Konsultasi Islam

Mengatasi Masalah dengan Syariah

Perbedaan Pendapat Dalam Masalah Hadits Ahad

Posted by Farid Ma'ruf pada 13 Januari 2007

Publikasi 10/07/2004
hayatulislam.net – Soal: Kita ketahui bahwa Hizb berpendapat bahwa hadits ahad tidak boleh dijadikan hujjah dalam masalah ‘aqidah namun para ‘ulama salaf pun berselisih pendapat mengenai perkara ini, yang senada dengan pendapat Hizb diantaranya Imam Abu Hamid al-Ghazali dan yang menentangnya –salah satunya– Imam al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalany.

Yang ingin ana cermati dalam masalah ini yaitu apakah perselisihan ini sudah masuk dalam wilayah ‘aqidah yang seharusnya tidak boleh terjadi disparitas pemahaman. Lalu jika memang masalah ini merupakan ranah ‘aqidah yang tidak boleh diperselisihkan apakah para ulama salaf tersebut yang kita sudah mafhum memiliki tingkat keilmuan yang sangat tinggi telah memiliki noda dalam keimanan-nya.

Selanjutnya didalam kitab mengenai hadits ahad yang ditulis oleh al-Ustadz Syamsuddin Ramadhan disitu beliau membangun hujjah salah satunya dengan mengutip beberapa hadits yang terkandung dalam tarikh bukhari –yang tentu saja memiliki derajat shahih walaupun Muhammad Nasiruddin Albani (salafi) menolaknya– yang ingin ana kemukakan yaitu kita tidak boleh menyia-nyiakan hadits ahad –shahih– karena itu termasuk perbuatan terlarang kemudian bagaimana kita mengkompromikan antara tidak boleh menyia-nyiakan dengan tidak menjadikan hadits tersebut sebagai hujjah lalu bagaimana sikap kita?

Jawab: Pada dasarnya perbedaan pendapat dalam masalah hadits ahad bukanlah perbedaan pendapat yang sudah memasuki ranah ‘aqidah. Sebab, para ‘ulama sendiri berbeda pendapat dalam masalah ini dan itu sudah masyhur di kalangan mereka. Selain itu, perbedaan semacam ini juga diakibatkan karena banyak faktor, mulai dari ushul hadits yang berbeda, kaedah tarjih yang berbeda, perbedaan dalam penetapan kriteria hadits termasuk ahad atau mutawatir, dan lain sebagainya. Misalnya, ada sebagian ‘ulama hadits menetapkan syariat kemutawatiran sebuah hadits dikaitkan dengan jumlah. Mereka berpendapat bahwa suatu hadits baru disebut mutawatir jika diriwayatkan lebih dari empat orang. Ada pula yang berpendapat harus diriwayatkan 10 orang dan lain sebagainya. Lantas, kita bisa bertanya, kalo kita berpatok pada ‘ulama yang berpendapat bahwa syarat mutawatir harus diriwayatkan oleh 10 orang lebih, tentu saja kita akan menolak kemutawatiran berita yang hanya diriwyatkan 4 orang. Padahal, menurut sebagian ‘ulama –bila diriwayatkan empat orang sudah dianggap mutawatir. Lantas, apakah kita akan mengkafirkan ‘ulama lain yang tidak memutawatirkan berita tersebut hanya karena perbedaan kriteria?

Benar, kita tidak boleh menyia-nyiakan hadits ahad yang bernilai shahih. Sebab, berita ini diriwayatkan oleh orang-orang yang tsiqat. Tentunya kita tidak boleh menolak berita yang diriwyatkan oleh orang-orang yang adil. Akan tetapi, hadits-hadits semacam ini tetap tidak boleh digunakan hujjah (dalil) untuk membangun pokok ‘aqidah. Sebab, ‘aqidah mensyaratkan adanya keyakinan yang bersifat pasti, bukan dzan. Meskipun kebenaran suatu berita adalah 99,9% akan tetapi berita semacam ini tidak boleh diyakini secara bulat (100%). Sebab, masih mungkin mengandung kesalahan. Padahal, aqidah menuntut adanya keyakinan yang bulat (100%). Seandainya hadits ahad boleh digunakan hujjah untuk membangun masalah ‘aqidah –padahak hadits ahad hanya menghasilkan dzan saja (kebenarannya tidak sampai 100%)–, sama artinya kita telah membangun ‘aqidah kita berdasarkan keyakinan yang tidak bulat. Padahal hal semacam ini tercela. ‘Aqidah menuntut kita untuk menyakini secara bulat (100%).

Namun, demikian bukan berarti kita harus menolak dan mencampakkan sama sekali hadits ahad. Bila hadits itu berhubungan dengan amal (perbuatan) maka kita wajib melaksanakan kandungan hadits tersebut. Jika kita tidak berbuat sesuai dengan kandungan hadits ahad tersebut (yang berhubungan dengan amal), maka kita berdosa di sisi Allah. Bila kandungan isi hadits itu berhubungan dengan masalah ‘aqidah, misalnya tentang siksa kubur, maka kita tidak boleh menyakini adanya siksa kubur tersebut dengan keyakinan 100%. Sebab, derajat kebenaran yang dikandung oleh hadits ahad tidak sampai 100%. Namun demikian, jika hadits-hadits tentang siksa kubur tersebut masih berhubungan dengan amal, misalnya doa meminta perlindungan dari siksa kubur, maka hadits semacam ini bisa diamalkan, artinya anda bisa berdoa memohon untuk dihindarkan dari siksa kubur. Lho, kalo tidak menyakini siksa kubur kok berdoa memohon dihindarkan dari siksa kubur. Masalahnya bukan menyakininya, tetapi mengamalkan doanya. Padahal doa termasuk amal perbuatan, bukan menyangkut keyakinan. Di sisi lain, hadits ahad harus diamalkan. Jadi, bukanlah sesuatu yang kontradiktif jika saya berdoa, sebab hal ini (doa berhubungan dengan amal). Padahal hadits ahad wajib diamalkan. [Tim Konsultan Ahli Hayatul Islam (TKAHI)]

About these ads

19 Tanggapan to “Perbedaan Pendapat Dalam Masalah Hadits Ahad”

  1. agung said

    jawabannya kok membingungkan

  2. abu farsya said

    Kalau kita berjidal tetapi sudah tertanam persepsi “SALAH/SESAT” terhadap lawan jidal kita, maka saya yakin yg ditangkap dari lawan jidal adalah seluruh argumentasi “SALAH/SESAT”. Jidal hendaklah menyampingkan perasaan benci dan kita harus menganalisisnya dari sisi hujjah & dalil yg dipakai sehingga jidal itu berguna bagi umat…
    Syukron..

  3. Pemurni Tauhid said

    Mengapa antum dengan emosional mengomentari pertnyaan ana begini, ana meminta alasan ilmiah atas pendapat antum tentang hadist ahad mana pertanggung jawaban ilmiyah antum, jawab dulu pertnyaan ana bukan dengan emosi menyesatkan ana, jangan2 antum berbicara tanpa ilmu

  4. aluq said

    Mau nanya sama mas konsultan nih, Imam Abu Hamid Al Ghozali itu siapa? Maksudnya sama gak dg imam Al Ghozali yang terkenal itu? yang ngarang ihya’ ulumudiin? Sama ya?

    Afwan, sebab aku sering bingung dg pengarang Mesir yang namanya AL Ghozali juga….

    Kemudian, sejak kapan kapan hadits ahad dikategorikan sebagai dzonni ? dan siapa yang menyebutnya pertama kali?

    Terima kasih …

    = aluq =

  5. petualangharakah said

    Tim Konsultan di situs ini menurut saya tidak capable, maaf. Sekali lagi saya sebagai pengamat harakah masih tsiqah dengan ustadz2x dari salafy, IM, AL qaeda.

  6. Syauqiy said

    Wah…, ustadz yang ngasuh forum ini saya akui cerdas. Saya sebagai Syabab Hizb ut_Tahrir sering dipusingkan dengan ustadz yang tidak cerdas. Main sesat-sesatan lagi…. Padahal kalau mereka baca pendapat para ‘ulama salaf tentang hadits ahad, tentu akan faham. Asal tidak ada tendensi menghujat kelompok tertentu.
    Sekali lagi Alhamdulillah ada ustadz-ustadz cerdas begini… Barakallahu laka, ustadz.

  7. Dzu said

    Ustadz bener2 pinter, ana stj. Hadits ahad g bs jd dalil Aqidah. Bkn brrt qt men0lak seluruh isinya. Yg penting berhenti menuduh sesat tanpa bukti. Kenapa qt berpech2? Bknkh lbh baik br1?

  8. lukman said

    emang orang salafiy tu bebal. mereka beraninya cuma di balik layar coba kalo diskusi mereka pada ciut nyalinya karena memamang yang mereka ucapkan bukan kebenaran melainkan hawa nafsu ashabiyah terhadap syaikh nya… saran ana tobatloah yaaa ghulattt…

  9. ahsan said

    aslm. afwan sebelumnya…
    ana sebenarnya menyambut positif tulisan dari konsultan, sekalipun ada yg kurang setuju. Yah, boleh saja kan?
    tapi, terlepas dari itu, saya memang menyadari bahwa sejak zaman shahabat, perselisihan pendapat tentang hadits ahad ini sudah ada (sekalipun istilah hadits ahad pada zaman shahabat masih belum ada).
    Penulis hendak “meredam” perselisihan yg sampai pada derajat menyesatkan.

    Namun anehnya, dari koment2 yg masuk, yang ngaku sbg syabab hizbut tahrir, kok malah memanfaatkan tulisan konsultan ini untuk menyerang salafy?
    kalau gitu kapan damainya??? katanya mau damai…
    berarti antum masih labil, belum faham juga soal perbedaan pendapat tentang hadits ahad ini…
    khilafah jadi jauh kalo gini terus…

    Sudahlah kawan. Karakter orang itu beda2, salafy itu tegas, HT intelektual, sangat susah kalo disamakan secara keseluruhan…

  10. no name live in Bumi Allah said

    Ambigu tidak sharih

  11. karim said

    mnrt ahli hadits yg pernah sya dngar.. hadits ahad pun boleh d jadikan hujjah asalkan tinkatnnya shahih… tdak mnafikannya.. yg perlu d tliti adalh hadits dhaif n palsu… sy sarnkan untk lbh mndlami ilmu hadits agar2 btul2 islamnya KAFFAH .. sya salut dgn perjuangan KHILAFAHnya tp perlu kita KAffahkan ilmu syar’i yg lain… klo pemasalahn metode perjuangan g maslah berbeda d setiap kelompok……….

  12. Jawaban ustadz sangatlah bijak, hadis ahad bisa dijadikan hujjah utk urusan2 syariah, tapi klu utk urusan akidah, setidaknya kita ambil hadis yg lbh kuat, gak ada dzon. Krn urusan akidah harus 100 %. Khilafiah biasa, tp jangan sampai berpecah belah

  13. belajar ilmiyah said

    Sebagai orang awam yang pazti tau jawaban yang diberikan tidak ilmiah karena tidak disertai rujukan2nya. Ketika mengangkat pengganti “kita” itu bersandar pada siapa?
    Apakah para shahabat, taabi’in, tabi’ut tabi’in dan para imam itu salah dalam masalah mengamalkn hadits?
    Berkata Imam Syafii Rohimahulloh :”Saya tidak mendapatkan perselisihan dari kalangan ahlil ilmi tentang menerima hadits ahad” ((ar-Risalah : hal.457)

    kalau tidak bisa digunakan hujjah tolong berikan alasan yang syar’i..

    jazakalloh khoir

  14. pencari ilmu said

    eulisannya membingungkan.. saya mau tanya
    klu memang hadits ahad ditolak dalm hal aqidah mengapa pada saat penentuan arah kiblat yang tadinya ke palestina kemudian berubah ke ka’bah senua sahabat pada mengikuti tidak ada yang protes???
    kenapa Rasulullah selalu mengutus sahabatnya seorang diri dalam menyiarkan agama islam??? mengapa tidak lebih dari satu saja kalau memang kabar ahad di tolak padahal sahabat berdakwah menyangkut masalah aqidah juga…

  15. pencari ilmu said

    perlu diingat bahwa shabat yang mengabarkan kalau arah kiblat iru berubah hanya satu orang saja….

  16. yukusa said

    Bismillah,
    kata anda;
    “Pada dasarnya perbedaan pendapat dalam masalah hadits ahad bukanlah perbedaan pendapat yang sudah memasuki ranah ‘aqidah’”,
    tetapi kemudian anda mengatakan ; “Seandainya hadits ahad boleh digunakan hujjah untuk membangun masalah ‘aqidah –padahak hadits ahad hanya menghasilkan dzan saja (kebenarannya tidak sampai 100%)–, sama artinya kita telah membangun ‘aqidah kita berdasarkan keyakinan yang tidak bulat”

    yang saya simpulkan ; justru ini telah memasuki masalah akidah, dengan anggapan anda bahwa hadits ahad hanya mendatangkan ‘dzan’ sehingga tidak memakainya dalam akidah, maka akidah andapun akhirnya berbeda dengan muslimin sejak dahulu hingga kini yang mereka menerima hadits ahad jika perawinya tsiqah! sebagaimana yang bisa kita lihat dalam kitab2 ulama mu’tabar.

  17. Saya orang awam, hadis ahad atau Mutawatir selama sahih ya mesti diterima baik itu akidah maupun hukum karena hadis merupakan wahyu dan akidah tidak bisa diukur dengan matematis karena iman dan keraguan tidak bisa bercampur dalam keyakinan terhadap sesuatu. misalnya kita ambil suatu hadis namun ada keraguan didalam hati untuk yakin. dan masalah mutawatir dan ahad merupakan metode ilmiah dalam pembagian hadis dari aspek kuantitas perawi bukan pembagian diterima atau tidaknya suatu hadis. atau pembagaian pemakaian hadis milsalnya ini untuk akidah , yang ini untuk hukum. maaf kalau saya keliru mohon dikoreksi. saya masih mencari ilmu

  18. arjuna said

    ustadz yg menulis ini memang cerdas, cerdas membingungkan pmbaca, he2..

  19. japan said

    Namun demikian, jika hadits-hadits tentang siksa kubur tersebut masih berhubungan dengan amal, misalnya doa meminta perlindungan dari siksa kubur, maka hadits semacam ini bisa diamalkan, artinya anda bisa berdoa memohon untuk dihindarkan dari siksa kubur. Lho, kalo tidak menyakini siksa kubur kok berdoa memohon dihindarkan dari siksa kubur. Masalahnya bukan menyakininya, tetapi mengamalkan doanya. Padahal doa termasuk amal perbuatan, bukan menyangkut keyakinan. Di sisi lain, hadits ahad harus diamalkan. Jadi, bukanlah sesuatu yang kontradiktif jika saya berdoa, sebab hal ini (doa berhubungan dengan amal). Padahal hadits ahad wajib diamalkan. “mengamalkan do’a untuk sesuatu yang tidak diyakini itu MAKSUDNYA OPO dan GUNANYA OPO..?”

    Tanggapan :
    Silakan dibaca kembali artikel di atas shg tdk salah paham. Tidak ada pengertian utk tdk percaya hadits ahad.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 983 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: