Konsultasi Islam

Mengatasi Masalah dengan Syariah

HUKUM MAKAN IKAN HIU

Posted by Farid Ma'ruf pada 5 April 2008

Tanya :

Ustadz, hukum makan hiu apa? Saya mau makan ikan hiu bersama teman dan tidak sempat membuka kitab. (Lazuardi, Jakarta).

Jawab :

Ikan hiu (Inggris : shark) dalam literatur bahasa Arab disebut al-qirsyu. Dalam Kamus Al-Maurid, diterangkan bahwa shark (ikan hiu) adalah ikan liar yang sebagiannya berukuran besar yang ditakuti kebuasannya (al-qirsy samakun muftarisyun ba’dhuhu kabiirun yukhsya syarruhu).

Ikan hiu hukumnya mubah, karena termasuk binatang laut yang hukumnya halal menurut keumuman dalil-dalil Al-Qur`an dan As-Sunnah (M. Masykur Khoir, Risalatul Hayawan, hal. 62). Dalil Al-Qur`an antara lain firman Allah SWT :

أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ مَتَاعًا لَكُمْ

“Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimuc” (QS Al-Maidah [5] : 96).

Imam Al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya mengatakan :

قوله تعالى أحل لكم صيد البحر هذا حكم بتحليل صيد البحر وهو كل ما صيد من حياته

“Firman Allah Ta’ala أحل لكم صيد البحر (dihalalkan bagimu binatang buruan laut) ini merupakan hukum penghalalan bagi binatang buruan laut, yaitu setiap binatang yang diburu dalam keadaan hidupnya…” (Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur`an, Imam Al-Qurthubi, 6/318).

Dalil hadis antara lain sabda Nabi SAW :

هو الطهور ماؤه الحل ميتته

“Dia [laut] itu suci airnya dan halal bangkainya.” (HR. Malik, Ashhabus Sunan, disahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan lain-lain) (Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fathul Bari, 9/169; Shahih Ibnu Hibban, no. 1423; Al-Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain, no. 491).

Dalam kitab Aunul Ma’bud dijelaskan hadits di atas menunjukkan beberapa hukum, di antaranya :

أن جميع حيوانات البحر أي ما لا يعيش إلا بالبحر حلال

“Semua hewan-hewan laut, yaitu hewan yang tidak dapat hidup kecuali di laut, adalah halal.” (Muhammad Syamsul Haq Al-Azhim Abadiy Abu Ath-Thayyib, Aunul Ma’bud, Juz 1/107).

Jadi, semua hewan laut adalah halal berdasarkan keumuman dalil-dalil Al-Quran dan As-Sunnah, termasuk juga dalam hal ini adalah ikan hiu.

Memang ada sebagian ulama Syafi’iyah yang mengharamkan ikan hiu, Karena ikan hiu dianggap binatang buas yang menyerang dengan taringnya (ya’duw bi-naabihi). (Abul ‘Ala` Al-Mubarakfuri, Tuhfatul Ahwadzi, 1/189; Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fathul Bari, 9/169; Ibrahim bin Muhammad, Manarus Sabiil, 2/368). Pendapat ini nampaknya didasarkan pada hadits yang mengharamkan memakan setiap binatang yang bertaring. Diriwayatkan oleh Abu Tsa’labah Al-Khusyani RA, bahwasanya :

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَكْلِ كُلِّ ذِي نَابٍ مِنْ االسِّبَاعِ

“Nabi SAW telah melarang memakan setiap binatang buas yang bertaring.” (HR Muslim, no. 3571)

Namun Al-Muhib Ath-Thabari memfatwakan bahwa al-qirsyu (ikan hiu) adalah halal, mengikuti fatwa Ibnul Atsir dalam kitabnya An-Nihayah. Menurut Syaikh Al-Khathib Asy-Syarbini pengarang kitab Mughni Al-Muhtaj pendapat yang menghalalkan ini adalah zhahir (jelas). (Asy-Syarbini, Mughni Al-Muhtaj, 4/298). Pengarang kitab Manarus Sabiil mengatakan, pendapat yang lebih masyhur, ikan hiu itu mubah (wal asyhar annahu mubaah). (Ibrahim bin Muhammad; Manarus Sabiil, 2/368).

Yang lebih rajih menurut kami, adalah pendapat yang menyatakan ikan hiu itu mubah, berdasarkan keumuman dalil-dalil Al-Kitab dan As-Sunnah yang telah kami sebutkan di atas. Adapun dalil hadits Abu Tsala’bah Al-Khusyani di atas yang digunakan oleh ulama yang mengharamkan ikan hiu, tidak dapat diterima. Karena hadits tersebut hanya berlaku untuk binatang bertaring dari hewan-hewan darat (hayaman al-barr), tidak mencakup binatang bertaring dari hewan-hewan laut (hayawan al-bahr). Hal ini dikarenakan telah ada dalil-dalil yang menghalalkan binatang laut secara umum, termasuk ikan hiu.

Hukum bolehnya ikan hiu ini kami anggap lebih rajih, karena didasarkan suatu kaidah dalam ushul fikih (qaidah ushuliyah), bahwa semua dalil hendaknya diamalkan, bukan ditanggalkan (tidak diamalkan). Imam Taqiyuddin An-Nabhani menegaskan :

الأصل في الدليل هوالإعمال لا الإهمال

“Prinsip asal mengenai dalil adalah wajib diamalkan, bukan diabaikan (tidak diamalkan). (Taqiyuddin An-Nabhani, Asy-Syakhshiyyah Al-Islamiyah, 1/240).

Jadi, dengan mengamalkan dalil-dalil umum yang menghalalkan binatang laut, menghasilkan hukum halalnya ikan hiu. Sedangkan hadits Abu Tsa’labah Al-Khusyani di atas juga tetap diamalkan, meski pun dengan membatasi keberlakuannya hanya untuk binatang darat yang bertaring, tidak mencakup binatang laut yang bertaring. Dengan demikian, semua dalil diamalkan.

Adapun pendapat yang mengharamkan ikan hiu, berarti mengamalkan hadits Abu Tsa’labah Al-Khusyani di atas secara umum, hingga mencakup pengharaman ikan hiu. Di sini terjadi pengabaian (al-ihmaal) terhadap dalil-dalil yang menghalalkan semua binatang laut. Dengan demikian, tidak semua dalil diamalkan, tapi hanya satu sisi, yaitu dalil yang mengharamkan binatang buas bertaring secara umum. Sementara sisi lainnya, yaitu dalil yang membolehkan semua bnatang laut, tidak diamalkan.

Padahal, mengamalkan dua dalil adalah lebih utama daripada satu dalil, sebagaimana dinyatakan dalam sebuah kaidah ushul fikih (qaidah ushuliyah) :

إعمال دليلين أولى من إهمال أحدهما بالكلية

“Mengamalkan dua dalil lebih utama dari mengabaikan salah satu dalil secara menyeluruh.” (Taqiyuddin An-Nabhani, Asy-Syakhshiyyah Al-Islamiyah, 1/240).

Berdasarkan itu, maka pendapat yang menghalalkan ikan hiu adalah lebih kuat (rajih), karena berarti telah mengamalkan semua dalil yang ada, sebagaimana dijelaskan di atas.

Kesimpulannya, ikan hiu adalah halal. Wallahu a’lam. (www.konsultasi-islam.com)

Yogyakarta, 4 April 2008

Muhammad Shiddiq Al-Jawi

About these ads

7 Tanggapan to “HUKUM MAKAN IKAN HIU”

  1. tri said

    asslm.thx atas paparan tsb.walaupun saya tdk sdg makan hiu,namun saya jd mengerti ‘metode’ dlm tafsir quran dan hadits.jazakallah.wasslm.

  2. erander said

    Assalamu’alaikum wr wb

    Kalau saya pribadi, jika ragu .. tidak akan saya makan. Dan alhamdulillah, jika pun tidak diharamkan, saya tidak makan hiu. Bagi saya, cukuplah makan sesuai dengan kemampuan saja. Walaupun Tuhan menciptakan banyak jenis ikan .. tapi tidak semua akan saya santap :)

    *malu sama Sang Pencipta .. koq rakus, semua dimakan* :mrgreen:

  3. ARIEF ISKANDAR said

    Jadi ingat anak saya, kalo ditanyain “makan pake ikan apa ?” Dia akan jawab, “Pake ikan hiu…”

  4. usman maru'dani said

    Alhamdulillah hari ini…..
    Hamba dapat ilmu baru……
    Dari kecil sampai sekarang saya masih jijik mau makan ikan hiu
    walaupun di daerah banyak masyarakatnya yang mengkonsumsi ikan
    tapi keluarga kami tidak termasu.

    Ya walaupun hamba sudah tahu hukumnya….
    tetap aja rasanya tenggorokan ini tidak mau menerimanya

    Tenggorokan ini aneh ustadz… pernah suatu saat kami dihidangkan oleh tuan rumah
    ikan Malong/mayong ( yang dinamai oleh masyarakat di daerah kami) yaitu ikan yang bentuknya
    seperti ular tetapi bukan jenis ular, sama halnya dengan belut.
    Termasuk hamba yang memakannya tapi rasanya itu aneh…dilidah ini, jadi hamba tanyakan “Ini ikan apa ya?”
    “Malong” jawab tuan rumah.
    Wah rasanya ingin muntah tapi tidak ku perlihatkan ekspresiku pada tuan rumah.
    Mungkin tidak terbiasa kali ya ustadz!..
    Terima kasih.

  5. khalis said

    Salam , Ikan hiu, kalau di Malaysia disebut ikan yu, ikan ini jenis yang suka mengembara di laut dalam, dasar laut dan dari jenis makan daging, baik daging ikan maupun daging manusia. ikan hiu ini mudah tercemar dengan merkuri yang boleh menggugat kestabilan otak bayi, oleh itu bagi ibu mengadung disarankan agar tidak memakan ikan hiu ini. Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah dalam kitabnya Tib al-Nabawiy menjelaskan bahawa ikan yg paling baik dimakan ialah yang hidup di air mengalir, memakan rumpair, yg kena pancaran matahari, (bukan berenang2 di dasar laut) dan bahagian yg paling baik ialah bahagian ekornya banyak fosforus untuk otak. maka ciri2 ikan tersebut tidak ada pada ikan hiu makanya ikan hiu ini elok dielakkan sekalipun ianya sedap dan lazat. lagi pula kita semua sedar bhw makanan juga ada pengaruhnya pada rohani kan?

  6. Derryan pratama said

    Emang kalo yg di laut itu halal
    Tapi sebenarnya kita d haramkan memakan predator (mahluk bertaring) d karenakan akan mengganggu rantai makanan alam itu tersendiri
    Klo d sbutkan mmakan semua mahluk laut itu halal bukan berarti kita bisa memakan smua mahluk yg di laut, tetap kita gk boleh makan predator laut itu tersendiri

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 973 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: