Konsultasi Islam

Mengatasi Masalah dengan Syariah

Perbedaan Nabi dan Rasul

Posted by Farid Ma'ruf pada 21 November 2006

Pertanyaan,

Assalamu’alaikum wr. wb.
Saya mau bertanya tentang bab Nabi dan Rasul di kitab Syakhsiyah-1:
1. Apa sebenarnya latar belakang penulisan bab ini? Karena ta’rif yang diambil hanya berdasar dari penafsiran, yang kurang jelas argumentasinya. Juga tidak dibahas ta’rif menurut ulama lain, dan bagaimana tarjihnya.
2. Sekilas ada ketidakkonsistenan tentang ta’rif tersebut, terutama ketika membahas nabi Adam. Apakah nabi Adam itu hanya nabi, atau nabi dan Rasul?
Mohon jawaban.

Jawab-1

Pembahasan tentang perbedaan Nabi dan Rasul termasuk pembahasan furu dalam masalah Aqidah. Pengertian Nabi dan Rasul menjadi salah satu topik bahasan di kalangan para Ulama dan terjadi ikhtilaf diantara mereka. Ini terjadi pada masa mutakallimin, persis seperti pembahasan apakah Rasul itu melakukan ijtihad atau tidak? Qadha dan Qadar, apakah kemaksuman para Nabi itu setelah diutus atau juga sebelumnya? dst. Adapun maksud pembahasan dalam kitab ini, kalau kita perhatikan secara cermat, lalu kita kaitkan dengan topik-topik bahasan yang lain, terlebih lagi jika kita kaitkan dengan konsep dasar tabanni, kita bisa menyimpulkan bahawa maksud pembahasan tidak lain kecuali untuk mengurai masalah Aqidah yang telah terlanjur menjadi topik diskusi serta perdebatan, dan dikembalikan pada platform bahwa Aqidah harus berdasarkan dalil qath’I, dan berikutnya mendudukkan pengertian Rasul dan Nabi dengan mengacu pada nash-nash yang syara’.

Memang banyak sekali pendapat tentang definisi Nabi dan Rasul, dan masing-masing pendapat tersebut berdasarkan dalil. Misalnya Imam Al-Farra’; beliau menyatakan bahwa Rasul adalah yang diutus oleh Allah pada makhluq dengan mengutus Jibril AS, sedangkan Nabi nubuwwahnya terjadi melalui ilham atau melalui mimpi. Menurut beliau setiap Rasul itu Nabi tapi tidak semua Nabi itu Rasul. Sementara Imam Al-Mahdawy menyatakan: inilah yang benar; setiap Rasul itu Nabi, dan tidak semua Nabi itu Rasul. Al-Qadhi Ibnu Iyadh dalam kitab Asy-Syifa’ menyatakan hal yang sama.

Beliau mengacu pada Hadits dari Abu Dzar, bahwa sesungguhnya para Rasul adalah bagian dari para Nabi yang jumlahnya (para Rasul) 313 orang, Rasul yang pertama adalah Adam AS sedangkan yang terakhir adalah Muhammad SAW.

Lebih lanjut Imam Syafi’I menyatakan: ketahuilah bahwa sesungguhnya para Nabi dan Rasul Shalawatullahi wa Salamihi Alaihim Ajma’in diutus oleh Allah untuk para hamba-Nya dan mereka banyak (jumlahnya), pertama dari mereka adalah Adam, bapak manusia,Alaihi As-Salam, yang nasab seluruh manusia kembali padanya dan yang terakhir dari para Nabi dan Rasul adalah Muhammad Al-Musthafa Shalawatullahi wa Salamihi Alaihi wa Alaihim Ajma’in. Diriwayatkan dari Abu Dzar RA bahwa para Nabi itu (jumlahnya) 124.000 dan 313 dari mereka adalah Rasul. wajib atas kita untuk mengimani seluruh Nabi dan Rasul Alaihim Ash-Shalatu wa As-Salam.Adapun perbedaan antara Rasul dan Nabi adalah, kalau Rasul itu pemilik/ shahib syariat, sedangkan Nabi adalah orang yang diutus dengan syariat yang dibawa oleh Rasul, jadi setiap Rasul adalah Nabi tapi tidak semua Nabi itu Rasul.

Abu Muhammad Al-Barbahary menyatakan:… mereka telah menyebutkan banyak sekali perbedaan antara Nabi dan Rasul, yang terbaik dari definisi-definisi tersebut adalah siapapun yang Allah menyampaikan padanya berita dari langit; jika Allah memerintahkan padanya untuk menyampaikan pada yang lain maka dia adalah Nabi sekaligus Rasul, tapi jika tidak diperintahkan padanya untuk menyampaikan pada yang lain, dia adalah Nabi dan bukan Rasul. Dengan begitu Rasul itu lebih spesifik dibanding Nabi, setiap Rasul adalah Nabi tapi tidak semua Nabi itu Rasul. Sementara itu menurut Al-’Allamah At-Taftazani pengertian Nabi dan Rasul itu sama. Sebagian Ulama’ yang lain berpendapat bahwa Rasul itu lebih luas dibanding dengan Nabi, karena para Rasul itu bisa dari kalangan Malaikat dan Manusia, sebagaimana firman Allah SWT:

“Allah memilih utusan-utusan (Nya) dari malaikat dan dari manusia; sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (TQS Al-haj:75).

Imam Suyuthi berpendapat bahwa Rasul dan Nabi tidaklah sama, dalilnya Surah Al-Haj ayat 52. Dalam tafsir Al-Qur’an Al-Adzim, ketika beliau menjelaskan ayat 52 dari Surah Al-Haj, beliau menyatakan dia adalah Nabi yang diperintahkan untuk menyampaikan (syariat yang dibawa). Ada pula yang menyatakan bahwa Rasul adalah orang yang diberi mukjizat sekaligus (ada) kitab yang diturunkan padanya. Sedangkan Nabi yang bukan Rasul adalah orang yang tidak memiliki kitab. Ada pula yang menyatakan yang disebut dengan Rasul adalah siapa saja yang malaikat datang padanya dengan membawa wahyu; sedangkan Nabi, wahyu dinyatakan padanya dan juga bagi orang yang wahyu sampai padanya biasanya melalui mimpi. Ada pula yang menyatakan bahwa yang dimaksud Rasul adalah manusia yang diwahyukan atasnya syariat dan diperintahkan untuk menyampaikan, baik dia punya kitab atau tidak, sedangkan Nabi adalah siapa saja yang diwahyukan padanya syariat, adakalanya dia diperintahkan untuk menyampaikan dan adakalanya tidak.

Al-Allamah Al-Baidhawi ketika memberikan penjelasan atas ayat 52 Surah Al-Haj, beliau juga menjelaskan bahwa Rasul adalah orang yang Allah mengutusnya dengan syari’at baru dan mengajak masyarakat kepada syariat tersebut. Sedangkan Nabi adalah siapa saja yang Allah mengutusnya untuk mentaqrirkan syariat sebelumnya sebagaimana para Nabi dari Bani Israel (yang hidup) diantara Musa dan Isa AS, karena itulah Nabi SAW menyerupakan para Ulama’ dari umat beliau sebagaimana Nabi dari Bani Israel, maka Nabi lebih umum dibanding dengan Rasul. Inilah antara lain pendapat para ulama’ tentang pengertian Nabi dan Rasul.

Mendudukkan masalah,

Dari diskripsi para Ulama diatas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

Bahwa Rasul adalah siapa saja yang diwahyukan padanya syariat dan syariat tersebut merupakan risalah baginya, artinya dia diutus dengan syariat baru. Atau seperti yang ditegaskan Imam Syafi’I bahwa yang dimaksud dengan Rasul adalah pemilik/ shahib syariat. Lebih gamblang lagi apa yang dinyatakan oleh Al-Allamah Al-Baidhawy bahwa yang dimaksud dengan Rasul adalah siapa saja yang Allah mengutusnya dengan syariat baru dan menyeru manasia pada syariat tersebut.

Untuk definisi Nabi ada tiga macam. Pertama, Nabi adalah siapa saja yang Allah menyampaikan padanya berita dari langit, dan tidak diperintahkan padanya untuk menyampaikan pada yang lain, artinya siapa saja yang menerima syariat Allah tapi dia tidak diperintahkan untuk menyampaikan pada manusia. Kedua, orang yang diutus dengan syariat yang dibawa oleh Rasul atau dengan kata lain siapa saja yang diutus oleh Allah untuk mentaqrirkan syariat (Rasul) sebelumnya (dan mengajak manusia pada syari’at tersebut).Ketiga, Nabi adalah manusia yang diwahyukan padanya syariat, adakalanya dia diperintahkan untuk menyampaikan dan adakalanya tidak.

Sebelum kita mengurai tiga definisi tersebut mana yang paling tepat ada baiknya kita perhatikan patokan untuk menilai benar dan tidaknya suatu ta’rif atau definisi. Sebagaimana kita ketahui bahwa syarat suatu definisi atau ta’rif itu dikatakan tepat jika memenuhi dua kriteria. Pertama,jami’an. Artinya definisi tersebut mencakup seluruh unit yang didefinisikan secara sempurna. Kedua, mani’an, artinya definisi tersebut dapat mencegah masuknya unsur diluar yang didefinisikan.

Kalau kita perhatikan definisi-definisi diatas yang memenuhi dua kriteria tersebut adalah yang kedua. Definisi ini tepat untuk menjelaskan tentang Nabi Harun AS, beliau adalah Nabi dan bukan Rasul karena Allah mewahyukan syariat padanya dan bukan risalah beliau tapi merupakan risalah Musa AS. Demikian pula kalau kita perhatikan hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, bahwa yang melakukan ri’ayah atas orang Bani Israel adalah para Nabi, ketika seorang Nabi meninggal akan diganti dengan Nabi baru, lalu Rasulullah SAW menyatakan dengan ungkapan tapi tidak ada Nabi sesudahku dan akan ada para khulafa’ dan jumlahnya banyak. Dari Hadits ini dapat diambil pemahaman bahwa para Nabi tersebut tidak membawa syariat baru, karena beliau menganalogkan posisi para Nabi tersebut sebagaimana para Khalifah sepeninggal beliau. Maka Al-Allamah Al-Baidhawi menyatakan:… oleh karena itulah Nabi SAW menyerupakan para Ulama’ dari kalangan umat beliau layaknya para Nabi dari Bani Israel….

Sedangkan definisi yang pertama dan ketiga, tidak atau kurang sempurna dan kurang aplicable. Adapun definisi-definisi yang lain kalau kita perhatikan lebih bersifat sebagai pelengkap dan untuk memperjelas.

Dengan demikian maka dapat kita definisikan bahwa Rasul adalah, siapa saja yang diwahyukan syariat padanya(sebagai risalah dia) dan diperintahkan padanya untuk menyampaikannya. Sedangkan Nabi adalah, siapa saja yang diwahyukan padanya syariat orang lain dari para Rasul(bukan risalah dia) dan diperintahkan untuk menyampaikannya. Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa setiap Rasul itu Nabi dan tidak sebaliknya. Sebagai contoh Musa AS, beliau Nabi karena beliau diwahyukan pada beliau syariat, beliau juga Rasul mengapa? Karena syariat yang diwahyukan pada beliau juga merupakan risalah bagi beliau. Sedangkan Harun AS, beliau adalah Nabi karena diwahyukan pada beliau syariat, tapi beliau bukanlah Rasul karena syariat yang diwahyukan pada beliau bukanlah risalah untuk beliau. Jadi fokus perbedaan Rasul dan Nabi itu bukan pada adanya perintah untuk menyampaikan syariat pada manusia atau tidak, tapi pada risalah yang ia sampaikan, jika itu merupakan risalah dia sendiri maka dia adalah Rasul, tapi jika itu merupakan risalah Rasul yang lain maka dia bukan Rasul tapi Nabi.

Jawab-2,

Tidak tepat kalau akhi al-kariem katakan bahwa ada inkonsistensi dalam definisi, lebih tepat kalau dikatakan ada pengecualian. Sebagaimana pembahasan panjang lebar pada jawab-1 bahwa definisi Rasul adalah, siapa saja yang diwahyukan padanya syariat dan diperintahkan padanya untuk menyampaikan (mentablighkannya). Sedangkan Nabi adalah siapa saja yang diwahyukan padanya syariat orang lain dan diperintahkan untuk menyampaikan(mentablighkannya). Jadi disini jelas yang membedakan antara Nabi dan Rasul adalah syariat yang diwahyukan, kalau syariat tersebut merupakan risalah bagi dia maka dia Nabi sekaligus Rasul, tapi jika syariat tersebut merupakan risalah orang lain maka dia Nabi. Definisi ini berlaku untuk seluruh Nabi dan Rasul. Untuk masalah Nabi Adam AS memang ada hal yang perlu diperhatikan, Adam AS adalah Nabi yang ditetapkan dengan wahyu, tidak lain.

Allah swt berfirman:

” Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia. Kemudian Tuhannya memilihnya maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk“.(TQS Thaaha:121-122).

.(TQS Thaaha:121-122).

Pengertian ??????? adalah ????? yang artinya memilihnya. Pada ayat lain Al-Qur’an juga menunjukkan bahwa Allah memberikan perintah dan larangan pada Adam AS, perintah dan larangan adalah syariat. Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman:

“Hai Adam diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim“.(TQS Al-Baqarah:35).

TQS Al-Baqarah:35).

Apalagi pada masa Adam tidak ada nabi yang lain dan ini adalah suatu yang qath’i. selain itu kenabian Adam juga ditetapkan berdasarkan sunnah Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi, demikian pula dengan ijma’ Shahabat. Jadi Nabi Adam AS adalah Nabi dengan wahyu, tidak lain. Ketika beliau di Surga beliau adalah Nabi, sebagaimana keterangan yang tercantum dalam Al-Qur’an, beliau menerima syariat dari Allah SWT. Setelah beliau diturunkan ke dunia beliau diperintahkan oleh Allah SWT untuk tabligh risalah yang diturunkan Allah SWT padanya. Jadi Adam AS ketika di Surga beliau adalah Nabi saja, tapi begitu beliau diturunkan ke dunia dan beliau diperintahkan oleh Allah untuk tabligh/ menyampaikan risalah yang datang dari Allah, beliau adalah seorang Nabi sekaligus Rasul. wallahu a’lam.

Mustofa Ali Murtadlo

Publikasi : http://www.syariahpublications.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: