Konsultasi Islam

Mengatasi Masalah dengan Syariah

Membunuh Nyamuk Dan Kecoa dalam Rangka Percobaan

Posted by Farid Ma'ruf pada 1 Juli 2007

SOAL :

Saya bekerja di bagian R & D (Research and Development) di sebuah perusahaan insektisida. Salah satu pekerjaan yang menjadi tanggung jawab saya ialah memelihara nyamuk dan kecoa dan test efikasi. Perusahaan membeli nyamuk dan kecoa dari IPB terus saya kembang biakkan di kandang milik perusahaan. Tujuan pemeliharaan itu ialah untuk test Efikasi. Tujuan utama test tersebut ialah melakukan uji keampuhan terhadap produk insektisida yang dibuat oleh perusahaan, juga untuk membandingkan dengan produk perusahaan lain. Hasil dari test ini adalah nilai KT50 (knock down time 50% = waktu dimana nyamuk sebanyak 50% itu mati/knock down).

Metode yang dilakukan untuk test ini ialah:
1. Dalam ruangan, kurang lebih berukuran 3X3x3 m, dimasukkan obat nyamuk bakar/elektrik yang telah dibakar atau dinyalakan. Setelah 1 sampai 2 jam lalu dimasukkan dalam jumlah tertentu nyamuk (antara 40-100 ekor nyamuk). Nah mulai waktu ini test dimulai. Pengamat mengamati berapa nyamuk yang mati dan kolaps.

2. Untuk obat aerosol (semprot), metode yang digunakan ialah dengan menyemprot langsung kecoa, yang terlebih dahulu diletakkan dalam sebuah baskom. Dari jarak kurang lebih 1 meter, kecoa tersebut disemprot. Pengamat mengamati banyaknya kecoa yang mati dan sebagian yang sekarat dalam waktu tertentu, lalu dicatat.
Itu mungkin metode yang digunakan ustadz. Saya agak bimbang bagaimana tinjauan syara’ tentang hal ini. Boleh tidak? (umarhadi@eramuslim.com, Tangerang) 

 

JAWAB : 
Setelah kami melakukan pengkajian terhadap fakta percobaan di atas beserta dalil-dalil syar’iy yang terkait dengan masalah ini, kami berpendapat, percobaan itu mubah menurut syara’. Wallahu a’lam.

Adapun dalil kemubahannya adalah sebuah hadits yang membolehkan membunuh binatang untuk suatu kemanfaatan, termasuk manfaat yang ingin diperoleh dalam suatu percobaan. Rasulullah SAW bersabda :

“Man qatala ‘ushfuuran ‘abatsan ‘ajja ilallaahi yaumal qiyaamati yaquulu yaa rabbi inna fulaanan qatalaniy ‘abatsan wa lam yaqtulniy manfa’atan.” (HR. An-Nasa`i, Ibnu Hibban, dan Ahmad)

(Artinya : “Barangsiapa membunuh seekor burung dengan sia-sia (tak ada gunanya), maka pada Hari Kiamat burung itu akan berteriak kepada Allah seraya berkata,’Ya Allah, sesungguhnya si Fulan telah membunuhku dengan sia-sia dan tidak membunuhku untuk suatu kemanfaatan.”) (HR. An-Nasa`i, Ibnu Hibban, dan Ahmad, hadits sahih) (Lihat Yusuf Al-Qaradhawi, Norma dan Etika Ekonomi Islam (terj.), hal. 120).
Hadits di atas secara umum mengharamkan membunuh binatang secara sia-sia (‘abatsan), yaitu yang tidak ada gunanya, misalnya membunuh sekedar untuk main-main atau iseng belaka. Pada saat yang sama hadits di atas membolehkan membunuh binatang untuk suatu manfaat yang ingin diperoleh manusia, misalnya untuk dimakan dan sebagainya. Namun dengan syarat, cara membunuhnya tidak boleh menggunakan api atau yang sejenisnya (seperti listrik) sebab ada hadits Nabi SAW yang melarang hal itu.

Atas dasar itu, mubah hukumnya melakukan percobaan seperti yang diterangkan penanya di atas. Baik percobaan membunuh nyamuk maupun kecoa. Hal itu dibolehkan secara syar’iy karena merupakan pembunuhan yang dilakukan demi suatu kemanfaatan, bukan untuk main-main yang tiada berguna.
Selain hadits di atas, terdapat dalil lain yang membolehkan percobaan tersebut. Dalil tersebut adalah Qiyas dari hadits yang membolehkan membunuh binatang-binatang tertentu karena adanya illat yang mempersamakan alasan hukumnya, yaitu suka mengganggu/merugikan manusia. Nabi SAW bersabda :

“Khamsun minad dawaabi kulluhunna fawaasiq yuqtalna fil hilli wal harami : al-ghuraab, wal-hida`tu, wal-‘aqrab, wal-fa`rah, wal-kalbul ‘aquur.” (Muttafaq ‘Alaihi)

(Artinya : “Ada lima macam binatang yang semuanya binatang jahat/pengganggu, boleh dibunuh baik dalam keadaan biasa maupun dalam keadaan ihram; gagak, elang, kalajengking, tikus, dan anjing gila.”) (Muttafaq ‘Alaihi) (Imam Ash-Shan’ani, Subulus Salam, II/194).

Binatang-binatang yang disebut di atas boleh dibunuh karena merupakan binatang pengganggu manusia (fawasiq), dan inilah illat (alasan penetapan hukum) yang menjadi landasan dibolehkannya membunuh binatang-binatang tersebut (Imam Ash-Shan’ani, Subulus Salam, II/195).

Maka dari itu, kebolehan membunuh binatang-binatang itu dapat diqiyaskan kepada binatang-binatang lain yang tidak disebut dalam nash hadits. Maka, kecoa dan nyamuk juga boleh dibunuh diqiyaskan dengan kelima binatang yang disebut dalam hadits, karena mempunyai illat yang sama, yaitu mereka merupakan binatang-binatang yang suka mengganggu atau merugikan manusia.

Atas dasar itu, boleh hukumnya melakukan percobaan membunuh nyamuk dan kecoa seperti diterangkan di atas, sebab pada dasarnya membunuh binatang pengganggu manusia adalah dibolehkan menurut syara’. Wallahu a’lam [ ] (www.konsultasi.wordpress.com)

 

Sumber : http://www.khilafah1924.org

About these ads

Satu Tanggapan to “Membunuh Nyamuk Dan Kecoa dalam Rangka Percobaan”

  1. azhar ahmad said

    assalamu’alaikum wr. wb

    saya mau tanya ustadz…
    di kamar mandi saya kan tiba2 banyak kecoa yang muncul
    dan saya sekeluarga sangat terganggu dengan adanya kecoa tadi
    apalagi saudara2 yang perempuan mereka sangat takut dan jijik dengan kecoa.
    Sebenarnya saya bingung apakah boleh membunuh kecoa-kecoa tadi….
    sebab mereka sangat mengganggu kami.
    Yang saya tanyakan apakah saya berdosa jika membunuh kecoa-kecoa tadi?

    syukron katsiran….
    mudah-mudahan Allah membalas kebaikan antum-antum sekalian amin…

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 973 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: