Konsultasi Islam

Mengatasi Masalah dengan Syariah

BAGI HASIL USAHA KOPERASI RIBA

Posted by Farid Ma'ruf pada 14 Mei 2007

Pertanyaan :

Ass.. Wr. Wb.
Ust, di kantor tempat kerja saya ada koperasi, dimana semua pegawai adalah anggotanya (sudah otomatis). yang ingin saya tanyakan, apa hukumnya gabung dengan koperasi, karena setau saya salah satu usahanya itu adalah pinjaman dengan sistem bunga? apa yang harus saya lakukan? mengingat saya (sebagai anggota) pasti mendapatkan bagi hasil rutin seperti SHU dll.
syukron atas jawabannya…
Sai, Jakarta Utara. Apr 8, 6:26 PM. xxxxxxx@gmail.com.  | IP: 202.162.220.149

 

Jawaban :

Haram hukumnya menerima bagi hasil dari usaha bisnis yang berbasis riba. Silakan baca hukum tentang riba di sini. Haram pula menerima bagi hasil usaha koperasi karena koperasi adalah suatu perseroan yang batil, bertentangan dengan hukum-hukum Islam.

Koperasi termasuk salah satu jenis perseroan dalam sistem kapitalis.  Koperasi adalah bentuk penanaman saham antara sekelompok orang yang melakukan kesepakatan antarsesama mereka, untuk mengadakan kerjasama (perseroan) sesuai dengan kondisi tertentu mereka.

Koperasi merupakan organisasi yang batil dan bertentangan dengan hukum-hukum Islam. Ada beberapa sebabnya, yaitu :

  1. Koperasi hanyalah kumpulan modal saja. Tidak ada orang/badan yang bertindak sebagai pengelola. Yang ada hanyalah kesepakatan untuk menyerahkan modal sejumlah nilai tertentu saja. Biasanya ada yang namanya simpanan pokok, simpanan wajib, simpanan sukarela. Setelah mereka menyerahkan simpanan tersebut, maka mereka bisa bergabung menjadi anggota. Kemudian mereka membentuk kepengurusan yang bertugas mengelola koperasi tersebut. Pengurus tidak selalu yang menjalankan kegiatan koperasi sehari-hari. Pengurus bisa menggaji beberapa pegawai untuk menjalankan koperasi. Gaji pegawai ini menjadi salah satu unsur biaya di dalam koperasi.

Berdasarkan keterangan di atas, jelaslah bahwa koperasi tidak bisa mewujudkan perseroan yang sah menurut syara’.

  1. Pembagian laba koperasi berdasarkan hasil pembelian atau produksi. Padahal dalam sistem Islam, pembagian laba berdasarkan modal atau kerja (mohon baca keterangan tentang bagi hasil bisnis Islami di sini).

 

Demikian penjelasan singkat dari kami. Semoga bisa dipahami. Keterangan lebih lanjut tentang sistem ekonomi Islam silakan dibaca di buku Nizhamul I’tishodi fil Islam karya Syaikh Taqiyuddin an Nabhani. (Farid Ma’ruf; www.syariahpublications.com)

 

Tim Konsultan Syariah Publication

About these ads

5 Tanggapan to “BAGI HASIL USAHA KOPERASI RIBA”

  1. Aan Adrian said

    Ass. wr. wb
    Yth. Tim Konsultan Syariah
    Ust, saya ada keinginan mendirikan koperasi yang syariah, tapi bisakah koperasi itu syariah? Yang rencananya memiliki program-program sebagai berikut :
    1. Simpan pinjam dan Menabung dengan sistem bagi hasil 10 bagian dari keuntungan bersih, baik dari pinjaman anggota maupun 10 bagian dari keuntungan koperasi kepada Anggota.
    2. Perdagangan dan permodalan dengan bagi hasil, membantu masyarakat yang berpotensi guna membuat usaha kecil atau mengembangkan usahanya.
    3. Mengadakan jasa acara yang bernuansa islami melalui para donatur.
    4. Dari sebagian keuntungan bersih koperasi disisihkan guna pendidikan, kesehatan, sosial kemasyarakatan dan santunan kepada Anak Yatim Piatu dan Orang Tua Jompo.
    5. Sebagian keuntungan juga diambil oleh pengurus untuk pengembangan usaha dan penambahan modal.
    Rencana tersebut diatas baru berupa wacana sebelum jauh melangkah mohon penjelasan ustadz tentang program dimaksud.
    Demikian atas perhatian dan jawabannya saya ucapkan terima kasih.
    Wass. wr. wb.

  2. Al Izzah said

    ada tanggapan nih, dan mungkin ada pertanyaan juga ^^
    masalahnya temanya menarik sih.
    1. koperasi = bathil >> kalo gak salah koperasi diambil dari kata “Co-operactive” terjemahan langsung dari “Co-operation” yang berasal dari perkataan latin “Co-operati”. Ia terdiri dari dua suku kata iaitu “Co” bermakan “bersama” dan “Operati” beerti “bekerja” (Work atau Operate).koperasi disimpulkan sebagai organisasi yang diwujudkan atas asas bekerjasama antara anggota-angotanya bagi mencapai tujuan tertentu. Kalo dilihat dari defininya kliatanya tidak ada yang bathil tuh. Lha wong Islam mendukung juga adanya “kerjasama/amal jamai” coz bagian dari ukhuwah. Kalo soal sistemnya yang batil tu memang debat-able. coz beberapa kasus memang ada yang batil. but tidak bisa de generalisasikan kalo semua koperasi batil. Analog lain misal jika oknum islam ada yang jadi teroris, maka ya tidak bisa digeneralisasikan kalo islam itu teroris. Jadi saran saya, lebih tepatnya menggunakan istilah “oknum koperasi” atau “koperasi sekuler” atau apalah. Oya kalo memang anda sepakat mungkin perlu di sampaikan ke MUI agar fatwa koperasi diharamkam.

    2. mengomentari sebab nomor 1. anda menulis “Tidak ada orang/badan yang bertindak sebagai pengelola”, padahal anda menulis sendiri pada baris selanjutnya “Kemudian mereka membentuk kepengurusan yang bertugas mengelola koperasi tersebut”. terus yang benar yang mana?…

    masih di sebab no 1. anda menulis “Pengurus tidak selalu yang menjalankan kegiatan koperasi sehari-hari. Pengurus bisa menggaji beberapa pegawai untuk menjalankan koperasi”. Indikator menjalankan tu apa sih? apa harus datang, brangkat jam 8 pulang jam 16? ane kira tidak harus seperti itu. Karena bisa jadi memang job des pengurus itu memang bisa dikerjakan dirumah. Nah menurut aku yang lebih penting ialah setiap orang yang terlibat dalam koperasi harus bertanggungjawab terhadap tugasnya masing2. Dan setiap pekerjaannya harus punya indikator yang jelas, sehingga ketika mendapat upah dan SHU sesuai dengan prestasinya. Kalo ada yang tidak bekerja, atau memakan gaji buta brati ya di eksekusi aja. Kan ada mekanisme RAT sebagai pemegang keputusan tertinggi. Beda dengan PT atau CV yang bisa seenaknya saja sesuai keinginan boznya. Oya koperasi itu juga ada aturan2 nya lho. Salah satunya dalam undang2 pasal 33 ayat 1. Kalo kita baca dengan seksama maka kita akan dapatkan kemaslahatan dari koperasi.

    3. Oya nanya, kalo BMT tu syar’i gak ya? ^^ nanya beneran nih. Soalnya badan hukumnya kan koperasi. Sedikit cerita, Kebetulan pas ane KKN dulu di Kebon Dalem, Madurejo, Prambanan pernah kenalan dengan bapak2 dari jamaah Hizbut Tahrir Indonesia (saya tahu dari cerita beliau sendiri dan stiker2 dirumahnya tapi maaf namanya lupa, mungkin lain sesi saya berikan) Beliau tu punya BMT di deket sana (Pasar gendeng, Prambanan – bisa dicek). Dan kata beliau syar’i2 saja tu. padahal ya mas, masyarakat situ yang nota bene mayoritas muhammadiyah mengklaim bahwa BMT tu haram (menurut versinya sendiri) dan nggak mau transaksi di sana. Katanya ada aturan di awal yang pilihannya mengharuskan membayar bagi hasil 2% minimal. menurutku iya juga sih, ada unsur paksaan, malah jadi riba. tapi ya tidak semua BMT.
    Wuih.., saat itu ane dan temen ane mencoba membela habis – habisan bapaknya. membantu mensosialisasikan dan menerangkan apa itu BMT. tapi ya ane ngalah masalahnya mereka debatnya gak ilmiah, debat kusir. ane daripada diusir dari pondok KKN ya mending ngalah aja.

    wah seru kalo diskusi masalah koperasi. sampe gak kerasa. Masalahnya aku tu praktisi bisnis sih. jadinya tertarik banget. Terima Kasih telah membaca curahan hatiku (cie…)
    Maaf kalo ada kata2 yang tidak berkenan. Dan tidak bermaksud menyinggung siapapun. Terima Kasih. Syukron

  3. risti said

    assalamualikummm
    z maw nanya nihh. kan skarang z lagi bahas dasar-dasar koperasi n dalam materinya ada trdpat mazhab yg mmbahas koperasi. semisalnya mazhab kapitalisme , mazhab sosialisme..
    yang mau z txa, kalau mazhab islam bagaimana pandangannya mngenai koperasi???????. apakah asa koperasi dalam islam??????, atau koperasi yang islamii ???

  4. Duhari Daya said

    saya berani menyimpulkan kalau Koperasi itu tidak batil, dilihat dari niatnya saja sudah jelas untuk keuntungan bersama dengan modal yang sama, atau jangan-jangan yang menjawab belum memahami Koperasi,

    Tanggapan :
    Silakan baca kembali dg seksama

  5. Abu husna said

    Saya punya pertanyaan,seorang pedagang membiayai seluruh kagiatan produksi kepada beberapa orang petani sebagai utang dengan kesepakatan tidak tertulis bahwa semua hasil produksi harus dijual pada pedagang tsb.apakah masalah ini termasuk riba?

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 985 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: