Konsultasi Islam

Mengatasi Masalah dengan Syariah

AYAH AHLI KITAB MENJADI WALI NIKAH

Posted by Farid Ma'ruf pada 22 Januari 2007

Soal :

Boleh atau tidak orang tua atau pihak Ahli Kitab [beragama Kristen/Yahudi] menjadi wali nikah anak perempuannya yang menikah dengan laki-laki muslim? (Amiruddin, Bogor)

Jawab :

Jika perempuan itu muslimah dan hendak menikah dengan laki-laki muslim, tidak boleh ayah perempuan itu yang Ahli Kitab menjadi wali nikahnya. Sebab orang kafir tidak berhak menjadi wali bagi muslimah.

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam kitabnya Ahkam Ahli adz-Dzimmah Juz I hal. 295 dalam masalah ini telah membuat judul bab Orang Kafir Tidak Boleh Menjadi Wali Bagi Muslimah (laa yakuunu al-kaafir waliyan lil muslimah). Menurut Imam Ibnul Qayyim (Ahkam Ahli adz-Dzimmah, I/295), dalil-dalil yang melarang orang kafir untuk menjadi wali nikah bagi muslimah adalah dalil-dalil umum yang menjelaskan bahwa muslim adalah wali bagi sesama muslim dan bahwa kafir adalah wali bagi sesama kafir bukan wali bagi muslim. Firman Allah SWT :

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) auliya` (penolong, pelindung) bagi sebahagian yang lain.” (QS At-Taubah [9] : 71)

“Adapun orang-orang kafir, sebagian mereka menjadi auliya` (penolong, pelindung) bagi sebahagian yang lain.” (QS Al-Anfaal [8] : 73)

Dalam kondisi seperti ini, yang menjadi wali bagi muslimah tersebut adalah wali hakim (penguasa/sulthaan). Rasulullah SAW bersabda,”Tidak sah nikah kecuali dengan wali. Siapa saja perempuan yang dinikahkan tanpa izin walinya maka nikahnya batil, batil, batil. Maka jika perempuan itu tidak mempunyai wali, maka penguasa (sulthaan) adalah wali bagi perempuan yang tidak mempunyai wali.” (HR Abu Dawud) (Imam Syaukani, Nailul Authar, hadits no. 2664, hal. 1254)

Adapun jika perempuan itu adalah kitabiyah (kafir Ahli Kitab), bukan muslimah, bolehkah ayahnya yang Ahli Kitab menjadi wali nikahnya? Para imam berbeda pendapat dalam masalah ini, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnul Qayyim. Menurut Imam Ahmad bin Hambal, tidak boleh. Sedangkan menurut Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi’i dalam salah satu riwayatnya, hukumnya boleh. (Ahkam Ahli adz-Dzimmah I/297).

Menurut Imam Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni, sebagaimana dinukil Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah (Ahkam Ahli adz-Dzimmah I/297), pendapat yang membolehkan adalah lebih tepat (wa huwa ashohh), meskipun ini menyalahi mazhab Imam Ahmad.

Jadi, seorang ayah Ahli Kitab boleh menikahkan anak perempuannya yang juga Ahli Kitab (kitabiyah), dengan seorang laki-laki muslim. Sebab ayah itu adalah walinya. Maka boleh bagi dia menikahkan anak perempuannya dengan laki-laki muslim sebagaimana boleh pula dia menikahkannya dengan laki-laki kafir (Ahkam Ahli adz-Dzimmah I/297).

Kami lebih cenderung kepada pendapat yang membolehkan ini sebab lebih sesuai dengan firman Allah SWT yang menjelaskan bahwa orang kafir adalah wali bagi sesama orang kafir :

“Adapun orang-orang kafir, sebagian mereka menjadi auliya` (penolong, pelindung) bagi sebahagian yang lain.” (QS Al-Anfaal [8] : 73)

Wallahu a’lam.

Yogyakarta, 6 Nopember 2006

Muhammad Shiddiq al-Jawi

About these ads

3 Tanggapan to “AYAH AHLI KITAB MENJADI WALI NIKAH”

  1. Yosan said

    Assalamu’alaikum
    Mas Farid seharusnya juga menjelaskan kalau penganut agama kristen dan Yahudi sekarang ini bukan lagi termasuk ahli kitab dan hampir tidak ada lagi para golongan ahli kitab ini.

  2. Nasoy said

    Assalamualaikum..
    Ahli kitab merupakan orang2 nasrani dan yahudi pada jaman sebelum rasulullah sampai skrg,mengingat pd jaman sblum rasulullah ada sebagian ahli kitab yg mengubah/menambahkan&mengurangi kitab2 Allah,dan tugas adanya alquran yaitu membenarkan ktab2 sblumnya..karena dalam alquran&hadits dijelaskan bahwa ahli kitab itu orang nasrani&yahudi.hanya saja dari segolongan ahli kitab itu ada yang sebagian mendustakan ayat2 Allah.
    Jika dtinjau dr paman siti khadijah
    maka dia termasuk nasrani yg memiliki injil yg asli,tp jika dlihat dr istri rasul maria al qibtiyah,maka sama dngan kristen koptik yg skrg..mnggunakan injil yg sudah tdk murni lagi.Jadi ahli kitab merupakan orang2 penganut nasrani&yahudi,karna meskipun kitab2nya sdah tdak murni lagi,tapi masih ada sbagian ayat2 Allah.dan pada saat rasulullah mengirim surat ajakan masuk Islam kpda kaisar romawi yg telah menganut agama nasrani dan beliau menyapanya dngan sbutan ahli kitab.di dalam alquran sebagai seorang muslim kita tdak boleh mendustakan adanya ahli kitab,namun kt tdk dprbolehkan percaya kpd mereka.karna meskipun mereka beriman pada nabi2 trdahulu namun mereka menyangkal nabi Muhammad saw dan ajaran2 mereka tidak murni lagi,sehingga ahli kitab yg mengubah2 kitabnya termasuk gol.kafir,namun pd masa skrg,ahli kitab yg murni ajaran sesuai taurat&injil yg blum diubah2 sudah tdak ada lagi mengingat mereka semua akan beriman kpda rasullulah sprti waraqah ibn nawfal menurut yg diajarkan pd kitab2 Allah sblumnya.
    Walaikum salam

  3. daksa said

    bagaimana jika seorang pasangan melakukan pernikahan bukan secara syari dengan alasan mereka non muslim, apakah status hubungan mereka akan diakui ALLAH tetap sebagai perbuatan zina??

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 969 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: