Konsultasi Islam

Mengatasi Masalah dengan Syariah

Hukum Doorprize

Posted by Farid Ma'ruf pada 10 Juli 2007

Pertanyaan :

Untuk menarik minat peserta, panitia suatu kegiatan sering memberikan doorprize. Berbagai kegiatan ada doorprizenya, misalnya training, bedah buku, ataupun seminar. Doorprize yang diberikan panitia hanyalah suatu barang yang tidak begitu mahal, misalnya kaos, buku, jam dinding, dan payung. Bagaimana hukum Islam terkait hal ini? Bolehkah kita mencantumkan fasilitas doorprize dalam iklan/publikasi suatu kegiatan?

 

Jawaban :

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, kita perlu memahami fakta doorprize seperti yang dimaksud penanya. Doorprize (karcis berhadiah) adalah hadiah yang diberikan panitia/penyelenggara kegiatan kepada peserta yang beruntung. Misalnya, panitia kegiatan sepeda gembira memberikan karcis bernomor pada setiap pendaftar. Pada akhir acara, MC mengumumkan peserta yang mendapatkan doorprize. Biasanya panitia mengundi karcis-karcis yang ada sehingga ditemukan satu atau beberapa peserta yang beruntung.

Ada beberapa masalah yang perlu kita perhatikan :

  1. Siapa saja yang mendapatkan doorprize? Semua peserta atau hanya sebagian peserta?

  2. Sumber doorprize dari uang peserta atau dari pihak lain, baik dari kas panitia ataupun sponsor/donatur?

Jika panitia memberikan doorprize untuk semua peserta dengan bentuk dan harga yang sama, maka hal itu bukanlah masalah. Tidak mempedulikan apakah doorprize tersebut diambil dari memotong sebagian uang peserta ataukah dari pihak lain. Misalnya, panitia suatu bedah buku memberikan fasilitas berupa buku yang dibedah tersebut kepada semua peserta. Berarti peserta membayar kepada panitia adalah untuk biaya penyelenggaraan bedah buku dan membeli buku tersebut. Di sini, panitia bertindak sebagai penyelenggara jasa bedah buku dan penjual buku. Jika diambil dari dana lain juga tidak masalah.

Jika panitia hanya memberikan doorprize kepada beberapa peserta saja, maka perlu diperhatikan sumber doorprize tersebut.

  1. Jika doorprize didapatkan tidak dari uang peserta tetapi dari sumber lain, maka hukumnya boleh. Misalnya, panitia bedah buku memberikan buku yang dibedah kepada dua orang peserta yang bertanya. Buku tersebut didapatkan panitia dari penerbit yang mensponsori kegiatan bedah buku. Hal seperti ini adalah boleh.

  2. Jika doorprize didapatkan dari memotong uang peserta, maka hukumnya adalah haram. Misalnya, panitia seminar memungut iuran per peserta Rp 50.000,00. Uang itu digunakan untuk biaya : sewa gedung Rp 10.000,00, foto copy makalah Rp 10.000,00, konsumsi Rp 20.000,00, honor pembicara Rp 8.000,00, dan doorprize Rp 2000,00. Seandainya peserta seminar ada 200 orang, maka dengan memotong Rp 2000,00 per peserta akan didapatkan uang sebesar Rp 400.000,00. Panitia memanfaatkan uang ini untuk membeli satu atau beberapa barang yang akan diberikan kepada beberapa peserta yang beruntung. Tindakan panitia ini adalah haram. Peserta yang mengetahui mekanisme seperti ini juga haram mengikuti seminar tersebut karena pada hakikatnya ia sedang mengikuti suatu perjudian. Hal ini tidak mempedulikan cara penentuan peserta yang beruntung, apakah diundi, diberikan kepada peserta yang bertanya, ataukah dengan cara-cara lain. Semuanya tetap haram. Tidak memperhatikan pula apakah doorprize tersebut nilainya kecil/murah ataukah mahal. Keduanya sama-sama haram.

 

Kegiatan-kegiatan seperti jalan sehat, sepeda gembira, menonton lomba balap sepeda motor, dan lain-lain yang selama ini marak diselenggarakan di tengah-tengah masyarakat seringkali terindikasi termasuk kategori yang haram (walaupun bukan berarti semua pasti haram). Indikasi keharaman terlihar dari tidak jelasnya sumber hadiah. Terlebih biaya pendaftaran dengan fasilitas yang diberikan sangat tidak sebanding (jauh lebih kecil) sehingga sangat mungkin hadiah diambil dari uang peserta. Motivasi peserta mengikuti kegiatan tersebut kemungkinan besar hanyalah untuk mencari hadiah berupa barang yang mahal. Hadiah mahal yang sering ditawarkan adalah : sepeda motor, kamera digital, televisi, mini compo, VCD player, bahkan ada juga yang memberikan hadiah binatang ternak seperti sapi, kerbau, dan kambing. Tidak mengherankan jika pada kegiatan jalan sehat atau sepeda gembira, banyak peserta hanya mendaftar dan hadir di garis start saja. Setelah itu peserta hanya duduk-duduk santai menunggu saat pengumuman pemenang di akhir acara. Tujuan jalan sehat yang digembar-gemborkan panitia adalah bohong karena pada hakikatnya kegiatan itu adalah judi terselubung berkedok jalan sehat.

 

Terkait publikasi/iklan kegiatan, panitia harus berhati-hati. Misal ada teks iklan sebagai berikut :

IKUTILAH !!!

Training “Membangun Kecerdasan Hati” bersama Ust. Hengky al-Bukhori.. Tiket : Rp 25.000,00.

Fasilitas : makalah, snack, makan siang, ruangan ber-AC, dan doorprize cantik.

Atau dengan kata-kata lain

…. doorprize bagi peserta yang beruntung.

Kata-kata terakhir sengaja kami beri garis bawah. Banyak orang tidak akan mempermasalahkan naskah iklan tersebut. Lebih-lebih jika penyelenggaranya adalah suatu organisasi Islam. Dari naskah tersebut, masyakarat yang membaca akan memahami bahwa :

Pada naskah petama dan kedua : Makalah, snack, makan siang, ruangan ber-AC adalah fasilitas yang bisa dinikmati semua peserta.

Bagaimana dengan doorprize? Apakah akan diberikan kepada semua peserta dengan bentuk dan harga yang sama? Doorprize diambil dari uang peserta atau dari pihak lain? Pada naskah pertama tidak jelas. Namun biasanya orang akan memahami bahwa doorprize hanya diberikan kepada beberapa peserta saja. Sementara pada naskah kedua jelas disebutkan (hanya) bagi peserta yang beruntung. Artinya, hanya diberikan kepada sebagian peserta saja. Oleh karena itu, naskah iklan tersebut mengandung masalah besar.

Saran kami, hilangkan kata-kata doorprize sehingga peserta benar-benar mengikuti kegiatan karena tertarik dengan kegiatan. Bukan karena mengharapkan doorprize. Walaupun doorprize tidak diambil dari uang peserta, bisa jadi motivasi peserta menjadi tidak murni. Misalnya, tiket masuk harganya Rp 20.000,00. Panitia menjanjikan doorprize beberapa buku senilai Rp 50.000,00 yang diambil dari dana sponsor. Calon peserta bisa berpikir, dengan hanya membeli tiket Rp 20.000,00 bisa mendapatkan buku senilai Rp 50.000,00. Seandainya tidak dapat doorprize, hanya “rugi” uang Rp 20.000,00.

Demikian jawaban kami. Semoga bermanfaat bagi panitia kegiatan yang akan memberikan doorprize kepada peserta sekaligus sebagai pemeblajaran bagi masyarakat yang tertarik mengikuti kegiatan-kegiatan berhadiah. (Farid Ma’ruf, www.syariahpublications.com)

 

Yogyakarta, 7 Juli 2007

 

Sumber jawaban :

Didapatkan dari pemahaman naskah soal-jawab di situs HTI pada soal ketiga.

 

Related article

  1. a

About these ads

Satu Tanggapan to “Hukum Doorprize”

  1. Agus said

    Terima kasih atas informasinya. Selanjutnya saya ingin tahu masalah suap-menyuap dalam partai untuk pencalonan caleg ke setiap DKM?

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 973 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: