Konsultasi Islam

Mengatasi Masalah dengan Syariah

Hadiah dan Undian di Dalam Produk

Posted by Farid Ma'ruf pada 22 Juni 2007

Pertanyaan: Para pedagang sekarang ini biasanya meletakkan hadiah di dalam barang-barang dagangan mereka dalam bentuk nomor yang dimasukkan di dalam barang (kemasan) serta nomor pemenang yang berhak mendapatkan hadiah. Atau dalam bentuk lembaran yang di dalamnya ditulis jenis hadiah yang bisa diambil dari pedagang tersebut. Atau hadiah itu sendiri ada di dalam barang yang dijual. Atau pedagang tersebut membuat pengumuman, bahwa siapa saja yang membeli dengan jumlah tertentu, maka dia berhak mendapatkan sejumlah bonus, atau yang sejenis.

Apakah praktek tersebut termasuk bai’ al-gharar (jual-beli yang bersifat manipulatif) ataukah praktek tersebut dibolehkan?

Jawab: Bai’ al-gharar (jual beli yang bersifat manipulatif) hukumnya batil. Barang yang diperjualbelikan harus ma’lûm (diketahui dengan jelas). Jika barang yang diperjualbelikan diketahui dengan jelas, maka hukum jual beli tersebut sah. Jika tidak, maka ketidakjelasan barang yang diperjualbelikan tersebut menjadikan jual beli tadi hukumnya batil.

Adapun kondisi yang disebutkan di atas, faktanya berbeda, sehingga hukumnya juga berbeda dengan bai’ al-gharar:

  1. Memberi sesuatu kepada orang yang membeli sejumlah barang tertentu sebagai tambahan atau hadiah hukumnya boleh. Jual beli tersebut juga sah. Tambahan tersebut termasuk hibah dan hukumnya juga sah.
  2. Meletakkan hadiah tertentu yang diketahui dengan jelas (ma’lûm) di dalam barang tertentu yang juga diketahui dengan jelas (ma’lûm) barangnya, seperti sendok, jam anak-anak, dan sebagainya; atau di dalamnya diletakkan satu lembaran yang tertulis hadiah, agar pembeli yang mendapatkannya pergi ke pedagang tersebut untuk mengambil hadiah atau bonus yang diketahui dengan jelas tertulis di lembaran tersebut, maka praktek seperti ini juga boleh. Jual-beli itu pun hukumnya sah selama barang yang dibeli tersebut diketahui dengan jelas (ma’lûm), misalnya (kotak plastik dan di dalamnya terdapat kotak kecil sebagai hadiah). Jual beli ini pun sah, karena harga kotak plastik yang di dalamnya terdapat jam —yang merupakan hadiah— tersebut telah dibayar. Jika di dalamnya ternyata tidak ada hadiahnya, maka itu juga boleh. Karena yang dibeli adalah kotak plastik, dan telah dibayar harganya. Penjual tidak terikat untuk memberikan hadiah di kotak plastik tersebut. Jika di dalamnya ada hadiah hukumnya juga boleh. Dan jika tidak ada pun hukumnya juga boleh.
  3. Adapun menjual kotak yang tertutup dan tidak diketahui apa sisi di dalamnya, kadang kotak itu kosong, kadang di dalamnya ada barang yang nilainya di atas harga yang dibayarkan, atau sama, atau kurang dari harga yang dibayarkan, maka yang seperti ini adalah jual-beli yang bersifat manipulatif (bai’ al-gharar). Jual beli seperti ini tidak boleh.
  4. Dicantumkannya nomor di barang tertentu yang sudah diketahui dengan jelas (ma’lûm), lalu pemiliknya dikenakan pungutan keikutsertaan dalam memperebutkan hadiah, maka praktek ini lebih layak disebut al-maysir (judi). Hal itu karena di dalam praktek al-maysir (al-qimâr [judi]), pihak yang menang mendapatkan dari pihak yang kalah, atau pihak yang beruntung mendapatkan dari pihak yang tidak beruntung. Setiap perkara di mana di dalamnya beberapa orang terlibat dalam bentuk, bahwa yang menang akan mendapatkan dari yang kalah, maka praktek seperti ini termasuk judi.

Seandainya beberapa orang bermain kartu dan orang yang menang mendapatkan sesuatu dari yang kalah, maka itu hukumnya sama dengan judi. Jika dua orang berlomba mengendarai kuda atau naik tangga atau mobil, dan orang yang menang dalam pertandingan itu mengambil dari yang kalah, maka statusnya sama dengan judi.

Jika sepuluh orang menuliskan nama mereka atau nomor di kartu, lalu mereka letakkan di sebuah kotak dan mereka menarik satu kartu, kemudian pemilik kartu itu mengambil dari mereka yang tidak keluar kartunya, maka itu pun merupakan bentuk judi dan hukumnya haram. Begitu seterusnya.

Sekarang, kita lihat nomor-nomor yang diletakkan di dalam barang yang dibeli kemudian diundi. Umumnya, penjual telah memperhitungkan harga hadiah tersebut. Misalnya, hadiah yang diundi nilainya seribu dinar, terletak pada nomornya 50. Nomor itu kemudian diletakkan bersama nomor lain di setiap kotak dari sepuluh ribu kotak, di mana nomor 1 diletakkan di kotak pertama, nomor 2 di kotak kedua, nomor 3 di kotak ketiga dan seterusnya hingga nomor 10,000 diletakkan di kotak ke sepuluh ribu, dan di antaranya terdapat nomor 50 (di kotak ke lima puluh). Penjual kemudina memasukkan (perhitungan) harga hadiah (seribu dinar) di dalam harga sepuluh ribu kotak, sehingga dia tidak menjual kotak tersebut dengan harga aslinya, yaitu satu dinar per kotak, tetapi dia menjual dengan harga 1 dinar 10 qirsy per kotak. Pada saat dilakukan pengundian, setelah terjual ke sepuluh ribu kotak itu, maka berarti penjual tersebut telah mendapatkan tambahan sebanyak 10,000 x 10 qirsy = 1000 dinar, yaitu harga hadiah yang dia bayarkan kepada pemenang. Maka pemenang telah mendapatkan hadiah dari harta para pembeli lain yang tidak beruntung nomornya, meski praktek tersebut tidak diumumkan (dirahasiakan).

Hal ini, meski ada kemungkinan bahwa hadiah itu diletakkan tanpa ada tambahan dalam harga jual barang, sebagai cara untuk mendorong customer, namun ini merupakan kemungkinan yang lemah, khususnya pada saat hadiah tersebut nilainya besar seperti undian mobil atau sejenisnya.

Dalam semua kondisi tersebut, meski tidak didasarkan kepada nomor-nomor orang yang tidak beruntung, maka itu termasuk dalam perkara-perkara syubhat.

Karena itu, saya nasehatkan agar saudara-saudara yang membeli barang yang ada nomor undiannya, untuk tidak ikut dalam undian tersebut. Hendaknya mereka menyobek nomor yang ada di dalam barang yang dibeli sehingga setan tidak bisa menggoda mereka supaya terus memperhatikan undian tersebut. (www.konsultasi.wordpress.com)

Sumber : HTI Online

Iklan

2 Tanggapan to “Hadiah dan Undian di Dalam Produk”

  1. ria said

    bagaimana dg dorprise?
    Kdg,kita ikt dlm acr2 d kmpus, misal yg baru2 ini sy hadiri, ad lomba fashion show kucing.
    Kmudian penonton dpungut tiket dg hrg tttu.
    Dlm tiket tdpt no undian yg akn diumumkan pd akhr acr.
    Hadiah ny sdh jelas, sbuah handphone.
    Bagaimana hkm nya?

    Tanggapan :
    Jk doorprize diambil dr uang tiket peserta, ya itu haram. Tp klo doorprize adl dr dana panitia sendiri atay dr donatur (tdk ambil dr peserta), baru boleh.

  2. Aww. Pajak karena memperoleh undian berhadiah apakah boleh dibayarkan, atau hadiahnya tidak usah diambil?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: