Konsultasi Islam

Mengatasi Masalah dengan Syariah

Ikhwan – Akhwat Bercanda, Bolehkah?

Posted by Farid Ma'ruf pada 3 Mei 2007

Pertanyaan :

Bolehkah kita bercanda dengan teman akhwat? Misalnya teman satu kelas, satu kampus, satu kepanitiaan, tetangga, temannya adik, dan lain-lain?

Jawaban :

BERCANDA DENGAN LAWAN JENIS

Canda (gurauan) dalam bahasa Arab disebut mizah atau mumazahah. Al-Jailany dalam Syarah Al-Adabul Mufrad, mendefinisikan canda adalah berbicara secara ramah dan menciptakan kegembiraan terhadap orang lain (Ath-Thahthawi, Senyum dan Tangis Rasulullah, hlm. 116). Hukumnya mubah menurut An-Nawawi (An-Nawawi, Al-Adzkar, hlm.279). Dalilnya, hadits dari Abu Hurairah RA, bahwa para shahabat bertanya,” Wahai Rasulullah, sesungguhnya Anda telah mencandai kami.” Rasulullah saw. menjawab “Sesungguhnya tidaklah aku berbicara, kecuali yang benar.” (HR Tirmidzi, al-Adzkar, hlm. 279).

Jadi, bercanda itu hukumnya mubah, asalkan sesuai syari’ah. Itu secara umum. Lalu bolehkah bercanda dengan lawan jenis yang bukan mahram? Jawabnya, boleh (mubah) sepanjang sesuai syariah. Dalilnya, karena Rasulullah pernah mencandai seorang gadis yatim di rumah Ummu Sulaim. Rasul berkata kepada gadis yatim itu, ”Engkau masih muda, tapi Allah tidak akan membuat keturunanmu nanti tetap muda. “ Ummu Sulaimah lalu berkata,”Hai Rasulullah, Engkau berdoa kepada Allah bagi anak yatimku, agar Allah tidak membuat keturunannya tetap muda. Demi Allah, ya memang dia tidak muda selama-lamanya.” (HR. Ibnu Hibban, dari Anas bin Malik RA) (Ath-Thahthawi, Senyum dan Tangis Rasulullah, hlm. 134; Nasy’at Al-Masri, Senyum-senyum Rasulullah, hlm. 65-66).

Jadi, bercanda dengan lawan jenis non-mahram, juga mubah berdasarkan dalil di atas. Baik itu di dunia nyata maupun di dunia maya seperti via e-mail, chatting, atau kirim-kiriman SMS. Tetapi, meski mubah secara syar’i, wajib diperhatikan beberapa rambu syariahnya. Di antaranya :

Pertama, materi canda :

1. Tidak mengolok-ngolok/mempermainkan ajaran Islam

2. Tidak menyakiti perasaan

3. Tidak mengandung kebohongan, ghibah (menggunjing), dan kecabulan

4. Tidak melampaui batas, yakni tidak membuat melalaikan kewajiban dan tidak menjerumuskan pada yang haram (‘Aadil bin Muhammad Al-‘Abdul ‘Aali, Pemuda dan canda, hlm. 38-44)

Kedua, pihak wanita tidak boleh genit, baik dalam perkataan tulisan, maupun dalam tingkah laku. (QS. Al-Ahzab:32).

Ketiga, wajib menutup aurat dan menjaga pandangan (ghadhdhul bashar) (QS. An-nur:31), dan tidak boleh berkhalwat (menyendiri berdua).

Keempat, jika dalam kehidupan umum (seperti kampus), wajib dipenuhi syaratnya : (1) dalam rangka melakukan aktivitas yang dibolehkan syariah (seperti belajar mengajar)è (misalnya : Bapak dosen yang mengajar di kelas sedikit melucu agar suasana cair/sebagai ice breaker – red. KI), dan (2) interaksi itu mengharuskan pertemuan (ijtima’) antara pria dan wanita. Jika tidak mengharuskan pertemuan – alias bisa dikerjakan masing-masing – maka tidak boleh ada interaksi, sehingga tidak boleh ada canda. Misalnya, aktivitas makan-makan di kantin, dll. Ini semua tidak boleh dilakukan secara bersama. (Taqiyuddin An-Nabhani, An-Nizham al-Ijtima’I fi al-islam, hal. 40). Wallahu a’lam. (www.konsultasi.wordpress.com)


Komentar Redaksi Konsultasi Islam :

Jadi, sebaiknya sangat berhati-hati untuk bercanda dengan lawan jenis. Baik di dunia nyata ataupun di dunia maya (email, chatting, SMS) karena bisa jadi akan menuju kepada perbuatan haram. Kalau memang ingin bercanda, masih banyak obyek lain yang halal, misalnya dengan teman sesama jenis, atau dengan istri.


Sumber Jawaban : Rubrik Konsultasi Fikih, Majalah Sobat Muda, Edisi 2 / Tahun I Oktober 2004 diasuh oleh Ust. Muhammad Shiddiq al-Jawi.

Iklan

10 Tanggapan to “Ikhwan – Akhwat Bercanda, Bolehkah?”

  1. ====
    Kalau memang ingin bercanda, masih banyak obyek lain yang halal, misalnya dengan teman sesama jenis, atau dengan istri.
    ===

    oh jadi , istri cuma sebagai obyek toh …. ” obyek lain yang halal ”
    kasihan …..

  2. Hamba-Nya said

    suami juga “obyek” bagi istrinya. saya rasa kalau anda memahami kaidah bahasa Indonesia, kalimat di atas bukanlah masalah. Mungkin anda terlalu banyak terpengaruh para feminis sehingga merasa “risih’ dengan kalimat itu.
    kasihan…

  3. Vivi said

    Memang sekarang ini pergaulan antara wanita dan laki2 cederung bebas. Termasuk dalam bercanda. Kalau kita tidak tau batasannya maka kita akan terjerumus dalam perbuatan maksiat. Naudzubillah minzalik…

  4. annisfaiz said

    bercanda ikhwan-akhwat?
    kalau diperlukan, tidak ada salahnya, manusia pasti punya sifat humoris, hanya kadarnya saja yang berbeda-beda…

    kalau dalam keseharian, asal tidak melampaui batas dan tahu kaidah2nya,
    tapi harus benar2 dijaga…

    kalau dalam organisasi, bila diperlukan, bila suasana sudah terasa tegang, mungkin ada selisih paham, silahkan bercanda, tapi jangan sering2, nanti bukan berorganisasi, kelompok humor malahan jadinya…

    danke schoen…

  5. titok priastomo said

    kalo bisa bahasa arab, jangan pake bahasa jerman

  6. as said

    aduh afwan, belum ijab qabul?

    truz kalo lewat telpon ada sedikit tawa?

    waaaaa, ya Allah ya Rahman ya Rahim tolonglah hamba tuk dzikir, syukur, dan beribadah padamu serta makin memahami kehendak-Mu.

  7. abuabdilbarr said

    Assalamu’alaikum
    Sebuah Catatan Tentang Pergaulan Para Aktivis Islam

    Oleh Abu Abdil Barr Al-Atsary

    Sesungguhnya segala puji hanyalah milik Alloh subhanahu wa ta’ala, sholawat dan salam untuk orang yang tidak ada lagi nabi setelahnya yaitu Muhammad shollallohu ’alaihi wa sallam, keluarganya, para sahabatnya, dan orang yang berjalan diatas petunjuknya.

    Amma ba’du:

    Islam adalah agama yang lurus, agama yang sesuai dengan fitroh manusia.[1] Alloh telah menciptakan manusia dengan fitroh, dan menurunkan agama Islam sesuai dengan fitroh tersebut. Sehingga semua aturan-aturan Islam sesuai dengan fitroh manusia dan hati manusia pun cenderung pada kebenaran (Islam) karena Islam adalah fitroh manusia.[2] Ketika muncul penyimpangan atau pelanggaran terhadap aturan-aturan Alloh (Islam) maka fitroh manusia akan menolaknya, hati akan merasa tidak tenang dan ragu, perasaan akan terusik dan gelisah, dan akal yang jernih akan merasakan rancu dan janggal.[3]
    selengkapnya di: http://abuabdilbarr.wordpress.com/2007/06/20/ipb-islami-atau-pergaulan-bebas/

  8. rizQ said

    waaahhh…bahaya tuh klo keterusan..bisa2 terserang VMJ..
    becarefull ajah..dah bnyak case…
    akhir2nya malah bilang pacaran islami>

  9. wanti said

    asal bisa jaga aja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: