Konsultasi Islam

Mengatasi Masalah dengan Syariah

Hukum Menggunakan Senjata Pemusnah Massal

Posted by Farid Ma'ruf pada 13 Januari 2007

Soal:

Peperangan saat ini banyak melibatkan berbagai jenis persenjataan.  Di antaranya adalah senjata pemusnah massal, baik  senjata nuklir, senjata kimia, ataupun senjata biologi. Apakah dibolehkan menggunakan senjata-senjata tersebut di dalam peperangan (jihad fi sabilillah)?

 Jawab:

            Pada masa Rasulullah saw., jenis-jenis senjata yang digunakan untuk berperang sangat sederhana. Senjata-senjata standar seperti pedang, panah, dan tombak adalah perlengkapan militer yang pasti dimiliki oleh setiap prajurit. Meskipun demikian, Rasulullah saw. juga menggunakan jenis senjata seperti manjaniq, yang dapat digunakan untuk melontarkan batu, bara api, ataupun air panas ke dalam benteng musuh. Di samping itu, juga digunakan berbagai strategi perang untuk menghancurkan musuh, misalnya dengan membuat parit (khandaq) di sekitar Madinah pada saat Perang Ahzab; dengan menempatkan pasukan di perbukitan ketika Perang Uhud; atau dengan menimbun sumber-sumber air minum bagi musuh dalam Perang Badar; dan strategi-strategi lain. Semua itu digunakan oleh Rasulullah saw. dalam berbagai peperangannya melawan orang-orang kafir/musyrik.

            Kondisi tersebut tentu saja sangat berbeda dengan peperangan modern. Senjata-senjata yang pernah digunakan kaum Muslim di masa lalu sudah tidak sesuai lagi digunakan di dalam peperangan saat ini. Teknologi persenjataan pun berkembang cepat seiring dengan tidak pernah berhentinya aktivitas peperangan dan jihad. Sejak Perang Dunia I dan II, umat manusia mulai mengenal jenis-jenis senjata baru yang berdampak sangat luas terhadap eksistensi manusia maupun lingkungan hidup. Senjata-senjata nuklir, kimia, maupun biologi, bahkan senjata-senjata ruang angkasa pun bermunculan; terutama di saat era Perang Dingin. Senjata-senjata tersebut berdampak luas sehingga dikategorikan sebagai senjata pemusnah massal.

            Menghadapi perkembangan persenjataan, bagaimana sikap kaum Muslim, terutama dalam peperangannya melawan musuh? Apakah mereka dibolehkan menggunakan senjata-senjata tersebut? 

Allah Swt. telah memerintahkan kita—kaum Muslim—untuk berjihad fi sabilillah. Itu berarti kita wajib melakukan peperangan melawan musuh-musuh kita yang kafir/musyrik dengan menggunakan persenjataan. Sebab, jihad bermakna  berperang secara fisik/militer; senjata melawan senjata. Allah Swt. tidak membatasi/menentukan jenis persenjataan tersebut. Jadi, semua jenis senjata yang dapat digunakan untuk berjihad fi sabilillah melawan negara-negara kafir/musyrik dibolehkan. Alasannya, karena nash-nash syariat tidak menentukan atau membatasi jenis persenjataan maupun sarana tertentu yang digunakan untuk memerangi musuh. Allah Swt.:

]وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ[

Perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian.  (QS al-Baqarah [2]: 190).

 

Allah Swt. juga berfirman:

]وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوهُمْ[

Bunuhlah mereka di mana saja kalian menjumpai mereka.  (QS al-Baqarah [2]: 191).

 

            Allah Swt. di dalam ayat-ayat tersebut (yang berbentuk umum) membebaskan kepada kaum Muslim secara mutlak untuk menggunakan jenis persenjataan apa saja dalam memerangi dan mengusir musuh-musuhnya, kecuali terdapat nash lain yang men-takhsîsh-nya.

Dengan demikian, kaum Muslim boleh menggunakan senjata apa saja, termasuk senjata-senjata pemusnah massal, ketika menghadapi dan memerangi negara-negara kafir/musyrik meskipun musuh tidak menggunakan senjata-senjata tersebut. Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani berkata:

 

Sesungguhnya kaum Muslim dibolehkan menggunakan senjata nuklir dalam peperangan melawan musuhnya meskipun musuhnya itu belum menggunakannya. Sebab, negeri-negeri itu seluruhnya telah membolehkan penggunaan senjata nuklir di dalam peperangan. Dibolehkan menggunakannya meskipun senjata-senjata nuklir itu tidak boleh digunakan karena bisa membinasakan manusia, sedangkan jihad itu adalah untuk menghidupkan manusia dengan Islam, bukan untuk menghabisi umat manusia. (Taqiyuddin an-Nabhani, asy-Syakhshiyah al-Islâmiyah,  jld. III/168).

 

Imam Syaukani berkata:

 

Allah telah memerintahkan untuk memerangi orang-orang musyrik. Allah tidak menentukan sifat (maupun keterangan tertentu) untuk memerangi mereka itu. Allah tidak mengatakan, misalnya, janganlah kita melakukan ini kecuali (melakukan) itu atau tanpa melakukan itu. Jadi, tidak ada halangan memerangi mereka dengan berbagai sebab (alat) yang dapat memerangi mereka; baik dengan menggunakan panah atau tusukan (pisau); dengan ditenggelamkan, dihancurkan, atau dilempar dari tempat yang tinggi; maupun yang lainnya. Tidak ada larangan (halangan) kecuali dengan membakar. (Lihat: asy-Syaukani, as-Sa’il al-Jarrar, jld. IV/534-535).

Larangan tersebut adalah hadis yang berasal dari Nabi saw., dengan sabdanya:

 

»إِنِّيْ كُنْتُ أَمَرْتُكُم أَنْ تُحْرِقُوْا فُلاَنًا وَفُلاَنًا بِالنَّارِ، وَإِنَّ النَّارَلاَ يُعَذِّبُ بِهَا إَلاَّ اللهُ«

Sesungguhnya aku telah memerintahkan kalian untuk membakar si fulan dan si fulan dengan api. (Sejak sekarang) api itu tidak boleh digunakan untuk mengazab (membakar) kecuali (oleh) Allah. (HR al-Bukhari no.2954).

 

            Berdasarkan hal ini, kaum Muslim dilarang menggunakan senjata-senjata seperti bom napalm atau bom phosphor (yang pernah digunakan AS di dalam Perang Vietnam) untuk membakar habis apa saja yang ada di atas permukaan tanah.

            Meskipun demikian, bukan berarti kaum Muslim atau Daulah Islamiyah secara sembrono boleh menggunakan senjata-senjata nuklir, kimia, maupun biologi begitu saja; seperti yang dilakukan oleh AS dan sekutunya dalam Perang Dunia II, Perang Korea, Perang Vietnam, Perang Afganistan, Perang Teluk, dan lain-lain. Sebab, hakikat jihad fi sabilillah bukanlah untuk membinasakan umat manusia, melainkan untuk menghancurkan penghalang-penghalang fisik yang menutupi umat manusia dengan Islam, sehingga orang-orang kafir/musyrik menyaksikan dan mengenali cahaya Islam. Lagi pula, seorang khalifah kaum Muslim akan selalu mempertimbangkan penggunaan  senjata-senjata tersebut berdasarkan kemaslahatan bagi Islam dan kaum Muslim. Terdapat kaidah syariat yang terkenal:

 

أَنْ تَصَرَّفَ اْلإِمَامُ مَنُوْطُ باِلْمَصْلَحَةِ

Seorang Imam (Khalifah) akan melakukan sesuatu berlandaskan kemaslahatan. (Imam Suyuthi, Asybah wa an-Nazhâ’ir, hlm. 121). [AF]

 

 

About these ads

3 Tanggapan to “Hukum Menggunakan Senjata Pemusnah Massal”

  1. bili said

    ass
    bagaimana dengan kondisi kaum muslim sekarang yang tidak seperti Zaman kejayaan islam dimana dari sisi IPTEK jauh tertinggal? jangankan belajar kimia nuklir untuk mencukupi kebutuhannya susah

  2. yoga said

    seharusnya di dunia ini ngga ada senjata,karena senjata bisa membutakan hati manusia…

  3. hakim said

    tak mengapa, jika tujuannya adalah supaya dapat handle bahan nuklir dengan lebih baik; dan ambil tahu bagaimana cara menggelakkan diri dan alam daripada kerosakkan oleh bahan tersebut.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 973 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: