Konsultasi Islam

Mengatasi Masalah dengan Syariah

APAKAH SUARA WANITA AURAT?

Posted by Farid Ma'ruf pada 18 Januari 2007

SOAL : Bolehkan akhwat menyanyi pada waktu masiroh (long march/demo damai), padahal di situ ada ikhwan. Apalagi nyanyinya merdu. Suara wanita itu ‘kan aurat. (Addina, Palangkaraya).

JAWAB :
Menurut pemahaman kami, suara wanita bukanlah aurat, selama tidak disuarakan dengan cara yang melanggar syara’, misalnya dengan suara manja, merayu, mendesah, dan semisalnya.
Maka dari itu, boleh akhwat bernyanyi dalam sebuah masirah, dengan syarat tidak disertai perbuatan haram dan maksiat, seperti ikhtilath (campur baur pria wanita), membuka aurat, dan sebagainya.

Dalil bahwa suara wanita bukan aurat, adalah Al-Qur`an dan As-Sunnah. Dalil dari Al-Qur`an terdapat dalam dalil-dalil umum yang mewajibkan, menyunnahkan, atau memubahkan berbagai aktivitas, yang berarti mencakup pula bolehnya wanita melakukan aktivitas-aktivitas itu. Wanita berhak dan berwenang melakukan aktivitas jual beli (QS 2: 275; QS 4:29), berhutang piutang (QS 2:282), sewa menyewa (ijarah) (QS 2:233; QS 65:6), memberikan persaksian (QS 2:282), menggadaikan barang (rahn) (QS 2:283), menyampaikan ceramah (QS 16:125; QS 41:33), meminta fatwa (QS 16:43), dan sebagainya. Jika aktivitas-aktivitas ini dibolehkan bagi wanita, artinya suara wanita bukanlah aurat sebab semua aktivitas itu adalah aktivitas yang berupa perkataan-perkataan (tasharrufat qauliyah). Jika suara wanita aurat, tentu syara’ akan mengharamkan wanita melakukannya (Muhammad Syuwaiki, Al-Khalash wa Ikhtilaf An-Nas, hal. 106).

Adapun dalil As-Sunnah, antara lain bahwa Rasulullah SAW mengizinkan dua wanita budak bernyanyi di rumahnya (Shahih Bukhari, hadits no. 949 & 952; Shahih Muslim, hadits no. 892). Pernah pula Rasulullah SAW mendengar nyanyian seorang wanita yang bernazar untuk memukul rebana dan bernyanyi di hadapan Rasulullah (HR. Tirmidzi, dinilainya sahih. Imam Asy-Syaukani, Nailul Authar, VII/119). Dalil As-Sunnah ini menunjukkan suara wanita bukanlah aurat, sebab jika aurat tentu tidak akan dibiarkan oleh Rasulullah (Abdurrahman Al-Baghdadi, Seni Dalam Pandangan Islam, hal. 69-70).

Namun demikian, syara’ mengharamkan wanita bersuara manja, merayu, mendesah, dan semisalnya, yang dapat menimbulkan hasrat yang tidak-tidak dari kaum lelaki, misalnya keinginan berbuat zina, berselingkuh, berbuat serong, dan sebagainya. Firman Allah SWT (artinya) : “…maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS Al-Ahzab [33] : 32).

Suara wanita yang seperti itulah yang diharamkan, bukan suara wanitanya itu sendiri. Jadi, suara wanita itu bukanlah aurat yang tidak boleh diperdengarkan.

Maka dari itu, boleh hukumnya wanita bernyanyi dalam acara masirah tersebut, sebab suara wanita bukanlah aurat. Namun dengan 2 (dua) syarat. Pertama, suara itu dalam batas kewajaran, bukan sengaja dibikin mendesah-desah, mendayu-dayu, merayu, dan semisalnya. Kedua, perbuatan itu tidak disertai perbuatan-perbuatan haram dan maksiat, seperti ikhtilath, membuka aurat, dan sebagainya. Wallahu a’lam [ ]

About these ads

24 Tanggapan to “APAKAH SUARA WANITA AURAT?”

  1. rOZMA said

    Ass.saya sependpat dengan artikel diatas!KArena walau bagaimana pun jika suara wanita itu aurat ,maka Rasulullah mungkin tidak akan pernah m,endengar suara wanita yang bukan Muhrimnya,makasih atas informasinya,jazakallah!

  2. wangi said

    assalamualaikum. Kalau suara merayu, mendesah dan sejenisnya, bukan suara wanita saja yang tidak boleh, laki-laki juga tidak boleh, karena sama mudaratnya.

    Kenapa selalu wanita saja yang menjadi objek?????.

    • ahmad said

      ga’ gitu mbak. masak smua wanita tahu hukumnya kan ga’ gitu!!!!!ni kan untuk kebaikan bolehlah,,,,malah wajib diingatkan “_”

    • idul said

      mengapa selalu wanita yang menjadi objek????? sebab lelaki adalah makhluk yang paling mudah tergoda…..

  3. Aly Hasny said

    Assalamu’alaikum

    Sepakat saya dengan artikel akhina Farid Ma’ruf.

    Wassalam

  4. alin said

    salam!!!!!!!!!!!!!!
    hmm ana juga setuju banget dengan artikel di atas.,
    tapi, bagaimana dengan suara ikhwan?
    apakah sama aurat?????????
    kenapa selalu akhwat sich?????????????

  5. perikecil said

    assalamu’alaikum,,

    saya mau nanya, klo seorang akhwat tergabung dalam group nasyid(hanya sebagai penyanyi)
    yang anggotanya(pemain musiknya)adalah ikhwan, itu boleh atau tidak ya??

  6. way said

    Alin !!!!!laki suaranya bukan aurat

  7. [...] (http://konsultasi.wordpress.com/2007/01/18/apakah-suara-wanita-aurat/) [...]

  8. bungaran S nadeak said

    enjoi

  9. yati said

    kalau suara wanita yg mendayu- dayu tu haram..jd.. sudah semestinya menyanyi pun hukumnya haram.. sebab nya .. mana aa org nak nyanyi guna suara mendatar je.. mesti time dia nak nyanyi dia guna suara mendayu-dayu untuk menarik perhatian penonton..

  10. MAFRUHAH said

    Pendapatku, selama itu tidak mengajak maksiat, suara perempuan bukan aurat. Misalnya, ia ceramah agama Islam, ia nyanyi keesaan Allah, dll. Nahhh…, sebagai wanita gunakan suara demi kebaikan biar gak dihukum maksiyat.

  11. Quru' Entrepreunership said

    PendapatQ..
    Selama wanita itu mengeluarkan suaranya dengan sesuatu yang bermanfaat,,itu bukanlah aurat.. Tetapi klo di gunakan dengan hal2 yang tidak berguna,,seperti berteriak karena ingin di puji(cari perhatian) dan lain sebagainya,,itu adalah aurat menurutQ.. karena kebanyakan wanita sekarang melakukan sesuatu karena ingin di puji(mencari perhatian)..

  12. Sizar said

    Ustad..
    kLo wanita nyanyi di depan pria dan wanita,,namun diantara penontonnya dikasih hijab/nggak campur baur. Apakah itu boleh?

  13. sepakat dan sesuai dengan muqtadhal hal selama tidak bertentangan dgn syari’at…

  14. Maftuch Wafa' said

    Ustadz, saya mahu bertanya,, lha terus gimana hukumnya kalo seorang wanita bernyani senandung islam? dan itu mendayu-dayu!! semisal sholawat…

  15. kuntum said

    cmna pula ckap tlfon dgn lelaki??

  16. nisa ul fatimah said

    assalamualaikum wr.wb

    akh,,tpi jika kita berbicara dengan lawan jenis tanpa adanya unsur tersebut tetap termasuk aurat tidak?

  17. Nursa'adah said

    Assalamu’alaikum,.
    saya, kebetulan adalah seorang qori’ah, yang tentunya sering bersuara keras saat membacakan Al-Qur’an di depan orang banyak,. baik ikhwan ataupun akhwat,.

    yang ingin saya tanyakan,
    apakah suara saya itu termasuk aurot ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 952 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: