Konsultasi Islam

Mengatasi Masalah dengan Syariah

Bagaimana Islam Memandang Aborsi?

Posted by Farid Ma'ruf pada 18 Januari 2007

Soal:

Bagaimana hukum aborsi dalam pandangan Islam?

Jawab:

Sebelum membahas hukum aborsi, ada dua fakta yang dibedakan oleh para fuqaha dalam masalah ini. Pertama: apa yang disebut imlash (aborsi, pengguguran kandungan). Kedua, isqâth (penghentian kehamilan). Imlash adalah menggugurkan janin dalam rahim wanita hamil yang dilakukan dengan sengaja untuk menyerang atau membunuhnya.

Dalam hal ini, tindakan imlash (aborsi) tersebut jelas termasuk kategori dosa besar; merupakan tindak kriminal. Pelakunya dikenai diyat ghurrah budak pria atau wanita, yang nilainya sama dengan 10 diyat manusia sempurna. Dalam kitab Ash-Shahîhayn, telah diriwayatkan bahwa Umar telah meminta masukan para sahabat tentang aktivitas imlâsh yang dilakukan oleh seorang wanita, dengan cara memukuli perutnya, lalu janinnya pun gugur. Al-Mughirah bin Syu’bah berkata:

«قَضَى رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْهِ بِالْغُرَّةِ عَبْدٍ أَوْ أَمَةٍ»

Rasulullah saw. telah memutuskan dalam kasus seperti itu dengan diyat ghurrah 1 budak pria atau wanita.

Pernyataan tersebut dibenarkan oleh Muhammad bin Maslamah, yang pernah menjadi wakil Nabi saw. di Madinah. Karena itu, pada dasarnya hukum aborsi tersebut haram.

Ini berbeda dengan isqâth al-haml (penghentian kehamilan), atau upaya menghentikan kehamilan yang dilakukan secara sadar, bukan karena keterpaksaan, baik dengan cara mengkonsumsi obat, melalui gerakan, atau aktivitas medis tertentu. Penghentian kehamilan dalam pengertian ini tidak identik dengan penyerangan atau pembunuhan, tetapi bisa juga diartikan dengan mengeluarkan kandungan—baik setelah berbentuk janin ataupun belum—dengan paksa.

Dalam hal ini, penghentian kehamilan (al-ijhâdh) tersebut kadang dilakukan sebelum ditiupkannya ruh di dalam janin, atau setelahnya. Tentang status hukum penghentian kehamilan terhadap janin, setelah ruh ditiupkan kepadanya, maka para ulama sepakat bahwa hukumnya haram, baik dilakukan oleh si ibu, bapak, atau dokter. Sebab, tindakan tersebut merupakan bentuk penyerangan terhadap jiwa manusia, yang darahnya wajib dipertahankan. Tindakan ini juga merupakan dosa besar.

]وَلاَ تَقْتُلُوْا النَّفْسَ الَّتِيْ حَرَّمَ اللهُ اِلاَّ بِالْحَقِّ[

Janganlah kalian membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah, kecuali dengan cara yang haq. (QS al-An‘am [6]: 151).

Al-Bukhari dan Muslim juga menuturkan riwayat dari Abu Hurairah yang menyatakan:

«قَضَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي جَنِيْنِ اِمْرَأَةً مِنْ بَنِي لِحْيَانٍ مَيْتًا بِغُرَّةِ عَبْدٍ اَوْ اَمَةٍ»

Rasulullah telah memutuskan untuk pembunuhan janin wanita Bani Lihyan dengan ghurrah 1 budak pria atau wanita.

Janin yang dibunuh dan wajib atasnya ghurrah adalah bayi yang sudah berbentuk ciptaan (janin), misalnya mempunyai jari, tangan, kaki, kuku, mata, atau yang lain.

Mengenai penghentian kehamilan sebelum ditiupkannya ruh, para fuqaha telah berbeda pendapat. Ada yang membolehkan dan ada juga yang mengharamkan. Menurut kami, jika penghentian kehamilan itu dilakukan setelah empat puluh hari usia kehamilan, saat telah terbentuknya janin (ada bentuknya sebagai manusia), maka hukumnya haram. Karenanya, berlaku hukum penghentian kehamilan setelah ruhnya ditiupkan, dan padanya berlaku diyat ghurrah tersebut.

Karena itu, tema pembahasan penghentian kehamilan dalam konteks ini meliputi beberapa hal:

1- Jika seorang wanita yang tengah mengandung mengalami kesulitan saat melahirkan, ketika janinnya telah berusia enam bulan lebih, lalu wanita tersebut melakukan operasi sesar. Penghentian kehamilan seperti ini hukumnya boleh, karena operasi tersebut merupakan proses kelahiran secara tidak alami. Tujuannya untuk menyelamatkan nyawa ibu dan janinnya sekaligus. Hanya saja, minimal usia kandungannya enam bulan. Aktivitas medis seperti ini tidak masuk dalam kategori aborsi; lebih tepat disebut proses pengeluaran janin (melahirkan) yang tidak alami.

2- Jika janinnya belum berusia enam bulan, tetapi kalau janin tersebut tetap dipertahankan dalam rahim ibunya, maka kesehatan ibunya bisa terganggu. Dalam kondisi seperti ini, kehamilannya tidak boleh dihentikan, dengan cara menggugurkan kandungannya. Sebab, sama dengan membunuh jiwa. Alasannya, karena hadis-hadis yang ada telah melarang dilakukannya pengguguran, serta ditetapkannya diyat untuk tindakan seperti ini.

3- Jika janin tersebut meninggal di dalam kandungan. Dalam kondisi seperti ini, boleh dilakukan penghentian kehamilan. Sebab, dengan dilakukannya tindakan tersebut akan bisa menyelamatkan nyawa ibu, dan memberikan solusi bagi masalah yang dihadapinya; sementara janin tersebut berstatus mayit, yang karenanya harus dikeluarkan.

4- Jika janin tersebut belum berusia enam bulan, tetapi kalau janin tersebut tetap dipertahankan dalam rahim ibunya, maka nyawa ibunya akan terancam. Dokter pun sepakat, kalau janin tersebut tetap dipertahankan—menurut dugaan kuat atau hampir bisa dipastikan—nyawa ibunya tidak akan selamat, atau mati. Dalam kondisi seperti ini, kehamilannya boleh dihentikan, dengan cara menggugurkan kandungannya, yang dilakukan untuk menyembuhkan dan menyelamatkan nyawa ibunya. Alasannya, karena Rasulullah saw. memerintahkan berobat dan mencari kesembuhan. Di samping itu, jika janin tersebut tidak digugurkan, ibunya akan meninggal, janinnya pun sama, padahal dengan janin tersebut digugurkan, nyawa ibunya akan tertolong, sementara menyelamatkan nyawa (kehidupan) tersebut diperintahkan oleh Islam.

Dengan demikian, dalil-dalil tentang kebolehan menghentikan kehamilan, khususnya untuk menyelamatkan nyawa ibu, juga dalil-dalil berobat dan mencari kesembuhan, pada dasarnya merupakan dalil mukhashshish bagi hadis-hadis yang mengharamkan tindakan pengguguran janin. Secara umum dalil haramnya pengguguran kandungan tersebut dinyatakan dalam konteks pembunuhan, atau penyerangan terhadap janin. Karena itu, penghentian kehamilan dengan tujuan untuk menyelamatkan nyawa ibu tidak termasuk dalam kategori penyerangan, dan karenanya diperbolehkan. Wallâhu a‘lam bi ash-shawâb. []

Tulisan terkait :

1. Aborsi Dalam Pandangan Hukum Islam

2. Aborsi Bayi Cacat

About these ads

7 Tanggapan to “Bagaimana Islam Memandang Aborsi?”

  1. nahru said

    Assalamu’alaikum Wr. Wb

    secara umum yang namanya aborsi itu membunuh janin.
    sedangkan yang namnya membunuh iyalah :
    menghilangkan nyawa atau roh pada mahluk.

    dan menurut saya pribadi :
    jika janin itu belum berusia 4 (empat) bulan maka
    janin diperbolehkan untuk digugurkan. mengapa?
    karena si janin itu sendiri belum mempunyai nyawa.

    dan jika janin itu berusia 4 bulan atau lebih maka
    orang yang menggugurkan janin itu dihukumi telah
    membunuh seorang anak yang masih dalam kandungan.mengapa?
    karena pada waktu janin berusia 4 bulan, oleh
    alloh ta’ala telah ditiupkan roh sehingga janin itu mempunyai nyawa. dan jika kita mengugurkannya maka kita dihukumi telah membunuh orang.

    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

  2. ubaidillah said

    salam…..

    bagaimana menurut saudara aborsi yang dilakuakn terhadap wqnita korban pemerkosaan?

    atas jawaban nya terimakasih….

    oh ya tukar2 link blog. ok …..ditunggu konfirmasi

  3. rozalia said

    Mengapa seseorang yang di perkosa .Lalu dia aborsi diSahkan Oleh hukum ?

    • chaca said

      karna ada aturan dlm uu kesehtan no 36 thn 2009 pasal 75 ayat 2 hruf (b)..alsnnya anak yg lhir tsb dpt membuat trauma lebih mendalam pada korban perkosaaan tsb….ya stdaknya dbnarkn dlm uu ksehtn namun dlm hkum pidana,,tdak ada alsan sdkitpun org bole mlakukan aborsi..

  4. ache said

    bagaimana hukum aborsi terhadap janin yang berusia 60hari yg apbla dprthnkn akn mnybbkn rusk n brntkn krir serta pluang hdup mteri kdua blh psgn.. dmushi kelrg dsb.. hngg jnin akn trlntr.. suam istri nganggur.. gd pnghsln..

  5. ikhwanuddin said

    salam akhi..
    menurut saya aborsi adalah diharamkan dalam islam walaupun masa kehamilannya itu blm mencapai 40 hr kerana tujuan pernikahan adalah untuk menyambng zurriyat,,kecuali bayi itu adlah hasil drpd pemerkosaan.. maka blh lah dilakukan aborsi sblm mncpai khmln 40 hr.dan begitu jg dgn si ibu yg hamil dalam keadaan tdk normal kehamilannya (apabila ia terus mngandung bayi itu akan menjadi mengancam nyawanya) maka blh lah si ibu ini menggugurkan kandngannya, alasannya dalam qawaid alfiqhiyyah. ada kaedah mgtkn apabila bertemu dua yg memudharatkan maka ambillah yg lebih ringn.

  6. ekkypr said

    ijin kopas ya mas, buat tugas kul ne ,…thanks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 957 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: