Konsultasi Islam

Mengatasi Masalah dengan Syariah

Agar Anak Tidak Keras Kepala

Posted by Farid Ma'ruf pada 1 Maret 2011

Pertanyaan :

Assalamu’alaikum Wr.Wb
Ibu Pengasuh Rubrik Konsultasi, saya memiliki anak perempuan yang sekarang sudah kelas 5 SD. Sifatnya keras sekali, kalau dinasihati tidak mau mendengarkan. Bagaimana menghadapi anak yang keras dan maunya sendiri seperti ini? Terus terang saya memang juga keras. Saya suka ngeyel dan susah dinasihati suami. Saya juga tidak sabaran. Tapi kenapa bisa sama ya dengan anak saya. Apakah sifat ini diturunkan? Terima kasih penjelasannya.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb
Hamba Allah
Jawaban :

Wa’alaikumsalam Wr.Wb.

Ibunda yang baik,
Insya Allah saya bisa memahami kegelisahan Anda. Banyak orang tua mengeluhkan hal yang sama, merasa khawatir bahkan terkadang kesal ketika menghadapi anak yang suka melawan, memberontak dan berkemauan keras. Anak seperti ini biasanya terlihat sangat keras kepala, susah diatur, kukuh pada kemauannya, selalu merasa benar dan cenderung mengabaikan perkataan orang lain. Sebelum Anda mencoba mengatasi atau menghilangkan sikap keras anak, cobalah cari tahu dulu sebabnya. Yang pasti bukan karena keturunan.
Ada sejumlah faktor yang dapat memengaruhi timbulnya kebiasaan buruk tersebut, antara lain adalah pola asuh orang tua, perilaku orang tua dan ketidakkompakan antara ayah dan ibu. Orang tua yang terlalu membebaskan anak tanpa kontrol membuat anak merasa benar sendiri dan tidak mau mendengarkan orang tuanya. Selama masa perkembangan, sosok yang dekat dengan anak adalah orang tuanya, terutama ibu. Ketika orang tua (ibu) berperilaku demikian (berkemauan keras, suka membantah), maka anak akan dengan cepat mengimitasi perilaku tersebut. Dan salah satu hal yang juga penting dalam pendidikan anak adalah kekompakan dalam menerapkan pola asuh. Ketika ada penerapan aturan yang berbeda antara ayah dan ibu misalnya, maka anak akan mengalami kebingungan. Dan biasanya anak akan cenderung memilih aturan-aturan yang lebih menyenangkan untuknya.

Ibunda yang baik,
Menjalin kedekatan dengan anak adalah cara terbaik menangani anak yang keras kepala. Komunikasi dua arah antara orang tua harus terjalin dengan baik. Misalnya, ketika Anda memerintahkan sesuatu, jangan hanya sekadar memerintah, yakinkan bahwa anak paham maksud dari perintah tersebut. Sebaliknya, ajak anak berbicara dan tanyakan alasannya, mengapa dia membantah atau bersikeras dengan pendapatnya. Bila alasannya tidak tepat, beri larangan tegas namun tetap disertai kesabaran. Cara ini akan memberikan pemahaman tentang batasan pada anak, tanpa membuatnya merasa ditolak atau tidak dicintai.
Sebagai orang tua, Anda harus pandai meredam emosi. Bila tidak, Anda sendirilah yang nantinya kewalahan. Berbicaralah dari hati ke hati. Tanyakan apa yang menjadi keinginannya. Misal, ketika anak Anda menginginkan pergi ke suatu tempat dan Anda melarangnya. Kemukakan dengan bijak alasan Anda melarangnya. Jelaskan pada anak dengan bahasa yang ia mengerti, mengapa suatu hal diperintahkan dan hal lain dilarang. Yang harus diingat, jangan bersikap kasar atau terlampau keras pada anak. Bersikap lembut dan penuh kasih sayang akan sangat membantu. Karena dengan begitu, anak akan merasa bahwa teguran atau larangan yang Anda sampaikan, bukan karena benci, melainkan karena rasa sayang Anda padanya. Jangan lupa berikan pujian ketika anak berperilaku baik, walau hanya dengan pelukan atau belaian. Anak yang “keras” bisa jadi karena kurang mendapatkan/mera-sakan penghargaan dari orang tuanya.

Ibunda yang baik,
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa posisi tubuh bisa mempengaruhi proses berpikir seseorang. Orang yang berdiri kaku, atau duduk dalam posisi yang menyesakkan, akan membuat otaknya tidak bisa bekerja optimal dan kondisi emosional menjadi tidak stabil. Ketika menghadapi anak yang sedang emosional dan ngotot mempertahankan pendapatnya, cobalah meredakannya dengan mengganti posisi tubuhnya. Jika sedang duduk, ajaklah ia bergerak ke ruangan yang lain. Bukankah Islam juga telah mengajarkan tentang hal ini? Sikap keras, biasanya dibarengi dengan emosi yang meletup, dan tidak jarang kemudian menimbulkan ketegangan dan kemarahan.
“Jika salah seorang di antara kalian marah sementara dia berdiri, maka hendaklah ia duduk sehingga kemarahannya hilang. Jika belum juga hilang maka hendaklah ia berbaring.” (HR Ahmad dan Abu Dawud)
Ajaklah anak duduk jika ia berdiri dengan tegang, sentuh pundaknya, dan katakan dengan lembut, ”Ayo duduk dulu, umi mau mendengar pendapatmu lebih jelas lagi.” Demikian ibunda, Mudah-mudahan ananda kelak akan menjadi anak yang membanggakan orang tuanya.[www.konsultasi.wordpress.com]

Sumber : Tabloid Media Umat edisi 48

About these ads

Satu Tanggapan to “Agar Anak Tidak Keras Kepala”

  1. andi risma said

    Terkadang saya jg sebagai ortu terlalu arogan, egois. Mau menang sendiri dan merasa mama lebih tau dr anak.setelah membaca ini Smoga sy dpt bs lebih bijak lg thdp anak anak .Terimakasih atas informasinya. Ini sangat bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 963 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: