Konsultasi Islam

Mengatasi Masalah dengan Syariah

Menolak Amanah, Pengecut?

Posted by Farid Ma'ruf pada 10 Juni 2009

Pertanyaan :

Assalaamu’alaikum Wr.Wb.

Saya seorang mahasiswa perguruan tinggi swasta di Yogyakarta. Saya merasa kalau saya ini orangnya lemah saat menerima suatu amanah. Maksudnya butuh waktu dan ketelatenan supaya bisa eksis melaksanakan amanah tersebut. Namun saya juga  sulit untuk menolak jika teman-teman sudah meminta saya. Akhirnya, benar terjadi, amanah yang dibebankan hanya bisa saya laksanakan setengah-setengah, tidak sempurna. Apakah sikap saya menolak suatu amanah, karena merasa belum mampu atau ada yang lebih mampu, sementara amanah itu bukan amanah yang remeh (terkait dengan dakwah) termasuk sikap pengecut? Terima kasih untuk jawabannya.

 

Wassalaamu’alaikum Wr.Wb.

MF

Yogya

 

Jawaban :

Wa’alaikumsalam Wr.Wb.

MF yang baik,

Insya Allah Saya bisa memahami kegelisahan Anda. Memang benar bahwa setiap amanah akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT.  Amanah merupakan sesuatu yang dipercayakan kepada kita untuk mengembannya. Amanah dapat berupa pekerjaan, jabatan, tugas dan sebagainya. Sebetulnya tidak hanya amanah dalam pengertian seperti itu yang akan dimintai pertanggung-jawaban, tetapi juga untuk semua aktivitas yang kita lakukan di dunia ini. Rasuluullah SAW bersabda:

“Tidak akan tergelincir kedua tapak kaki hamba pada hari kiamat sehingga  ditanya tentang empat perkara, yaitu tentang umurnya dalam hal apa ia membinasakan (menghabiskan), tentang ilmunya apa yang diamalkannya, tentang hartanya dari mana ia mencarinya dan dalam hal apa ia dermakan/belan-jakan dan tentang tubuhnya dalam hal apa ia perdulikannya.” (HR. Thabarani)

 

Dari sabda Rasulullah SAW tersebut di atas, menunjukkan bahwa setiap apa yang kita lakukan di dunia ini akan dimintai pertanggugjawaban oleh Allah, termasuk di dalamnya adalah bagaimana ketika kita menjalankan amanah yang diberikan, karena menjalankan amanah merupakan bagian dari aktivitas yang kita lakukan di dunia. Baik tidaknya seseorang mengemban amanah akan menunjukkan kualitas keimanan seseorang. Rasulullah SWT bersabda:

“Tanda orang munafik itu tiga. Jika berkata-kata dusta, dan jika berjanji menyalahi, dan jika dipercaya berkhianat” (HR. Bukhari Muslim).

 

MF yang baik,

Suatu hal yang wajar jika perasaan tidak mampu itu muncul pada saat kita dikasih amanah berupa tugas. Memang demikianlah seharusnya sikap seorang Muslim. Seperti halnya dulu bagaimana para sahabat saling melempar ketika proses pergantian Rasulullah SAW, karena mereka  merasa tidak layak menggantikan kepemimpin-annya. Tapi bagaimanapun juga harus tetap dipilih pengganti Rasul, karena begitu pentingnya keberadaan seorang pemimpin umat. Maka Abu Bakar lah yang kemudian menjadi pengganti Rasulullah. Walaupun perasaan tidak mampu itu wajar terjadi, tetapi tentu saja hal ini tidak boleh kemudian membuat Anda merasa takut dan cemas akan kesulitan-kesulitan yang akan dihadapi ketika menjalankan sebuah amanah. Kekhawatiran dan ketakutan hanya merupakan bayangan-bayangan Anda saja yang sebetulnya belum tentu terjadi. Di sinilah diperlukan sikap tawakal kepada Allah SWT. Allah pasti akan menolong hamba-Nya yang meno-long agama Nya. (QS At-Taubah: 51; At-Thalaq: 3)

Sumber : http://mediaumat.com/konsultasi/573.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: