Konsultasi Islam

Mengatasi Masalah dengan Syariah

Hukum Donor Mata

Posted by Farid Ma'ruf pada 11 Juni 2010

Tanya :

Ustadz, apa hukumnya donor mata dalam Islam? (Yandi, Sukabumi)

Jawab :

Donor mata (at-tabarru’ bi al-‘ain, eye donation) adalah pemberian kornea mata kepada orang yang membutuhkannya (resipien). Kornea mata tersebut umumnya diambil dari mayat, lalu ditransplantasikan (dicangkokkan) kepada resipien. Pengangkatan kornea mata mayat harus dilaksanakan kurang dari 6 jam sejak donor dinyatakan meninggal, dan dalam waktu 24 jam sudah harus dicangkokkan ke resipien. Meski umumnya diambil dari mayat, dimungkinkan pula kornea mata diambil dari donor yang masih hidup. (Yusuf bin Abdullah al-Ahmad, Ahkam Naql A’dha` al-Insan fi a-Fiqh al-Islami, Riyadh : 1425 H).

Hukum syar’i yang rajih (kuat) dalam masalah ini menurut kami sebagai berikut : jika donor mata berasal pendonor hidup hukumnya mubah. Jika dari mayat hukumnya haram.

Bolehnya donor mata dari orang hidup, dikarenakan ada dalil syar’i yang menetapkan hak milik organ tubuh dan tiadanya risiko kematian donor mata. Syaikh Abdul Qadim Zallum menyatakan boleh secara syar’i seseorang yang masih hidup mendonorkan satu atau lebih organ tubuhnya kepada orang lain secara sukarela, karena adanya hak milik orang itu atas organ tubuhnya, dengan syarat tidak mengakibatkan kematian pendonor. (Abdul Qadim Zallum, Hukm al-Syar’i fi al-Istinsakh, hal. 9).

Menurut Syaikh Abdul Qadim Zallum kalau seseorang matanya tercongkel akibat perbuatan orang lain, dia berhak mengambil diyat (tebusan) atau memaafkan orang itu. Jika memaafkan, berarti dia menyumbangkan diyat, yang artinya dia mempunyai hak milik atas diyat. Adanya hak milik atas diyat, artinya ada hak milik atas organ tubuh yang disumbangkan dalam bentuk diyat.

Ringkasnya, bolehnya memaaafkan artinya adalah penetapan hak milik organ tubuh. Dalam hal ini telah terdapat nash-nash yang membolehkan memberikan maaf dalam qishash (QS Al-Baqarah : 178) dan berbagai diyat. Sabda Nabi SAW,”Barangsapa tertimpa musibah pembunuhan atau penganiayaan fisik, dia berhak memilih salah satu dari tiga pilihan; menuntut qishash, mengambil diyat, atau memaafkan.” (HR Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah). (Imam Syaukani, Nailul Authar, hal. 1405).

Adapun jika donor mata berasal dari mayat, hukumnya haram. Alasannya ada 2 (dua) : pertama, ketika seseorang meninggal, hilanglah hak miliknya atas apa pun, baik hartanya, tubuhnya, atau isterinya. Buktinya, hartanya wajib diwariskan, tubuhnya wajib dikuburkan, dan isterinya wajib menjalani masa iddah.

Maka orang yang meninggal tidak boleh lagi melakukan tasharruf (perbuatan hukum) atas tubuhnya, misalnya mendonorkan atau berwasiat kepada ahli warisnya mendonorkan organ tubuhnya. Wasiat ini tidak sah, karena merupakan wasiat atas sesuatu yang tidak lagi dimiliki. Kaidah fiqih menyatakan : Man laa yamliku at-tasharrufa laa yamliku al-idzin fiihi. (Barangsiapa tidak berhak melakukan tasharruf, tidak berhak pula memberikan izin melakukan tasharruf). (Az-Zarkasyi, al-Mantsur fi al-Qawa’id, 3/211; M. Shidqi al-Burnu, Mausu’ah al-Qawa’id al-Fiqhiyah, 11/1081; Hasan Ali al-Syadzili, Hukm Naql A’dha` Al-Insan fi Al-Fiqh al-Islami, hal.109).

Kedua,mayat mempunyai kehormatan yang wajib dijaga. Yaitu tidak boleh dianiaya misalnya dicincang, dicongkel matanya, dipenggal kehernya, dan sebagainya. Sabda Nabi SAW,“Memecahkan tulang mu`min yang sudah mati, sama dengan memecahkannya saat dia hidup.” (HR Ahmad, Malik, dan Ad-Daruquthni). Wallahu a’lam.

Yogyakarta, 10 Juni 2010

Muhammad Shiddiq al-Jawi

// <![CDATA[

var prefix = ‘ma’ + ‘il’ + ‘to’;
var path = ‘hr’ + ‘ef’ + ‘=’;
var addy99137 = ‘shiddiq_aljawi’ + ‘@’;
addy99137 = addy99137 + ‘yahoo’ + ‘.’ + ‘com’;
var addy_text99137 = ‘shiddiq_aljawi’ + ‘@’ + ‘yahoo’ + ‘.’ + ‘com’;
document.write( ‘‘ );
document.write( addy_text99137 );
document.write( ” );
// ]]>
shiddiq_aljawi@yahoo.com

About these ads

3 Tanggapan to “Hukum Donor Mata”

  1. [...] full post on Konsultasi IslamTulisan TerkaitJune 23, 2010 — Apakah Mengoreksi Penguasa Harus Empat Mata Categories: [...]

  2. Atho' said

    Dikatakan mubah donor mata dr org hidup dan haram diambil dr mayyit meskipun dg wasiat, disebabkan tidak adanya hak atas diri dan harta benda.
    1. Bagaimana kaitannya dg mewasiatkan harta untuk wakaf?
    2. Apakah bisa disamakan pendonoran dg penganiayaan terhadap mayyit?

  3. sakhy said

    pendapat tentang donor mata tersebut di atas menurut madzhab siapa? sukron

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 983 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: