Konsultasi Islam

Mengatasi Masalah dengan Syariah

Hukum Memutus Hubungan (Muqatha’ah) dengan Sesama Muslim

Posted by Farid Ma'ruf pada 9 November 2008

Soal:

Bagaimana hukum memutus hubungan (muqatha’ah) dengan sesama Muslim? Apakah dengan muqatha’ah tersebut berarti sama dengan mengkafirkan seseorang? Jika tindakan tersebut dinisbatkan kepada tindakan Nabi terhadap Ka’ab dan kawan-kawan, apakah ini hanya hak kepada negara, atau hak semua orang?

Jawab:

Pertama, harus didudukkan bahwa memutus hubungan (muqatha’ah) dengan sesama Muslim adalah hukum syara’ yang diberlakukan untuk menyelesaikan masalah tertentu yang terjadi dalam hubungan antara sesama Muslim. Hukum ini tidak ada kaitannya dengan masalah takfir (pengkafiran) seorang Muslim. Dengan kata lain, orang yang diputus hubungannya oleh yang lain, bukan berarti dianggap Kafir. Sebaliknya, dia tetap Muslim, namun karena sifat tertentu yang melekat padanya, maka kepadanya diberlakukan hukum muqatha’ah tersebut.

Dalam konteks inilah, Ibn Baththal menyatakan, bahwa Allah mempunyai hukum yang mengandung kemaslahatan bagi hamba-hamba-Nya. Dia Maha Tahu akan urusannya, maka mereka harus tunduk pada perintah-Nya dalam urusan tersebut.[1]

Kedua, ada hadits yang melarang memutus hubungan (muqatha’ah) dengan sesama Muslim, di antaranya sabda Rasulullah saw.:

لاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثِ لَياَلٍ (رواه البخاري)

“Tidaklah halal bagi seorang Muslim untuk meninggalkan saudaranya lebih dari tiga malam.” (Hr. Bukhari)

Makna: an yahjura, atau bentuknya mashdar-nya hajr adalah lawan dari kata: washl, atau memutus hubungan.[2] Secara harfiah (manthuq), hadits ini melarang seorang Muslim memutus hubungan dengan sesama Muslim lebih dari tiga hari. Dari hadits ini juga bisa dipahami, berdasarkan mafhum mukhalafah, bahwa memutus hubungan sesama Muslim diperbolehkan, kurang dari tiga hari.[3]

Namun, larangan tersebut dikecualikan terhadap orang yang melakukan maksiat. Dalam kitab Fath al-Bari: Syarh Shahih al-Bukhari, Ibn Hajar al-Asqalani, mengomentari judul bab: Bab Ma Yajuzu min al-Hijran liman ‘Asha (Memutus Hubungan yang Diperbolehkan terhadap Orang yang Maksiat), dengan menyatakan: Dengan penjelasan ini, beliau (al-Bukhari) ingin menjelaskan hukum memutus hubungan yang diperbolehkan. Karena keumuman dari larangan tersebut sebenarnya hanya berlaku untuk orang yang diputus hubungannya tanpa alasan yang dibenarkan syariah. Dari sini tampak, bahwa alasan diperbolehkannya memutus hubungan berlaku untuk orang yang melakukan maksiat.[4]

Ibn al-Mulhib menyatakan, bahwa memutus hubungan yang diperbolehkan itu beragam, sesuai dengan kadar kesalahanya. Terhadap orang yang melakukan maksiat, maka diperbolehkan memutus hubungan dengan cara tidak berbicara dengannya, sebagaimana dalam kisah Ka’ab bin Malik dan kedua temannya (Murarah dan Hilal). Terhadap keluarga atau teman karena faktor marah, boleh memutus hubungan dengan tidak menyebut nama, atau bermuka masam, tetapi dengan tetap berbicara, mengucapkan dan menjawab salam kepadanya.[5]

Menurut at-Thabari, kasus Ka’ab bin Malik adalah dasar untuk memutus hubungan dengan orang yang melakukan maksiat.[6] Dalam uraiannya, Ibn Hajar mengomentari pernyataan Abdullah bin Zubair, ketika di­­-muqatha’ah oleh ‘Aisyah: fainnahu la yahillu laha qathi’athi (Maka, tidak halal baginya untuk memutus hubungan kekerabatan denganku), dengan menyatakan: Jika memutus hubungan denganku sebagai sanksi atas dosaku, maka pasti akan lama. Jika tidak, maka memutus hubungan secara permanen itu akan menyebabkannya memutus silaturrahim. Menurut Ibn Hajar, alasan ‘Aisyah melakukan itu karena Abdullah bin Zubair, yang nota bene masih keponakannya sendiri itu, telah melakukan kesalahan besar. Masih menurutnya, ‘Aisyah melakukan itu karena tindakan memutus hubungan dengan tidak mau berbicara dengan Abdullah bin Zubair itu memang diperbolehkan, sebagaimana yang dilakukan Nabi terhadap Ka’ab dan kedua temannya, sebagai sanksi atas kemaksiatan mereka.[7]

Karena itu, konteks tindakan Nabi terhadap Ka’ab bin Malik, Murarah dan Hilal itu dipahami oleh para sahabat, termasuk ‘Aisyah dan Abdullah bin Zubair, bukan hanya hak kepala negara, sehingga tindakan yang sama tidak bisa dilakukan oleh orang biasa, seperti ‘Aisyah. Tetapi, sebaliknya dengan tindakan muqatha’ah yang dilakukan oleh ‘Asiyah ini, maka tindakan tersebut bisa dilakukan oleh siapapun terhadap siapapun.

Imam an-Nawawi juga menjelaskan, bahwa hadits yang memerintahkan untuk memutus hubungan dengan ahli bid’ah, orang fasik[8] dan para penyerang sunah itu jumlahnya banyak. Maka, menurutnya, memutus hubungan secara permanen pun diperbolehkan. Karena itu, larangan memutus hubungan dengan kaum Muslim lebih dari tiga hari itu tidak berlaku untuk ahli bid’ah, orang fasik dan sejenisnya. Para sahabat, tabiin dan generasi pasca mereka pun senantiasa memutus hubungan dengan siapa saja yang melanggar sunnah atau orang yang ucapannya rusak (mafsadah).

Ibn ‘Abd al-Barr juga menyatakan hal yang sama, bahwa para ulama’ sepakat; siapa saja yang takut berbicara dengan seseorang, dimana dengan berbicara tersebut bisa menyebabkan agamanya rusak atau memudaratkan urusan dunianya, maka dia diperbolehkan untuk memutuskan hubungan dengan orang tersebut.[9]

Ketiga, tentang mengucapkan dan menjawab salam dalam konteks muqatha’ah, dalam hal ini hukumnya bisa dikembalikan pada alasan muqatha’ah-nya. Jika alasan muqatha’ah-nya bukan karena faktor maksiat, melainkan karena faktor marah terhadap keluarga atau teman, maka mengucapkan dan menjawab salam tetap diperintahkan.[10] Namun, jika alasan muqatha’ah-nya karena faktor maksiat, dan orang yang di-muqatha’ah tersebut layak dihukumi, minimal sebagai orang fasik, maka mengucapkan dan menjawab salam tidak diperintahkan. Dalam kitab Faidh al-‘Allam fi Syarh Arba’ina Haditsan fi as-Salam, Sayid Shalih bin Ahmad al-‘Idrus, menjelaskan: Salam kepada orang fasik, ahli bid’ah dan pelaku dosa besar tidak disunahkan. Bahkan, tidak sepatutnya mengucapkan dan menjawab salam mereka.[11] Imam as-Suyuthi juga menyatakan pandangan yang hampir sama.[12]

Sebagaimana penjelasan at-Thabari di atas, dasarnya bisa dikembalikan kepada tindakan Nabi dan para sahabat untuk tidak mengucapkan dan menjawab salam Ka’ab bin Malik, Murarah dan Hilal. Karena inilah pijakan dasar dalam memutus hubungan dengan orang yang melakukan maksiat.[13] Wallahu a’lam.


[1] Ibn Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari bi Syarh Shahih al-Bukhari, Bait al-Afkar ad-Duwaliyyah, Saudi, t.t., juz III, hal. 2671.

[2] Ibn Mandzur, Lisan al-‘Arab, Dar al-Fikr, Beirut, t.t., juz V, hal. 250.

[3] Imam an-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, Dar al-Fikr, Beirut, t.t., juz XVI, hal. 117.

[4] Ibn Hajar al-Asqalani, Ibid, juz III, hal. 2671.

[5] Ibid, juz III, hal. 2671.

[6] Ibid, juz III, hal. 2671.

[7] Ibid, juz III, hal. 2670-2671.

[8] Tentang Ahli bid’ah dan penyerang sunnah sudah jelas, maka tidak perlu dijelaskan lagi. Tetapi, tentang orang fasik, penting untuk dijelaskan. Kata: Fasaqa, menurut Ibn Mandzur, artinya keluar dari kebenaran. Menurut istilah ahli fikih, fisq (masdar dari fasaqa), adalah tindakan melakukan dosa besar dengan sengaja, atau terus-menerus melakukan dosa kecil, yang tidak perlu ditakwilkan lagi. Tidak taat kepada amir adalah bentuk kemaksiatan, yang oleh Nabi disebut sama dengan tidak taat kepada beliau (Hr. Ahmad, Ibn ‘Iwanah, Ibn Hibban dan Ibn Huzaimah). Dengan kata lain, tidak taat kepada amir merupakan dosa besar. Tindakan tidak taat kepada amir itu saja, menurut definisi fasik di atas, sudah cukup menjadikan pelakunya sebagai orang fasik, apalagi ketidaktaatan tersebut dilakukan dengan bangga, tanpa perasaan bersalah. Bahkan, kemudian mengembangkan fitnah bahwa amirnya maksiat. Tidak hanya itu, orang tersebut juga memprovokasi orang lain untuk melawan amirnya, sebagaimana yang dia lakukan. Maka, orang tersebut telah melakukan tiga dosa besar sekaligus: (1) Dosa tidak taat kepada amir; (2) Dosa memfitnah amir dengan sesuatu yang sebenarnya tidak dia lakukan; (3) Dosa memprovokasi orang lain untuk melakukan perlawanan terhadap amirnya. Terhadap orang seperti ini berlaku hukum muqatha’ah di atas, termasuk perintah untuk memeriksa semua informasi yang bersumber dari orang tersebut. Lihat, Ibn Mandzur, Lisan al-‘Arab, juz X, hal. 308; Rawwas Qal’ah Jie, Mu’jam Lughat al-Fuqaha’, Dar an-Nafais, Beirut, cet. I, 1996, hal. 315.

[9] Lihat, Tanwir al-Hawalik, juz I, hal. 655.

[10] Ibid, juz III, hal. 2671.

[11] Al-‘Alim al-Ushuli as-Sayid Shalih bin Ahmad al-‘Idrus, Faidh al-‘Allam fi Syarh Arba’ina Haditsan fi as-Salam, Mathba’ah ar-Rushaifah, Malanj, Indonesia, t.t., hal. 9.

[12] Lihat, Syamsuddin ar-Ramli, Nihayat al-Muhtaj Ila Syarh al-Minhaj, t.t., juz XXVI, hal. 366.

[13] Lihat, Ibn Hajar, Ibid, juz III, hal. 2671.

Sumber : www.hizbut-tahrir.or.id

Iklan

14 Tanggapan to “Hukum Memutus Hubungan (Muqatha’ah) dengan Sesama Muslim”

  1. Assalaamu ‘alaikum wr. wb.
    Ada hal yang sangat janggal dari tulisan ini, yaitu cap fasik bagi orang-orang yang menentang amirnya (pemimpinnya).
    1. Kalau orang yang menentang amirnya dianggap fasik, maka Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah juga fasik, karena beliau menentang perintah Khalifah al-Ma’mun yang memaksa beliau untuk mengakui bahwa al-Qur`an adalah makhluq. Sementara Imam Ahmad tetap bersikeras pada keyakinannya bahwa al-Qur`an adalah kalamullah. Penentangan Imam Ahmad ini terjadi hingga dua khalifah setelah Khalifah al-Ma’mun. Jika Imam Ahmad dianggap fasik, maka periwayatan dari Imam Ahmad harus ditolak, termasuk hadits tentang munculnya kembali Khilafah ‘alaa minhaajin nubuwwah.
    2. Jika Ka’ab bin Malik radhiyallaahu ‘anhu yang tidak ikut Perang Tabuk dianggap sebagai orang fasik karena tidak mengikuti perintah Rasulullah saw sebagai Amir Daulah (pemimpin negara), maka hadits-hadits riwayat Ka’ab bin Malik ra juga harus ditolak, termasuk hadits tentang Bai’atul Aqabah II. Seharusnya terhadap Ka’ab dikatakan bahwa Ka’ab adalah orang yang baik walaupun beliau pernah bersalah. Taubat Ka’ab bin Malik pun terukir indah dalam al-Qur`an.
    3. Jika setiap yang orang yang menentang amir adalah fasik, maka Sultan Salim juga fasik. Karena pada tahun Sultan Salim dari Kesultanan Utsmaniyah menentang Khalifah al-Musta’shim billah (Khalifah Bani Abbasiyah terakhir) dan merampas kekhilafahan dari Khalifah tersebut. Apa yang dilakukan oleh Sultan Salim ini justru disambut gembira oleh kaum muslimin di Mesir, Syam, Hijaz, dan India. Kekhilafahan Islam yang sangat lemah karena banyak menyimpang dari Syariat Islam di masa Bani Abbasiyah akhir, akhirnya mulai kuat kembali. Jika Sultan Salim dianggap fasik, maka beliau tidak sah menjadi Khalifah, karena salah satu syarat menjadi khalifah adalah adil, tidak boleh fasik. Berarti Khilafah Utsmaniyah tidak sah.
    Seharusnya sebagai seorang yang takut kepada Allah, sang penulis hendaknya tidak gegabah mengcap fasik terhadap orang-orang yang menentang amirnya. Tidak selamanya orang yang menentang amirnya itu salah. Dan tidak selamanya seorang amir itu benar. Pun sebaliknya tidak boleh gegabah pula mencap amir yang salah dengan cap fasik. Namun hendaknya jika ada perselisihan antara pemimpin dan yang dipimpin maka seharusnya dikatakan kepada kedua belah pihak hendaknya kalian kembali kepada al-Qur’an dan as-Sunnah. Karena al-Qur`an dan as-Sunnah adalah wahyu Allah dan tidak mungkin salah. Jika keduanya menjadi wahyu Allah sebagai pemutus siapa yang benar siapa yang salah insya Allah akan baik hasil akhirnya. Kondisi inilah yang seharusnya diciptakan. Yang dipimpin tidak takut mengkritik pemimpinnya. Yang dipimpin senang dengan kritikan yang dipimpinnya, selama kritikannya didasarkan pada al-Qur`an dan as-Sunnahya.
    Jika yang mengkritik dianggap fasik, lalu dengan anggapan itu sang amir memerintahkan seluruh anggotanya untuk memboikot orang yang mengkritiknya, maka yang terjadi pasti perlawanan. Keadaan pun meruncing. Muncul kubu-kubu. Mulailah caci maki menjadi bumbu pembicaraan. Naudzubillaahi min dzalik.
    Sebenarnya banyak hal yang janggal dari tulisan dengan judul Hukum Memutuskan Hubungan dengan Sesama Muslim. Namun setidaknya kekeliruan dalam menghukumi seseorang sebagai fasik, dan dengan kekeliruan itu dijadikan dasar melegalisasi pemutusan hubungan dengan sesama muslim, sebenarnya sudah cukup untuk membatalkan tulisan tersebut.
    Ya Allah jagalah lisan ini dari mencaci maki saudara kami. Ya Allah berkahilah ilmu yang telah Engkau rizkikan kepada kami agar bermanfaat bagi kaum muslimin, bukan menjadi bencana bagi kaum muslimin. Ya Allah, lembutkanlah hati kami, agar kami saling menyayangi kaum muslimin karena Engkau. Ya Allah bukakanlah mata kami, agar dapat menyadari bahwa musuh sebenarnya bagi kami adalah kafir harbi dan ahlu bid’ah munkafirat. Ya Allah jadikan tulisanku ini ikhlas semata-mata untuk membela aqidah dan syariatMu. Ya Allah kabulkanlah doa kami ini. Amin.

  2. Mumuh said

    Artikel ini tidak memperhatikan kaidah penulusuran pendapat yang lengkap. Tulisan ini tertolak secara kajian ilmiah!

  3. Menurut sy yg punya blog ini tdk tanggungjawab, bernai nyediain ruang konsultasi/diskusi/soal jawab, tapi pertanyaan yg diajukan tdk dijawab, beberapa waktu lalu ada beberpa pertanyaan yang diajukan oleh Abdullah, koq malah dihapus sebelum dijawab, payah org ini, mending hapus aja blognya daripada nyesatin orng……….

  4. Jazakallah atas pembahasannya di blog ini.
    Mudah2an menjadi pelajaran bagi kita semua.
    MOga dlm perjuangan dakwah ini kita semua bersih dan senantiasa semangat untuk membela Islam!!

  5. زهير said

    @ Mumuh
    Maksudnya “kaidah penelusuran pendapat yang lengkap” itu seperti apa?

  6. indra said

    Assalamualaikum ustadz..
    kaifa haluk…
    untuk pembela islam…
    mugatha`ah yang disampaikan oleh hti itu ada 3 kriteria
    yaitu ahli fasik, ahli bid`ah dan penyerang sunnah..
    dan mereka menukil dari pendapat imam dan fuqoha yang tentu kredibel menyampaikan fatwa dan tentu berdasarkan dalil-dalil yang kuat.
    selain itu kasus mugatha`ah pernah juga terjadi dijaman Sahabat NAbi SAW yaitu kasus pencambukan oleh Umar bin Khattab RA kepada Abu Bakrah RA pada kasus perzinaan dimana saudara sepupu beliau memberikan kesaksian palsu. setelah itu Abu Bakrah R.A bersumpah tidak akan pernah bercakap-cakap dengan saudara sepupunya itu. jika itu salah tentu dikoreksi oleh para sahabat Nabi SAW. kisah ini bisa dibaca di tafsir dan tarikh at-Thabari dan yang lainnya. selain itu pernah dimuat pada alwa`ie tahun 2002 bulan juni halaman 34-37 dengan judul kalo gak salah membongkar tuduhan palsu kaum orientalis dan liberalis .
    ini juga saya muat di tempat o solihin. namun beliau hapus komen saya.. saya juga tlah memberi nasihat kepada beliau…
    hanya Allah Swt cukup saksi bagi saya

  7. indra said

    oiya saya ini hanya seorang daris

  8. Andri said

    @ Indra:
    Kasus Abu Bakrah RA tidak ada hubungannya dengan kasus ttg muqotho’ah, tapi itu tentang diterima atau tidaknya periwayatan hadis dari beliau. Orang2 orientalis atau yang memusuhi Islam serta para feminis sering menjadikan dalil ttg ‘kecacatan’ Abu Bakrah RA sehingga hadisnya tidak boleh diterima, terutama ttg pemimpin wanita.

    jadi, tidak ada hubungannya dengan masalah ini. Tolong hati2 dalam memberi kesimpulan. Supaya tidak ditertawakan oleh musuh2 Islam itu sendiri.

    Kepada Ustad Farid M, tolong komentar saya dimuat supaya tidak terjadi fitnah dalam pembahasan ttg masalah ini. Syukron ustad.

    Andri

  9. Muhammad Al-Jawaz said

    Bismillahirrahmanirrahiim
    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu

    Ana ingin menyampaikan nasihat kepada akhi Indra atas pernyataannya yang keliru. Ana harap akhi Farid Ma’ruf meloloskan tulisan ana ini.

    Akhi Indra, kasus Abu Bakrah RA yang dicambuk tidak ada hubungannya dengan kasus Muqatha’ah sesama Muslim. Kasus itu adalah kasus tentang kasaksian Abu Bakrah yang dianggap palsu, berikut kisah lengkapnya:


    Abu Bakrah Dan Kasus “Sumpah Palsu”

    Abu Bakrah, dalam catatan ahli sejarah, sebagaimana dikutip oleh at-Thabari dari al-Waqidi, pernah bersumpah menyaksikan perbuatan serong al-Mughirah bin Syu’bah, yang juga salah seorang sahabat Rasulullah Saw, ketika mereka sama-sama berada di Basrah. Keduanya bertetangga yang dipisah oleh sebuah jalan. Al-Mughirah ditemukan oleh Abu Bakrah dan beberapa orang sedang berada di bawah kedua kaki seorang wanita. Ia kemudian meminta mereka untuk memberikan kesaksian dan mereka sepakat bahwa perempuan itu adalah Ummu Jamil dari suku Amir bin Sha‘sha‘ah yang memang tergila-gila dengan al-Mugirah. Kasus ini terjadi pada zaman ‘Umar ibn al-Khaththab menjadi Khalifah. Setelah mendengar kasus ini, ‘Umar ibn al-Khaththab mengirim Abu Musa al-Asy’ari untuk pergi ke Basrah. Abu Musa tidak bersedia berangkat seorang diri, karena takut ada syubhat dan sebagainya. Karena itu, ia meminta izin untuk membawa serta 29 sahabat, di antaranya Anas ibn Malik, Imran ibn Hushayn, dan Hisyam ibn Amir. Al-Mughirah, Abu Bakrah, Nafi’ ibn Kildah, Syibl ibn Ma’bad al-Bajali, dan Ziyad kemudian berangkat ke Madinah untuk dihadapkan kepada ‘Umar ibn al-Khaththab. Akhirnya, dua dari tiga saksi yang ada, yaitu Nafi’ ibn Kildah dan Syibl ibn Ma’bad al-Bajali, memberikan kesaksian bahwa apa yang dikatakan oleh Abu Bakrah adalah benar; sedangkan Ziyad menyatakan yang berbeda dengan dua saksi sebelumnya, termasuk Abu Bakrah.

    Karena kesaksian ini dianggap tidak cukup, ‘Umar mencambuk mereka (Abu Bakrah, Nafi’ ibn Kildah, dan Syibl ibn Ma’bad al-Bajali) sebanyak 80 kali cambukan. Mereka kemudian diperintahkan agar bertobat. Dua di antaranya, selain Abu Bakrah, telah bertobat (At-Thabari, Târîkh at-Thâbarî, juz II, hlm. 493), sebaliknya Abu Bakrah tidak bersedia sambil menyatakan, “Engkau meminta aku bertobat semata-mata agar engkau dapat menerima kesaksianku?”

    ‘Umar menjawab, “Benar.”

    Abu Bakrah balik menjawab, “Saya wajib untuk tidak bersaksi antara dua perkara (antara kebenaran dan kesalahan bersaksi dalam kasus al-Mughirah) selama-lamanya, selama saya masih hidup.” (bn ‘Abd al-Barr, Al-Isti‘âb, juz IV, hlm. 1615)

    Riwayat tentang kasus pencambukan dan kesaksian Abu Bakrah pada zaman ‘Umar ini banyak dimuat oleh ahli sejarah, seperti at-Thabari, baik dalam kitab Târîkh maupun Tafsîr-nya. Demikian juga Ibn Sa’ad dalam at-Tabaqât al-Kubrâ-nya dan penulis biografi sahabat seperti Ibn ‘Abd al-Barr dalam al-Isti‘âb fî Ma‘rifat al-Ashâb. Di samping itu, riwayat ini juga masyhur di kalangan ahli fikih, Ibn Abi Syibah, dan Abdurrazzaq memuatnya dalam masing-masing kitab Musannaf-nya serta Ibn Qudamah dalam al-Mughnî-nya. Jadi, kisah tentang kesaksian Abu Bakrah ini memang masyhur di kalangan ulama kaum Muslim, baik ahli sejarah, biografi, maupun fikih.

    Berdasarkan berbagai catatan ahli di atas, Abu Bakrah jelas tidak pernah bersumpah palsu atau berbohong. Sebaliknya, Abu Bakrah menyatakan kesaksiannya terhadap perzinaan al-Mughirah ibn Syu’bah dengan Ummu Jamil sebagai kebenaran yang diyakininya, sekalipun ia harus menanggung dua konsekuensi sekaligus:

    Pertama, sebagaimana yang dinyatakannya (dalam catatan Ibn ‘Abd al-Barr), “Saya wajib untuk tidak bersaksi antara dua perkara (antara kebenaran dan kesalahan bersaksi dalam kasus al-Mughirah) selama-lamanya, selama saya masih hidup.” Artinya, jika ia bersedia menarik balik kesaksiannya, atau menganggap tuduhannya adalah palsu, berarti ia telah melakukan kebohongan, yakni dengan menyatakan kebenaran yang disaksikannya sebagai kedustaan. Ini jelas ia nafikan, sekalipun konsekuensinya, ia tidak akan pernah diterima lagi oleh ‘Umar. Inilah konsekuensi pertama dan inilah yang ia pertahankan, “Engkau meminta aku bertobat semata hanya agar engkau dapat menerima kesaksianku?” tanya Abu Bakrah kepada ‘Umar.

    Kedua, sebagaimana yang dinyatakan oleh ahli sejarah, biografi, dan fikih, bahwa akibat ketidakcukupan nishâb saksi, ia terpaksa dicambuk 80 kali. Bahkan, setelah ia tidak bersedia untuk bertobat, dan ketika ditanya balik, apakah al-Mughirah berzina atukah tidak, ia tetap mengulang jawaban yang sama, yang membuat ‘Umar marah dan akan mencambuknya untuk ‘ronde kedua’. Akan tetapi, niat ‘Umar dicegah oleh ‘Ali ibn Abi Thalib, dengan hujah, bahwa Abu Bakrah tidak menyatakan tuduhan baru, selain hal yang sama seperti sebelumnya.(Ibn Abi Syibah, Musannaf, juz II, hlm. 127). Artinya, ia konsisten dengan kesaksiannya, sekalipun ia telah dicambuk dan terpaksa harus menerima cambukan sebanyak 80 kali lagi—meskipun tidak jadi dilakukan.

    Dalam riwayat lain, jika cambukan ‘ronde kedua’ itu jadi dilaksanakan oleh ‘Umar, maka ia wajib merajam al-Mughirah, tetapi akhirnya tidak dilaksanakan oleh ‘Umar.(Ibn Qudamah, al-Mughnî, juz VIII, hlm. 235)

    Dari kasus tersebut dapat dipahami, bahwa akibat penarikan balik Ziyad ibn Abi Sufyan, Abu Bakrah dihadapkan pada dua pilihan. Pertama, bertobat dan menarik balik kesaksiannya, dengan konsekuensi, kesaksiannya kelak akan diterima kembali, yang berarti beliau berbohong atau mendustakan apa yang ia saksikan dengan mata kepalanya sendiri. Kedua, tidak mau bertobat, tidak menarik balik kesaksiannya, yang berarti ia konsisten dengan kebenaran yang ia lihat dengan mata kepalanya; sekalipun konsekuensinya, ia harus dicambuk dan kesaksiannya tidak akan diterima selamanya. Dalam keadaan seperti ini, ia memilih sikap kedua, dan ini merupakan ijtihadnya sekaligus kebenaran yang ia pertahankan sampai meninggal dunia.

    Dari gambaran di atas, tampak dengan sejelas-jelasnya, bahwa Abu Bakrah sebenarnya tidak berbohong dalam kesaksiannya, hanya saja nishâb kesaksian tersebut tidak cukup akibat penarikan balik kesaksian Ziyad ibn Abi Sufyan, saudara seibunya. Ia terpaksa menanggung hukuman cambuk akibat kekurangan nishâb kesaksian tersebut. Pada zaman Mu’awiyah, Ziyad telah dijatuhi tuduhan oleh Mu’awiyah atas “kebohongangan” dalam kesaksiannya yang menyebabkan Abu Bakrah dicambuk, tetapi Abu Bakrah melarang Mu’awiyah untuk melakukannya. Setelah kasus ini, Abu Bakrah bersumpah untuk tidak berbicara dengan Ziyad yang masih saudara seibu dengannya itu hingga meninggal dunia. Ziyad pun akhirnya memenuhi tuduhan Mu’awiyah dan berusaha mendekati anak-anak Abu Bakrah untuk menebus kesalahannya. (Ibn Sa’ad, at-Thabaqât al-Kubrâ, juz VII, hlm. 15)

    —-
    Dengan demikian, akhi Indra harus meralat tulisannya demi kebaikan kaum muslimin dan tidak dianggap menjadi bagian dari orang-orang yang berbohong, penghasud dan pendengki. Hanya karena ingin apa yang dalam pendapatnya benar, sehingga berusaha mencari-cari dalil yang sekiranya cocok. Apalagi dalam hal ini, SANGAT SALAH pengambilan dalil tsb. Naudzubillah min dzalik. Meskipun di akhir kisah ada upaya Abu Bakrah utk tidak mau melakukan komunikasi dengan Ziyad, tapi bukan itu masalah utamanya. Sebab, kemudian Ziyad berusaha untuk menebus kesalahannya tsb. Jadi jangan diambil sepotong-sepotong.

    Terima kasih. Semoga Allah Swt. memberkahi kita semua dan menunjuki kita ke jalan yang benar. Amin.

    Muhammad Al-Jawaz

  10. Muhammad Al-Jawaz said

    Bismillahirrahmanirrahiim
    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu

    Ana ingin menyampaikan nasihat kepada akhi Indra atas pernyataannya yang keliru. Ana harap akhi Farid Ma’ruf meloloskan tulisan ana ini.

    Akhi Indra, kasus Abu Bakrah RA yang dicambuk tidak ada hubungannya dengan kasus Muqatha’ah sesama Muslim. Kasus itu adalah kasus tentang kasaksian Abu Bakrah yang dianggap palsu, berikut kisah lengkapnya:


    Abu Bakrah Dan Kasus “Sumpah Palsu”

    Abu Bakrah, dalam catatan ahli sejarah, sebagaimana dikutip oleh at-Thabari dari al-Waqidi, pernah bersumpah menyaksikan perbuatan serong al-Mughirah bin Syu’bah, yang juga salah seorang sahabat Rasulullah Saw, ketika mereka sama-sama berada di Basrah. Keduanya bertetangga yang dipisah oleh sebuah jalan. Al-Mughirah ditemukan oleh Abu Bakrah dan beberapa orang sedang berada di bawah kedua kaki seorang wanita. Ia kemudian meminta mereka untuk memberikan kesaksian dan mereka sepakat bahwa perempuan itu adalah Ummu Jamil dari suku Amir bin Sha‘sha‘ah yang memang tergila-gila dengan al-Mugirah. Kasus ini terjadi pada zaman ‘Umar ibn al-Khaththab menjadi Khalifah. Setelah mendengar kasus ini, ‘Umar ibn al-Khaththab mengirim Abu Musa al-Asy’ari untuk pergi ke Basrah. Abu Musa tidak bersedia berangkat seorang diri, karena takut ada syubhat dan sebagainya. Karena itu, ia meminta izin untuk membawa serta 29 sahabat, di antaranya Anas ibn Malik, Imran ibn Hushayn, dan Hisyam ibn Amir. Al-Mughirah, Abu Bakrah, Nafi’ ibn Kildah, Syibl ibn Ma’bad al-Bajali, dan Ziyad kemudian berangkat ke Madinah untuk dihadapkan kepada ‘Umar ibn al-Khaththab. Akhirnya, dua dari tiga saksi yang ada, yaitu Nafi’ ibn Kildah dan Syibl ibn Ma’bad al-Bajali, memberikan kesaksian bahwa apa yang dikatakan oleh Abu Bakrah adalah benar; sedangkan Ziyad menyatakan yang berbeda dengan dua saksi sebelumnya, termasuk Abu Bakrah.

    Karena kesaksian ini dianggap tidak cukup, ‘Umar mencambuk mereka (Abu Bakrah, Nafi’ ibn Kildah, dan Syibl ibn Ma’bad al-Bajali) sebanyak 80 kali cambukan. Mereka kemudian diperintahkan agar bertobat. Dua di antaranya, selain Abu Bakrah, telah bertobat (At-Thabari, Târîkh at-Thâbarî, juz II, hlm. 493), sebaliknya Abu Bakrah tidak bersedia sambil menyatakan, “Engkau meminta aku bertobat semata-mata agar engkau dapat menerima kesaksianku?”

    ‘Umar menjawab, “Benar.”

    Abu Bakrah balik menjawab, “Saya wajib untuk tidak bersaksi antara dua perkara (antara kebenaran dan kesalahan bersaksi dalam kasus al-Mughirah) selama-lamanya, selama saya masih hidup.” (bn ‘Abd al-Barr, Al-Isti‘âb, juz IV, hlm. 1615)

    Riwayat tentang kasus pencambukan dan kesaksian Abu Bakrah pada zaman ‘Umar ini banyak dimuat oleh ahli sejarah, seperti at-Thabari, baik dalam kitab Târîkh maupun Tafsîr-nya. Demikian juga Ibn Sa’ad dalam at-Tabaqât al-Kubrâ-nya dan penulis biografi sahabat seperti Ibn ‘Abd al-Barr dalam al-Isti‘âb fî Ma‘rifat al-Ashâb. Di samping itu, riwayat ini juga masyhur di kalangan ahli fikih, Ibn Abi Syibah, dan Abdurrazzaq memuatnya dalam masing-masing kitab Musannaf-nya serta Ibn Qudamah dalam al-Mughnî-nya. Jadi, kisah tentang kesaksian Abu Bakrah ini memang masyhur di kalangan ulama kaum Muslim, baik ahli sejarah, biografi, maupun fikih.

    Berdasarkan berbagai catatan ahli di atas, Abu Bakrah jelas tidak pernah bersumpah palsu atau berbohong. Sebaliknya, Abu Bakrah menyatakan kesaksiannya terhadap perzinaan al-Mughirah ibn Syu’bah dengan Ummu Jamil sebagai kebenaran yang diyakininya, sekalipun ia harus menanggung dua konsekuensi sekaligus:

    Pertama, sebagaimana yang dinyatakannya (dalam catatan Ibn ‘Abd al-Barr), “Saya wajib untuk tidak bersaksi antara dua perkara (antara kebenaran dan kesalahan bersaksi dalam kasus al-Mughirah) selama-lamanya, selama saya masih hidup.” Artinya, jika ia bersedia menarik balik kesaksiannya, atau menganggap tuduhannya adalah palsu, berarti ia telah melakukan kebohongan, yakni dengan menyatakan kebenaran yang disaksikannya sebagai kedustaan. Ini jelas ia nafikan, sekalipun konsekuensinya, ia tidak akan pernah diterima lagi oleh ‘Umar. Inilah konsekuensi pertama dan inilah yang ia pertahankan, “Engkau meminta aku bertobat semata hanya agar engkau dapat menerima kesaksianku?” tanya Abu Bakrah kepada ‘Umar.

    Kedua, sebagaimana yang dinyatakan oleh ahli sejarah, biografi, dan fikih, bahwa akibat ketidakcukupan nishâb saksi, ia terpaksa dicambuk 80 kali. Bahkan, setelah ia tidak bersedia untuk bertobat, dan ketika ditanya balik, apakah al-Mughirah berzina atukah tidak, ia tetap mengulang jawaban yang sama, yang membuat ‘Umar marah dan akan mencambuknya untuk ‘ronde kedua’. Akan tetapi, niat ‘Umar dicegah oleh ‘Ali ibn Abi Thalib, dengan hujah, bahwa Abu Bakrah tidak menyatakan tuduhan baru, selain hal yang sama seperti sebelumnya.(Ibn Abi Syibah, Musannaf, juz II, hlm. 127). Artinya, ia konsisten dengan kesaksiannya, sekalipun ia telah dicambuk dan terpaksa harus menerima cambukan sebanyak 80 kali lagi—meskipun tidak jadi dilakukan.

    Dalam riwayat lain, jika cambukan ‘ronde kedua’ itu jadi dilaksanakan oleh ‘Umar, maka ia wajib merajam al-Mughirah, tetapi akhirnya tidak dilaksanakan oleh ‘Umar.(Ibn Qudamah, al-Mughnî, juz VIII, hlm. 235)

    Dari kasus tersebut dapat dipahami, bahwa akibat penarikan balik Ziyad ibn Abi Sufyan, Abu Bakrah dihadapkan pada dua pilihan. Pertama, bertobat dan menarik balik kesaksiannya, dengan konsekuensi, kesaksiannya kelak akan diterima kembali, yang berarti beliau berbohong atau mendustakan apa yang ia saksikan dengan mata kepalanya sendiri. Kedua, tidak mau bertobat, tidak menarik balik kesaksiannya, yang berarti ia konsisten dengan kebenaran yang ia lihat dengan mata kepalanya; sekalipun konsekuensinya, ia harus dicambuk dan kesaksiannya tidak akan diterima selamanya. Dalam keadaan seperti ini, ia memilih sikap kedua, dan ini merupakan ijtihadnya sekaligus kebenaran yang ia pertahankan sampai meninggal dunia.

    Dari gambaran di atas, tampak dengan sejelas-jelasnya, bahwa Abu Bakrah sebenarnya tidak berbohong dalam kesaksiannya, hanya saja nishâb kesaksian tersebut tidak cukup akibat penarikan balik kesaksian Ziyad ibn Abi Sufyan, saudara seibunya. Ia terpaksa menanggung hukuman cambuk akibat kekurangan nishâb kesaksian tersebut. Pada zaman Mu’awiyah, Ziyad telah dijatuhi tuduhan oleh Mu’awiyah atas “kebohongangan” dalam kesaksiannya yang menyebabkan Abu Bakrah dicambuk, tetapi Abu Bakrah melarang Mu’awiyah untuk melakukannya. Setelah kasus ini, Abu Bakrah bersumpah untuk tidak berbicara dengan Ziyad yang masih saudara seibu dengannya itu hingga meninggal dunia. Ziyad pun akhirnya memenuhi tuduhan Mu’awiyah dan berusaha mendekati anak-anak Abu Bakrah untuk menebus kesalahannya. (Ibn Sa’ad, at-Thabaqât al-Kubrâ, juz VII, hlm. 15)

    —-
    Dengan demikian, akhi Indra harus meralat tulisannya demi kebaikan kaum muslimin dan tidak dianggap menjadi bagian dari orang-orang yang berbohong, penghasud dan pendengki. Hanya karena ingin apa yang dalam pendapatnya benar, sehingga berusaha mencari-cari dalil yang sekiranya cocok. Apalagi dalam hal ini, SANGAT SALAH pengambilan dalil tsb. Naudzubillah min dzalik. Meskipun di akhir kisah ada upaya Abu Bakrah utk tidak mau melakukan komunikasi dengan Ziyad, tapi bukan itu masalah utamanya. Sebab, kemudian Ziyad berusaha untuk menebus kesalahannya tsb. Jadi jangan diambil sepotong-sepotong.

    Terima kasih. Semoga Allah Swt. memberkahi kita semua dan menunjuki kita ke jalan yang benar. Amin.

    Muhammad Al-Jawaz

  11. indra said

    Jazakallah untuk Muhammad Al-Jawaz atas koreksi nya di tempat o solihin (Walau o solihin menghapusnya)
    dari apa yang anda tulis itu benar tidak ada yang salah. tapi coba lihat apa yang anda tuliskan diatas yang saya cuplikan disini
    Abu Bakrah bersumpah untuk tidak berbicara dengan Ziyad yang masih saudara seibu dengannya itu hingga meninggal dunia. Ziyad pun akhirnya memenuhi tuduhan Mu’awiyah dan berusaha mendekati anak-anak Abu Bakrah untuk menebus kesalahannya. (Ibn Sa’ad, at-Thabaqât al-Kubrâ, juz VII, hlm. 15)
    dari tulisan anda diatas telah terjadi kasus mugatha`ah antara Abu Bakrah R.A dengan Ziyad dan itu tidak bisa ditampik wong anda sendiri telah menjelaskannya

    Dengan demikian, akhi Indra harus meralat tulisannya demi kebaikan kaum muslimin dan tidak dianggap menjadi bagian dari orang-orang yang berbohong, penghasud dan pendengki. Hanya karena ingin apa yang dalam pendapatnya benar, sehingga berusaha mencari-cari dalil yang sekiranya cocok. Apalagi dalam hal ini, SANGAT SALAH pengambilan dalil tsb. Naudzubillah min dzalik. Meskipun di akhir kisah ada upaya Abu Bakrah utk tidak mau melakukan komunikasi dengan Ziyad, tapi bukan itu masalah utamanya. Sebab, kemudian Ziyad berusaha untuk menebus kesalahannya tsb. Jadi jangan diambil sepotong-sepotong.
    siapa yag berbohong, penghasud, pedengki ya akhi…….??
    cobalah anda lihat hasil tulisan saya saya mengungkapkan fakta yang terjadi pada kasus Abu Bakrah R.A bahwa terjadi mugatha`ah antara beliau dengan ziyad
    kasus mugatha`ah pernah juga terjadi dijaman Sahabat NAbi SAW yaitu kasus pencambukan oleh Umar bin Khattab RA kepada Abu Bakrah RA pada kasus perzinaan dimana saudara sepupu beliau memberikan kesaksian palsu.
    salahkah tulisan diatas??
    mungkin maksud anda bahwa Abu Bakrah R.A terlibat dalam perzinaan?? bukan seperti itu maksud nya… afwan jika ada kekurangan dalam metode tulisan saya diatas. tapi disini ABu Bakrah R.A memberikan kesaksian tentang perzinaan yang kesaksian beliau tidak diterima walaupun benar akibat dari kesaksian saudara sepupunya yang memberikan kesaksian palsu dari 4 saksi yang diwajibkan/
    kalau dikatan tidak mengulas secara lengkap itu benar, karena tulisan saya diatas itu hanya kesimpulan. kalau mau lengkap ya lihat aja pada kitab klasik yang membahas hal tersebut atau pada alwa’ei yang telah saya tuliskan diatas..
    akhir kisah ada upaya Abu Bakrah utk tidak mau melakukan komunikasi dengan Ziyad, tapi bukan itu masalah utamanya. Sebab, kemudian Ziyad berusaha untuk menebus kesalahannya tsb. Jadi jangan diambil sepotong-sepotong.
    jadi saya bertanya apa yang salah ?? wong masalah utam yang dibahas adalah masalah mugatha`ah??
    bukan masalah kesaksian palsu oleh saudara sepupunya yang mana itu penyebab terjadinya mugatha`ah antara Abu Bakrah R.A dengan Saudaranya
    so apa saya salah mengungkapkan fakta tersebut??

  12. indra said

    selain itu ziyad yang berusaha menebus dosanya tidaklah menampik telah terjadi kasus mugatha`ah ya akhi..
    afwan jika ada tulisan ini yang salah tolong dikoreksi

    karena sesama muslim harus salling menasihati baik dalam kebenaran maupun dalam kesabaran
    wassalam (YAHHHHHH jika tulisan ini dimuat )

  13. indra said

    Jazakallah untuk Muhammad Al-Jawaz atas koreksi nya di tempat o solihin (Walau o solihin menghapusnya)ini salah tulis.
    afwann yang benar
    jazakallah untuk Muhammad Al-Jawaz atas koreksi nya di tempat o solihin (Walau o solihin menghapus komen saya tentang hal tersebut)

  14. indra said

    oiya saya ingin memberi ilustrasi kepada anda kalian semua

    ada beberapa orang yang mana telah mengadakan suatu kesepakatan kerjasama dalam bisnis . mereka telah bersepakat dan menyetujui mnggunakan akad mudharabah misalnya
    dalam beberapa tahun perusahaan mereka berkembang pesat dan maju sehingga perusahaan mereka menjadi jaminan dalam bisnis mereka tersebut.
    tapi kemudian timbullah kasus dari salah seorang mereka ternyata ada penipuan dan melakukan korupsi besar-besaran sehingga mereka bangkrut.
    malah teman-teman nya yang ikut bersepakat dan bekerja sama pun dipenjara oleh temannya yang berkhianat terhadap mereka
    pertanyaannya
    anda sebagai pihak yang dianiaya oleh saudara anda semuslim apa yang anda lakukan
    anda sudah menasihati nya berkali-kali namun dia juga tidak mau mendengar
    malah anda dan kawan-kawan difitnah demikian kejamnya
    apa yang anda bisa lakukan…?

    satu ilustrasi lagi
    ada suatu perusahaan dipimpin oleh si A sebagai direktur perusahaan yang membawahi 500 bawahannya. kemudian ada kasus dari bawahannya misalkan saja si B melakukan korupsi dan menipu perusahaan
    apa yang akan dilakukan si A terhadap B..?
    apakah mungkin si A akan memperkerjakan si B..?
    atau berhubungan baik kembali ,,,
    karena terbukti si B telah melakukan penipuan..? atau memutus hubungan dengan si B akibat perbuatannya tersebut. padahal mereka itu sesama muslim..?
    bagaimana dengan bawahannya si A apa mungkin berhubungan baik denga si B>>?
    demikian ilustrasi saya mudah2an membuka mata anda sekalian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: