Konsultasi Islam

Mengatasi Masalah dengan Syariah

Bolehkah Zakat Fitrah dengan Uang?

Posted by Farid Ma'ruf pada 29 Agustus 2010

Tanya :

Ustadz, apakah boleh kita membayar zakat fitrah dalam bentuk uang?

Jawab :

Ada khilafiyah di kalangan fuqaha dalam masalah ini menjadi dua pendapat. Pertama, pendapat yang membolehkan. Ini adalah pendapat sebagian ulama seperti Imam Abu Hanifah, Imam Tsauri, Imam Bukhari, dan Imam Ibnu Taimiyah. (As-Sarakhsi, al-Mabsuth, III/107; Ibnu Taimiyah, Majmu’ al-Fatawa, XXV/83).

Dalil mereka antara lain firman Allah SWT (artinya),”Ambillah zakat dari sebagian harta mereka.” (QS at-Taubah [9] : 103). Menurut mereka, ayat ini menunjukkan zakat asalnya diambil dari harta (mal), yaitu apa yang dimiliki berupa emas dan perak (termasuk uang). Jadi ayat ini membolehkan membayar zakat fitrah dalam bentuk uang. (Rabi’ Ahmad Sayyid, Tadzkir al-Anam bi Wujub Ikhraj Zakat al-Fithr Tha’am, hal. 4)

Mereka juga berhujjah dengan sabda Nabi SAW,”Cukupilah mereka (kaum fakir dan miskin) dari meminta-minta pada hari seperti ini (Idul Fitri).” (HR Daruquthni dan Baihaqi). Menurut mereka, memberi kecukupan (ighna`) kepada fakir dan miskin dalam zakat fitrah dapat terwujud dengan memberikan uang. (Abdullah Al-Ghafili, Hukm Ikhraj al-Qimah fi Zakat al-Fithr, hal. 3)

Kedua, pendapat yang tidak membolehkan dan mewajibkan zakat fitrah dalam bentuk bahan makanan pokok (ghalib quut al-balad). Ini adalah pendapat jumhur ulama Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah. (Al-Mudawwanah al-Kubra, I/392; Al-Majmu’, VI/112; Al-Mughni, IV/295).

Dalil mereka antara lain hadits Ibnu Umar RA bahwa,”Rasulullah SAW telah mewajibkan zakat fitrah berupa satu sha’ kurma atau satu sha’ jewawut (sya’ir) atas budak dan orang merdeka, laki-laki dan perempuan, anak-anak dan orang dewasa, dari kaum muslimin.” (HR Bukhari, no 1503). Hadits ini jelas menunjukkan zakat fitrah dikeluarkan dalam bentuk bahan makanan, bukan dengan dinar dan dirham (uang), padahal dinar dan dirham sudah ada waktu itu. (Rabi’ Ahmad Sayyid, Tadzkir al-Anam bi Wujub Ikhraj Zakat al-Fithr Tha’am, hal. 9).

Menurut kami, yang rajih (kuat) adalah pendapat jumhur yang tak membolehkan zakat fitrah dengan uang dan mewajibkannya dalam bentuk makanan pokok. Alasan kami : Pertama, ayat QS at-Taubah : 103 memang bersifat global (mujmal), yaitu zakat itu diambil dari harta (mal). Namun telah ada penjelasan (bayan) dari As-Sunnah yang merinci bahwa harta yang dikeluarkan dalam zakat fitrah adalah bahan makanan, bukan uang.

Kedua, hadits yang dijadikan dalil adalah dhaif (lemah), karena ada seorang periwayat hadits bernama Abu Ma’syar yang dinilai lemah. Demikianlah menurut Imam Nawawi (al-Majmu’, VI/126), Ibnu Hazm (al-Muhalla, VI/121), Imam Syaukani (Nailul Authar, IV/218), Imam az-Zaila’i (Nashbur Rayah, II/431), Ibnu Adi, (al-Kamil fi adh-Dhu’afa, VII/55), dan Imam Nashiruddin al-Albani (Irwa`ul Ghalil, III/844). Padahal hadits dhaif tidak layak dijadikan dasar hukum.

Kalaupun dianggap sahih, hadits itu bersifat mutlak, tanpa penjelasan bagaimana caranya mewujudkan kecukupan (ighna`). Maka as-Sunnah memberikan pembatasan (taqyid) mengenai caranya, yaitu mengeluarkan zakat fitrah dalam bentuk bahan makanan, bukan dengan uang. (Nada Abu Ahmad, Ahkam Zakat al-Fithr Hal Yajuzu Ikhrajuha Qiimah, hal. 35).

Kesimpulannya, tidak boleh membayar zakat fitrah dalam bentuk uang, melainkan wajib dalam bentuk bahan makanan pokok. Wallahu a’lam. (www.konsultasi.wordpress.com)

Yogyakarta, 28 Agustus 2010

Muhammad Shiddiq al-Jawi

Sumber : http://www.khilafah1924.org/index.php?option=com_content&task=view&id=775&Itemid=33

About these ads

11 Tanggapan to “Bolehkah Zakat Fitrah dengan Uang?”

  1. yudi said

    Ada yang mau saya tanyakan.
    Mohon pencerahan dari rekan sekalian.
    Saat ini istri saya sedang hamil 30 minggu (7,5 bulan)
    Sudah dua minggu ini istri saya tidak puasa, dikarenakan takut ada apa2 dengan istri saya dan
    janin.
    Yang ingin saya tanyakan bagaimana perhitungan fidyah istri saya.
    Kapan waktu pembayarannya.
    Apakah janin saya sudah wajib zakat fitrah??
    Mengingat ruhnya sudah ada??
    Terima kasih.

    • bydone said

      kalau istri anda hanya khawatir terhadap janinnya saja, maka dia hanya wajib mengkodho’ puasanya saja, dn tdk wajib memebayar fidyah, adapun janin yg msih ada di kandungan tdk wajib memebayar zakat fitrah

  2. [...] Filed under: Ekonomi, Ibadah Tagged: zakat, zakat fitrah Konsultasi Islam [...]

  3. Zoehelmy said

    Redaksi pada hadis dalam Ṣaḥīḥ al-Bukhārī bab al-Zakāh nomor urut 1407 menunjukkan bahwa barang yang wajib dikeluarkan pada zakat fitrah adalah satu ṣā‘ kurma atau pun gandum yang merupakan makanan pokok bangsa Arab pada masa itu. Pada hakikatnya, Rasulullah saw. mempertimbangkan suasana lingkungan dan kondisi pada masa itu, ketika mewajibkan pengeluaran zakat fitrah dari jenis makanan yang dimiliki masyarakat dan mudah didapatkan pada masa itu. Karena hal iu lebih meringankan si pemberi dan lebih bermanfaat bagi si penerima. Pada masa itu uang cash tidak mudah didapatkan oleh bangsa Arab seperti pada masa sekarang ini, terutama bagi orang-orang Badui yang hidup di sekitar padang pasir. Sedangkan bahan makanan pokok lebih mudah didapatkan oleh mereka dan orang-orang miskin memerlukannya. Oleh karena itulah Beliau mewajibkan zakat fitrah dengan apa yang mudah bagi mereka untuk mengeluarkannya. Bahkan beliau pernah mengizinkan orang-orang Badui yang memiliki ternak unta, sapi atau domba membayar zakat fitrah dengan aqiṭ (susu yang dikeringkan setelah dikeluarkan lemaknya) karena itu mudah bagi mereka.
    Seiring berkembangnya peradaban Islam, yang mana kondisi masyarakat mulai mengalami peningkatan. Wilayah kekuasaan Islam juga meluas ke lar jazirah Arab. Yang tentunya makanan pokok di sana tidak sama seperti di Arab. Sehingga untuk mendapatkan makanan pokok seperti yang disebutkan di dalam naṣ sangat sulit didapatkan. Pada masa Imam-imam Mazhab, para fuqahā’ dan mujtahid memperbolehkan membayar zakat fitrah dengan makanan pokok yang tersedia di daerah masing-masing. Bahkan ada yang membolehkan membayar zakat fitrah dengan harga makanan pokok (uang), jika itu lebih bermanfaat bagi mustaḥīq.
    Pada masa sekarang ini, yang mana kondisi masyarakat sudah berubah sangat drastis dibandingkan dengan masa Rasulullah dulu, uang cash lebih mudah didapatkan daripada makanan pokok. Karena mayoritas masyarakat sekarang tidak lagi bertani untuk mendapatkan makanan pokok, melainkan membelinya di pasar. Selain itu, kebutuhan seseorang terutama pada Hari Raya semakin meningkat tidak hanya sebatas makanan pokok. Sehingga akan lebih bermanfaat jika diberikan zakat dalam bentuk uang cash agar bisa dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan lainnya di Hari Raya. Bayangkan jika di Indonesia misalnya, yang jumlah penduduk beragama Islam mencapai 200.000.000 jiwa, seluruhnya membayar zakat fitrahnya dengan beras, maka akan menghabiskan 200.000.000 ṣā‘ atau sekitar 500.000 ton beras, tentu ini akan menghabiskan stok beras di pasar-pasar.
    Demikian juga dalam hal waktu pembayaran zakat fitrah yang disebutkan dalam hadis yaitu sebelum Shalat Idul Fitri. Dalam Fatḥ al-Bārī dijelaskan batasan waktu wajib pembayarannya adalah antara terbit fajar tanggal 1 Syawal sampai sebelum Shalat Idul Fitri. Waktu yang sesingkat itu hanya cukup untuk membayar zakat fitrah lalu mendistribusikannya kepada para mustaḥīq, mengingat sedikitnya jumlah masyarakat Islam pada saat itu dan mereka masih saling mengenal satu sama lain, sehingga mereka bisa dengan mudah mengetahui siapa-siapa yang membutuhkan zakat fitrah tersebut. Jadi tidak ada problem mengenai singkatnya waktu untuk itu.
    Pada masa para sahabat, ruang lingkup masyarakat Islam sudah mulai meluas, jarak antara tempat tinggal mereka satu sama lain mulai berjauhan, sehingga waktu antara shubuh hingga Shalat Idul Fitri tidak lagi mencukupi. Mengingat hal itu, para sahabat berijtihad untuk membayarkan zakat fitrah satu-dua hari sebelum Idul Fitri.
    Pada masa Imam-imam mazhab, ketika Islam telah menyebar semakin luas, mereka membolehkan membayar zakat fitrah sejak pertengahan Ramadhan. Bahkan mazhab syafi‘iyyah membolehkan membayar zakat fitrah sejak awal Ramadhan.

    Sumber: Yusuf Al-Qarḍāwī, Kaifa Nata‘ammal ma‘a al-Sunnah al-Nabawiyyah.

  4. Zoehelmy said

    Adakalanya seseorang, dengan hanya berpegang pada makna harfiah suatu sunnah atau hadis, tidak menerapkan magza dari sunnah itu sendiri. Bahkan mungkin ia malah melakukan apa yang berlawanan dengannya, meskipun secara lahiriah terlihat berpegang padanya.
    Yang perlu dipertanyakan lagi adalah, apakah sikap memepersulit atas manusia benar-benar dapat dianggap sebagai sikap mengikuti sunnah Nabi saw.? atau justru bertentangan dengan ruh sunnah yang bersemboyan “yassir wa lā tu’assir”?

    • jokondo said

      betul kang, cara berfikir yang terlalu harfiah begini ujung-ujungnya hanya akan menyulitkan umat dan mengundang kegelian sebagian orang. pakai akal dikit dong.

  5. Abi Iqbal said

    Saya setuju pendapat Zoehelmy,jawaban Muhammad Siddiq al- Jawi di atas nampak ambigu,antara berpegang teguh pada manthuq hadits dan mengamalkan mafhumnya. Mestinya kalau Siddiq konsis berpegang kepada manthuq hadits, zakat Fitri tdk boleh tidak harus dengan apa yg disebutkan Rasul.Ghalib quut al-balad adalah hasil pemahaman ulama’ terhadap mafhum hadits,yg sejatinya juga sama dengan daf’ul Qimah yang diperbolehkan Hanafiyah

  6. anang esbe said

    mbok menurut al qur’an dan as sunnah saja. bukankah pegangan kita hanya dua itu??? dan bukan pendapat para ulama. kalau pake pendapat para ulama jadinya kita kaya’ orang nu yang suka taqlid

  7. jokondo said

    fatwa yang mengharuskan pakai beras klo bayar fitrah itu dalam konteks zaman sekrang jelas menyulitkan sebagian orang. klo mau harfiah memahami nash mestinya klo bayar juga pakai kurma, gandum, bukan beras. mana pernah Nabi dan sahabat bayar zakat fitrah pakai beras? diperbolehkannya pakai beras itu sudah pemahaman ulama untuk kemaslahatan dan kemudahan bersama. demikian juga fatwa boleh pakai uang, itu juga untuk kemaslahatan dan kemudahan bersama.

  8. ragil sugirto said

    dilingkungan sya tidak banyak yang mengkonsumsi nasi singkong( nasi tiwul) jika diwajibkan membayar dengan bahan makanan yang dikonsumsi pasti saya sebagai amil zakat kebingungan untuk mebagi atau menyalurkan kesiapa sedang yang membayar hanya satu keluarga itu saja, tolong yang berkenan memberikan solusi ini kepada saya

  9. dedy purwanto said

    saya mau tanya… apa hukum membeli beras pada yang menerima zakat, sudah kita terima beras nya kita zakat lagi kepada yang menjual tadi? tolong jwaban nya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 952 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: