Konsultasi Islam

Mengatasi Masalah dengan Syariah

Hukum Biogas

Posted by Farid Ma'ruf pada 6 Maret 2009

Tanya :

Ustadz, bagaimana hukumnya biogas, yang sekarang marak jadi energi alternatif?(Ibnu, Lamongan)

Jawab :

Biogas adalah gas yang dihasilkan dari proses pembusukan limbah organik (dari makhluk hidup) dengan bantuan bakteri dalam keadaan anaerob (tanpa oksigen). Limbah organik ini dapat berupa kotoran manusia/hewan, atau limbah industri makanan, seperti industri tempe dan pindang. Biogas sebagian besar berupa gas metana (CH4) dan karbon dioksida (CO2), dan beberapa gas yang jumlahnya kecil seperti hidrogen sulfida (H2S), amonia (NH3), hidrogen (H2), dan nitrogen.

Prosesnya, limbah organik (misalnya kotoran sapi) dikumpulkan dalam suatu wadah tertutup (digester/reaktor) dan diproses dalam dua tahap. Tahap pertama, limbah organik diuraikan menjadi senyawa asam lemah dengan bantuan bakteri pembentuk asam. Tahap kedua, senyawa asam lemah itu kemudian diubah menjadi gas metana dengan bantuan bakteri pembentuk metana. Gas metana ini sifatnya mudah terbakar. Gas inilah yang kemudian disalurkan melalui pipa ke dalam tabung gas, atau dapat langsung ke kompor gas untuk memasak, menyalakan alat penerangan, dan sebagainya. Inilah sekilas fakta (manath) biogas yang akan dihukumi. Bagaimanakah hukum biogas ini?

Hukum biogas bergantung limbah organik yang digunakan. Pertama, jika yang digunakan benda najis, seperti tinja, kotoran binatang, urine manusia, biogas hukumnya haram. Sebab memanfaatkan benda najis adalah haram. Kedua, jika limbahnya benda suci (bukan najis), seperti limbah industri tahu, tempe, dan pindang, biogas hukumnya mubah.

Memanfaatkan benda najis hukumnya haram, dengan dalil firman Allah SWT (artinya) : “…maka jauhilah ia [najis] agar kamu mendapat keberuntungan.” (fajtanibuuhu la’allakum tuflihun) (QS Al-Maidah : 90). Kata ganti (dhamir) berbunyi “hu” dalam kalimat “fajtanibuuhu” (jauhilah ia), dapat diartikan “jauhilah najis (rijsun).” (Imam Baidhawi, Tafsir Al-Baidhawi, 2/108; Imam Syaukani, Fathul Qadir, 2/354). Ayat ini bersifat umum memerintahkan kita untuk menjauhi segala macam najis.

Selain itu, banyak hadis melarang kita memanfaatkan benda najis semisal bangkai (maitah). Jabir bin Abdullah RA meriwayatkan, saat Fathu Makkah Nabi SAW menjelaskan Allah dan Rasul-Nya telah mengharamkan jual beli khamr, bangkai, babi, dan berhala. Kemudian ada yang bertanya,”Bagaimana pendapat Anda mengenai lemak bangkai, yang digunakan untuk melumuri perahu dan mengolesi kulit, dan digunakan orang untuk penerangan?” Nabi SAW menjawab,”Tidak, ia haram.” (HR Bukhari no 2082; Muslim no 2960). Hadis ini menunjukkan memanfaatkan (intifa’) segala benda najis adalah haram. (Imam Syaukani, Nailul Authar, 8/176).

Dalil-dalil di atas menunjukkan bahwa memanfaatkan benda najis hukumnya haram. Membuat pupuk kandang dari kotoran binatang, memberi makan ikan dengan kotoran hewan/manusia, memberi makan kucing dengan bangkai tikus, memberi makan hewan di kebun binatang dengan bangkai, semuanya haram, karena termasuk tindakan memanfaatkan benda najis. Demikian pula dalam hal ini, biogas haram hukumnya, karena termasuk aktivitas memanfaatkan benda najis, baik proses pembuatannya maupun pemanfaatannya untuk memasak, alat penerangan, dan sebagainya.

Ada ulama yang berpendapat biogas (dari benda najis) hukumnya mubah. Alasannya, karena gas yang dihasilkan tidaklah tergolong najis sehingga boleh dimanfaatkan untuk memasak dan lain-lain. Karena gasnya tidak najis, maka boleh dimanfaatkan dengan hujjah kaidah al-ashlu fi al-asy-ya` al-ibahah (hukum asal benda adalah boleh).

Pendapat ini tidak dapat diterima, karena : (1) Meski gas yang dihasilkan tidak najis, tapi gas itu tidak dapat dipisahkan dari proses pembuatannya, yaitu memanfaatkan benda najis. Gas itu tidak muncul tiba-tiba dari alam, tapi ada proses rekayasa manusia yang mendahuluinya. Adanya gas adalah akibat, yang tidak akan muncul kecuali dari suatu sebab (pemanfaatan najis). Jadi menghukumi gas secara terpisah dari proses pembuatannya tidaklah sesuai dengan manath (fakta yang hendak dihukumi). (2) Meski gas yang dihasilkan tidak najis, namun pemanfaatannya untuk memasak dan lain-lain adalah haram, bukan boleh. Kaidah fiqih menyebutkan : At-Taabi’ taabi’ (Apa saja yang mengikuti sesuatu yang lain, hukumnya sama dengan sesuatu yang lain itu) (Imam Suyuthi, Al-Asybah wa An-Nazha`ir). Adanya gas adalah at-taabi’ (sesuatu yang mengikuti) yang muncul dari proses sebelumnya, yaitu memanfaatkan najis. Dengan demikian, jika memanfaatkan najis adalah haram, maka memanfaatkan gas hasil proses tersebut, juga ikut haram hukumnya.

Adapun biogas yang berasal dari benda suci (tidak najis), hukumnya mubah. Inilah yang layak dikembangkan sebagai energi alternatif. Sebab kaidah fiqih menetapkan : Al-ashlu fi al-asy-ya` al ibahah hatta yadulla ad-dalil ‘ala at-tahrim (hukum asal benda adalah mubah hingga ada dalil yang mengharamkan). (Imam Suyuthi, Al-Asybah wa An-Nazha`ir, hal. 107). Wallahu a’lam. (www.konsultasi-islam.com)

Yogyakarta, 26 Pebruari 2009

Muhammad Shiddiq Al-Jawi

Tulisan terkait :

Menggunakan Pupuk Kandang

4 Tanggapan to “Hukum Biogas”

  1. robin said

    lantas bagaimana dengan alkohol untuk berobat/pembersih luka, jantung babi dijadikan donor jantung? bukankah itu manfaat dan diharamkan oleh agama? kenapa tidak diambil maanfaatnya saja dari sesuatu yang buruk(haram)? jika umat islam mengharamkan hal itu lantas apa gunanya Ilmu? bukankah Allah menciptakan segala sesuatu itu tidaklah percuma? kenapa kita tidak mengambil sesuatu yang baik dari yang buruk? selagi itu memberikan manfaat bagi manusia kenapa tidak dilakukan?
    wassalam….

  2. q mau nanya,kata orang-orang terdekat q,q tu orang yg typekalnya pemarah egois,mudah tersinggung,dan ada gejala tangan panjang,barusan saja uang tmn q jtuh tyus q ambil waktu q ngambil tmn q ada yg tau gmna cara q menghadapinya scara uangnya sudah habis

  3. wuki raniri said

    Assalamu’alaikum,
    Boleh saja kan saya meragukan ustadz. Yang saya percaya Islam itu rahmatan lil ‘alamin, islam itu rahmat untuk alam, tidak terbatas hanya manusia, tumbuhan atau hewan, alam…. Disaat alam menderita karena energi tak terbarukannya habis, ada energi alternatif lain yang dapat digunakan… kok malah dilarang. Makanya, tidak aneh, kalau orang yang kurang mengenal Islam, melihat Islam itu kolot bodoh, terbelakang….melihat dari “fatwa-fatwa” seperti diatas.(wukaini@yahoo.com)

  4. assalamulaikum, maaf saya menyanggah pendapat pak ustd, saya pernah ikut taklim membahas tentang memanfaatkan benda najis, itu hukumnya bisa haram dan juga bisa mubah, tergantung pemkainya, contohnya untuk makanan hewan, kita harus memberi makanan yang baik , kita tidak boleh memberi makanan dengan benda – benda najis, tapi klau utuk tumbuhan, boleh kita memanfaatkan benda najis maupun yang tidak najis, karena pada dasarnya tumbuhan walaupun di beri makanan apapun dia tidak terpengaruh sedikitpun, baik dari batang ,daun, maupun buahnya…. coba klu tidak ada baktri mana mungkin tumbuhan bisa hidup, dalam rantai makanan prosesnya kan tumbuhan(padi) dimakan hewan(tikus) dimakan ular dimakan burung elang, dan seterusnya sampai proses terakhir raja rantai makanan, akan mati dengan sendirinya, karena faktor umur, setelah mati dia akan di uraikan oleh bakteri lalu di manfaatkan oleh tumbuhan lagi, mohon maaf jika pendapat saya kurang berkenan karena saya juga orang yang kurang pengetahuan agama islam…….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: