Konsultasi Islam

Mengatasi Masalah dengan Syariah

BOLEHKAH MENCARI MODAL BISNIS DARI BURSA SAHAM?

Posted by Farid Ma'ruf pada 13 Maret 2007

Pertanyaan :
Dalam sistem ekonomi yang diterapkan saat ini, bursa saham termasuk instrumen yang sangat penting. Proses mencari modal untuk usaha bisnis sangat terbantu dengan adanya bursa saham. Begitu pula pihak-pihak yang kelebihan uang bisa memanfaatkan kelebihan uangnya untuk berinvestasi melalui sarana bursa saham. Banyak uang beredar di sana. Bagaimana pandangan Islam tentang bursa saham?

Jawaban
:
Pendahuluan
Bursa saham atau bursa efek merupakan tempat diselenggarakannya kegiatan perdagangan efek pasar modal yang didirikan oleh suatu badan usaha (Anoraga dan Pakarti, 2001). Sedangkan yang dimaksud pasar modal adalah kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek (UU Pasar Modal No. 8 1995). Lebih umumnya pasar modal dikatakan sebagai sebuah tempat di mana modal diperdagangkan antara orang yang memiliki kelebihan modal dengan orang yang membutuhkan modal untuk investasi yang mereka butuhkan (Al Habshi, tt.). Pasar modal di Indonesia misalnya Bursa Efek Jakarta (BEJ), Bursa Efek Surabaya (BES).
Instrumen (efek) yang diperdagangkan di pasar modal seperti saham, obligasi dan instrumen turunannya. Saham merupakan tanda penyertaan atau pemilikan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan yang wujudnya berupa selembar kertas yang menerangkan bahwa pemilik kertas tersebut adalah pemilik perusahaan yang menerbitkan perusahaan tersebut. Sedangkan yang dimaksud dengan obligasi adalah selembar kertas yang menyatakan bahwa pemilik kertas tersebut telah membeli hutang perusahaan yang menerbitkan obligasi.
Proses perdagangan saham dan obligasi di bursa efek malalui pasar perdana kemudian dilanjutkan ke pasar sekunder. Yang dimaksud dengan pasar perdana adalah penjualan perdana saham atau obligasi oleh perusahaan yang menerbitkannya (emiten) di bursa efek kepada para investor. Selanjutnya para investor yang telah membeli efek tersebut dapat menjualnya kembali di lantai bursa dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan. Transaksi-transaksi yang terjadi setelah pasar perdana dinamakan sebagai pasar sekunder.
Meskipun sering diungkapkan bahwa pasar modal merupakan tempat mempertemukan antara orang yang perlu modal dengan pihak lain yang memiliki kelebihan dana, tapi faktanya tidaklah demikian. Transaksi-transaksi yang riil mencerminkan aliran dana dari investor kepada badan usaha yang perlu dana hanya terjadi di pasar perdana. Itupun belum tentu investor yang membeli saham atau obligasi di pasar perdana motifnya untuk investasi, tetapi bisa saja (sebagian besar) mereka memiliki tujuan untuk mendapatkan keuntungan jangka pendek dari selisih nilai saham di kemudian hari (di pasar sekunder). Bahkan belum tentu orang-orang yang membeli saham tersebut memiliki kelebihan dana, sebab dengan dukungan sistem perbankan ribawi mereka dengan modal cekak bisa menguasai saham yang jumlahnya berkali-lipat dari kekayaan riil yang dia miliki, apalagi dengan mekanisme transaksi pasar modal yang memang memungkinkan spekulasi menjadi permainan sehari-hari.

Hukum Syara’ Bursa Efek
Ada beberapa aspek untuk menjadi acuan penilaian apakah bursa efek haram atau tidak, yaitu instrumen yang diperdagangkan, mekanisme transaksi, dan mudharat yang ditimbulkannya.
Efek yang diperdagangkan di pasar modal cukup beragam, tetapi semuanya kembali kepada instrumen saham dan obligasi, selebihnya hanya turunan (derivatif) dari kedua instrumen tersebut.
Saham diterbitkan oleh sebuah badan usaha berbentuk Perseroan Terbatas (PT) baik badan usaha milik swasta maupun milik pemerintah dengan tujuan untuk mendapatkan tambahan modal dalam memperluas kegiatan usaha ataupun tujuan lainnya. Sebagai akibatnya, maka si pembeli saham memiliki perusahaan dengan komposisi sesuai besar saham yang dia miliki dan hak suara dalam menentukan dewan direksi (pimpinan perusahaan) yang biasanya dipilih pada RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham). Di samping itu, pembeli saham juga mendapatkan deviden dari bagian keuntungan usaha perusahaan yang dibagikan kepada para pemegang saham.
Dalam UU No. 1 1995 tentang Perseroan terbatas, pasal 1 ayat 1, Perseroan Terbatas merupakan badan hukum yang didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham, dan dalam pasal 24 ayat 1 dijelaskan pula bahwa modal dasar PT terdiri atas seluruh nilai nominal saham PT tersebut.
Para pendiri PT membagi kepemilikan mereka di PT tersebut dengan kompisisi kepemilikan saham. Seseorang atau badan yang tidak terlibat dalam pendirian perusahaan dapat memiliki perusahaan, sebagian, separu, atau keseluruhan perusahaan dengan hanya membeli saham perusahaan tersebut di pasar modal, terlepas apakah pendiri atau pemegang saham sebelumnya setuju atau menyukai investor baru atau sebaliknya. Bahkan antara pendiri, pemegang saham sebelumnya dan pihak manajemen perusahaan tidak mengenal siapa pembeli saham mereka (terutama pembeli individu) sebagai sesama pemilik perusahaan.
Dalam Islam dua orang atau lebih dibenarkan secara bersama-sama meleburkan hartanya ataupun tenaganya untuk mendirikan suatu badan usaha (perseroan) dengan syarat satu sama lain mengajak dan yang lain menerima sehingga terjadilah ijab kabul. Selain itu, yang menggerakkan dan menjalankan perseroan haruslah manusia, yakni para pendiri persero sedangkan untuk pengoperasian perseroan, para persero dapat mengangkat dan menggaji orang-orang profesional pada manajemen puncak perusahaan dan karyawan biasa pada level bawah (An Nabhani, 2000).
Pada Perseroan Terbatas tidaklah terjadi demikian. Para pendiri PT yang bersama-sama mendirikan perseroan cukup menyetorkan modal, disahkan dengan akte notaris, dan menjadi badan hukum bila sudah disahkan oleh Menteri Kehakiman. Selanjutnya kekuatan (suara) antar persero di dalam PT berdasarkan jumlah modal yang mereka tanamkan (maksudnya komposisi kepemilikan saham mereka masing-masing) sehingga untuk menentukan pucuk pimpinan dan manajemen perusahaan tergantung pada kekuatan modal masing-masing persero.
Meskipun yang menggerakkan dan menjalankan roda usaha PT adalah manajemen perusahaan, akan tetapi yang memilih, memerintahkan dan memecat manajemen adalah suara terbesar saham, dengan kata lain “modal”. Para pemegang saham bisa saja mengangkat dirinya sendiri sebagai pimpinan dan manajemen perusahaan atau memilih pihak lain yang dianggap profesional.
Dalam Perseroan Terbatas, tanggung jawab para pemilik perusahaan sebatas nilai saham yang dia miliki. Pada pasa 3 ayat 1 UU No. 1 1995 tentang Perseroan Terbatas, disebutkan bahwa pemegang saham perseroan tidak bertanggungjawab secara pribadi atas perikatan yang dibuat atas nama perseroan dan tidak bertanggungjawab atas kerugian perseroan melebihi nilai saham yang telah diambilnya. Dengan demikian bila perusahaan memiliki utang ataupun mengalami bangkrut, maka pihak lain yang mempunyai tagihan di perusahaan tersebut tidak dapat meminta tanggung jawab para pemegang saham melebihi nilai saham yang dia miliki.
Hal ini bertentangan dengan nash-nash syara’ yang menyuruh manusia untuk memenuhi hak orang lain secara penuh atas aqad-aqad muamalah yang telah dilakukannya.
“Siapa saja yang mengambil harta orang dan bermaksud untuk melunasinya, maka Allah akan menolongnya untuk melunasinya. Dan siapa saja yang mengambil harta orang dan bermaksud merusaknya, maka Allah akan merusak orang itu.” [HR. Bukhari dari Abu Hurairah].
“Sungguh hak-hak itu pasti akan ditunaikan kepada para pemiliknya pada hari kiamat nanti, hingga seekor domba betina tak bertanduk akan mendapat kesempatan membalas karena pernah ditanduk oleh domba betina bertanduk.” [HR. Imam Ahmad dari Abu Hurairah].
“Perbuatan orang kaya menunda-nunda pembayaran utangnya adalah suatu kezhaliman.” [HR. Imam Bukhari dari Abu Hurairah].
“…sebaik-baik orang di antara kalian, adalah yang paling baik dalam penunaian hak (pembayaran utang, dan lain-lain).” [HR. Imam Bukhari].
Dengan demikian setidaknya terdapat tiga pertentangan Perseroan Terbatas dengan hukum syara’, yaitu pendiriannya yang tidak memenuhi syarat sah sebagai suatu perseroan, yang menggerakkan PT adalah modal bukan manusia, dan tanggung jawab para persero terbatas pada nilai saham (modal) yang dimilikinya.
Dengan batilnya PT sebagai suatu perseroan, maka saham yang dikeluarkannya untuk menambah modal perusahaan juga batil untuk ditransaksikan. Sebab saham tersebut dikeluarkan oleh institusi yang batil dari segi bentuk perseroannya, dan jalan yang ditempuh oleh pihak lainnya untuk bergabung ke dalam perusahaan tersebut dengan cara membeli saham juga merupakan jalan yang batil.
Adapun obligasi merupakan salah satu alat yang digunakan oleh Perseroan Terbatas untuk menambah permodalan selain dengan cara penerbitan saham baru dan pinjaman bank. Obligasi bisa dikeluarkan oleh pemerintah yang kemudian disebut Obligasi Negara atau Surat Utang Negara (SUN), BUMN dan swasta. Obligasi yang dikeluarkan dapat dalam bentuk satuan mata uang lokal seperti rupiah (obligasi dalam negeri) dan dalam mata uang asing seperti dollar (obligasi internasional).
Jika dalam saham keuntungan yang diperoleh oleh para pemegangnya berupa deviden, maka dalam obligasi para pembeli obligasi mendapatkan keuntungan berupa bunga obligasi. Berbeda dengan saham yang merupakan tanda kepemilikan seseorang atas perusahaan yang menerbitkannya, para pembeli obligasi hanya memiliki tagihan kepada perusahaan penerbit sebesar nilai nominal yang tertera dalam obligasi tersebut ditambah dengan bunganya dengan jangka waktu tertentu.
Biasanya tingkat bunga obligasi mengikuti patokan tingkat suku bunga yang telah ditentukan oleh Bank Sentral. Keberadaan bunga obligasi sama dengan bunga bank dan bunga utang luar negeri. Karena hukum bunga dalam Islam sudah jelas haram, maka bunga obligasi juga haram, sehingga obligasi sebagai salah satu instrumen di pasar modal termasuk haram untuk diperdagangkan.
Dari segi mekanisme transaksinya di bursa efek, saham dan obligasi juga sarat pertentangannya dengan hukum syara’. Di pasar sekunder, saham dan obligasi dapat diperdagangkan dengan harga di atas nilai nominalnya ataupun di bawah harga nominal. Karenanya keuntungan yang diperoleh para investor tidak saja melalui pembagian deviden dan bunga, tetapi diperoleh dari selisih harga jual dan harga beli. Bahkan inilah tujuan utama aktivitas perdagangan saham di lantai bursa, yakni memperoleh keuntungan dari selisih harga jual dan harga beli.
Seseorang akan membeli saham-saham perusahaan yang dianggap memiliki kinerja baik dan mempunyai prospek cerah di lantai bursa. Kemudian dia akan melepas saham yang dipegangnya tersebut kepada para investor lainnya bila tingkat harga yang ditawarkan menguntungkan. Jadi taktik yang dilakukan para pemain saham di bursa efek adalah bagaimana cara mendapatkan keuntungan (capital gain), baik dengan jalan menghembuskan berita-berita bagus atas saham perusahaan tertentu sehingga para pemain lainnya tertarik terhadap saham perusahaan tersebut, melakukan transaksi semu antara dua tiga broker atas permintaan perusahaan tertentu (insider trading) sehingga harganya terangkat, dan lain-lainnya. Sebaliknya, untuk mendapatkan harga yang murah dari saham perusahaan yang sebenarnya memiliki kinerja yang bagus, maka berbagai cara dilakukan untuk menekan harga saham tersebut (manipulasi pasar).
Secara umum para pelaku pasar menginginkan harga-harga saham terus meningkat yang ditandai dengan semakin tingginya indeks bursa saham dan semakin besarnya nilai kapitalisasi saham yang diperdagangkan. Harapan-harapan inilah yang mendorong mereka untuk membeli saham yang menyebabkan harga saham terangkat, kemudian dibeli lagi sehingga harga saham naik lagi.
Para pemain di lantai bursa sendiri belum tentu memiliki modal yang cukup untuk membeli saham dalam jumlah yang banyak. Di sinilah peranan perbankan ribawi dalam mengucurkan pinjamannya kepada para pedagang saham. Misalnya untuk membeli saham tertentu yang lagi naik daun, dia membutuhkan uang dengan jumlah tertentu, akan tetapi uang yang dimilikinya hanya 5% saja. Maka karena harapan kenaikan harga saham dan keuntungan yang akan diperoleh, dia berani menutup sisa kekurangannya dengan melakukan pinjaman di bank.
Di sisi lain harga saham yang terus naik, sebenarnya tidak mencerminkan kondisi riil perusahaan-perusahaan yang menerbitkan saham tersebut. Turun naiknya harga saham tidak mengikuti turun naiknya nilai aset perusahaan, bahkan perkembangan harga saham bisa saja terlepas sama sekali dari perusahaan penerbitnya. Turun naiknya harga saham ditentukan oleh tarik-menarik antara permintaan dan penawaran saham di lantai bursa.
Kondisi riil perusahaan penerbit saham dicerminkan dari keadaan balon yang belum ditiup. Kemudian aktivitas perdagangan dan spekulasi di lantai bursa yang membuat harga saham melambung dapat diilustrasikan dengan balon yang mulai menggelembung dan terus menggembung. Para pemain yang berlomba-lomba terus membeli saham kemudian menjualnya, dibeli dan dijual lagi.
Sesungguhnya para pemain mengambil keuntungan perdagangan saham dengan mengurangi uang pemain lainnya dan begitu pula sebaliknya. Pemain yang didukung modal besar dan para analis yang tajam mempunyai kesempatan yang lebih besar dalam mengalahkan pemain lainnya. Hingga akhirnya pasar jenuh karena pemain yang kalah dan kantongnya cekak dan terlilit utang tidak mampu lagi mengikuti pemain lainnya, sementara pemain yang memperoleh keuntungan tersebut tidak dapat lagi mendapatkan keuntungan disebabkan tidak ada lagi pemain lainnya yang dapat dikeruk uangnya (cat: perdagangan saham tidak dilakukan dengan cara kontan).
Pada kondisi inilah tekanan di lantai bursa tidak mampu lagi ditahan sehingga akhirnya indeks saham melorot drastis dan meledaklah balon yang tadinya menggelumbung tersebut. Jatuhnya indeks bursa saham sangat berpengaruh pada sektor riil, yakni kondisi perekonomian secara makro dan merosotnya nilai aset perusahaan-perusahaan yang sahamnya anjlok.
Sementara para pemain kebanyakan yang umumnya masyarakat luas dengan pengetahuan dan modal yang kalah jauh dibandingkan para pemain kelas kakap, menderita kerugian hebat. Begitu pula masyarakat yang sama sekali tidak ikut bermain di bursa menderita kerugian baik secara langsung maupun tidak langsung dalam bentuk kemerosotan ekonomi. Di samping itu uang yang dipakai untuk bermain saham di lantai bursa juga memanfaatkan dana pensiun yang notabene milik masyarakat.
Selain berbahaya bagi perekonomian masyarakat, pasar modal dan aktivitas jual beli saham juga merupakan suatu sarana bagi negara-negara maju, khususnya kaum Kapitalis (para pemilik modal) untuk menjerat dan menundukkan perekonomian nasional, serta menguasai aset-aset nasional dengan mudah tanpa harus bersusah payah membangun infrastruktur ekonomi dan industri yang memakan dana besar, tenaga dan waktu.
Misalnya bagi negara sekecil Singapura untuk menguasai industri dan jaringan telekomunikasi Indonesia tidak perlu dengan membuat perusahaan baru di Indonesia tetapi cukup dengan membeli saham Indosat dan Telkomsel. Begitu pula bagi para konglomerat hitam yang telah menguras harta rakyat melalui bank-bank yang telah mereka dirikan, setelah bank-bank mereka disehatkan pemerintah dengan menyuntikkan dana ratusan trilyun sementara utang-utang mereka telah menjadi tanggungan pemerintah, mereka kembali menguasai bank-bank tersebut setahap demi setahap melalui pasar modal.
Hal lainnya yang bertentangan dengan syara, bahwa pasar modal menciptakan perputaran kekayaan hanya di kalangan tertentu saja, sehingga perekonomian yang mengandalkan pasar modal tidak akan pernah dapat menciptakan distribusi ekonomi yang adil.

Penutup
Jelaslah bahwa bursa efek sebagai bagian dari pasar modal bukanlah suatu lembaga perekonomian yang sesusai dengan Islam, baik dari segi instrumen yang diperdagangkan, mekanisme transaksinya, dan berbagai dampak yang ditimbulkannya.
Perekonomian yang mengandalkan pada pasar modal merupakan perekonomian yang berbasiskan pada perjudian. Perjudian dipasar modal jauh lebih berbahaya dan lebih luas dampaknya dibandingkan dengan perjudian biasa. Pemimpin dan masyarakat yang mengutamakan kepercayaan pasar (pelaku pasar modal) hakikatnya telah menaruh nasib bangsa dan negara ini di tangan para penjudi. Mereka begitu bergembira ketika mengetahui reaksi positif pasar atas berbagai kebijakan pemerintah, termasuk ketika pemilu dilaksanakan baru-baru ini. Bahkan para calon presiden sekarang menempatkan kepercayaan pasar sebagai salah agenda utama yang akan ditempuh bila terpilih jadi presiden.
Kita sebagai muslim hendaklah berpikir kritis dan rasional dengan berpijak pada nash-nash syara’. Bahwa hukum pasar modal sebagai lembaga ekonomi Kapitalis sudah jelas dan tidak terlalu sulit untuk memahaminya. Begitu pula berbagai dampak kemerosotan pasar modal sebagai suatu hal yang pasti akan terus berulang terjadi dan telah berkali-kali kita saksikan dan kita rasakan dampaknya. Akahkah kita tetap diam dan membiarkan sistem jahat ini terus bercokol di atas ekonomi umat, atau bahkan memperkokohnya dengan mantel baru yang bernama pasar modal syariah?
Semoga Allah SWT memberi kita semua petunjuk jalan yang lurus dan kekuatan untuk menempuh jalan tersebut. Amin. (www.konsultasi.wordpress.com)

Referensi:
1. An-Nabhani, Taqyuddin (2000), Membangun Sistem Ekonomi Alternatif; Perspektif Islam, alih bahasa Moh. Maghfur Wachid, cet. v, Surabaya: Risalah Gusti.
2. Alhabshy, Syed Othman Alhabshi (t.t), Towards an Islamic Capital Market, http://vlib.unitarklj1.edu.my/staff-publications/datuk/Nst19feb93.pdf
3. Jakarta Stock Exchange, Mengenal Pasar Modal, http://www.jsx.co.id
Anoraga, Pandji dan Pakarti, Piji (2001), Pengantar Pasar Modal, cet. iii, Jakarta: PT Rineka Cipta.

Oleh: Hidayatullah Muttaqin
Sumber jawaban : hayatulislam.net

About these ads

40 Tanggapan to “BOLEHKAH MENCARI MODAL BISNIS DARI BURSA SAHAM?”

  1. kokados said

    Baguslah,trims

  2. Saya mencari pemilik modal untuk membantu saya dalam mengembangankan usaha yang akan saya jalankan.

  3. adhie said

    jadi bagaimana hukum islmam dengan mencari keuntungan dengan bertrading di forex?terimakasih.

  4. ryken said

    wah penjelasannyan terlalu panjang jd malas bacanya ga bs di singkat apa ya

  5. josh said

    Baca langsung kesimpulannya aja…

  6. rfirmans said

    Saya tertarik dengan statemen berikut:
    1. “Singapura untuk menguasai industri dan jaringan telekomunikasi Indonesia tidak perlu dengan membuat perusahaan baru di Indonesia tetapi cukup dengan membeli saham Indosat dan Telkomsel”

    2. “Akahkah kita tetap diam dan membiarkan sistem jahat ini terus bercokol di atas ekonomi umat, atau bahkan memperkokohnya dengan mantel baru yang bernama pasar modal syariah?”

    Pertanyaan saya; adakah cara efektif bagi pebisnis muslim utk membangun ekonomi umat, membantu pendidikan anak-anak muslim, berjihad kepada sesama negara muslim yang memerlukan? singkatnya adakah cara efektif untuk membendung tekanan modal asing selain dengan pasar modal?

    tolong dijawab secepat –kami sedang diburu waktu untuk bertindak
    terima kasih

  7. Agus Djamil said

    Assalamu’alaikum,
    Saya rasa, Anda terlalu dini untuk mengambil kesimpulan seperti ini:
    “Jelaslah bahwa bursa efek sebagai bagian dari pasar modal bukanlah suatu lembaga perekonomian yang sesusai dengan Islam, baik dari segi instrumen yang diperdagangkan, mekanisme transaksinya, dan berbagai dampak yang ditimbulkannya.”

    Penjelasan di atas masih terbatas, dan belum menjelaskan tentang ketidak sesuaian dengan Islam. Mungkin penulisnya perlu lebih banyak membaca lagi, misalnya dengan mengunjungi salah satunya: http://www.inceif.org lembaga resmi Bank Negara Malaysia yang mencetak para ahli islamic finance.

    Lagu pula, di Bursa Efek Jakarta, sudah memiliki Dewan Syariah -nya yang melaksanakan seleksi bagi lebih dari 220 saham yang masuk dalam kategori syariah-compliance and setiap 6 bulan menentukan 30 saham yg masuk dalam Jakarta ISlamic Index yang sangat succesful itu.

    Mohon, jangan tergesa-gesa mengambil kesimpulan.

    Wassalam.

  8. ririt said

    Kalau Bursa Saham, Forex dan sejenisnya adalah haram karena dianggap berjudi, bagaimana dengan nasib petani, atau pedagang kambing?
    Petani saya anggap juga berjudi, karena:
    1. Tidak ada bisa meramalkan bagaimana cuaca besok. Sering kita dengar banyak petani merugi/ bangkrut gara2 cuaca yg buruk.
    2. Tidak ada yang tahu berapa harga gabah esok hari. Bisa naik, bisa pula jatuh.
    Bandingkan dengan forex, saham?
    Begitu pula dengan pedagang sapi/kambing, beli sekarang umur 5 bulan harga @Rp.200.000, dijual setahun kemudian dengan @Rp 500.000, maka untunglah dia. Siapa yg tahu kalau tahun depan itu kambing kena antrax, terus nggak bisa dijual? Rugikan.

    Yang namanya dagang memang selalu mengambil untung dari selisih harga jual dan beli. Kalau ini dikatakan haram, maka lebih baik kita kembali saja ke jaman purbakala, dimana ubi ditukar dengan jagung, kain ditukar dengan sandal. Hapus saja mata uang supaya tidak ada selisih harga.
    Mengerti kan maksud saya.

  9. Syah said

    Assalamu’alaikum

    saya ingin bertanya sekaligus menanggapi pertanyaan diatas, saya setuju dengan jawaban tersebut tetapi apakah “NIAT” dalam hati yang hanya ingin mendapatkan keuntungan dengan cara yang baik dan benar dan tidak ada niatan judi apa tidak dapat dibenarkan?

    kemudian dalam permainan saham tidak selalu dengan cara berpikir “GAMBLING” atau bejudi namun dapat menggunakan analisis mengenai perusahaan yang akan dibeli sahamnya oleh kita dengan melihat laporan keuangan dan lain-lainnya, apakah dengan cara seperti itu pun masih terbilang salah atau haram?

    Terima kasih banyak, saya tunggu jawabannya

    wassalam,

  10. Franz said

    Assalamu’alaikum

    Bursa efek hampir sama dengan berdagang. saya ingin mengutip pembicaraan diatas “Perekonomian yang mengandalkan pada pasar modal merupakan perekonomian yang berbasiskan pada perjudian”, hal ini sama saja dengan berdagang yaitu kita dalam menjual barang2 tidak tahu apakah laku atau tidak barang dagangan kita sebab hal ini mengandalkan pada minat beli masyarakat. Lantas saya ingin tanya kepada yg membuat artikel diatas, apakah berdagang juga termasuk JUDI??Padahal jelas2 dalam perdagangan kita juga tidak tahu apakah dagangan kita laku atau tidak karena mengandalkan minat beli masyarakat.

    wassalam,

  11. Dion said

    Assalamualaikum

    Artikel yang sangat membantu bagaimana melihat sistem ekonomi kita dari sudut pandang islam , untuk bursa efek saya masih belum berani untuk bilang tersebut haram , karena ada juga yang menjual saham secara syariah yang mana ada perusahaan yang produknya halal untuk di beli dan di jual , perusahaan ini menjual sahamnya … yang masih bingung ini saya.. apa membeli saham di perusahaan yang masuk di islamic index haram atau halal masih perlu di kaji ulang … karena saya belom pernah mendapatkan sebuah artikel tentang islami index. dah saya sangat tertarik hal ini…

    untuk trading forex , secara jujur saya pernah belajar bagaimana trading forex selama kurang lebih 2 thn , tetapi bukannya hanya saya trading saja , tetapi saya juga mencari bagaimana trading forex secara islam, menurut pengetahuan saya … trading forex masih belom bisa dikatakan halal .. mengapa? hal ini membuat saya untuk berhenti setelah saya mencari kenapa forex belom bisa dikatakan halal… ada beberapa hal forex mendekati halal jika kita :

    1. menganalisa kondisi market dengan teknikal dan fundamental
    2. menghapus swap ( bunga ) yang jika kita open posisi melebihi 1 hari, atau jika kita tidak menghapus tetapi tidak mengambil hasil interest juga bisa

    akan tetapi … saya yang masih ragu2 tentang leverage … leverage ini membuat kita trading dengan margin kecil tetapi di gandakan oleh broker untuk dilempar di pasar … contoh leverage 1:200 … yaa ini lah yang masih menjadi pertanyaan saya .. apa menggunakan leverage merupakan haram dikarenakan margin ( modal ) kita dilipat gandakan jika profit dan di lipat ganda kan jika rugi juga.. apa jika kalau leverage ini di rubah ke 1:1 apa forex menjadi halal…

    untuk hal ini saya menerima pemasukan bagimana hal yang terbaik menurut syariah jika menemui hal ini…

  12. hm sis said

    saya masih terus mengkaji tentang perdagangan indek dengan membaca smua situs yang tersedia. menurut saya belum ada kejelasan yang pasti menurut syariat islam. pemerintah dalam hal ini MUI harus sgera mengeluarkan FATWA tentang perdagangan saham indek ini secara datail. agar tidak menjadikan suatu keraguan khususnya bagi ummat muslim yang minim pemahamannya.trims

  13. vai85 said

    Hidup ini adalah judi kawan.
    Jadi jangan memaksakan diri dan merasa diri anda adalah bukan pemain judi. Mungkin sebagai contoh, anda ingin menjadi PNS, tapi anda ingin terus maju walaupun anda mengetahui ada banyak orang yang ingin ikutan jadi PNS. Disinilah anda melakukan judi, karena untung-untungan juga bila anda bisa diterima jadi PNS.
    so hidup ini adalah berjudi kawan.

  14. riza said

    Ada komentar yang perlu disimak dari

    http://dirgaa.com/archives/menaklukkan-wall-street.html

    Judulnya menarik sekali…’MENAKLUKKAN WALLSTREET’

    Sepengetahuan saya…kalo boleh bagi-bagi info sedikit…kebangkitan Islam dekade ini ditandai dengan kebangkitan sektor Islamic Finance-nya. Jadi bukannya tidak mungkin Wallstreet akan kita taklukkan dengan Islamic Finance-nya. Amin.

    Pada prinsipnya, ada beberapa instrumen di pasar modal dan aktivitasnya yang diharamkan dalam Islam dan ada juga sebagiannya yang masih dianggap masuk wilayah abu-abu. Dan tentu sebagian sisanya dianggap jelas keharamannya.

    Yang dihalalkan secara singkat adalah saham-saham yang telah ter-screening dan diperdagangkan di Pasar Modal Islam di Indonesia, obligasi syariah (atau sukuk) dan reksadana syariah. Namun demikian sebagian besar berpendapat saham haram jika diperdagangkan short-sell atau istilahnya trading. Selisih antara harga beli dan jualnya dianggap riba. Jadi investor Islam hanya bisa mengharapkan dividen di akhir tahun saja. Obligasi syariah, pasar sekundernya masih diperdebatkan halal-haramnya karena prinsip memegang obligasi syariah mestinya dipegang oleh investor sampai jatuh tempo. Jika diperjualbelikan dipasar sekunder dan ada selisih harga dari harga nominalnya maka jumhur ulama Timur Tengah menganggapnya haram.

    Valas hanya dibolehkan dibeli untuk kondisi tertentu seperti berjaga-jaga. Tapi jika mengharapkan keuntungan dari selisih beli dan jual maka masuk kategori riba dan haram. Dibolehkan misalnya jika memiliki anak-anak yang bersekolah di luar negeri jadi mesti membeli valas. Atau untuk berjaga-jaga karena kemungkinan melakukan perjalanan ke luar negeri misalnya.

    Reksadana syariah….jika didalamnya main saham untuk trading, dan jika didalamnya ada jual beli valas maka menjadi tidak murni syariah.

    Saya pribadi adalah mahasiswa manajemen ekonomi dan bisnis syariah FEUI…buat temen-temen yang mau gabung bisa daftar ke milis kami yang baru establish di s-best@yahoogroups.com. Sharia business and economics society. Bisa bertanya dan diskusi dengan teman-teman kami bahkan beberapa dosen tentang bidang tersebut.

    Email ini adalah bagian dari tanggung jawab kami untuk melakukan sosialisasi :)…

    Dalam waktu dekat ini saya pribadi nampaknya akan jadi manajer investasi yang mengelola portofolio investasi syariah.

    Sekali lagi…gabung ya di milis kami….

    Terima kasih. Semoga bermanfaat.

  15. andriew said

    saya baru lulus PTS, dan dah 6 bulan lebih kerja di persh pialang jual beli saham,valas,emas.
    disini kita berbisnis/mencari keuntungan dengan memanfaatkan selisih harga saja, dengan berbagai macam prediksi baik analisa maupun fudamental.
    menurut saya bisnis disini gak haram/riba karena di sini kita juga memakai pikiran kita untuk melakukan transaksi.
    disini juga gak ada unsur paksaan/apapun saat kita masuk/keluar dari pasar bursa.
    disini juga sudah ad pembeli dan penjual yang siap melakukan perjanjian jual beli kapanpun dia mau dan menurut islam itu syah, tiap kita masuk bursa kita mendapatkan tanda bukti/surat bahwa kita sudah menjual/membeli saham kita(ada ijab), apa itu haram??
    aku juga pernah tawarkan bisnis ini kepada HABIB/Kiai dan mereka juga gak pernah mengharamkan bisnis ini.(gak ad yang pernah bilang kalau bisnis ini haram).
    satu lagi yang paling aku bikin yakin kalau bisnis ini gak haram/riba, kalau memang bisnis ini haram/riba, kenapa gak di bubarkan saja?(ormas-ormas islam juga gak ada yang membubarkan?) negara kita kan komunitasnya ISLAM?
    kenapa pemerintah malah memberi ijin dan mendukung untuk mendirikan bisnis ini?karena ini adalah perdagangan masa depan.
    kalau memang ada yang harus diharamkan mestinya semua BANK itu haram/riba,karena disana kita hanya tinggal taruk uang dan menikmati bunganya tiap bulannya.(investasi/menabung sama saja)
    disana kan ada bunga yang disapat tanpa kerja keras.
    sementara di dunia FALAS/SAHAM kita memeras pikiran dan otak untuk dapatkan keuntungan.jika salah juga ada rugi.
    ini baru namanya perdagangan (ada untung/rugi/impas)bukan bunga pasti.

    itu yang ada dalam pikiranku.
    dan sampai saat ini aku masih yakin kalau bisnis ini gak haram/riba.

    sekarang tergantung persepsi kita. BETUL?

    sekarang mana yang haram?

  16. Assalamualaikum,

    Ya Farid , kita yang trading di bursa saham karena nawaitu yang baik untuk investasi bukan buat gambling bantu perusahaan yang butuh modal toh produk yang dihasilkan juga bermanfaat untuk kita, please di kaji lebih dalam lagi karena kita invest tergantung niat bukan semata mata karena ingin memperoleh coupon, beda kita kalo kita nabung di bank atau dideposito, berpikir yang maju sudah cukup kita memderita oleh karena pemikiran yang kolot dan bikin bangsa ini jadi bingung dan bodoh.

  17. karso said

    Saya kira artikel diatas sangat baik dan jelas, jadi saya setuju sekali pernyatan-pernyataannya. Jadi menurut saya apa yang bisa kita lakukan sekecil apapun dan tidak melanggar norma-norma agama itulah sebaik-baiknya yang bisa dilakukan.

    Terima kasih,

  18. Jun said

    Mengambil untung dari kerugian orang lain dalam spekulasi nilai saham sama dengan judi…

    Di bursa, kalau ada yang untung, pasti ada yang rugi. Itu sudah rumus.

    Kalau jual kambing, anda untung karena harga kambing naik, jelas tidak merugikan siapa pun..

    Salam,
    Jun – Christian

  19. Assalamualikum wr, wb

    Sama dengan beberapa komentar sebelumnya saya juga sepakat, kalau terlau dini anda dalam memutuskan sebuah hukum. Apakah anda seorang Ahli sariah yang bergerak dalam bidang Financial Investment…??. atau setidaknya orang yang anda jadikan rujukan. Ulama besar Syeh Muhammad Rasid Ridho saja berpendapat bahwa perdagangan mata uang adalah sebuah komoditi.

    Dalam sebuah perniagaan yang di kedepankan adalah kemaslahatan ummat. Hal yang teramat jauh dari riba atau tengkulak adalah bagaimana perannya dalam menghancurkan perekonomian sebuah kaum. Seoang rentenir jelas akan meminjamkan kepada orang-orang yang sulist ekonominya, dengan harapan yang dipinjamkan tidak akan sanggup membayar dengan lancar, maka ada bnga dari bunga pinjaman. Bahkan orientasi seoarang tengkulak adalah bagaimana dia bisa mengambil alih usaha orang yang dipinjamkannya, sehingga dia bisa menguasia seluruh harta orang itu.

    Kita tida perlu terburu-buru ke forex dan saham, kita bahas dululu bank konvensional. Biasanya bank tidak akan meberikan pinjaman kepada orang yang kepepet atau orang yang tidak punya agunan yang memadai. Coba saja kalau anda kepepet dan butuh dan tergesa-gesa pasti anda tidak akan di pinjaman oleh bank. Dalam memberi pinjaman pun bank pati melakukan survey, study kelayakan dan kepatuta serta pertimabangan besaran dana yang bisa dipinjamkan. darisini dapat kita lihat kalau orientasinya adalah kemaslahatan, lepas dari bunga tabungan atau bunga pinjaman yang ada pada bank.

    Forex,saham, index dan sebagainya tidak juga bisa dipandang secara umum, kita harus lihat satu persatu sebagaimana yang ada dalam fatwa DSN MUI berikut ini

    Menimbang :
    Mengingat :
    Memperhatikan :
    MEMUTUSKAN :
    Menetapkan : FATWA TENTANG JUAL BELI MATA UANG (AL-SHARF)

    Pertama : Ketentuan Umum:
    Transaksi jual beli mata uang pada prinsipnya boleh dengan ketentuan sebagai berikut:

    1. Tidak untuk spekulasi (untung-untungan)
    2. Ada kebutuhan transaksi atau untuk berjaga-jaga (simpanan)
    3. Apabila transaksi dilakukan terhadap mata uang sejenis maka nilainya harus sama dan secara tunai (at-taqabudh).
    4. Apabila berlainan jenis maka harus dilakukan dengan nilai tukar (kurs) yang berlaku pada saat transaksi dilakukan dan secara tunai.

    Kedua : Jenis-jenis Transaksi Valuta Asing

    1. Transaksi Spot, yaitu transaksi pembelian dan penjualan valuta asing (valas) untuk penyerahan pada saat itu (over the counter) atau penyelesaiannya paling lambat dalam jangka waktu dua hari. Hukumnya adalah boleh, karena dianggap tunai, sedangkan waktu dua hari dianggap sebagai proses penyelesaian yang tidak bisa dihindari (ِمَّما لاَ ُبَّد مِنْهُ) dan merupakan transaksi internasional.
    2. Transaksi Forward, yaitu transaksi pembelian dan penjualan valas yang nilainya ditetapkan pada saat sekarang dan diberlakukan untuk waktu yang akan datang, antara 2 x 24 jam sampai dengan satu tahun. Hukumnya adalah haram, karena harga yang digunakan adalah harga yang diperjanjikan (muwa’adah) dan penyerahannya dilakukan di kemudian hari, padahal harga pada waktu penyerahan tersebut belum tentu sama dengan nilai yang disepakati, kecuali dilakukan dalam bentuk forward agreement untuk kebutuhan yang tidak dapat dihindari (lil hajah).
    3. Transaksi Swap, yaitu suatu kontrak pembelian atau penjualan valas dengan harga spot yang dikombinasikan dengan pembelian antara penjualan valas yang sama dengan harga forward. Hukumnya haram, karena mengandung unsur maisir (spekulasi).
    4. Transaksi Option, yaitu kontrak untuk memperoleh hak dalam rangka membeli atau hak untuk menjual yang tidak harus dilakukan atas sejumlah unit valuta asing pada harga dan jangka waktu atau tanggal akhir tertentu. Hukumnya haram, karena mengandung unsur maisir (spekulasi).

    Ketiga :
    Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan, akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya.

    Ditetapkan di : Jakarta
    Tanggal : 14 Muharram 1423 H / 28 Maret 2002 M

    Ada yang diharamkan ada yang dihalkan, jadi sekarang tergantung pada masing-masing individu mau bermain dimana.

    Jika perdagangan mata uang diharamkan, maka tidak ada perdagangan antar negara, dan ekonomi tidak akan pernah maju, dan bersiaplah menuju ke melaratan…

  20. dwi said

    Menarik sekali pembahasannya.
    yang ingin saya tahu bagaimana dengan status investor dalam forex ? seringkali pemain mencari investor dengan memberikan keuntungan flat 8-10% perbulan (dengan menggunakan surat perjanjian). apakah ini kategori halal ? karena sama seperti kita membuka usaha dan mrk yg menjalankan. dengan pembagian yg tertentu.

    Mohon penjelasannya.

    wass

  21. 9-10% per bulan dari apa? jika persentase dari modal maka haram.

  22. zaq said

    mohon jangan asal ngomong dan marasa paling benar sendiri,apalagi kalo tidak menguasai permasalahannya.
    saya mau mengutip Fatwa Dewan Syariah Nasional MUI , untuk lebih lengkapnya bisa dilihat di :

    http://www.halalguide.info/content/view/172/54/

    Pendapat Ulama, antara lain:

    a. Pendapat Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni juz 5/173 [Beirut:Dar al Fikr, tanpa tahun]: Jika salah seorang dari dua orang berserikat membeli porsi mitra serikatnya, hukumnya boleh karena ia membeli milik pihak lain.

    b. Pendapat Dr. Wahbah al-Zuhaili dalam Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu juz 3/1841: Bermuamalah dengan (melakukan kegiatan transaksi atas) saham hukumnya boleh, karena pemilik saham adalah mitra dalam perseroan sesuai dengan saham yang dimilikinya.

    c. Pendapat para ulama yang menyatakan kbolehan jual beli saham pada perusahaan-perusahaan yang memiliki bisnis yang mubah, antara lain dikemukakan oleh Dr. Muhammad ‘Abdul Ghaffar al-Syarif (al-Syarif, Buhuts Fiqhiyyah Mu’ashirah, [Beirut: Dar Ibn Hazm, 1999], h.78-79); Dr. Muhammad Yusuf Musa (Musa, al-Islam wa Muskilatuna al-Hadhirah, [t.t : Silsilah al-Tsaqafah al-Islamiyah, 1958], h.58). Dr. Muhammad Rawas Qal’ahji, (Qal’ahji, al-Mu’amalat al-Maliyah al-Mu’ashirah fi Dhaw’i al-Fiqh wa al-Syari’ah, [Beirut: Dar al-Nafa’is, 1999]). Syaikh Dr. ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz al-Matrak (Al-Matrak, al-Riba wa al-Mu’amalat al-Mashrafiyyah, [Riyadh: Dar al-‘Ashimah, 1417 H], h. 369-375) menyatakan: (Jenis kedua) adalah saham-saham yang terdapat dalam perseroan yang dibolehkan, seperti perusahaan dagang atau perusahaan manufaktur yang dibolehkan. Bermusahamah (saling bersaham) dan bersyarikah (kongsi) dalam perusahaan tersebut serta menjualbelikan sahamnya, jika perusahaan itu dikenal serta tidak mengandung ketidakpastian dan ketidakjelasan yang signifikan, hukumnya boleh. Hal itu disebabkan karena saham adalah bagian dari modal yang dapat memberikan keuntungan kepada pemiliknya sebagai hasil dari usaha perniagaan dan manufaktur. Hal itu hukumnya halal, tanpa diragukan.

    d. Pendapat para ulama yang membolehkan pengalihan kepemilikan porsi suatu surat berharga selama disepakati dan diizinkan oleh pemilik porsi lain dari suatu surat berharga (bi-idzni syarikihi). Lihat: Al-Majmu’ Syarh al-Muhazdzab IX/265 dan Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu IV/881.

  23. zaq said

    . Keputusan Muktamar ke-7 Majma’ Fiqh Islami tahun 1992 di Jeddah: Boleh menjual atau menjaminkan saham dengan tetap memperhatikan peraturan yang berlaku pada perseroan

  24. kyo said

    jadi intinya boleh yaa . .
    wkwkwk . .

    Jawaban : Waduh. Dibaca lagi Mas. Kesimpulan anda salah besar.

  25. Rizal said

    Assalamu’alaikum
    Ada yg mo di tanya-in nih.. nah blakangan ini kan lg marak investasi d Dinar Iraq..
    nah itu gimana.. apa itu masih termasuk menggunakan sisten jual beli valas yg d boleh kan islam atau itu termasuk yg tidak dibenarkan dlm pandangan islam..
    Mohon ada yg beri pencerahan..

    sebagai penjelasan, saat pembelian awal sih niatnya buat di simpan sbg investasi nunggu harga Dinar iraq sama dgn nilai USD.. klo mnurut saya itu d bolehkan krn buat investasi..
    nah trus klo dinar itu saya jual lg, otomatis hargany lebih tinggi dr harga saya beli (melihat dr resiko yg saya tanggung dr pmbelian awal, krn langsung beli dr iraq yg mmbawanya ke indonesia itu nggak gampang), apa itu di bolehkan saya mnjual dengan harga yg lebih tinggi..

  26. fatwa mui tentang reksadana yang sesui dengan prinsip prinsip syariah telah dikeluarkan, lho kita kan tinggal pelajari dan ikuti to? kok ribut kakehan mikir, serahjkan dengan ahlinya kan beres, baca dong.

  27. tarno said

    di jak nang syurga kok cik angele…..sekali haram tetep haram .

  28. can said

    blh ga ya? ksh tahu dunK

  29. Messenger said

    Assalamu’alaikum

    Dari awal saya sudah menebak bahwa jawaban penulis pasti akan mengarah kepada ketidaksetujuan perdagangan di Bursa saham. Dan setelah membacanya dengan seksama, dugaan saya itu pun terbukti.

    Saya tidak sedang mendebatkan pendapat ini. Sah-sah saja. Namun dari beberapa pendapat saya rasakan ada pemikiran yang belum bisa dijadikan “tolok ukur”.

    “Dengan batilnya PT sebagai suatu perseroan, maka saham yang dikeluarkannya untuk menambah modal perusahaan juga batil untuk ditransaksikan.”

    >Ini benar. Karenanya ada laporan keuangan yang menjelaskan tentang ini semua. Butuh kejelian seorang investor dalam menganalisanya. Kenapa harus berlelah2 dalam kebatilan? Seyogyanya dihindarkan. Tapi tidak akan bisa jika tidak punya kemampuan untuk menganalisa laporan keuangan. Dan hal ini sudah ditekankan berkali2. Jika sistem sudah benar, maka apabila terjadi kesalahan, itu pastilah karena human error. Apakah lantas sistem disalahkan begitu saja? Perbaiki dahulu human errornya dan perhatikan.

    “Di sisi lain harga saham yang terus naik, sebenarnya tidak mencerminkan kondisi riil perusahaan-perusahaan yang menerbitkan saham tersebut.”

    “Kondisi riil perusahaan penerbit saham dicerminkan dari keadaan balon yang belum ditiup.”

    >Dua statement di atas menggambarkan ambigu penulis tentang apa yang dimaksud sebagai Kondisi Riil. Kondisi rill itu adalah kondisi saham yang sebenarnya dan ini semua dapat dianalisa dari laporan keuangan. Jadi tidak benar bahwa kondisi rill itu dicerminkan dari keadaan balon yang belum ditiup. Jika benar balon belum ditiup, maka kondisi riil itu tidak akan ada. Sekali lagi, fundamental menjadi tolok ukur yang paling utama.

    “Sesungguhnya para pemain mengambil keuntungan perdagangan saham dengan mengurangi uang pemain lainnya dan begitu pula sebaliknya.”

    >Terkesan seperti perang ya? Itulah kalau penulis mengambil tolok ukur keserakahan manusia. Pasar modal sebenarnya bukanlah Zero Sum game. Dan sejujurnya pun “Pasar modal is not a game!” Analognya. Saya membeli seekor kambing seharga Rp600 rb. Apakah artinya saya mengambil keuntungan dari orang lain? Saya tidak mengambil keuntungan dari orang lain, karena saya BELUM beruntung! Lalu, seandainya harganya merosot menjadi Rp500 rb dan saya ‘terpaksa’ menjualnya, apakah itu artinya orang lain telah mengambil uang saya dan orang lain beruntung karena saya rugi? Sekali lagi, saya merugi bukan karena orang lain beruntung karena orang lain itu pun BELUM beruntung, dan saya beruntung bukan karena orang lain merugi karena orang lain itu BELUM merugi. Lalu, ternyata ada pembeli yang membeli kambing tersebut seharga Rp 1 juta, lalu memeliharanya sampai 10 tahun, apakah dia rugi? Pikirkanlah lagi.

    “Perekonomian yang mengandalkan pada pasar modal merupakan perekonomian yang berbasiskan pada perjudian.”

    >Faktanya : Spekulasi bukanlah basis dari perjudian. Yang menjadi ciri perjudian adalah (sekecil apa pun pasti kelihatan nyata):
    1. Zero sum game. Setiap permainan berbasis nol merupakan judi. Artinya setiap seseorang mengantongi keuntungan Rp1 juta, maka sudah dapat dipastikan ada 1 orang lain yang rugi Rp1 juta, atau 5 orang lain yang rugi rata-rata Rp200 ribu. Contoh : SMS berhadiah. Jika Anda terpilih dan mendapatkan hadiah Rp10 juta, maka sudah dapat dipastikan itu adalah uang dari biaya SMS-SMS orang lain yang tidak mendapatkan hadiah.

    Jelas berdagang saham tidak bertolok ukur padanya.

    2. Bisa muncul pada berbagai event dan produk. Misalnya pacuan kuda, main kartu, sabung ayam, togel, main game PS2, dan sebagainya. Artinya, jika menang, maka…selanjutnya dan selanjutnya.

    Jelas, berdagang saham bukan event yang bisa dijadikan ajang taruhan, tapi ajang perdagangan.

    3. Hadiah tidak mesti uang, namun bisa berupa barang pengganti uang, misalnya perhiasan, mobil, rumah, dan sebagainya, dan tidak tertutup bahwa hadiahnya adalah wanita. Mohon bedakan dengan undian berhadiah. Togel juga merupakan permainan nomor undian tapi ini jelas judi karena memang sengaja membeli nomor undian dan memasangnya sekehendak hati. Berbeda jika Anda selesai berbelanja di swalayan dan berhak mengantongi beberapa nomor undian, maka ini tidak bisa dikategorikan judi, karena kewajiban berbelanja sudah dilakukan dan barulah Anda berhak untuk mendapatkan nomor undian. Apakah Anda mendapatkan hadiah atau tidak, itu tidak menjadi soal lagi.

    Jelas, berdagang saham tidak membutuhkan nomor undian.

    4. Usaha untuk mendapatkan hadiah biasanya menggunakan uang ataupun barang yang senilai dengan itu. Untuk membeli kupon taruhan pacuan kuda, Anda harus mengeluarkan sejumlah uang. Pada permainan judi poker, uang ditukarkan pada sejumlah koin-koin. Hal ini berbeda jika Anda bertaruh dengan usaha yang bukan uang. Misalnya Anda bertaruh jika lulus dengan nilai tertinggi, maka Anda akan membelikan orang tua Anda mobil, hal ini tidak tergolong judi.

    Jelas, saham memang dibeli dengan uang namun saham bukanlah barang yang bisa dipertaruhkan.

    Sekian saja. Semoga bermanfaat bagi kita semua.

    Wassalam

  30. Messenger said

    Mengomentari Jun – Christian

    “Mengambil untung dari kerugian orang lain dalam spekulasi nilai saham sama dengan judi…

    Di bursa, kalau ada yang untung, pasti ada yang rugi. Itu sudah rumus.

    Kalau jual kambing, anda untung karena harga kambing naik, jelas tidak merugikan siapa pun..

    Salam,
    Jun – Christian”

    >Yang menyuruh membeli/menjual itu siapa? Apakah ada pemaksaan harus beli / harus jual gitu ya? Kalo Anda tidak tau analog kambing dan saham, mohon tidak usah repot berkomentar. Satu2nya yang berbeda hanyalah kambing bisa dimakan, sedangkan saham tidak. Jika tidak paham analog kambing dan saham, sebaiknya gunakan analog Emas dan Saham.

    “Kalau ada yang untung, PASTI ada yang rugi”. Oh, itu kalo Anda sedang bermain judi di Kasion, SMS berhadiah, dan undian Togel. Di pasar modal tidak ada yang pasti! Bagaimana mungkin Anda bisa memastikan orang lain rugi atau untung? Jangan tampakkan kebodohan Anda.

    Wassalam

  31. yoni1989 said

    data persentasenya mana?

  32. dewa said

    bagaimana jika tujuan kita membeli saham murni untuk investasi jangka panjang. daripada uang kita menguap untuk hal2 yang ga penting)
    kita melihat performa perusahaan, jika baik kita beli saham tersebut.

    mohon pencerahan..

    • Al said

      Maaf, tapi saya setuju dengan pendapat beberapa orang disini… investasi pada saham dan obligasi tidak semata-mata hanya membeli dan menjual saja…. tetapi juga menggunakan analisa seperti analisa tekhnikal dan fundamental. Kedua analisa ini bisa dipelajari oleh siapa saja.

      Namun, dalam kenyataan-nya, investor sangat jarang sekali menggunakan kedua analisa ini(saat inilah perbuatan mereka agak’ mirip dengan judi).

      Namun hal ini bukan dianggap judi, karena bila hal ini di anggap judi-pun maka semua transaksi perdagangan, akan seperti judi. seperti yang dikatakan oleh messenger pada poin ke 2.

      Saya yakin bahwa yang penulis maksud disini adalah saham preferen, dimana pemilik saham akan tetap dapat mendapat keuntungan atas laba dari perusahaan. Kesimpulan ini saya ambil setelah membaca tulisan anda.

      Dan Saya ternyata benar, bahwa tulisan anda mengkait-kan hal yang dilarang dalam pasar modal syariah, dengan pasar modal konvensional.

      Dalam Pasar Modal berbasis syariah, Saham yg diperdangangkan di pasar modal merupakan saham yg telah lulus uji seleksi dari DSN, sehingga ini aman. dalam hal ini saham yg anda maksud (saham preferen) dilarang diperdangangkan. sedangkan saham biasa, halal untuk diperdangangkan, karena nilai tersebut lepas dari saham preferen.

      Selain itu pada tulisan anda, anda juga mengkait-kan margin trading(membeli saham dengan berhutang) dan short selling(membeli saham dan menjual-nya kembali padahal belum memiliki saham tersebut).. dimana hal ini-pun juga dilarang untuk diperdagangkan.

      Selain daripada ketiga hal diatas, Obligasi yang anda sebutkan merupakan obligasi konvensional dengan basis (bunga)riba, sedangkan obligasi syariah itu sendiri mempunyai basis (bagi hasil) mudharabah, sehingga hal ini halal adanya.

      Saya cuma memberi saran kepada anda, jangan-lah anda langsung memberikan pendapat halal atau haram jika anda memang belum mengerti. karena hal ini sama saja dengan memberikan ajaran yang salah kepada masyarakat.

      mengomentari pendapat

      Kegiatan pasar modal dapat kita lihat atau terka naik-turun-nya dengan analisa fundamental…. hal ini pernah saya lakukan, dan sering dilakukan oleh dosen saya yg berinvestasi juga, dan ini merupakan cara terbaik untuk menghindari kerugian yang sangat besar.

      mengomentari Rizal

      setahu saya, investasi dinar dilakukan untuk menyimpan nilai dari uang tersebut agar nilai-nya tidak berubah sampai kapan-pun (tidak terkena dampak inflasi). saya belum pernah mendengar apabila anda bisa(dengan halal) menjual dengan harga yg lebih tinggi.

      Untuk semua-nya, saya meminta izin untuk meng-kutip pernyataan anda pada blog saya…. (^^)

  33. supian said

    oh gitu baik saya sudah paham intinya haram ! kan heeeeeee

  34. bagus kali penjelasannya tentang hukum cari rizki di bursa efek. tapi saya masih bingung nih pak ust kalau yang jual sahamnya memakai system jual beli apa boleh kita beli sahamnya.

  35. AWAN said

    Bagus sekali tulisannya, mungkin banyak dari kita yang selama in hanya konsentrasi dengan producknya aja. Dengan dibahas mengenai pernak-pernik pembentukan PT, maka semakin jelaslah permasalahan haram dan tidaknya.

    Memang banyak diantara kita yang sudah terbiasa mencari uang dengan tidak melihat apakah itu haram atau tidak. Kita lihat saja berapa banyak muslim yand bekerja di Bank yang tidak menerapkan aturan shariah. Jelas-jelas dia memberikan nafkah yang haram kepada keluarganya. Disebutkan,bahwa memberi makan dan memakan riba adalah dilarang (haram). Tapi begitulah, kita semua tidak takut panasnya Api Neraka. Naudzuibllahiminzalik. Ampuni Aku Yaa Allah, karena aku juga masih bersentuhan dengan sistem riba ini.

    Coba dech dipikir, perbedaan daging Babi dan Riba (bunga bank), sama-sama haram. Tapi banyak sekali umat muslim di Indonesia kita ini yang makan Bunga Bank.

    Mengenai komentar bahwa setiap usaha adalah judi, karena tidak pasti untung ruginya. Mungkin perlu diketahui, bahwa Judi adalah suatu game atau cara mencari keuntungan/uang dimana salah satu pihak akan menderita kerugian. Hal ini dilarang karena menzalimi pihak yang kalah. Contohnya, permainan kartu/lotere dimana para pemainnya bertaruh dengan uang. Yang menang akan mendapatkan uangnnya dan yang kalah akan kehilangan uang sama sekali. Sifat yang menzalimi ini yang dilarang.

    Dalam Islam tidak dilarang untuk berusaha dengan ada unsur ketidakpastian dan resiko. Namun, akan dilarang seandainya ketidakpastian ini dibuat-buat atau direkayasa. Contohnya, membeli barang namun penjual tidak mau memperlihatkan barang yang akan dijual. Maka hal ini dilarang, karena adanya unsur ketidakpastian yang akan merugikan satu pihak. Ijab Kabulnya harus jelas, ada barangnnya dan ada penukarnya (uang dari pembeli).

    Wallahualam. Saya sedang mencoba mengerti mengenai masalah-masalah yang berkaitan dengan syariah.
    Salah satu yang saya sadari, kita sudah terbiasa dengan kondisi yand ada saat ini. Sehingga sangat sulit untuk menerima tuntunan-tuntunan dari orang-orang yang terus mengingatkan kita agar tidak terus-terusan terjerumus. Saat ini mungkin hanya satu kaki yang terbakar, saat lain mungkin dua kaki dan seluruh badan kita. Berhati-hatilah saudaraku.

    Mohon maaf seandainya banyak kesalahan karena kedangkalan pengetahuan umum dan agama saya.

    Salam hangat.

  36. Bening said

    kalo saya cari orang yang punya modal besar, untuk bisa di pinjam sebagai penambah modal saya buka usaha, ada gak yang bisa bantu ya ?????

  37. Bobi said

    Bobi Jakarta

    Tolong Info Bursa saham

  38. Sigit said

    Terima kasih atas pencerahannya yang gamblang

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 973 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: