Konsultasi Islam

Mengatasi Masalah dengan Syariah

Jual Beli Saham dalam Pandangan Islam

Posted by Farid Ma'ruf pada 14 September 2007

Pertanyaan : Apakah hukum perdagangan saham di pasar modal? Baik saham perusahaan yang memproduksi barang haram (misalnya  pabrik  miras) ataupun perusahaan yang memproduksi  barang halal. Bolehkah kita bekerja di sektor ini?

Jawaban :

Pengantar

Ketika kaum muslimin hidup dalam naungan sistem Khilafah, berbagai muamalah mereka selalu berada dalam timbangan syariah (halal-haram). Khalifah Umar bin Khaththab misalnya, tidak mengizinkan pedagang manapun masuk ke pasar kaum muslimin kecuali jika dia telah memahami hukum-hukum muamalah. Tujuannya tiada lain agar pedagang itu tidak terjerumus ke dalam dosa riba. (As-Salus, Mausu’ah Al-Qadhaya al-Fiqhiyah al-Mu’ashirah, h. 461).

Namun ketika Khilafah hancur tahun 1924, kondisi berubah total. Kaum muslimin makin terjerumus dalam sistem ekonomi yang dipaksakan penjajah kafir, yakni sistem kapitalisme yang memang tidak mengenal halal-haram. Ini karena akar sistem kapitalisme adalah paham sekularisme yang menyingkirkan agama sebagai pengatur kehidupan publik, termasuk kehidupan ekonomi. Walhasil, seperti kata As-Salus, kaum muslimin akhirnya hidup dalam sistem ekonomi yang jauh dari Islam (ba’idan ‘an al-Islam), seperti sistem perbankan dan pasar modal (burshah al-awraq al-maliyah) (ibid., h. 464). Tulisan ini bertujuan menjelaskan fakta dan hukum seputar saham dan pasar modal dalam tinjauan fikih Islam.

Fakta Saham

Saham bukan fakta yang berdiri sendiri, namun terkait pasar modal sebagai tempat perdagangannya dan juga terkait perusahaan publik (perseroan terbatas/PT) sebagai pihak yang menerbitkannya. Saham merupakan salah satu instrumen pasar modal (stock market).

Dalam pasar modal, instrumen yang diperdagangkan adalah surat-surat berharga (securities) seperti saham dan obligasi, serta berbagai instrumen turunannya (derivatif) yaitu opsi, right, waran, dan reksa dana. Surat-surat berharga yang dapat diperdagangkan inilah yang disebut “efek” (Hasan, 1996).

Saham adalah surat berharga yang merupakan tanda penyertaan modal pada perusahaan yang menerbitkan saham tersebut. Dalam Keppres RI No. 60 tahun 1988 tentang Pasar Modal, saham didefinisikan sebagai “surat berharga yang merupakan tanda penyertaan modal pada perseroan terbatas sebagaimana diatur dalam KUHD (Kitab Undang-Undang Hukum Dagang atau Staatbald No. 23 Tahun 1847).” (Junaedi, 1990). Sedangkan obligasi (bonds, as-sanadat) adalah bukti pengakuan utang dari perusahaan (emiten) kepada para pemegang obligasi yang bersangkutan (Siahaan & Manurung, 2006).

Selain terkait pasar modal, saham juga terkait PT (perseroan terbatas, limited company) sebagai pihak yang menerbitkannya. Dalam UU No. 1 tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas pasal 1 ayat 1, perseroan terbatas didefinisikan sebagai “badan hukum yang didirikan berdasarkan perjanjian, yang melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham,” Modal dasar yang dimaksud, terdiri atas seluruh nilai nominal saham (ibid., pasal 24 ayat 1).

Definisi lain menyebutkan, perseroan terbatas adalah badan usaha yang mempunyai kekayaan, hak, serta kewajiban sendiri, yang terpisah dari kekayaan, hak, serta kewajiban para pendiri maupun pemiliknya (M. Fuad, et.al., 2000). Jadi sesuai namanya, keterlibatan dan tanggung jawab para pemilik PT hanya terbatas pada saham yang dimiliki.

Perseroan terbatas sendiri juga mempunyai kaitan dengan bursa efek. Kaitannya, jika sebuah perseroan terbatas telah menerbitkan sahamnya untuk publik (go public) di bursa efek, maka perseroan itu dikatakan telah menjadi “perseroan terbatas terbuka” (Tbk).

Fakta Pasar Modal

Pasar modal adalah sebuah tempat di mana modal diperdagangkan antara pihak yang memiliki kelebihan modal (pihak investor) dengan orang yang membutuhkan modal (pihak issuer/emiten) untuk mengembangkan investasi. Dalam UU Pasar Modal No. 8 tahun 1995, pasar modal didefinisikan sebagai “kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek.” (Muttaqin, 2003).

Para pelaku pasar modal ini ada 6 (enam) pihak, yaitu :

(1). Emiten, yaitu badan usaha (perseroan terbatas) yang menerbitkan saham untuk menambah modal, atau menerbitkan obligasi untuk mendapatkan utang dari para investor di Bursa Efek.

(2). Perantara Emisi, yang meliputi 3 (tiga) pihak, yaitu : a. Penjamin Emisi (underwriter), yaitu perusahaan perantara yang menjamin penjualan emisi, dalam arti jika saham atau obligasi belum laku, penjamin emisi wajib membeli agar kebutuhan dana yang diperlukan emiten terpenuhi sesuai rencana; b. Akuntan Publik, yaitu pihak yang berfungsi memeriksa kondisi keuangan emiten dan memberikan pendapat apakah laporan keuangan yang telah dikeluarkan oleh emiten wajar atau tidak.c. Perusahaan Penilai (appraisal), yaitu perusahaan yang berfungsi untuk memberikan penilaian terhadap emiten, apakah nilai aktiva emiten wajar atau tidak.

(3). Badan Pelaksana Pasar Modal, yaitu badan yang mengatur dan mengawasi jalannya pasar modal, termasuk mencoret emiten (delisting) dari lantai bursa dan memberikan sanksi kepada pihak-pihak yang melanggar peraturan pasar modal. Di Indonesia Badan Pelaksana Pasar Modal adalah BAPEPAM (Badan Pengawas dan Pelaksana Pasar Modal) yang merupakan lembaga pemerintah di bawah Menteri Keuangan.

(4). Bursa Efek, yakni tempat diselenggarakannya kegiatan perdagangan efek pasar modal yang didirikan oleh suatu badan usaha. Di Indonesia terdapat dua Bursa Efek, yaitu Bursa Efek Jakarta (BEJ) yang dikelola PT Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya (BES) yang dikelola oleh PT Bursa Efek Surabaya.

(5). Perantara Perdagangan Efek. Yaitu makelar (pialang/broker) dan komisioner yang hanya lewat kedua lembaga itulah efek dalam bursa boleh ditransaksikan. Makelar adalah perusahaan pialang (broker) yang melakukan pembelian dan penjualan efek untuk kepentingan orang lain dengan memperoleh imbalan. Sedang komisioner adalah pihak yang melakukan pembelian dan penjualan efek untuk kepentingan sendiri atau untuk orang lain dengan memperoleh imbalan.

(6). Investor, adalah pihak yang menanamkan modalnya dalam bentuk efek di bursa efek dengan membeli atau menjual kembali efek tersebut (Junaedi, 1990; Muttaqin, 2003; Syahatah & Fayyadh, 2004).

Dalam pasar modal, proses perdagangan efek (saham dan obligasi) terjadi melalui tahapan pasar perdana (primary market) kemudian pasar sekunder (secondary market). Pasar perdana adalah penjualan perdana saham dan obligasi oleh emiten kepada para investor, yang terjadi pada saat IPO (Initial Public Offering) atau penawaran umum pertama. Kedua pihak yang saling memerlukan ini tidak bertemu secara dalam bursa tetapi melalui pihak perantara seperti dijelaskan di atas. Dari penjualan saham dan efek di pasar perdana inilah, pihak emiten memperoleh dana yang dibutuhkan untuk mengembangkan usahanya.

Sedangkan pasar sekunder adalah pasar yang terjadi sesaat atau setelah pasar perdana berakhir. Maksudnya, setelah saham dan obligasi dibeli investor dari emiten, maka investor tersebut menjual kembali saham dan obligasi kepada investor lainnya, baik dengan tujuan mengambil untung dari kenaikan harga (capital gain) maupun untuk menghindari kerugian (capital loss). Perdagangan di pasar sekunder inilah yang secara reguler terjadi di bursa efek setiap harinya.

Jual Beli Saham dalam Pasar Modal Menurut Islam

Para ahli fikih kontemporer sepakat, bahwa haram hukumnya memperdagangkan saham di pasar modal dari perusahaan yang bergerak di bidang usaha yang haram. Misalnya, perusahaan yang bergerak di bidang produksi minuman keras, bisnis babi dan apa saja yang terkait dengan babi, jasa keuangan konvensional seperti bank dan asuransi, dan industri hiburan, seperti kasino, perjudian, prostitusi, media porno, dan sebagainya. Dalil yang mengharamkan jual beli saham perusahaan seperti ini adalah semua dalil yang mengharamkan segala aktivitas tersebut. (Syahatah dan Fayyadh, Bursa Efek : Tuntunan Islam dalam Transaksi di Pasar Modal, hal. 18; Yusuf As-Sabatin, Al-Buyu’ Al-Qadimah wa al-Mu’ashirah wa Al-Burshat al-Mahalliyyah wa Ad-Duwaliyyah, hal. 109).

Namun mereka berbeda pendapat jika saham yang diperdagangkan di pasar modal itu adalah dari perusahaan yang bergerak di bidang usaha halal, misalnya di bidang transportasi, telekomunikasi, produksi tekstil, dan sebagainya. Syahatah dan Fayyadh berkata,”Menanam saham dalam perusahaan seperti ini adalah boleh secara syar’i…Dalil yang menunjukkan kebolehannya adalah semua dalil yang menunjukkan bolehnya aktivitas tersebut.” (Syahatah dan Fayyadh, ibid., hal. 17).

Tapi ada fukaha yang tetap mengharamkan jual beli saham walau dari perusahaan yang bidang usahanya halal. Mereka ini misalnya Taqiyuddin an-Nabhani (2004), Yusuf as-Sabatin (ibid., hal. 109) dan Ali As-Salus (Mausu’ah Al-Qadhaya al-Fiqhiyah al-Mu’ashirah, hal. 465). Ketiganya sama-sama menyoroti bentuk badan usaha (PT) yang sesungguhnya tidak Islami. Jadi sebelum melihat bidang usaha perusahaannya, seharusnya yang dilihat lebih dulu adalah bentuk badan usahanya, apakah ia memenuhi syarat sebagai perusahaan Islami (syirkah Islamiyah) atau tidak.

Aspek inilah yang nampaknya betul-betul diabaikan oleh sebagian besar ahli fikih dan pakar ekonomi Islam saat ini, terbukti mereka tidak menyinggung sama sekali aspek krusial ini. Perhatian mereka lebih banyak terfokus pada identifikasi bidang usaha (halal/haram), dan berbagai mekanisme transaksi yang ada, seperti transaksi spot (kontan di tempat), transaksi option, transaksi trading on margin, dan sebagainya (Junaedi, 1990; Zuhdi, 1993; Hasan, 1996; Az-Zuhaili, 1996; Al-Mushlih & Ash-Shawi, 2004; Syahatah & Fayyadh, 2004).

Taqiyuddin an-Nabhani dalam An-Nizham al-Iqtishadi (2004) menegaskan bahwa perseroan terbatas (PT, syirkah musahamah) adalah bentuk syirkah yang batil (tidak sah), karena bertentangan dengan hukum-hukum syirkah dalam Islam. Kebatilannya antara lain dikarenakan dalam PT tidak terdapat ijab dan kabul sebagaimana dalam akad syirkah. Yang ada hanyalah transaksi sepihak dari para investor yang menyertakan modalnya dengan cara membeli saham dari perusahaan atau dari pihak lain di pasar modal, tanpa ada perundingan atau negosiasi apa pun baik dengan pihak perusahaan maupun pesero (investor) lainnya. Tidak adanya ijab kabul dalam PT ini sangatlah fatal, sama fatalnya dengan pasangan laki-laki dan perempuan yang hanya mencatatkan pernikahan di Kantor Catatan Sipil, tanpa adanya ijab dan kabul secara syar’i. Sangat fatal, bukan?

Maka dari itu, pendapat kedua yang mengharamkan bisnis saham ini (walau bidang usahanya halal) adalah lebih kuat (rajih), karena lebih teliti dan jeli dalam memahami fakta, khususnya yang menyangkut bentuk badan usaha (PT). Apalagi, sandaran pihak pertama yang membolehkan bisnis saham asalkan bidang usaha perusahaannya halal, adalah dalil al-Mashalih Al-Mursalah, sebagaimana analisis Yusuf As-Sabatin (ibid., hal. 53). Padahal menurut Taqiyuddin An-Nabhani, al-Mashalih Al-Mursalah adalah sumber hukum yang lemah, karena kehujjahannya tidak dilandaskan pada dalil yang qath’i (Asy-Syakhshiyah Al-Islamiyah, Juz III (Ushul Fiqih), hal. 437)

Kesimpulan

Menjual belikan saham dalam pasar modal hukumnya adalah haram, walau pun bidang usaha perusahaan adalah halal. Maka dari itu, dengan sendirinya keberadaan pasar modal itu sendiri hukumnya juga haram. Hal itu dikarenakan beberapa alasan, utamanya karena bentuk badan usaha berupa PT adalah tidak sah dalam pandangan syariah, karena bertentangan dengan hukum-hukum syirkah dalam Islam. Wallahu a’lam [ ] (www.konsultasi.wordpress.com)

DAFTAR PUSTAKA

Al-Mushlih, Abdullah & Ash-Shawi, Shalah, Fikih Ekonomi Keuangan Islam (Maa Laa Yasa’u Al-Taajir Jahlahu), Penerjemah Abu Umar Basyir, (Jakarta : Darul Haq), 2004

An-Nabhani, Taqiyuddin, an-Nizham al-Iqtishadi fi Al-Islam, (Beirut : Darul Ummah), Cetakan VI, 2004

As-Sabatin, Yusuf Ahmad Mahmud, Al-Buyu’ Al-Qadimah wa al-Mu’ashirah wa Al-Burshat al-Mahalliyyah wa Ad-Duwaliyyah, (Beirut : Darul Bayariq), 2002

As-Salus, Ali Ahmad, Mausu’ah Al-Qadhaya al-Fiqhiyah al-Mu’ashirah wa al-Iqtishad al-Islami, (Qatar : Daruts Tsaqafah), 2006

Az-Zuhaili, Wahbah, Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu, Juz IX (Al-Mustadrak), (Damaskus : Darul Fikr), 1996

Fuad, M, et.al., Pengantar Bisnis, (Jakarta : Gramedia Pustaka Utama), 2000

Hasan, M. Ali, Masail Fiqhiyah : Zakat, Pajak, Asuransi, dan Lembaga Keuangan, (Jakarta : PT RajaGrafindo Persada), 1996

Junaedi, Pasar Modal Dalam Pandangan Hukum Islam, (Jakarta : Kalam Mulia), 1990

Muttaqin, Hidayatullah, Telaah Kritis Pasar Modal Syariah, http://www.e-syariah.org/jurnal/?p=11, 20 des 2003

Siahaan, Hinsa Pardomuan & Manurung, Adler Haymans, Aktiva Derivatif : Pasar Uang, Pasar Modal, Pasar Komoditi, dan Indeks (Jakarta : Elex Media Komputindo), 2006

Syahatah, Husein & Fayyadh, Athiyah, Bursa Efek : Tuntunan Islam dalam Transaksi di Pasar Modal (Adh-Dhawabit Al-Syar’iyah li At-Ta’amul fii Suuq Al-Awraq Al-Maliyah), Penerjemah A. Syakur, (Surabaya : Pustaka Progressif), 2004

Tarban, Khalid Muhammad, Bay’u Al-Dayn Ahkamuhu wa Tathbiquha Al-Mu’ashirah (Al-Azhar : Dar al-Bayan Al-‘Arabi; Beirut : Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah), 2003

Zuhdi, Masjfuk, Masail Fiqhiyah Kapita Selekta Hukum Islam, (Jakarta : CV Haji Masagung), 1993

 Sumber jawaban :

Artikel karya  KH. M. Shiddiq al-Jawi

About these ads

30 Tanggapan to “Jual Beli Saham dalam Pandangan Islam”

  1. eecho said

    alasan batil karena tidak ada ijab kabul saya rasa kurang tepat. Karena sepengetahuan saya suatu perusahaan yang telah listing di bursa saham..otomatis telah menyetujui peraturan permodalan yang dimana secara tidak langsung merupakan ijab kabul terhadap pemodal. (saya bukannya setuju terhadap saham) tetapi tolong jelaskan lebih dalam mengenai ijab kabul tersebut?

    Terima kasih

  2. Padli said

    Saya setuju dengan komentar “eecho”. Dalam kitab2 fiqhi al buyu’ sangat masyhur bahwa ijab dan qabul dalam jual beli tidak mesti dengan kata-kata yang dilafadzkan. Ijab dan qabul tercermin dari saling ridha-nya kedua belah pihak atas jual beli yang terjadi.

    Jika ijab dan qabul mesti dengan kata-kata, misalnya: “Saya menjual ke anda barang ini seharga sekian rupiah” kemudian pembeli berkata “Saya membeli dari anda barang ini seharga sekian rupiah” maka sungguh melelahkan transaksi jual beli itu dan dengannya akan terhalang banyak pintu-pintu kebajikan.

    Wallaahu ‘alam.

  3. […] [Jawaban] […]

    • iis said

      menurt pengetahuan say tentang penjualn saham tersebut ya sah saha jah karena antar invstor dan dan pt itu sma-sma rela dengan akad bagi hasil…bukannya allah menghallakn jual beli dan mengharamkan riba……

  4. […] [read more] […]

  5. noorridhwan said

    bukan akad jual belinya, tapi sistem PT-nya.

  6. RUDY said

    ass.w.w…..
    saya usul supaya MUI sebagai lembaga formal bisa mengeluarkan fatwa bahwa jual-beli saham itu HARAM hukumnya bila memang setelah dikaji dan dapat dipertanggungjwbkan kebenarannya.. Karena teman2 yang terlibat dan terkait dengan SAHAM banyak yang belum menyadari.. Kasihan mereka…. termasuk saya yang baru mau terjun.
    wass.w.w.

  7. SITUS said

    Ass……….
    Mari kita berfikir dan bertindak dengan hati nurani dalam mengisi dan mempertahankan hidup dan kehidupan …dg logika dan dasar alquran dan alhadist klu sudah menympang, jangan ikuti ..sesaat kita nikmati akherat kita harus pertanggung jawabkan( jangan terjebak dengan dalil dalil kaum yahudi). ingat bekal apa yg akan kita bw besok di akherat……,semua yg kita dapat kita tinggal kecuali amalan ajaran islam

  8. BAMB HARJ CIANGSANA said

    SUDAH DIJELASKAN PANJANG LEBAR TENTANG SAHAM………KALAU AJARAN ISLAM MENGATAKAN DILARANG MAKA DARI ITU KEBERADAAN PASAR MODAL JELAS TIDAK SESUAI DENGAN AJARAN ISLAM (MAKA DARI ITU KALAU MEMANG SUDAH JELAS JELAS DILARANG MULAI DETIK INI TINGGALKAN DAN BERALIH MENCARI RIZKY YANG HALAL DAN DAPAT DIPERTANGGUNG JAWABKAN SESUAI AJARAN ISLAM…

  9. Setahu saya MUI baru mengeluarkan fatwa tentang saham syariah. untuk saham non syariah belum ada fatwa MUI.Jangankan masalah jual beli saham, sedangkan masalah bank konvensional saja masih banyak pandangan kaum jumhur yg berbeda. Kalau dibuat diskusi:
    a. Haramnya masalah PT oleh Taqiyyudin, (PT bathil karena tdk ada ijab qobul). Dari sini saya melihat bahwa beliau belum pernah mengikuti proses pendirian PT, yg disitu jelas ada ijab qobul diantara pendiri PT(pemegang saham), ada Notaris, ada izin Menteri Kehakiman dst.
    b. Kalau hari ini saya beli saham Semen Gresik harga Rp7.000/lembar, kemudian setahun kemudian saham saya jual dengan harga Rp8.000,- (krn perusahaan laba dgn memberi dividen kpd pemegang saham), saya berpendapat transaksi ini memenuhi hukum jual beli, dan tidak ada unsur perjudian.
    c. Kalau pasar modal hukumnya haram, sebaiknya MUI cepat mengeluarkan Fatwa yg TEGAS.

  10. munandar said

    akad dalam nikah apabila tidak sah akan berakibat zina… sedangkan dalam transaksi perdagangan akan mengakibatkan penggunaan barang/jasa yang telah ditransaksikan… ada beda gak??? mungkin pada akad sama, tetapi tidak pada apa yang diakadkan.. jual beli dalam islam apabila tidak ada ijab kabul tidak sah, dengan indikasi barang tersebut boleh dikembalikan, tetapi mari kita lihat pada serah terimanya barang/jasa tersebut… saya lebih setuju dengan ulama kontemporer…

  11. Keong said

    menanggapi pendapat echo, saya setuju sekali,,,berarti kalau harus ijab kabul seperti yg disebutkan di atas,membeli barang di supermarket pun bisa haram karena kita ngambil langsung bayar,tanpa ijab kabul dengan pemilik…..

  12. ira said

    saya juga setuju dengan pendapat Echo n Keoang. selain haram karena tidak ada ijab kobul, perusahaan yg menjual barang-barang di supermarket ataupun semen juga dalam bentuk PT (batil).. Naaahhh, bagaiman tuch, sedangkan rumah-rumah ustad’nya aja d’bangun pake material2 produksi PT (batil).. So secara tidak langsung ….. ?????

  13. Muhamad Lukman said

    Kalau bank konfentional saya setuju kalu itu kharam karena sistim yg dijalankan hanya berdasarkan %dari bunga.
    Tetapi kalau jual beli saham asal kita sudah tahu dulu bidang usaha yang digerakkan asalkan halal boleh saja kita menjalankannya.
    Istilah ijab qobul dan ikrar agar syah dalam hubungan jual beli kita bisa lewat agen dan broker. Tentunya seorang broker tentunya jg tidak mau bertanggung jawab akan resiko bila suatu perusahaan melakukan inkar janji sehingga uang yg telah dijadikan invest tidak kembali, lalu resiko itu sudah barang tentu menjadi hal yang mutlak kerugian materi bagi seorang investor. Dan ini tentunya bukan dosanya seorang investor.
    Setiap orang tentunya sangat mendambakan kekayaannya agar hidup lebih mudah, tapi tentunya dengan jalan yang ma’ruf bagi seorang muslim.
    Karena VGMC tidak bisa memberikan suatu solusi yang jelas apabila ada ingkar atas suatu transaksi dan akan terjadi kerumitan dalam penyelesaiannya sudah jelas itu adalah jalan yang tidak ma’ruf secara islami.(luq_man_kla_x)

  14. Muhamad Lukman said

    Sebenarnya saya juga masih bingung akan jalan yang harus saya pilih dalam hal ini, apakah mengkharamkan jual beli saham atau mengkhalalkannya.
    Tetapi dalam keadaan seperti ini saya selalu mengikuti pendapat ulama’ yang terkuat agar terhindar dari nafsu untuk mengkhalalkan segala cara.
    (luq_man_kla_x)

  15. bege said

    menurut saya percuma kita memperdebatkan sesuatu yg sudah jelas hukumnya,kalo emang ragu tinggalkan saja,masih banyak cara mendapatkan uang dengan halal,saya percaya kalian adalah orang2 yg pintar dan hebat,tp sbgai seorang muslim alangkah bijaksananya bila kita mengembalikan semua permasalahan kpd alquran dan alhadist,ingat kebenaran itu datangnya bukan dari cara berfikir dan pembenaran pribadi,tapi kebaikan,kebenaran itu datangnya dari ALLOH SWT.

  16. […] http://konsultasi.wordpress.com/2007/09/14/jual-beli-saham-dalam-pandangan-islam/ Bagikan Ini :TwitterFacebookLike this:SukaBe the first to like this post. […]

  17. saya tidak ingin berkomentar seputar halal-haramnya jual beli saham
    namun perlu diperhatikan bahwa belum ada fatwa resmi dari MUI ttghal tersebut, jadi jual beli saham masih diragukan kebenarannya, kalau mau ambil aman mending kita tinggalkan saja, bukankah Rasulullah mengajarkan untuk meninggalkan segala sesuatu yang meragukan, sifat wara’ dan hati-hati dalam hal ini lebih baik, masalah rezeki bukankah pintu rezeki dari Alah maha luas? lagipula hendaknya motivasi seorang muslim itu adalah kehidupan Akhirat yang jauh lebih berharga dari kehidupan dunia

    wallahu’alam

  18. terima kasih ilmu yang bermanfaatnya…sangat membantu, masalahnya ini termasuk fiqih modern….

  19. Akuntan Islam said

    jika yang menyebabkan haramnya perdagangan saham adalah bentuk badan usaha yaitu PT (Perseroan Terbatas), lantas bagaimana jika badan usaha tersebut berbentuk koperasi,CV,UD,atau yang lainnya?
    anda sebagai orang yang berilmu,hendaknya lebih bijak dan memperluas wawasan sebelum memutuskan suatu perkara menjadi halal atau haram.
    jika merasa bahwa persoalan saham,PT,dan aspek perekonomian lainnya bukan bidang yang anda kuasai dan pelajari, maka jangan coba2 mengambil hukum pada bidang tersebut.
    Coba anda tafsirkan lebih luas lagi arti Allah menghalalkan jual-beli…
    Suatu perusahaan sulit tumbuh & berkembang tanpa adanya tambahan modal. Jumlah saham yang diperdagangkan untuk umum biasanya tidak lebih dari 50%. Akad perdagangan telah berkembang dan terorganisir. Apa gunanya dewan komisaris jika tidak mengakomodasi akad dari para pemegang saham?
    karena anda telah mengharamkan perdagangan saham, maka coba jelaskan pertanyaan2 saya di atas. terima kasih

    • bro said

      temen saya yg suka main saham dan agak berhasil ,, saham yang dibeli kebanyakan saham dari luar negeri ,, tanpa mengetahui apakah itu perusahaan penghasil barang haram atau tidak … jarang beli saham dari perusahaan yang kurang terkenal .. apalagi mau pailit ,,, tp menurut guru akuntan saya ,, jual beli saham itu hukumnya … HARAM

  20. tri said

    betul kata akuntan islam,,, jgn mengambil hukum jika bukan dibidangnya “serahkan pekerjaan pada ahlinya”,,, oleh karena itu, mari sama2 antara ahli agama yg bersangkutan dan pakar ekonomi yg bersangkutan utk bekerjasama merumuskan hal tersebut demi kepentingan umat,,, atw ijtihad dari MUI,,

  21. Abdul said

    Kalau belanja ke supermareket boleh gak ya…..?? , ijab qobulnya apakah harus seperti saat kita nikah…..

  22. Muhamad Lukman said

    Ijab qobul disini maksudnya saling mengesahkan kaleee, diantara kedua belah pihak atau beberapa pihak saling menerima dan saling tidak merugikan. Hingga kedua belah pihak saling brsepakat dan sah””.
    Kecuali tentang hukum utang-piutang lho karena dalam islam sudah ada aturannya. Berdagang itu halal tapi riba’ itu kharam””.

  23. abu ghifari said

    Lalu..apakah bekerja di perusahaan dengan badan hukum pt,cv dan firma serta menjadi notaris itu haram? Bagaimana penjelasanya?

  24. ferayuliana said

    dengan investor paham aturan2 dalam bursa efek itu sudah termasuk ijab qobul bukan ? karena investor sudah mengetahui resiko atau keuntungann yang akan di dapat.

  25. Sunardi said

    Dengan era modern seperti ini yang mana badan usaha berbentuk PT dll sedemikian banyak dan berkembang, dan badan/lembaga yang berbentuk syariah masih sedemikian awalnya, yang pada akhirnya saya jadi tanda juga sedemikian banyaknya kaum muslim yang terjebak dengan situasi yang memang secara tata ekonomi kenegaraan sah dan dikembangkan, berarti negara juga salah besar menurut pandangan Islam mengembangkan pasar saham BEJ dan BES ? Sementara negara menata ekonomi ingin memakmurkan rakyatnya ?

  26. aslm..kita yg seiman bersaudara, insya Allah diberkahi dlm mencari kebenaran dan ridho-Nya

    maaf sebelumnya saya yg masih awam akan persoalan PT dan dan bursa efek ini mau berbagi pendapat, spt yg sudah disebut di atas bahwa jual beli itu dikatakan halal atau haram karena 2 sebab, hukum barang yg diperdagangkan itu sendiri dan ijab kabul. bila hukum barangnya halal maka halal, bila haram maka tentunya haram, begitupun ijab kabul bila sama2 ridho berarti sah/halal. dalam hal ini seandainya kita ikut menjadi penanam modal/saham pd suatu PT, dan PT tersebut sebagai pengelola modal yg mana memperjual belikan yg halal dg sedari awal dijelaskan untung rugi dan aturan mainnya dan kemudian kita sejutui bukankah berarti itu jelas kehalalannya?

    nah yg menjadi kompleks sebenarnya yaitu ketika PT tersebut berubah menjadi tbk dan masuk ke bursa efek, apakah PT tersebut telah meminta persetujuan para pemegang saham terlebih dahulu, dilakukan akad baru untuk itu, serta membeli saham dari emiten PT yg memperjual belikan barang haram/halal, itulah yg menentukan apakah jual beli yg kita lakukan masih halal atau berubah menjadi haram, mohon dikoreksi.

    wallahu a’lam

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 984 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: