripada Allah SWT ?

    itu terserah individu masing2,
    yang pasti sudah ada hukum tentang isbal ,
    tolong jangan menyamar2kan yang sudah jelas haram hukumnya .
    benar kata2 yg menyatakan “Islam itu agama yang mudah TAPI tidak dmudah-mudahkan (oleh kita yang mengimaninya)”

    lihatlah komen saudara saalfiyin dan ananda, karena disitu jelas bahwa isbal harus kita tinggalkan.

    saya pikir bagi kami yang sudah mengetahui bagi isbal adalah haram hukumnya,
    maka kami WAJIB menasihati saudara/saudari kami yg tidak tahu / keliru akan apa hukumnya isbal itu.
    tetapi jika untuk diajak berdebat apa yang sebenarnya sudah jelas benar san sudah banyak dalil2 yang menguatkan hukum ini (karena Islam memprioritaskan naql [dalil-dalil Al-Quran dan As-Sunnah] bukan ru’yah (akal manusia yang tidak jelas hukumnya dan lebih condong kepada mengikuti hawa nafsunya. ini pengecualian untk Rasulullah SAW yang memberi wasiat pasti bukan dari hawa nafsunya karena memang Rasulullah SAW sudah dijaga oleh Allah SWT dari dosa dan hawa nafsu ),
    maka lebih baik kami mengundurkan diri dari debat yang tidak ada penyelesaiannya . setidaknya kami sudah menjalankan apa yang diperintahkan oleh Allah SWT untuk saling menasih-nasihati diantara saudar/saudari muslim.

    Wallahu’alam bisshowab.

  47. Namanya juga masalah furu’iyah atau masalah yang sepele, ya silahkan diperdebatkan. yang satu mendasarkan pada bahasa hukum tekstual hadist yang lain menggunakan dalil aqli.
    Namun jangan sampai masalah kecil dapat memecah belah umat islam. Jangan pula satu pihak merasa paling benar dari yang lainnya. Karena bila islam terpecah, musuh2 islam akan bertepuk tangan puas.

  48. apip said

    perintah RASUL S A W berarti juga perintah ALLAH S W T.
    Laksanakan………..
    jangan di pikir dan di perdebatkan oleh akal kita karena itu adalah perintah ALLAH S W T.

  49. Abu Fiqhan said

    Aww,
    Ada beberapa pertanyaan ttg isbal, mungkin Ust bisa dijawab dengan dalil.
    1. Bagaimana hukum memakai kaos kaki pd laki2 pd saat sholat di iklim bersalju?
    2. Bagaimana penjelasan, kalau tidur memakai selimut yg menutupi mata kaki? Karena kalau saya membaca dari artikel diatas, disimpulkan apapun, kapanpun, dimanapun isbal itu haram.

    Mohon penjelasan dengan dalil, tanpa menggunakan estetika.
    Terima kasih.

  50. Abu Fiqhan said

    Aww,
    Kalau kita teliti dari kata-kata hadist, ISBAL KARENA SOMBONG.
    Bagaimana dengan yang tidak sombong ?
    Dan bagaimana pula dengan yang tidak ISBAL tapi sombong ? Karena kalau saya melihat fenomena saat ini, spt nya yang tidak isbal malah terlihat sombong krn ingin terlihat berlebihan.
    Islam juga mengajarkan estetika berpakaian yg baik. Jgn lah menafsirkan terlalu berlebihan, sampai-2 diangkat setinggi betis.
    Menurut saya, hal spt ini lbh baik di bedah sampai tuntas, baru kita ber-tasamu.
    Saya pernah mengikuti debat, kalau tdk salah PERSIS dgn SALAFI, kenapa pihak SALAFI selalu tidak pernah tuntas dan tdk pernah datang disetiap undangan. Saya selaku org awam yg ingin belajar, sangat kecewa dgn ketidakhadiran tsb.
    Kebetulan rekan saya di organisasi PERSIS, jd saya sering mengikuti apabila ada undangan spt itu.

    Wassalam
    Abu Fiqhan

  51. Banyak bicara kata “sombong”, tapi tidak memahami perkataannya.

    Kalu mau contoh donk abu bakar : (Lihat perkataan pada artikel diatas)

    “Sesungguhnya sebagian dari sisi sarungku melebihi mata kaki, kecuali aku menyingsingkannya.”

    Artinya, ketika celana abu bakar turun, maka beliau menyingsingkannya, artinya beliau tidak sengaja menurunkannya.

    Tapi kebanyakan kita, ketika kain sarung / celananya turun, tidak ada niat sedikitpun menyingsingkannya, itulah kesombongan.

    “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada sebesar dzarrah dari kesombongan.” Salah seorang sahabat lantas berkata: “Sesungguhnya seseorang senang jika bajunya bagus dan sandalnya baik” Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah Dzat yang Maha Indah dan senang dengan keindahan, Sombong itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim)

    Artinya, menolak kebenaran itulah kesombongan.

    Yang hak (kebenaran) kain sarung / celana laki – laki adalah tidak melewati mata kaki.

    Barangsiapa menolaknya setelah datang keterangan baginya, maka dia adalah sombong.

    Dan harap diingat, hukum Allah itu tidak mengenal tempat, budaya dan waktu.

    ————————

    Dari Hudzaifah Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata.

    “Artinya : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang otot betisku lalu bersabda, “Ini merupakan batas bawah kain sarung. Jika engkau enggan maka boleh lebih bawah lagi. Jika engkau masih enggan juga, maka tidak ada hak bagi sarung pada mata kaki” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, Ibnu Hibban, Hadits Shohih)

    “Waspadalah kalian dari isbal pakaian, karena hal itu termasuk kesombongan, dan Allah tidak menyukai kesombongan” (HR.Abu Dawud, Ahmad)

    Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhu berkata, : “Saya lewat di hadapan Rasulullah sedangkan sarungku terurai, kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menegurku seraya berkata, “Wahai Abdullah, tinggikan sarungmu!” Aku pun meninggikannya. Beliau bersabda lagi, “Tinggikan lagi!” Aku pun meninggikannya lagi, maka semenjak itu aku senantiasa menjaga sarungku pada batas itu. Ada beberapa orang bertanya, “Seberapa tingginya?” “Sampai setengah betis.” (HR.Muslim, Ahmad)

    Dari Khorsyah bin Hirr berkata : “Aku melihat Umar bin Khaththab, kemudian ada seorang pemuda yang melabuhkan sarungnya lewat di hadapannya. Maka Umar menegurnya seraya berkata : “Apakah kamu orang yang haidh?” pemuda tersebut menjawab : “Wahai amirul mukminin apakah laki-laki itu mengalami haidh?” Umar menjawab ; “Lantas mengapa engkau melabuhkan sarungmu melewati mata kaki?” kemudian Umar minta diambilkan guting lalu memotong bagian sarung yang melebihi kedua mata kakinya”. Kharsyah berkata : “Seakan-akan aku melihat benang-benang di ujung sarung itu” (HR. Ibnu Syaibah 8/393 dengan sanad yang shohih, lihat Al-Isbal Lighoiril Khuyala, hal. 18)

  52. yudo (yudo_prince@yahoo.com) said

    maaf, sya yg bodoh ingin mengeluarkan uneg2

    hanya Allah yang pantas sombong
    kesombogan makhluk tempatnya…… dineraka.
    sombong itu……..: roddulhaq wa ngomtunnas(menolak kebenaran dan meremehkan manusia)
    tentang kebenaran suatu hal….? banyak pendapatnya, dan semoga qt termasuk kedalam pendapat yg benar

    dalam perkara isbal…. mengikuti sunnah rasul tentunya ahsan

    kl dilihat debat masalah ini yang mengarah kepada perpecahan umat islam adalah masalah haram tidaknya isbal

    1. kelompk yg mengharamkan isbal,otomatis akan berpendapat org yg tdk isbal tdk mau mengikuti sunnah nabi,tdk mau mengikuti sunnah berarti ingkar sunnah, ingkar sunnah tempatnya di neraka, logika seperti ini terus berlanjut. maka,sebagian (maaf tdk semua)kelompok ini memandang musbil (org yg isbal) sebagai pendosa,sehingga sering muncul celaan baik dalam bentuk sikap/tulisan /perkataan.
    2 hal ini ditanggapi negatif oleh kelompok yg berlawanan, sehingga ada rasa saling jauh dan bermusuhan…

    kelompok yg tdk mengharamkn belum tentu isbal
    kelompok yg mengharmkn sebagian melihat keislaman seseorang termasuk dr tampilannya.jk ia isbal akan diragukn keislamannya/kestiqohannya,sehingga dk mau mendengarkn pendapatnya(mungkin akan ada comment:”ya iyalah itukan salah satu syarat menuntut ilmu/mengambil pendpat”)namun,mohon berhati2lah
    (nabi muhammad alaihi salam diturunkaan dr gol manusia,agar tdk ada komentar beliau tdk bis diikuti,karena sama2 manusia,namun beliau ma’sum-unsin-abu bakar “keimanannya lbh baik dibanding seluruih manusia(umat rasul alaihi salam). namun ,beliau adalah manusia biasa…. mohoon berhati2lah men”cap” seseorang)

    haram/tdknya kembalikan kepada diri masing2,
    imam nawawi mengatakan makrukh
    syeikh albani mengatakan haram
    mari berserah diri kepada allah. perdebatan berkepanjangan dikawatirkan menambah benih kesombongan…nauzubillah
    la ikroha fiddin( tdk ada paksaan dalm agama)

    rasul alaihi salam menjaga baik hubungan dg non islam, meskipun beliau dicaci maki dan diludahi
    abdullah bin ubay(nyata2 kemunafikannya),dipergauli dg wajar oleh rasul….
    kenapa qt saling bersitegang?
    aqidah shohihah patut dijaga, kemusyrikan nyata masih byk di indonesia, bagaimana pemecahannya. sms ramalan makin marak…
    ekonomi umat masih memakai hukum riba yg haram…

    bagi yg mengharamkn isbal marilah lebih tawadhu….
    bagi yg menganggap tdk haram,jgn sampai karena sakit hati sengaja berisbal,utk menyelisihi pendapat pertama yg kadangkala disampaikan secara ekstrim…mari berdoa terhindar dari neraka

    hati2 terjerumus seperti kelompok khawariz
    hati2 mengikuti org2 mu’tazilah
    mari qt tambah input keislaman. qt………
    maafkan dg kedoifan sy!!!!!!

  53. mahri said

    Assalamu’alaikum.

    Mudah2an tdk bosan ya.. mo nimbrung ambil kesimpulan nih.
    Bismillah..

    Ini hanya point-point pemikiran sy aj:
    – Nash Isbal ada 2 macam: MUTLAK & MUQOYYAD, menurut kaidah: Mutlak harus dibawa pd yg Muqoyyad.
    – Nash yg MUQOYYAD bersifat AKHBAR, yg MUTLAK bersifat ‘AMR, menurut kaidah: Hukum Asal perintah itu wajib.
    – Secara esensi memang Isbal tdk boleh karena sombong brdasarkan adat masa itu. Tapi hadits2 perintah/’amr yg mutlak itu terlalu TEGAS dan BERAT untuk diabaikan (bg yg tunduk pd Allah & Rasul).
    – LEBIH BAIK KITA BERHATI-HATI “TIDAK ISBAL” DAN MENDAPAT KEUTAMAAN MENCONTOH RASULULLAH. (sahabat saja -klo tdk salah Abdullah bin Umar- ada yg mengikuti segala perilaku Rasul karena cintanya, dan tdk ada yg mengingkarinya).

    Wassalam.

  54. Misbah said

    Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarokaatuh

    Tmn2 yg sudah dimudahkan menjalankan sunnah, marilah kita berusaha “bil hikmah wal mauidzoh hasanah wa jadilhum billati hiya ahsan” dlm menyampaikan yg haqq. Mohon kita tdk cepat menyangka/ketakutan terhadap debat spt ini. Ini tidaklah menjadi tanda saling benci membenci, menghujat dsb. Tapi inilah proses mencari keyakinan kita, memperkokoh keimanan & saling berbagi dg ikhwah semua. Firman Allah Subhanahu wa ta’ala: “berdebatlah dengan mereka dgn cara yg baik” QS 16 : 125
    @abu khansa: tidak isbal mrpk solusi mengobati keterpurukan, krena keterpurukan itu justru bisa jadi akibat kejahilan dlm diin.

    “LA HAULA WALA KUWWATA ILLA BILLAH”

    kepada yg berpendapat dg pendapat dirinya “mnurut aku, pendapat saya, hemat saya, dll” emang antum siapa? ambillah pendapat para alim ulama yg shaleh. pewaris para nabi, lebih sempurna lagi kita mengambil argument bersumberkan Al Quran&hadis sesuai dg pemahaman para sahabat&tabi’in dan yg setelahnya. InsyaAllah Allah meridhainya. karena mereka sebaik2 ummat ”
    @talithazone: stuju…! bukanlah tujuan menang2-an lalu tepuk tangan, girang.., puas… Tp, yg kita tinggikan adalah syari’at ini. marilah saling mendo’akan. kita saudara se-iman kan…? semoga Allah menunjuki kita kejalan yg diridhai-Nya. “saudara2ku disini semua adalah yg saya cintai & kebenaran lebih saya cinta” mari amalkan… sesuai ilmu yg kita yakini ke shahihannya. ilmu bukan untuk bekal berdebat, tapi tuk penuntun amal agar diterima. “Allah memberi pahala terhadap amalan bukan terhdap yg diketahui” cukup jelas mana yg haqq & yg batil. “Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit.” QS 6 : 125.

    Semoga Allah menunjuki ikhwah semua kepada jalan yg lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

    Wallaahu musta’aan.
    Washallallahu ‘ala nabiyyina Muhammadin wa alihi washohbihi wasallam

    Wassalaamu’alaikum warahmatullahi wabarokaatuh

  55. hamba said

    YAAA..AKU JUGA URUN REMBUG….
    HATI-HATI DENGAN ILMU KITA….
    BISA JADI ILMU KITA MENJADI UJIAN PALING BERAT YANG TANPA SADAR KITA MENJADI TERGELINCIR KARENANYA…..
    JANGAN SAMPAI KARENA KITA MERASA “TAU”, SEHINGGA TERPIKIR DALAM BENAK, SELALU MENGANGGAP ORG LAIN SALAH, ORG LAIN BODOH, ORG LAIN CELAKA, ORG LAIN LEBIH RENDAH, DSB…
    HATI2 DENGAN IKHLAS, DG NIAT, DENGAN TAWADHU’….ighfirlana dzunubana ya Robb

  56. imad said

    kl ad sdr yg make celana diatas mata kaki lalu dg sombongnya “iniloh gw yg bener, n yg lain salah” apakah org spt ini g sombong???

  57. munggahbada said

    assalamualaykum….
    setelah mengamati, saya berkesimpulan: bagi yang yakin isbal hrs ditinggalkan, saya ucapkan salut, krn itu merupakan bentuk dr ikhtiyat/kehati-hatian…bagi yang belum, mudah2an kita bisa tinggalkan isbal…kedua pihak jangan saling berperang argument, krn ini masalah fiqih, bkn aqidah…yg sudah tinggalkan isbal, jgn merasa paling benar, klo mau ingatkan org2 yg musbil hrs dgn kesabaran&hikmah….yang blm tinggalkan isbal ga usah mgotot bener….masing2 punya dalil/hujjah…
    jadi, lebih baik fokuskan pada persatuan/ukhuwah dgn semakin mempertebal aqidah yg hanif, aqidah ahlisunnah wal jama’ah….

  58. zai banderas said

    LARANGAN ISBAL [MELABUHKAN PAKAIAN HINGGA MENUTUP MATA KAKI]

    Oleh
    Abu Abdillah Ibnu Luqman

    Isbal artinya melabuhkan pakaian hingga menutupi mata kaki, dan hal ini terlarang secara tegas baik karena sombong maupun tidak. Larangan isbal bagi laki-laki telah dijelaskan dalam hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat banyak, maka selayaknya bagi seorang muslim yang telah ridho Islam sebagai agamanya untuk menjauhi hal ini. Namun ada sebagian kalangan yang dianggap berilmu, menolak (larangan) isbal dengan alasan yang rapuh seperti klaim mereka kalau tidak sombong maka dibolehkan?! Untuk
    lebih jelasnya, berikut kami paparkan perkara yang sebenarnya tentang isbal agar menjadi pelita bagi orang-orang yang mencari kebenaran. Amin. Wallahul Musta’an.

    [A]. DEFINISI ISBAL
    Isbal secara bahasa adalah masdar dari “asbala”, “yusbilu-isbaalan”, yang bermakna “irkhaa-an”, yang artinya; menurunkan, melabuhkan atau memanjangkan. Sedangkan menurut istilah, sebagaimana diungkapkan oleh Imam Ibnul ‘Aroby rahimahullah dan selainnya adalah ; memanjangkan, melabuhkan dan menjulurkan pakaian hingga menutupi mata kaki dan menyentuh tanah, baik karena sombong ataupun tidak. [Lihat Lisanul 'Arob, Ibnul Munzhir 11/321, Nihayah Fi Gharibil Hadits, Ibnul Atsir 2/339]

    [B]. BATAS PAKAIAN MUSLIM
    Salah satu kewajiban seorang muslim adalah meneladani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam segala perkara, termasuk dalam masalah pakaian. Rasulullah telah memberikan batas-batas syar’I terhadap pakaian seorang muslim, perhatikan hadits-hadits berikut:.

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

    “Artinya : Keadaan sarung seorang muslim hingga setengah betis, tidaklah berdosa bila memanjangkannya antara setengah betis hingga di atas mata kaki. Dan apa yang turun dibawah mata kaki maka bagiannya di neraka. Barangsiapa yang menarik pakaiannya karena sombong maka Alloh tidak akan melihatnya” [Hadits Riwayat. Abu Dawud 4093, Ibnu Majah 3573, Ahmad 3/5, Malik 12. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Al-Misykah 4331]

    Berkata Syaroful Haq Azhim Abadi rahimahullah : “Hadits ini menunjukkan bahwa yang sunnah hendaklah sarung seorang muslim hingga setengah betis, dan dibolehkan turun dari itu hingga di atas mata kaki. Apa saja yang dibawah mata kaki maka hal itu terlarang dan haram.[ Aunul Ma’bud 11/103]

    Dari Hudzaifah Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata.

    “Artinya : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang otot betisku lalu bersabda, “Ini merupakan batas bawah kain sarung. Jika engkau enggan maka boleh lebih bawah lagi. Jika engkau masih enggan juga, maka tidak ada hak
    bagi sarung pada mata kaki” [Hadits Riwayat. Tirmidzi 1783, Ibnu Majah 3572, Ahmad 5/382, Ibnu Hibban 1447. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah 1765]

    Hadits-hadits di atas mengisyaratkan bahwa panjang pakaian seorang muslim tidaklah melebihi kedua mata kaki dan yang paling utama hingga setengah betis, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam haditsnya yang banyak

    Dari Abi Juhaifah Radhiyallahu ‘anhu berkata.

    Aku melihat Nabi keluar dengan memakai Hullah Hamro’ seakan-akan
    saya melihat kedua betisnya yang sangat putih” [Tirmidzi dalam Sunannya 197, dalam Syamail Muhammadiyah 52, dan Ahmad 4/308]

    ‘Ubaid bin Khalid Radhiyallahu ‘anhu berkata : “Tatkala aku sedang berjalan di kota Madinah, tiba-tiba ada seorang di belakangku sambil berkata, “Tinggikan sarungmu! Sesungguhnya hal itu lebih mendekatkan kepada ketakwaan.” Ternyata dia adalah Rasulullah. Aku pun bertanya kepadanya, “Wahai Rasulullah, ini Burdah Malhaa (pakaian yang mahal). Rasulullah menjawab, “Tidakkah pada diriku terdapat teladan?” Maka aku melihat sarungnya hingga setengah betis”.[Hadits Riwayat Tirmidzi dalam Syamail 97, Ahmad 5/364. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Mukhtashor Syamail Muhammadiyah, hal. 69]
    .
    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah ditanya tentang seseorang yang memanjangkan celananya hingga melebihi mata kaki. Beliau menjawab :’ Panjangnya qomis, celana dan seluruh pakaian hendaklah tidak melebihi kedua mata kaki, sebagaimana telah tetap dari hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam” [Majmu' Fatawa 22/14]

    Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata : “ Walhasil, ada dua keadaan bagi laki-laaki; dianjurkan yaitu menurunkan sarung hingga setengah betis, boleh yaitu hingga di atas kedua mata kaki. Demikian pula bagi wanita ada dua keadaan; dianjurkan yaitu menurunkan di bawah mata kaki hingga sejengkal, dan dibolehkan hingga sehasta” [Fathul Bari 10/320]

    [C]. DALIL-DALIL HARAMNYA ISBAL
    Pertama.
    “Dari Abu Dzar bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Ada tiga golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat dan bagi mereka adzab yang pedih. Rasulullah menyebutkan tiga golongan tersebut berulang-ulang sebanyak tiga kali, Abu Dzar berkata : “Merugilah mereka! Siapakah mereka wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab : “Orang yang suka memanjangkan pakaiannya, yang suka mengungkit-ungkit pemberian dan orang yang melariskan dagangannya dengan sumpah palsu.” [Hadits Riwayat Muslim 106, Abu Dawud 4087, Nasa'i 4455, Darimi 2608. Lihat
    Irwa': 900]

    Kedua.
    “Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang melabuhkan pakaiannya karena sombong, maka Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat.” [Hadits Riwayat Bukhari 5783, Muslim 2085]

    Ketiga.
    “Dari Abu Hurairah bahwasanya Nabi ersabda : “Apa saja yang di bawah kedua mata kaki di dalam neraka.” [Hadits Riwayat Bukhari 5797, Ibnu Majah 3573, Ahmad 2/96]

    Keempat
    “Dari Mughiroh bin Syu’bah Radhiyallahu ‘anhu, adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai Sufyan bin Sahl! Janganlah kamu isbal, sesungguhnya Allah tidak menyenangi orang-orang yang isbal.” [Hadits Riwayat. Ibnu Majah 3574, Ahmad 4/26, Thobroni dalam Al-Kabir 7909. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah: 2862]

    Kelima
    “Waspadalah kalian dari isbal pakaian, karena hal itu termasuk kesombongan, dan Allah tidak menyukai kesombongan” [Hadits Riwayat Abu Dawud 4084, Ahmad 4/65. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah: 770]

    Keenam
    Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhu berkata, : “Saya lewat di hadapan Rasulullah sedangkan sarungku terurai, kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menegurku seraya berkata, “Wahai Abdullah, tinggikan sarungmu!” Aku pun meninggikannya. Beliau bersabda lagi, “Tinggikan lagi!” Aku pun meninggikannya lagi, maka semenjak itu aku senantiasa menjaga sarungku pada batas itu. Ada beberapa orang bertanya, “Seberapa tingginya?” “Sampai setengah betis.”[Hadits Riwayat Muslim 2086. Ahmad 2/33]

    Berkata Syakh Al-Albani rahimahullah, : “Hadits ini sangat jelas sekali bahwa kewajiban seorang muslim hendaklah tidak menjulurkan pakaiannya hingga melebihi kedua mata kaki. Bahkan hendaklah ia meninggikannya hingga batas mata kaki, walaupun dia tidak bertujuan sombong, dan di dalam hadits ini terdapat bantahan kepada orang-orang yang isbal dengan sangkaan bahwa mereka tidak melakukannya karena sombong! Tidakkah mereka meninggalkan hal ini demi mencontohkan perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap Ibnu Umar?? Ataukah mereka merasa hatinya lebih suci dari Ibnu Umar?” [Ash-Shahihah: 4/95]

    Berkata Syaikh Bakr Abu Zaid :” Dan hadits-hadits tentang pelarangan isbal mencapai derajat mutawatir makna, tercantum dalam kitab-kitab shohih, sunan-sunan, ataupun musnad-musnad, diriwayatkan dari banyak sekali oleh sekelompok para sahabat. Beliau lantas menyebutkan nama-nama sahabat tersebut hingga dua puluh dua orang. Lanjutnya : “ Seluruh hadits tersebut menunjukkan larangan yang sangat tegas, larangan pengharaman, karena di dalamnya terdapat ancaman yang sangat keras. Dan telah diketahui bersama bahwa sesuatu yang terdapat ancaman atau kemurkaan, maka diharamkan, dan termasuk dosa besar, tidak dihapus dan diangkat hukumnya. Bahkan termasuk hukum-hukum syar’i yang kekal pengharamannya.”[Hadd Tsaub Wal Uzroh Wa Tahrim Isbal Wa Libas Syuhroh, hal. 19]

    [D]. DAMPAK NEGATIF ISBAL
    Isbal kehaaramannya telah jelas, bahkan di dalam isbal terdapat beberapa kemungkaran yang tidak bisa diangga remeh, berikut sebagiannya..

    [1]. Menyelisihi Sunnah
    Menyelesihi sunnah termasuk perkara yang tidak bisa dianggap enteng dan ringan, karena kewajiban setiap muslim untuk mengamalkan setiap sendi dien dalam segala perkara baik datangnya dari Al-Qur’an atau Sunnah.

    Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
    “Artinya : Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rosul, takut akan di timpa cobaan (fitnah) atau ditimpa adzab yang pedih” [An-Nur : 63]

    [2]. Mendapat Ancaman Neraka
    Berdasarkan hadits yang sangat banyak berisi ancaman neraka [2], bagi yang melabuhkan pakaiannya, baik karena sombong taupun tidak.

    [3]. Termasuk Kesombongan
    Berkata Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah : “Kesimpulannya isbal melazimkan menarik pakaian, dan menarik pakaian melazimkan kesombongan, walaupun pelakunya tidak bermaksud sombong” (Fathul Bari 10/325). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Waspadalah kalian dari isbal pakaian, karena hal itu termasuk kesombongan, dan Allah tidak menyukai kesombongan” [Hadits Riwayat Abu Dawud 4084, Ahmad 4/65, dishohihkan oleh Al-Albany dalam As-Shohihah 770]

    Berkata Ibnul Aroby rahimahullah : “Tidak boleh bagi laki-laki untuk memanjangkan pakaiannya melebihi kedua mata kaki, meski dia mengatakan : “Aku tidak menariknya karena sombong”, karena larangan hadits secara lafazh mecakup pula bagi yang tidak sombong, maka tidak boleh bagi yang telah tercakup dalam larangan, kemudian berkata : “Aku tidak mau melaksanakannya karena sebab larangan tersebut tidak ada pada diriku”, ucapan semacam ini merupakan klaim yang tidak bisa diterima, bahkan memanjangkan pakaian itu sendiri menunjukkan kesombongan” [Fathul Bari 10/325]

    [4]. Menyerupai Wanita
    Isbal bagi wanita disyari’atkan bahkan wajib, dan mereka tidak diperkenankan untuk menampakkan anggota tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Orang yang isbal berarti mereka telah menyerupai wanita dalam berpakaian, dan hal itu terlarang secara tegas, berdasarkan hadits.

    Dari Ibnu Abbas ia berkata ; “Rasulullah melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki” [Hadits Riwayat Bukhari 5885, Abu Dawud 4097, Tirmidzi 2785, Ibnu Majah 1904]

    Imam At-Thobari berkata : “Maknanya tidak boleh bagi laki-laki menyerupai wanita di dalam berpakaian dan perhiasan yang menjadi kekhususan mereka, demikian pula sebaliknya” [Fathul Bari II/521]

    Dari Khorsyah bin Hirr berkata : “Aku melihat Umar bin Khaththab, kemudian ada seorang pemuda yang melabuhkan sarungnya lewat di hadapannya. Maka Umar menegurnya seraya berkata : “Apakah kamu orang yang haidh?” pemuda tersebut menjawab : “Wahai amirul mukminin apakah laki-laki itu mengalami haidh?” Umar menjawab ; “Lantas mengapa engkau melabuhkan sarungmu melewati mata kaki?” kemudian Umar minta diambilkan guting lalu memotong bagian sarung yang melebihi kedua mata kakinya”. Kharsyah berkata : “Seakan-akan aku melihat benang-benang di ujung sarung itu” [Hadits Riwayat Ibnu Syaibah 8/393 dengan sanad yang shohih, lihat Al-Isbal Lighoiril Khuyala, hal. 18]

    Akan tetapi laa haula wal quwwata illa billah, zaman sekarang yang katanya modern, patokan berpakaian terbalik, yang laki-laki melabuhkan pakaianya menyerupai wanita dan tidak terlihat darinya kecuali wajah dan telapak tangan!, Yang wanita membuka pakaianya hingga terlihat dua betisnya bahkan lebih dari itu. Yang lebih tragis lagi terlontar cemoohan dan ejekan kepada laki-laki yang memendekkan pakaiannya karena mencontoh Nabi dan para sahabat. Manusia zaman sekarang meman aneh, mereka mencela dan mengejek para wanita yang memanjangkan jilbabnya karena taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasulnya, akhirnya kepada Alloh kita mengadu” [Al-Isbal Lighoiril Khuyala hal. 18]

    [5]. Berlebih Lebihan
    Tidak ragu lagi syari’at yang mulia ini telah memberikan batas-batas berpakaian, maka barangsiapa yang melebihi batasnya sungguh ia telah belebih-lebihan.

    Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
    “Artinya : Dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” [Al-A’raf : 31]

    Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata : “Apabila pakaian melebihi batas semestinya, maka larangannya dari segi isrof (berlebih-lebihan) yang berakhir pada keharaman” [Fathul Bari II/436]

    [6]. Terkena Najis
    Orang yang isbal tidak aman dari najis, bahkan kemungkinan besar najis menempel dan mengenai sarungnya tanpa ia sadari, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

    “Artinya : Naikkan sarungmu karena hal itu lebih menunjukkan ketakwaan dalam lafazh yang lain lebih suci dan bersih” [Hadits Riwayat Tirmidzi dalam Syamail 97, Ahmad 5/364, dishohihkan oleh Al-Albani dalam Mukhtashar Syama’il Muhammadiyyah hal. 69]

    [F]. SYUBHAT DAN JAWABANNYA
    Orang yang membolehkan isbal melontarkan syubhat yang cukup banyak, di antara yang sering muncul ke permukaan adalah klaim mereka bahwa isbal jika tidak sombong dibolehkan. Oleh karena itu penulis perlu menjawab dalil-dalil yang biasa mereka gunakan untuk membolehkan isbal jika tidak bermaksud sombong.

    Pertama : Hadits Ibnu Umar
    Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang melabuhkan pakaiannya karena sombong, maka Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat!” Abu Bakar bertanya, “Ya Rasulullah, sarungku sering melorot kecuali bila aku menjaganya!” Rasulullah menjawab, “Engkau bukan termasuk orang yang melakukannya karena sombong.”[Hadits Riwayat Bukhari 5784]

    Mereka berdalil dengan sabda Rasulullah, “Engkau bukan termasuk orang yang melakukannya karena sombong.”, bahwasanya isbal tidak sombong ibolehkan?!

    Jawaban.
    Berkata Syaikh Al-Albani : “Dan termasuk perkara yang aneh, ada sebagian orang yang mempunyai pengetahuan tentang Islam, mereka berdalil bolehnya memanjangkan pakaian atas dasar perkatan Abu Bakar ini. Maka aku katakan bahwa hadits di atas sangat gamblang bahwa Abu Bakar sebelumnya tidak memanjangkan pakaiannya, sarungnya selalu melorot tanpa kehendak dirinya dengan tetap berusaha untuk selalu menjaganya. Maka apakah boleh berdalil dengan perkataan ini sementara perbedaannya sangat jelas bagaikan matahari di siang bolong dengan apa yang terjadi pada diri Abu Bakar dan orang yang selalu memanjangkan pakaiannya? Kita memohon kepada Allah keselamatan dari hawa nafsu. (As-Shohihah 6/401). Kemudian Syaikh berkata di tempat yang lain : “Dalam hadits riwayat Muslim, Ibnu Umar pernah lewat di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan sarungnya melorot, Rasulullah menegur Ibnu Umar dan berkata, “Wahai Abdulloh, naikkan sarungmu!”. Apabila Ibnu Umar saja yang termasuk sahabat yang mulia dan utama, Nabi tidak tinggal diam terhadap sarungnya yang melorot bahkan memerintahkannya untuk mengangkat sarung tersebut, bukankah ini menunjukkan bahwa isbal itu tidak berkaitan dengan sombong atau tidak sombong?! [Mukhtashar Syamail Muhammadiyyah hal. 11]

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

    ”Artinya : Sesungguhnya pada yang demikian ini benar-benar terdapat peringatan bagi orang yang mempunyai hati atau apa yang menggunakan
    pendengarannya, sedang ia menyaksikannya” [Qoof : 37]

    Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata : “Dan adapun orang yang berhujjah dengan hadits Abu Bakar, maka kita jawab dari dua sisi. “Pertama, bahwa salah satu sisi sarung Abu Bakar kadang melorot tanpa disengaja, maka beliau tidak menurunkan sarungnya atas kehendak dirinya dan ia selalu berusaha menjaganya. Sedangkan orang yang mengklaim bahwa dirinya isbal karena tidak sombong, mereka menurunkan pakaian mereka karena kehendak mereka sendiri. Oleh karena itu, kita katakan kepada mereka, ‘Jika kalian menurunkan pakaian kalian di bawah mata kaki tanpa niat sombong, maka kalian akan diadzab dengan apa yang turun di bawah mata kaki dengan Neraka. Jika kalian menurunkan pakaian karena sombong, maka kalian akan diadzab dengan siksa yang lebih pedih, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan berbicara kepada kalian, tidak dilihat oleh-Nya, tidak disucikan oleh-Nya dan bagi kalian adzab yang pedih”. Yang kedua, Abu Bakar mendapat rekomendasi dan tazkiah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa ia bukan termasuk orang yang sombong, maka, apakah kalian juga mendapat tazkiah dan rekomendasi yang serupa?” [Fatawa Ulama Balad Haram hal. 1140]

    ”Artinya : Maka ambillah hal itu untuk menjadi pelajaran, hai orang yang mempunyai pandangan” [Al-Hasyr : 2]
    .
    Kedua : Mereka yang membolehkan isbal jika tidak sombong, menyangka bahwa hadits-hadits larangan isbal yang bersifat mutlak (umum), harus ditaqyid (dikaitkan) ke dalil-dalil yang menyebutkan lafazh khuyala’ (sombong), sesuai dengan kaidah ushul fiqh, “Hamlul Mutlak ‘alal Muqoyyad Wajib” (membawa nash yang mutlak ke muqoyyad adalah wajib).

    Jawaban.
    Kita katakan kepada mereka, “Itulah sejauh-jauhnya pengetahuan mereka.[An-Najm : 30]
    .
    Kemudian kaidah ushul “Hamlul Muthlaq ‘alal Muqoyyad” adalah kaidah yang telah disepakati dengan syarat-syarat tertentu. Untuk lebih jelasnya, mari kita simak perkataan ahlul ilmi dalam masalah ini.

    Berkata Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah : “Isbal pakaian apabila karena sombong maka hukumannya Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat, tidak mengajak bicara dan tidak mensucikannya, serta baginya adzab yang pedih. Adapun apabila tidak karena sombong, maka hukumannya disiksa dengan neraka apa yang turun melebihi mata kaki, berdasarkan hadits.

    Dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Ada tiga golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat dan bagi mereka adzab yang pedih: orang yang memanjangkan pakaiannya, yang suka mengungkit-ungkit pemberian dan orang yang melariskan dagangannya dengan sumpah palsu”. Juga sabdanya : “Barangsiapa yang melabuhkan pakaiannya karena sombong, maka Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat, Adapun yang isbal karena tidak sombong, maka hukumannya sebagaimana dalam hadits : “Apa saja yang dibawah kedua mata kaki di dalam Neraka”. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mentaqyidnya dengan sombong atau tidak, maka tidak boleh mentaqyid hadits ini berdasarkan hadits yang lalu. Juga Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu telah berkata bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Keadaan sarung seorang muslim hingga setengah betis, tidaklah berdosa bila memanjangkannya antara setengah betis hingga di atas mata kaki, dan apa yang turun di bawah mata kaki, maka bagiannya di neraka, barangsiapa yang menarik pakaiannya karena sombong, maka Allah tidak akan melihatnya”.

    Di dalam hadits ini, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan dua permisalan dalam satu hadits, dan ia menjelaskan perbedaan hukum keduanya karena perbedaan balasannya. Keduanya berbeda dalam perbuatan dan berbeda dalam hukum dan balasan. Maka selama hukum dan sebabnya berbeda, tidaklah boleh membawa yang mutlak ke muqoyyad (khusus), di antara syaratnya adalah bersatunya dua nash dalam satu hukum, apabila hukumnya berbeda, maka tidaklah ditaqyid salah satu keduanya dengan yang lain. Oleh karena itu ayat tayammum yang berbunyi :”Basuhlah mukamu dan tanganmu dengan tanah” tidak ditaqyid dengan ayat wudhu, “Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai siku” maka tayammum itu tidak sampai siku, karena mengharuskan perlawanan”[As’ilah Muhimmah hal, 29-30, Lihat pula Fatawa Syaikh Utsaimin 2/921, Isbal Lighoiril khuyala hal. 26]

    Kesimpulannya ; Kaidah “Membawa nash yang mutlak ke muqoyyad wajib” adalah kaidah yang telah muttofak alaihi (disepakati) pada keadaan bersatunya hukum dan sebab. Maka tidak boleh membawa nash yang mutlak ke muqoyyad apabila hukum dan sebabnya berbeda, atau hukumnya berbeda dan sebabnya sama! [Lihat Ushul Fiqh Al-Islamy 1/217 karya Dr Wahbah Az-Zuhaili] [3]

    [G]. KESIMPULAN
    Dari pembahasan di muka, dapat disimpulkan:

    [1]. Isbal adalah memanjangkan pakaian hingga menutupi mata kaki, baik karena sombong maupun tidak, dan hal ini haram dilakukan bagi laki-laki.
    [2]. Batasan pakaian seorang laki-laki ialah setengah betis, dan dibolehkan hingga di atas mata kaki, tidak lebih.
    [3]. Hukum isbal itdak berlaku bagi wanita, bahkan mereka disyari’atkan menurunkan pakaiannya hingga sejengkal di bawah mata kaki.
    [4. Isbal pakaian tidak hanya sarung, berlaku bagi setiap jenis pakaian berupa celana, gamis, jubah, sorban dan segala sesuatu yang menjulur ke bawah.
    [5]. Isbal karena sombong adalah dosa besar, oleh karena itu pelakunya berhak tidak dilihat oleh Allah pada hari kiamat, tidak disucikan-Nya, dan baginya adzab yang pedih.
    [6]. Isbal jika tidak sombong maka baginya adzab neraka apa yang turun di bawah mata kaki.
    [7]. Isbal memiliki beberapa kemungkaran, sebagaimana telah berlalu penjelasannya
    [8]. Klaim sebagian orang yang melakukan isbal dengan alasan tidak sombong merupakan klaim yang tidak bisa diterima. Maka bagi mereka, kami sarankan untuk memperdalam ilmu dan merujuk kalam ulama dalam masalah ini.

    Demikian yang bisa kami sajikan tentang masalah isbal. Semoga tulisan ini ikhlas karena mengharap wajah-Nya dan bermanfaat bagi diri penulis serta kaum muslimin di manapun berada, amiin. Wallahu a’lam.

    [[Disalin dari majalah Al Furqon, Edisi : 03/IV/Syawal 1425H. Penerbit Lajnah Dakwah Ma’had Al-Furqon, Alamat : Maktabah Ma’had Al-Furqon, Srowo Sidayu Gresik Jatim]

  59. igotchandra said

    Aku kok melihat isbal ini asal usulnya karena budaya arab aja deh… intinya kayanya Rasulullah hanya mencegah umat saat itu agar tidak sombong karena memakai baju mewah gaya arab yang menyapu lantai…. masalah mau ikutan arab2an ya monggo, yang nggak ikutan ya punya hak juga dong, iya ndak?

  60. Qedah Rianto said

    kalo aku sendiri merasa kurang pantas jika memakai dgn setengah betis , jadi ya aku turunin sedikit kan nggak apa apa toh, sesuai hadist diatas yang nabi sendiri nggak terlalu maksain , yang penting tdk dibawah mata kaki toh., gitu aja kok repot!

  61. Imad said

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Bismillahirrahmanirrahim. Segala puji bagi Allah, Tuhan Semesta Alam. Dan semoga salawat serta salam selalu tercurah pada Rasulullah saw, keluarganya, para shahabatnya, dan umat yang mengikutinya. Saya hanyalah orang awam yang mencoba ikut mengingatkan semua, tanpa maksud sombong, angkuh, riya’, dan segala sifat lainnya yang mendekati syirik kepada Allah.

    Sesungguhnya Rasulullah saw telah bersabda tentang isbal, dengan banyak penafsiran di dalamnya:
    “Barangsiapa memanjangkan pakaiannya karena sombong, maka Allah tidak akan melihatnya kelak di hari kiamat.” Kemudian Abu Bakar bertanya, “Sesungguhnya sebagian dari sisi sarungku melebihi mata kaki, kecuali aku menyingsingkannya.” Rasulullah Saw menjawab, “Kamu bukan termasuk orang yang melakukan hal itu karena sombong.” [HR. Jama’ah, kecuali Imam Muslim dan Ibnu Majah dan Tirmidizi tidak menyebutkan penuturan dari Abu Bakar.]

    Perlu dilihat di sini bahwa para ulama mengingatkan kita bahwa isbal itu hukumnya makruh atau haram. Tidak ada yang memfatwakannya dalam hukum mubah, sunat, maupun wajib. Kita tahu bahwa “makruh” dan “haram” bersifat larangan. Bagi ulama yang mengatakan isbal (memanjangkan kain dari atas sampai menutupi mata kaki) itu haram, maka sudah jelas dia melarangnya. Bagi ulama yang memakruhkan, pikirkanlah mana yang dia anjurkan? Kerjakan atau hindari? Makruh dan haram sama-sama melarang, dan makruh bukanlah menganjurkan untuk diikuti melainkan dihindari. Karena itu janganlah berprasangka bahwa ulama yang memakruhkan isbal artinya menganjurkan kita untuk melakukan isbal, justru sebaliknya para ulama yang memakruhkan menganjurkan kita untuk menghindari isbal.

    Karena itu, baiklah kita menghindari isbal. Apa sama untungnya antara yang menghindari isbal, dengan begitu dia tidak mendapatkan dosa apapun disebabkan kedua hukumnya yang berbeda dia ikuti (makruh dan haram), dengan yang tetap melakukan isbal walaupun dia tidak mendapat pahala apapun melainkan potensi untuk terkena hukum haram isbal? Saudaraku, harapnya kita menghindari isbal. Menghindarinya justru lebih baik dari mendekatinya.

    Kita saksikan para shahabat, bolehkah shalat di akhir waktu? Jawabannya boleh, namun apa yang dilakukan para shahabat? Mereka shalat di awal waktu, dan mereka berlomba-lomba dan tidak berusaha untuk menghindarinya hanya karena itu tidak wajib. Bolehkah shalat fardhu sendirian? Boleh, namun para shahabat mengetahui keutamaan shalat berjama’ah sehingga mereka berlomba-lomba karenanya. Haramkah isbal? Tidak, namun lebih utama menghindarinya dan seharusnya kita berlomba-lomba menghindarinya karena hukumnya yang lebih mendekati penghindarannya.

    Sementara yang mengatakan bahwa masalah isbal ini sepele dan tidak berguna untuk umat, perlu diingat bahwa Rasulullah saw mengancam dengan ancaman bahwa Allah tidak akan Melihatnya di akhirat. Ini kerugian yang sebesar-besarnya, melebihi segala urusan dunia. Karena itu sebaiknya kita berhati-hati terhadap isbal. Dan bagi yang menganjurkan isbal, ingatlah bahwa menghindarinya dianjurkan, namun mendekatinya justru tidak mendapat apapun kecuali ketidakjelasan.

    Dan bagi yang mengatakan bahwa ini hanya untuk zaman Rasulullah saw saja, saya tidak melihat hukum lain yang ditinggalkan hanya karena zaman berubah. Terlihat sombongkah sekarang orang yang memakai tangan kiri untuk makan? Tidak, namun kita tetap diharamkan menggunakannya sekalipun kita tidak bermaksud sombong. Sombong justru ketika kita membuat celah pada hadits Rasulullah saw, dan justru mendekatkan diri pada amalan yang syubhat, di mana Rasulullah saw memerintahkan untuk menghindarinya.

    Dengan tidak bermaksud sombong atau menyalahkan, saya hanya menghimbau kaum muslimin untuk menghindari isbal karena terdapat manfaat dan pahala menghindarinya, tidak ada manfaat mengerjakannya. Dan amalan kecil ini harus kita pegang teguh, sebagaimana Rasulullah saw menganjurkan kita untuk menghilangkan duri di jalan yang dilalui orang. Dengan segala hormat dan dengan bahasa yang saya kira seharusnya halus untuk umat muslim, baiknya kita semakin mendekati Islam dan tidak minder dengan menghindari isbal.

  62. ed said

    Bilamana saudara-saudara muslim saya memakai pici (tutup kepala) di masjid, lalu saya tidak mengenakannya. Maka mungkin mereka menganggap saya sombong.

    Bilamana saudara-saudara muslim saya memakai kain sarung di atas mata kaki, sedangkan saya lebih suka menggunakannya di bawah mata kaki. Maka mungkin mereka menggagaop saya sombong.

    Logikanya, bilamana saudara-saudara muslim saya memakai kain sarung di bawah mata kaki, sedangkan saya memakainya setengah betis, pasti mereka menganggap saya sombong juga.

  63. thariqunnur Nurkarim said

    hebat…. hebat semua, semuanya pintar, seneng dech aku kalau jadi guru kalian. itu baru namanya murid yang cerdas.
    perbedaan pendapat menurut ustadz yang menulis fatwa-fatwa kontemporer tidak akan pernah ada habisnya selama di dalam Islam kita menerima adanya sahabat Nabi seperti Ibnu Umar ra yang sangat hati-hati sekali dan sahabat Nabi saw seperti Ibnu Abbas yang sedikit moderat. selama ada yang sholat ashar dalam perjalanan menuju baqi dan ada yang sholat setelah di sampai di baqi. hehehehe. yah teruskanlah perdebatan ini, tapi ingat kata-kata tetap di jaga. jangan sampai muarah-muarah. kan tidak baik jika marah nanti komputernya ditunjuk-tunjuk. hehehheh

  64. LUKMANUDIN said

    Pada dasarnya bahwa melebihi mata kami dengan rasa sombong itupun tidak diperbolehkan, sebaliknya yang memakai celana diatas mata kaki dengan rasa adigung merasa lebih sunnah itu tidak boleh, tapi mengapa orang yang memakai celana yang gantung dengan alasan sunnah akan tetapi bila bersepatu tetap memakai kaos kami toh mata kaki nya tidak kelihatan. kesimpulannya panjang tidak sombong boleh, pendek/gantung sombong rasa paling benar itupun tidak boleh

  65. Zulkarnain said

    Ass. Dalil penafsiran yang dilakukan segelintir orang, bahwa isbal itu boleh bila tanpa kesombongan, hanyalah sebuah dalih menghindar dari sunah dan takut mengenakan pakaian ala sunah. Terlebih bila malu yang dikemas dengan jabatan mereka, maka mereka akan berkelekar dengan hukum agama. Dan mencari pembenaran untuk isbal, sampai dimata kaki. Kata Fainnahaa min alkhuyala’. Adalah Takyaid tentang haramnya Isbal. Mengapa kita suka membudayakan pakian diluar islam, dan mendukungnya sebagai kebenaran. sedangkan terhadap Islam kitab bersikap pilah pilah seperti umatnya Nabi Musa. Apa memang kita manusia pembangkang sunah, yang tidak puas dengan cara baju Islam yang sebenarnya. Sekarang perlu kita mendesain Baju Islam yang sunah. Yang memenuhi syarat untuk ibadah. Pertanyaanya adalah, Apakah setelah peristiwa Abubakar, adakah shahabat yang isbal, dan setelah itu apakah Abubakar tetap Isbal. Jelasnya isbal itu sombong, dan sombong itu Isbal. Mereka yang mengelak dari kebenaran sunah, memeng mereka yang suka melecehkan sunah.

  66. Faiz said

    Assalmu’alaikum

    Menurut saya masih banyak ilmu yang wajib kita pelajari dan tidak ada pertentangan diatara para ulama terdahulu. maka menurut saya lebih baik mempelajari yang tidak bertentangan yang sifatnya lebih urgen, seperti memperbaiki bacaan Quran, agar saat jadi imam bacaannya benar sesuai dengan tajwid.

    Untuk masalah Khilafiyah seperti itu ada anekdot.

    Dua orang makmum yang baru selesai sholat saling menyapa :
    A. Mas kok Jari nya bergerak-gerak, menurut imam syafi’i kalo bergerak lebih dari 3x batal loh sholatnya.
    B. Loh kan ada Hadisnya, baca donk hadisnya. Kamus endiri kenapa setelah salam mengusap wajah
    A. Saya pusing lihat jari kamu yang bergerak-gerak

    Maaf ya….

    • zen said

      @Faiz, jujur lucu banget tuh anekdot!

      pegel juga yah omongin yang berbeda. bisa ga yah kita omongin yang sepaham dulu (skala prioritas). pornografi gitu. trus ga cuma diomongin, direalisasikan baik secara pribadi maupun kelompok. misalnya dengan kita sesama organisasi islam (ikutkan semuanya, insyaAllah se7 deeh) rapatkan barisan (silaturrahim dulu tentunya), lalu bikin deh badan/wadah yang bertugas mengagendakan nasehat lisan; jika belum mempan nasehat demo ke pemerintah dan tv-tv swasta. lakukan secara rutin; seminggu sekali misalnya. buka rekening untuk dana demo; insyaAllah saya ikutan jadi donaturnya. gmana se7?

  67. Soeroto said

    Assalmu’alaikum

    Smoga kita diberikan petunjuk, sehingga bisa bersatu padu, dan beberapa perbedaan pendapat yang ada bisa diberikan titik temu …
    Bersatulah saudaraku, kalau membahas perbedaan memang susah disamakan kecuali Allah menghendakinya.
    Tetap berpegang pada KibabAllah, Sunnah & Ijma Sahabat

    Wassalamualaikum Wr. Wb.

    • abah said

      aku setuju, Contoh imam syafi’i mengatakan isbal tidak haram,imam ahmad berbeda pendapat dgn imam syafi’i kenapa di perdebatkan lagi ya, perbedaan pendapat itu lumrah dalam islam jangan mau menang sendiri ya, ulama sekarang beda dengan ulama terdahulu keilmuannya,

  68. ya,,jangan di buat sesutu perpecahan,,,
    yang layak berpakaian, jangan terlalu panjang, jangan terlalu pendek,,,
    klo pendek ya sombong,,klo panjang ya sombong..
    lawong ora podo karo adate indonesia,,
    ojo di gawe repot2 ndak jadi bani isroil

  69. Buya Zahrah said

    Semua sudah diterangkan oleh Rasulullah.Orang-orang beriman selalu mengatakan sami’na wa atha’na.Tidak lagi mempertanyakannya. Kadang keengganan kita untuk melakukan sunnah Rasulullah mencari 1000 alasan untk menghindarinya…

  70. Hakim said

    Satu hal yang saya sangat belum bisa mengerti tentang isbal,knp isbal bisa menjadi sedemikian rupa besar resikonya dengan ancaman neraka.Dilihat dari segi apa sebenarnya ya?Karena kita sendiri pun tahu jika untuk jaman sekarang ini,yang namanya kain sangat berlimpah dan murah meriah sehingga kalangan manapun bisa memperolehnya tanpa kesusahan,dalam arti panjang maupun pendeknya ukuran celana tidak terbesit sedikitpun ke arah pemikiran jika seorang itu sombong maupun tidak.bahkan saya yakin jika saudara2 sekalian memakai celana,tidak pernah terlintas sedikitpun didalam benak saudara untuk merasa sombong.Yang ada cuma rapi atau tidak,trus enak diliat atau tidak.Jika permasalahan lain seperti mencuri haram,berzina haram,minum khamer haram,dan sejenisnya itu sangat bisa dengan mudah diterima karena jelas kita tahu akibat dari perbuatan tersebut sangat merugikan diri sendiri dan orang lain.Tapi bagaimanakah dengan isbal hingga bisa di sejajarkan resikonya/dosanya dengan hal seperti mencuri,memperkosa dan lain sebagainya itu?Dengan ancaman neraka.Jikalau isbal haram,bagaimanakah pula hukum tentara di Indonesia.Karena kita tau celana tentara indonesia bukan saja menutupi mata kaki tapi mereka pun memakai sepatu PDL yg menutupi mata kaki.Belum lagi ditambah dengan kaus kakinya.sehingga mata kaki benar2 tertutup.Bagaimana pula itu???apakah tentara,jika sesuai syariat tsb harus mengenakan sepatu ala abunawas denagn tidak berkaus kaki dan celana doreng diatas mata kaki?bisakah anda bayangkan.kira2 enak tidak dipandang.Apakah tentara Indonesia akan masuk neraka semua karena isbal?

    • EKo said

      Jangankan tentara Indonesia, Akhi… askar di saudi pun pake sepatu PDL… padahal ada sahabat yang mengaku salaf di atas ada yg bilang kalo ulama Saudi lah yang paling mendekati kebenaran… nah lho?

  71. ABUDZAKIYYAH said

    Sombong —sebagaimana didefinisikan Rasulullah SAW— adalah “melecehkan orang lain dan menolak kebenaran” (HR Muslim dan Tirmidzi).
    telah jelas dalil-dalil tentang hukum isbal.dan orang orang yang masih isbal mereka termasuk orang- orang yang sombong

  72. Ibnu Hamdan said

    Asslmkm Dikatakan: Boleh Isbal asal tidak sombong ? begitu bos ?
    yang berarti boleh dong isbal kalo tidak sombong mah ya..??
    gimana kalo ada orang yang mengatakan : jangan memukul karena benci, berarti boleh dong kalo mukul seseorang kalo ga benci mah ya…
    Gimana juga ya, di hadis kan dinyatakan kalo isbal itu diancamnya dengan neraka,- apa ada sesuatu yang halal kemudian diancam dengan neraka ??????

  73. PUPUNG said

    Saya bekerja di lingkungan Proyek, yang mewajibkan memakai sepatu Boat atau Sepatu Safety…yang mana menutupi mata kaki…..padahal dilihat dari kegunaannya safety shoes melindungi kaki dari kemugkinan cedera dari kecelakaan kerja ( Ihktiar)bagaimana hukumnya dikaitkan dengan isbal?

  74. anang said

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh ,

    Islam ini agama yang sempurna , dan hanya agama ini yang mendapat jaminan penjagaannya dari Allah Azza wa Jalla .

    Sungguh Allah melalui Rasulnya Shalallahu Alaihi Wassalam telah menerangkan apa-apa yang mendekatkan ke surga-Nya dan apa-apa yang menjauhkan dari neraka-Nya.
    Islam telah menjelaskan sejelas-jelas kepada umatnya baik dalam bidang ibadah maupun muamalahnya , yang halal ( disunnahkan ) maupun yang dilarang ( haram ) sangat jelas , tidak akan tersesat orang yang mengikuti sunnah-Nya.

    Sebagai seorang muslim harusnya paham dengan syahadat yang di ucapkan , bukan hanya mengucapkannya karena untuk memenuhi syarat islam saja.
    Sungguh nilai kebenaran itu tolok ukurnya Al Quran dan As-Sunnah , bukan otak dan pengetahuan manusia yang nisbi.

    Sangat tidak pantas bila Allah dan Rasul-Nya mengatakan demikian lantas masih dibantah dengan kata fulan bin fulan , atau dengan logika .

    Syetan laknattuLLAh , akan senantiasa menggoda iman setiap umat Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam dengan hal-hal yang demikian .

    Membenturkan kebenaran As-Sunnah dengan pendapat kebanyakan orang , logika , dan pendapat-pendapat lainnya dan hanya ilmu yang lurus dan memohon kepada Allah kita akan terselamatkan tipu dayanya.

    Saya memohon kepada Allah Azza Wa Jalla , agar kita diselamatkan dari sifat tercela dan dholim , seperti yang senantiasa kita ucapkan di Al Fatihah .

  75. anak_muda said

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh ,

    Maaf, saya adalah orang yang sangat awam dan ingin belajar lebih banyak kepada anda yang mungkin lebih tahu dan lebih memahami.
    Dari uraian hadits diatas, Alhamdulillah saya baru mengetahui bahwa ada hadits yang melarang isbal untuk pakaian. Seperti hadits dibawah ini, yang saya copy paste dari atas:

    1. Dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Ada tiga golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat dan bagi mereka adzab yang pedih: orang yang memanjangkan pakaiannya, yang suka mengungkit-ungkit pemberian dan orang yang melariskan dagangannya dengan sumpah palsu”.

    2. “Barangsiapa memanjangkan pakaiannya karena sombong, maka Allah tidak akan melihatnya kelak di hari kiamat.” Kemudian Abu Bakar bertanya, “Sesungguhnya sebagian dari sisi sarungku melebihi mata kaki, kecuali aku menyingsingkannya.” Rasulullah Saw menjawab, “Kamu bukan termasuk orang yang melakukan hal itu karena sombong.” [HR. Jama’ah, kecuali Imam Muslim dan Ibnu Majah dan Tirmidizi tidak menyebutkan penuturan dari Abu Bakar.]

    3. “Tatkala kami bersama Rasulullah Saw, datanglah ‘Amru bin Zurarah al-Anshoriy dimana kain sarung dan jubahnya dipanjangkannya melebihi mata kaki (isbal). Selanjutnya, Rasulullah Saw segera menyingsingkan sisi pakaiannya (Amru bin Zurarah) dan merendahkan diri karena Allah SWT. Kemudian beliau Saw bersabda, “Budakmu, anak budakmu dan budak perempuanmu”, hingga ‘Amru bin Zurarah mendengarnya. Lalu, Amru Zurarah berkata, “Ya Rasulullah sesungguhnya saya telah melabuhkan pakaianku melebihi mata kaki.” Rasulullah Saw bersabda, “Wahai ‘Amru, sesungguhnya Allah SWT telah menciptakan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya. Wahai ‘Amru sesungguhnya Allah SWT tidak menyukai orang yang melabuhkan kainnya melebihi mata kaki.” [HR. ath-Thabarni dari haditsnya Abu Umamah]

    Selain itu, dari uraian yang ada di atas, ada juga hadits Rasulullah SAW yang menjelaskan secara spesifik larangan isbal terhadap sarung, kain, hullah hamro’ yang tidak boleh melebihi mata kaki.

    Berikut, saya copy paste dari sebagian hadis yang saya baca di atas:

    A. “Angkatlah sarungmu sampai setengah betis, jika engkau tidak suka maka angkatlah hingga di atas kedua mata kakimu. Perhatikanlah, sesungguhnya memanjangkan kain melebihi mata kaki itu termasuk kesombongan. Sedangkan Allah SWT tidak menyukai kesombongan.” [HR. Abu Dawud, an-Nasa’i, dan at-Tirmidzi dari haditsnya Jabir bin Salim].

    B. “Tatkala kami bersama Rasulullah Saw, datanglah ‘Amru bin Zurarah al-Anshoriy dimana kain sarung dan jubahnya dipanjangkannya melebihi mata kaki (isbal). Selanjutnya, Rasulullah Saw segera menyingsingkan sisi pakaiannya (Amru bin Zurarah) dan merendahkan diri karena Allah SWT. Kemudian beliau Saw bersabda, “Budakmu, anak budakmu dan budak perempuanmu”, hingga ‘Amru bin Zurarah mendengarnya. Lalu, Amru Zurarah berkata, “Ya Rasulullah sesungguhnya saya telah melabuhkan pakaianku melebihi mata kaki.” Rasulullah Saw bersabda, “Wahai ‘Amru, sesungguhnya Allah SWT telah menciptakan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya. Wahai ‘Amru sesungguhnya Allah SWT tidak menyukai orang yang melabuhkan kainnya melebihi mata kaki.” [HR. ath-Thabarni dari haditsnya Abu Umamah]

    C. ‘Perhatikanlah, sesungguhnya memanjangkan kain melebihi mata kaki itu termasuk kesombongan.’ [HR. Abu Dawud, an-Nasa’i, dan at-Tirmidzi dari haditsnya Jabir bin Salim]

    D. Aku melihat Nabi keluar dengan memakai Hullah Hamro’ seakan-akan saya melihat kedua betisnya yang sangat putih” [Tirmidzi dalam Sunannya 197, dalam Syamail Muhammadiyah 52, dan Ahmad 4/308]

    • anak_muda said

      Kesimpulan akhir yang dapat saya tarik dari penjelasan diatas adalah (mohon koreksinya kalau salah):
      Memang benar Rasulullah secara spesifik melarang memanjangkan Kain, Sarung, Hullah Amro melebihi mata kaki. Dan kata “kain” yang dimaksud Rasulullah
      perlu dirujuk kepada bahasa aslinya, apakah kain yang dimaksud itu adalah “kain yang dibelitkan seperti sarung tanpa jahitan”, atau kain yang dimaksud adalah “bahan yang digunakan untuk membuat pakaian”
      . Kalau kain yang dimaksud adalah “kain yang dibelitkan seperti sarung tanpa jahitan”, celana panjang tidak termasuk. Tetapi kalau kain yang dimaksud adalah “bahan yang digunakan untuk membuat pakaian”, maka celana panjang termasuk yang panjangnya dilarang melewati mata kaki.

      Wallahu’alam bisshowab.

  76. anak_muda said

    Al-Qur’an surat Al-Baqoroh(2) : 185, “Allah menghendaki untukmu kemudahan dan tidak menghendaki kesulitan” serta Al-Hajj(22):78, “.. dan Dia tidak menjadikan untukmu dalam hal agama sedikit kesulitan pun”. Rasulullah juga sangat menganjurkan kemudahan beragama, beliau berpesan : “Berilah berita gembira dan jangan menjauhkan orang dari tuntutan agama, permudahlah dan jangan mempersulit” (HR Bukhari Muslim), serta perkataan Aisyah “Rasul saw. tidak dihadapkan pada dua pilihan, keculai memilih yang termudah, selama ia bukan dosa. Kalau dosa, maka beliau adalah orang yang paling menjauhinya”(HR Bukhari Muslim).

  77. menukil said

    Perbedaan antara orang tawadhu dan orang sombong diantaranya adalah:

    Orang tawadhu senantiasa merendahkan dirinya dihadapan hukum2 Alloh dan Rasul-Nya, sehingga ketika dalil akan suatu hukum sudah jelas dan berasal dari Kitabullah ataupun as Sunnah, tanpa banyak cakap ia senantiasa melaksanakannya dengan sepenuh hati.

    Sedangkan orang sombong senantiasa memperdebatkan suatu hukum dan mencari-cari celah keringanan hukum sehingga ia bisa terbebas dari hukum tsb dan mengikuti syahwat duniawinya, bahkan ketika dasar hukumnya sudah jelas dan berasal dari Kitabullah dan as Sunnah.

    Semoga Alloh ‘Azza wa Jalla senantiasa menggolongkan kita menjadi orang2 yg tawadhu. Ammiin.

  78. idoenk said

    Assalammu’alaikum…

    sebagai seorang muslim, kita harus patuh dan taat kepada Allah dan Rosul-Nya. kita harus menjadikan Nabi Muhammad sebagai contoh dan suritauladan kita dalam berprilaku dan menjalani hidup di dunia ini…

    sunnah rosul yg disepakati haqnya oleh para ulama maka kita wajib mengikuti apa adanya…dan apabila ada sunnah rosul yg dikalangan ulama terjadi pertentangan maka kita tdk perlu melihat pertentangan tsb tapi kita harus melihat apa yg dicontohkan oleh rosul…

    kalau rosul tdk isbal..sedangkan para ulama ada yg berpendapat makruh dan ada yg berpendapat haram terhadap isbal maka sebagai muslim yg baik kita harus melihat apa yg dicontohkan oleh rosul yaitu “TIDAK ISBAL”…karena rosul adalah manusia yg terpelihara dari melakukan kesalahan (ma’sum) sedangkan para ulama sangat mungkin melakukan kesalahan…jadi isbal itu bukan untuk diperdebatkan melainkan untuk dilaksanakan karena rosul dalam berpakaian telah mencontohkan untuk tdk isbal…wallohu a’lam bishowab….

  79. abu hafidzh said

    assalamu’alaikum, bukankah dosa pertama adalah sombong yg dilakukan oleh iblis, iblis menolak untuk sujud pada adam karna di perintah ALLOH sedangkan malaikat mentaati perintah ALLOH, adakah malaikat bertanya mengapa hrs sujud pada adam.? yg mereka malaikat lakukan adalah bersujut mereka tidak tanya alasanya. beda dengan iblis yg di perintah ALLOH bertanya dan menolak dan beralasan. apakah ALLOH melarang kita untuk tidak isbal dngn seribu alasan. atau kita ingin seperti iblis kekal di neraka dngn sifatnya.

  80. cinta islam said

    Assalamu’alaikum

    kalo kita berpendapat pada satu ulama yang sepaham maka ijtihadnya juga sepaham, coba kita ikuti para Ulama tabi’in seperti contoh imam Syafi’i gurunya bukan satu tapi banyak, ini baru belajar sama satu ulama (guru)
    aja sombongnya minta ampun, merasa dia yang paling benar ( hati-hati nanti jadi sombong loooh )dan hati-hati banyak debat nanti sesama muslim bisa saling zolim menzolimi dan itu hukumannya lebih besar dari apa yang di debatkan,

  81. ijin nyimak gan ^__^

    • herman said

      jadi sombong disini bukan karena sifat, melainkan meremehkan apa2 yang Alloh benci, seperti apa yang disebutkan dalam hadist ibnu majah 3564 :

      حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ أَنْبَأَنَا شَرِيكٌ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ عَنْ حُصَيْنِ بْنِ قَبِيصَةَ عَنْ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ قَالَ
      قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا سُفْيَانَ بْنَ سَهْلٍ لَا تُسْبِلْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُسْبِلِينَ

      Telah menceritakan kepada kami [Abu Bakar bin Abu Syaibah] Telah menceritakan kepada kami [Yazid bin Harun] telah memberitakan kepada kami [Syarik] dari [Abdul Malik bin 'Umair] dari [Hushain bin Qabishah] dari [Al Mughirah bin Syu'bah] dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai Sufyan bin Sahl, janganlah kamu memanjangkan kain sarung atau celana melebihi mata kaki, karena Allah membenci orang-orang yang memanjangkan kain sarung atau celananya melebihi mata kaki.”

      nah dari sini jelas, kenapa nabi berkali2 bersabda tentang kesombongan dlm perkara isbal ini.

      mohon maaf jika tidak berkenan

      wassalam/herman

  82. Ahmad said

    Bagaimana hukumnya orang yang pakai celana atau sarung diatas mata kaki, tetapi sombong karena merasa paling benar ?

    Jaman dulu kain itu susah mas. Dan dia identik dengan kemewahan. Maka orang yang memanjangkan celana/jubah nya identik dengan orang yang memamerkan kemewahan alias sombong. Jaman sekarang mana ada yang pedulu. Justru pakai celana 3/4 itu yang aneh dan nggak biasa.

    • Yudistira said

      Asslamu’alaikum
      Sdrku mas Ahmad, Islam itu asing pada awalnya dan sekarang orang yang menjalankannya dengan benar juga akan asing di mata orang lain.
      wallohu’alam

  83. Rosululloh tidak sombong, juga tidak isbal. titik !
    Muslim jangan munafikn atas perintah Allah dan Rosulnya. Tinggal dengar dan taat saja kok repot.

  84. amanullah jaya wardana said

    dasarnya apa kalau memanjangkan kain melebihi mata kaki identik dengan kesombongan
    lalu bagaimana dengan orang yang hanya butuh satu mobil tapi ia punya 19 mobil mewah?
    mohon di jawab ya…………………………………

  85. [...] Hukum Isbal [...]

  86. putera said

    kenapa antum semua ribet berdebat kita ambil aja kesimpulannya : bagi mereka yang tidak berkenan dengan hukum isbal berarti mereka itu sombong karena tidak menerima hadist dan yang di sunhkan oleh nabi kita muhammad saw,dan mungkin mereka sudah kuat dengan api neraka,sehingga mereka itu memutarbalikan apa sunnah disesuaikan dengan kebutuhan dia dan kaumnya (karena kalau mata dan hati sudah di butakan oleh Alloh Swt peringatan dari manapun tidak akan pernah di dengarkan)…..jadi bagi kta yang sudah menjalankan sunah nabi istiqomah terus jangan mundur..

  87. Yudistira said

    Assalamu’alaikum, Saya ikut sumbangsih pemikiran, terutama dari Hadist2 yang disampaikan oleh saudara2ku diatas,
    1. Sombong adalah sifat yang diharamkan dalam kondisi apapun, kita dilarang belaku sombong.
    2. Dalam masalah Isbal, Alloh dan Rasulnya jelas tidak menyukai perbuatan Isbal, apakah yg Isbal orang yang sombong ataupun tidak (Tidak sombong menurut siapa?????) karena sombong adalah perbuatan hati dan hanya Alloh SWT yang lebih mengetahuinya.
    3. Oleh karena itu, untuk kita semua yang sudah mengetahui hukum ini, apakah begitu susahnya kita meninggalkan apa yang sudah jelas tidak disukai oleh Allo SWT dan Rasulnya. Hanya dengan uang 5 rb rupiah kita bisa meminta kepada tukang potong celana untuk memendekan kain/celana kita agar sesuai dengan yang disukai Alloh SWT dan Rasulnya.
    4. Dengan menolak yang disukai oleh Alloh dan Rasulnya sendiri sudah merupakan kesombongan.
    Wallahu’alam
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

  88. [...] Kajian hukum perkara berjenggot dan bercelana di atas mata kaki , contohnya diuraikan dalam tulisan pada http://konsultasi.wordpress.com/2007/01/18/hukum-mencukur-dan-memelihara-jenggot/ dan http://konsultasi.wordpress.com/2007/01/13/hukum-isbal/ [...]

  89. Hamba said

    Om,syekh,habaib,dan para ulama….tolong dibaca,dikaji dan cari hakikatnya….umat rosullulah saat ini mudah terpecah belah karna perbedaan yg sepele tanpa tau hakekotnya, maaf bukan sok tau atau sok menggurui…selama tujuannya baik…kenapa sih dimasalahkan!!! Intinya kembali keniat saudaraku..kalau kita selalu mendebatkan masalah sepele dan menjadi perpecahan umat…rosullulah akan sedih melihat umatnya selalu seperti ini…semoga kita semua selalu dalam lindungan ALLAH SWT…Aamiin

  90. Javan Nese said

    setelah membaca artikel dan semua komen
    hiiiiiii….jadi takut mau komen :D
    tapi kayaknya niiih.. lebih aman dan lebih selamat yang tidak isbal deh.. :)
    meskipun aku tidak mau mencela yang isbal
    dan tak doakan semoga orang islam bisa GAK ISBAL SEMUA, DAN BERSATU DIBAWAH SATU KEPEMIMPINAN YANG ADIL YANG MENEGAKKAN HUKUM ALLOH SWT, AAMIIIN.
    maaf kalau ada salah2 kata
    maklum orang awwam :D

  91. anak_muda said

    Berikut ini bukan penafsiran, melainkan kesimpulan saya pribadi yang bisa saja salah, siapapun boleh mengkritik:
    Mengambil contoh dari berikut yang saya copy paste dari uraian teman-teman yang lain diatas,

    “Dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Ada tiga golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat dan bagi mereka adzab yang pedih: orang yang memanjangkan pakaiannya, yang suka mengungkit-ungkit pemberian dan orang yang melariskan dagangannya dengan sumpah palsu””.

    Dari pernyataan itu muncul kesimpulan saya seperti ini:
    1. Kita membaca Hadits ini tidak langsung dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu sebagai orang kedua yang langsung mendengar dari nabi, melainkan dari orang ketiga yang menuliskannya. Kemungkinan terjadi distorsi bisa dari dua orang (dari kata yang bermakna sama atau kata yang langsung benar2 berasal dari Rasulullah).
    2. Kita membaca dari bahasa Indonesia, dimana bahasa Aslinya mungkin memiliki beberapa makna lain yang belum ada dalam bahasa Indonesia.
    3. Urutan kejadian. Kita tidak tahu dalam konteks apa Rasulullah bersabda kepada Abu Dzar RA, karena mungkin ada kejadian yang spesifik yang menyebabkan Rasululullah bersabda kepada Abu Dzar RA, karena Rasulullah bersabda mengenai tiga hal sekaligus: orang yang memanjangkan pakaiannya, yang suka mengungkit-ungkit pemberian dan orang yang melariskan dagangannya dengan sumpah palsu. Apakah Rasulullah Bersabda untuk menunjukkan suatu kaitan atau suatu pernyataan terpisah.

    Dari Hadits:
    “Barangsiapa memanjangkan pakaiannya karena sombong, maka Allah tidak akan melihatnya kelak di hari kiamat.” Kemudian Abu Bakar bertanya, “Sesungguhnya sebagian dari sisi sarungku melebihi mata kaki, kecuali aku menyingsingkannya.” Rasulullah Saw menjawab, “Kamu bukan termasuk orang yang melakukan hal itu karena sombong.” [HR. Jama’ah, kecuali Imam Muslim dan Ibnu Majah dan Tirmidizi tidak menyebutkan penuturan dari Abu Bakar.]

    Kesimpulan yang dapat diambil:
    1. “Pakaian” yang di maksud Rasulullah adalah sama dengan “Sarung” menurut Abu Bakar RA.
    2. Dari sumber pewarisan hadits [HR. Jama’ah, kecuali Imam Muslim dan Ibnu Majah dan Tirmidizi tidak menyebutkan penuturan dari Abu Bakar.] ada pewarisan yang berbeda dari empat orang. Memungkinkan terjadinya “Distorsi”, atau ada sesuatu yang kurang lengkap dari kata-kata Rasulullah yang sebenarnya.

    Dari contoh hadits no.3 diatas:

    “Tatkala kami bersama Rasulullah Saw, datanglah ‘Amru bin Zurarah al-Anshoriy dimana kain sarung dan jubahnya dipanjangkannya melebihi mata kaki (isbal). Selanjutnya, Rasulullah Saw segera menyingsingkan sisi pakaiannya (Amru bin Zurarah) dan merendahkan diri karena Allah SWT. Kemudian beliau Saw bersabda, “Budakmu, anak budakmu dan budak perempuanmu”, hingga ‘Amru bin Zurarah mendengarnya. Lalu, Amru Zurarah berkata, “Ya Rasulullah sesungguhnya saya telah melabuhkan pakaianku melebihi mata kaki.” Rasulullah Saw bersabda, “Wahai ‘Amru, sesungguhnya Allah SWT telah menciptakan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya. Wahai ‘Amru sesungguhnya Allah SWT tidak menyukai orang yang melabuhkan kainnya melebihi mata kaki.” [HR. ath-Thabarni dari haditsnya Abu Umamah]

    Kesimpulan yang dapat diambil:
    1. Kata “pakaian” yang disebutkan disini merujuk kepada “kain sarung dan jubahnya”, karena Rasulullah jelas-jelas menyebutkan “Wahai ‘Amru, sesungguhnya Allah SWT telah menciptakan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya. Wahai ‘Amru sesungguhnya Allah SWT tidak menyukai orang yang melabuhkan kainnya melebihi mata kaki.”
    2. Kata “pakaian” disini disebutkan oleh pewaris hadits (HR. ath-Thabarni dari haditsnya Abu Umamah), dan dari Amru bin Zurarah al-Anshoriy yang menyebutkan kata “pakaianku” yang merujuk kepada “kain sarung dan jubah” yang dipakai oleh Amru bin Zurarah.

    Sedangkan dari hadits diatas:
    “Angkatlah sarungmu sampai setengah betis, jika engkau tidak suka maka angkatlah hingga di atas kedua mata kakimu. Perhatikanlah, sesungguhnya memanjangkan kain melebihi mata kaki itu termasuk kesombongan. Sedangkan Allah SWT tidak menyukai kesombongan.” [HR. Abu Dawud, an-Nasa’i, dan at-Tirmidzi dari haditsnya Jabir bin Salim].

    ‘Perhatikanlah, sesungguhnya memanjangkan kain melebihi mata kaki itu termasuk kesombongan.’ [HR. Abu Dawud, an-Nasa’i, dan at-Tirmidzi dari haditsnya Jabir bin Salim]

    Kesimpulan:
    Redaksinya bercerita bahwa seolah-olah Rasulullah berbicara langsung kepada pewaris Hadits [HR. Abu Dawud, an-Nasa’i, dan at-Tirmidzi dari haditsnya Jabir bin Salim]. Kalimat Rasulullah sendiri, bukan dari cerita orang lain. Kata kunci yang jelas disebutkan Rasulullah disini adalah: sarung dan kain.

    Dari hadits:
    “Aku melihat Nabi keluar dengan memakai Hullah Hamro’ seakan-akan saya melihat kedua betisnya yang sangat putih” [Tirmidzi dalam Sunannya 197, dalam Syamail Muhammadiyah 52, dan Ahmad 4/308]

    Dari redaksinya jelas bahwa yang dimaksud pewaris hadits ini adalah bahwa Rasulullah memakai hullah Amro (Hullah Hamro adalah kain bergaris yang berwarna merah dari Yaman).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 957 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: