Konsultasi Islam

Mengatasi Masalah dengan Syariah

Menghadiahkan Pahala Bacaan al-Quran

Posted by Farid Ma'ruf pada 6 Januari 2008

SOAL :

Assalaamu’alaikum,

Ustadz, bolehkah kita menghadiahkan bacaan al-Fatihah untuk Rasulullah saw., atau untuk saudara-saudara kita baik yang sudah meninggal maupun yang masih hidup? Idham

[Majene, Sulsel]

JAWAB :

‘alaikumussalam,

Dik Idham, ketika seseorang menghadiahkan pahala membaca al-Quran kepada orang yang sudah meninggal, para ulama berbeda pendapat, apakah pahalanya akan sampai atau tidak. Imam Malik dan Imam Syafi’i berpendapat pahalanya tidak sampai. Sedangkan Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad berpendapat pahalanya sampai (Imam ad-Dimasyqi, Rahmatul Ummah, hal. 53; Imam Mubarakfuri, Tuhfat al-Ahwadzi, hadits No. 605; Imam Syamsul Haq-Abadi, ‘Aun al-Ma’bud, hadits. No. 2494)

Ulama yang berpendapat pahalanya tidak sampai kepada si mati, berdalil dengan ayat:

“dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.(QS an-Najm [53]: 39)

Ibnu Katsir menyatakan,”Dari ayat ini, Imam Syafi’i dan para pengikutnya menyimpulkan bacaan al-Quran tidak akan sampai pahalanya jika dihadiahkan kepada orang yang telah mati. Sebab bacaan al-Quran itu bukan berasal dari perbuatan maupun usaha si mati.“ (Tafsir Ibnu Katsir, IV/259)

Namun para ulama yang berpendapat pahalanya sampai, berpendapat lain. Mereka mengatakan keumuman ayat di atas telah dikecualikan (di-takhsis) dengan berbagai dalil khusus yang menyatakan sampainya pahala ibadah/ketaatan kepada si mati (Imam Syaukani, Fathul Qadir, V/114).

Menurut Imam Syaukani dalil sahnya hadiah pahala bacaan al-Quran untuk orang yang sudah mati adalah sabda Nabi saw., “Bacakanlah kepada orang-orang yang sudah meninggal di antara kamu surat Yasin” (Arab: iqra`uu ‘ala mautaakum yaasiin) (HR Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, al-Hakim; hadits hasan, Imam As-Suyuthi, al-Jami’ al-Shaghir, I/52).

Maksud mautaakum dalam hadits itu ialah “orang-orang yang sudah meninggal di antara kamu”, bukan “orang-orang yang hendak meninggal di antara kamu”. Demikian penegasan Imam Syaukani yang mengartikan mautaakum dalam makna hakikinya (makna sebenarnya), untuk membantah ulama seperti al-Khaththabi yang mengartikannya secara majazi (kiasan), yaitu “orang-orang yang hendak meninggal.” (Nailul Authar, hal. 776-778; Subulus Salam, II/91).

Pengasuh cenderung kepada pendapat Imam Syaukani ini, bahwa hadits itu hendaknya diartikan dalam makna hakikinya, bukan makna majazinya. Sebab sebagaimana dinyatakan oleh Imam Taqiyuddin an-Nabhani, jika suatu kata dapat diartikan secara hakiki dan majazi secara bersamaan, maka mengartikannya dalam makna hakiki adalah lebih kuat (rajih), sedang mengartikannya dalam makna majazi adalah lemah (marjuh) (asy-Syakhshiyyah al-Islamiyah, III/143).

Atas dasar itulah, menurut pengasuh, jika kita menghadiahkan pahala bacaan al-Quran kepada Rasulullah saw., para imam dan ulama, atau saudara-saudara kita yang sudah meninggal, insya Allah pahalanya akan sampai kepada mereka.

Namun jika saudara-saudara kita masih hidup, hadiah pahala bacaan al-Qur`an itu tidak akan sampai. Sebab di sini berlaku mafhum mukhalafah (pengertian kebalikan) dari hadits di atas, yaitu janganlah kamu bacakan Yasin kepada orang-orang yang masih hidup di antara kamu. (www.konsultasi.wordpress.com)

 

 

Rubrik konsultasi fikih ini diasuh oleh Ustadz Muhammad Shiddiq al-Jawi, alumnus Pondok Pesantren al-Azhar Bogor, Peneliti pada SEM (Shariah Economic Management) Institute Jakarta.

 

Sumber : Majalah Sobat Muda

 

About these ads

5 Tanggapan to “Menghadiahkan Pahala Bacaan al-Quran”

  1. temp berkata

    Bagaimana dengan banyak isi dari alqur’an seperti :

    “Dan kami turunkan Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar (penyembuh penyakit fisik maupun rohani) dan rahmat bagi orang yang beriman kepada-Nya. “(QS. Al-Isra’ : 82)”

    “Dan bahwasanya seseorang tidak memperoleh selain apa yang telah di usahakannya. “(QS. An- Najm : 39)”

    dan Hadist seperti :

    “Sebaik-baik orang di antara kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari – Muslim)”

    “Jika manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara : Shodaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang mendo’akannya. “(HR. Muslim)”

    Adapun jika anak si mayit yang membaca Al-Qur’an, maka pahalanya akan sampai kepadanya, karena anak adalah hasil usaha ayahnya. Ini adalah pendapat ulama, diantaranya Al-Imam Asy- Syafi’i Rahimahullah.

    Yang perlu di pertanyakan, bagaimana mungkin Al-Qur’an bisa memberi manfaat kepada si mayit, yang semasa hidupnya suka meninggalkan sholat, suka berbuat maksiat, dan perbuatan dosa yang lainnya ? Bahkan Al-Qur’an sendiri malah memberinya kabar gembira dengan kecelakaan dan siksa.

    Allah Ta’ala tidaklah menurunkan Al-Qur’an yang mulia ini melainkan agar di baca, di pahami dan diamalkan isinya. Yang berupa perintah hendaknya dikerjakan dengan ikhlas dan sesuai dengan contoh dari Rasulullah Shollallahu ‘alahi wa sallam dan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum ajmai’in. Adapun yang berupa larangan hendaknya di jauhi dengan sejauh-jauhnya. Dan tentu tidak ada yang dapat melakukannya melainkan orang yang hidup yang masih sehat akal dan fikirannya serta masih terjaga fitrahnya. Sehingga jelaslah, bahwa Al-Qur’an memang untuk orang hidup bukan untuk orang mati.

  2. dnuxminds berkata

    Assalamu’alaykum wr wb

    Mas temp sepertinya campur baur dalam menyamakan perintah “membacakan alquran” dengan “diterimanya bacaan tersebut bagi mayit”.

    Menurut saya, membacakan AlQuran (termasuk menghadiahkan bacaan) adalah perintah tertentu yang pembacanya mendapatkan pahala dari bacaannya itu, sedangkan perkara apakah kemudian bacaan itu bermanfaat bagi mayit adalah perkara lain.

    Sama seperti kita diperintahkan berdoa untuk menghilangkan musibah dan lain lain. Berdoa adalah perintah yang bila dikerjakan berpahala, sedangkan apakah musibah itu hilang atau tidak dengan do’a kita, maka itu adalah hak-nya Allah semata saja.

    Demikian menurut pendapat ana.

    Wassalam, dnux.

  3. noe berkata

    kepada pengasuh :

    Dengan berdasar pada “Bacakanlah kepada orang-orang yang sudah meninggal di antara kamu surat Yasin”, apakah boleh dibawa dalil khusus ini (surat Yasin) menjadi kebolehan membacakan surat surat lainnya di dalam AlQuran kepada mayyit ? apa tidak cukup membatasi kepada surat Yasin saja yang boleh dibacakan kepada mayyit ?

    wassalam. noe

  4. ridza berkata

    punten pa mau nanya ni… sy pria umur 27 tahun dan Alhamdulillah sdh bekerja dan mapan… tp sy ada masalah yg menurut sy sangat penting yakni tenteng jodoh…
    sy ada sedikit keraguan dengn siapa sy nanti akan menghabiskan sisa hidup saya… sy mohon bantuannya u/ berbagi sedikit ilmu dan surat serta bacaan apa yg sy dapat amalkan untuk mencari tau jawabannya.. krn tiada yg tau hidup saya nanti dan terbaik selain Alloh…
    kl tdk keberatan sy minta tolong dikirim ke email sy saj… trimakasih semoga bantuan bpk dapat bermanfaat bwt saya dan menambah pahala bagi bapak..terima kasih sebelumnya

  5. risa berkata

    saya cupit asli padang lo.. menurut saya hadis nabi yang mengatakan bacakanlah yasin bagi orang yang yelah meninggal adalah cara orang yang hidup mebahagiakan/membantu orang yang telah meniggal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 929 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: