Konsultasi Islam

Mengatasi Masalah dengan Syariah

Hakikat Sikap Erdogan dan Pemulihan Hubungan Turki-Armenia

Posted by Farid Ma'ruf pada 9 Januari 2010

Pertanyaan:

Sudah berulang kali Erdogan menyatakan tidak akan pernah menandatangani kesepakatan dengan Armenia tentang pembukaan perbatasan dan implementasi hubungan diplomasi dengan Armenia … kecuali setelah Armenia menarik pasukannya dari tanah Azerbaijan yang diduduki di Karabakh. Namun, pemerintahan Erdogan pada tangal 10 Oktober 2009 M menandatangani perjanjian dalam masalah itu tanpa mensyaratkan penarikan pasukan Armenia. Meskipun penandatanganan itu telah dilakukan, namun Erdogan pada tanggal 11 Oktober 2009 M menyatakan “Jika Armenia tidak menarik diri dari tanah Azerbaijan yang diduduki, Turki tidak akan mengambil sikap yang positif”. Ia menambahkan “Penarikan pasukan itu juga akan memudahkan Parlemen Turki untuk mengadopsi kesepakatan-kesepakatan (yang ditandatangani antara Turki dengan Armenia) tersebut” (Reuters dan AFP, 11/10/09). Pertanyaannya adalah:

Apa yang membuat Erdogan merubah pandangannya? Kemudian penandatanganan perjanjian itu sudah dilakuakn secara resmi, lalu apa makna pernyataan Erdogan yang terakhir? Apakah berarti jika Armenia tidak menarik pasukannya maka perjanjian itu akan dihapus?

Jawab:

Perjanjian itu bukan kejadian yang tiba-tiba. Akan tetapi perjanjian itu terealisir dengan sejumlah langkah-langkah dengan pengarahan Amerika dari awal hingga akhir, sampai akhirnya sempurna ditandatangani pada tanggal 11 Oktober 2009 M. Kami akan menyebutkan beberapa langkah yang menonjol, kemudian kami jelaskan sebab berubahnya pandangan Erdogan dan makna pernyataannya yang terakhir itu.

1.       Obama dalam kunjungannnya ke Turki pada 6 April 2009 telah menyerukan untuk diselesaikannya perselisihan antara Turki dan Armenia dan diadakan perdamaian di antara kedua negara. Obama bertemu dengan menteri luar negeri kedua negara disertai kehadiran Menteri Luar Negeri Swiss yang mengatur pembahasan-pembahasan di antara kedua pihak. Ia mengumumkan road map untuk merealisasikan hal itu. Surat kabar ash-Shabah at-Turkiyah pada tanggal 24 April 2009 melansir road map yang dirancang oleh Amerika. Road map itu mengandung point-point di antaranya, pengakuan Armenia terhadap batas sekarang yang telah dirumuskan di antara Turki dan Armenia pada tanggal 13 Oktober 1921 M dalam perjanjian Kars yang ditandatangani antara Daulah Utsmaniyah dan Uni Soviet dan yang diputuskan pada perjanjian Lausanne, yaitu diputuskannya garis batas yang sekarang antara Turki dan Armenia. Di antara point road map itu adalah didirikannya komite untuk mereview apa yang disebut genosida di Armenia. Dan point lain yang berkaitan dengan pembukaan perbatasan dan tukar menukar perdagangan di antara keduanya serta point lainnya yang berkaitan dengan pemulihan hubungan diplomasi dan pertukaran duta besar di antara keduanya.

2.       Telah disebutkan sebelumnya bahwa beberapa bulan lalu dengan mediator Swiss telah berlangsung pembahasan di antara menteri luar negeri kedua negara itu. Keduanya pada tanggal 22 April 2009 sampai pada kesepakatan atas kerangka menyeluruh untuk mengimplementasikan hubungan-hubungan antara kedua negara yang disukai oleh kedua pihak. Pembahasan terus berlangsung hingga keduanya pada tanggal 1 September 2009 sampai pada keselarasan pandangan untuk menandatangani perjanjian menyeluruh di antara keduanya.

3.       Pada tanggal 10 Oktober 2009, diumumkan penandatanganan kesepakatan menyeluruh sesuai dengan road map yang dirumuskan oleh Amerika sebelumnya. Menteri luar negeri Turki Ahmad Dawud Ihsanoglu dan menteri luar negeri Armenia Edward Isole Band Yan menandatangani perjanjian itu di Zurich dengan mediator Swiss dan di bawah monitoring dan implementasi menteri luar negeri Amerika Serikat Hillary Clinton yang memainkan peranan vital di dalam penandatanganan itu. Penandatanganan itu juga dihadiri oleh Minsk Group: Rusia yang diwakili oleh menteri luar negerinya Lavrov dan Prancis yang diwakili oleh menteri luar negerinya Kouchner. Disamping juga disaksikan oleh perwakilan luar negeri Uni Eropa, Solana dan menteri luar negeri Slovakia. Mereka hadir sebagai saksi atas perjanjian yang digambarkan sebagai perjanjian bersejarah untuk menghentikan pertikaian Turki Armenia. Kantor berita internasional dan kantor berita Turki melansir teks protokol perjanjian menyeluruh yang ditandatangani oleh menteri luar negeri Turki dan menteri luar negeri Armenia itu. Teks perjanjian itu meliputi: (pengakuan atas garis batas sekarang dan pembukaan perbatasan diantara keduanya dalam dua bulan, pengadaan hubungan-hubungan diplomatik dan pertukaran duta besar, pembukaan konsul secara timbal balik untuk membantu dan melindungi penduduk kedua negara menurut perjanjian Wina untuk pertukaran konsul yang ditandatangani pada tahun 1963 M, dan pengembangan hubungan bilateral dalam semua bidang politik, ekonomi, energi, komunikasi, transportasi dan pada bidang-bidang keteknikan, budaya, lingkungan, pariwisata dan lain-lain. Keduanya bekerja bersama atas dasar kerjasama regional dan internasional di PBB dan Uni Eropa serta Organisasi Keamanan dan Kerjasama Eropa. Keduanya bekerja bersama untuk merealisasikan keamanan dan kestabilan regional maupun internasional, pengembangan demokrasi di kawasan, memerangi kejahatan terorganisir lintas perbatasan, memerangi terorisme, memerangi penyelundupan senjata dan narkoba serta berjuang mengatasi perselisihan regional dan internasional melalui jalan damai sesuai dengan kaedah-kaedah dan perundang-undangan internasional, menciptakan pembicaraan secara terorganisir diantara keduanya, mewujudkan dan mengembangkan dialog untuk melakukan penelitian ilmiah yang tidak bias dalam dokumen-dokumen dan sumber-sumber historis yang berkaitan dengan bangsa kedua negara dengan tujuan mewujudkan kepercayaan timbal balik diantara kedua bangsa …). Dan itu menunjuk kepada masalah penelitian ilmiah atas peristiwa tahun 1915 M yang oleh Armenia disebut genosida. Sementara Obama sebagai pendahuluan di dalam perjanjian itu telah menyebutnya dengan sebutan yang lain dalam pidatonya yang disampaikan pada tanggal 24 April 2009 M dalam peringatan tahunan atas apa yang bagi Armenia disebut sebagai genosida. Obama mengungkapkannya sebagai bencana yang mengerikan dan bukan genosida atau pembersihan etnis. Dan itu seperti yang kami katakan merupakan pendahuluan bagi perjanjian tersebut.

4.       Perjanjian tersebut mencakup semua bidang dan mensolusi semua masalah di antara kedua negara. Akan tetapi perjanjian tersebut tidak satu kata pun mengarah pada masalah pendudukan Armenia atas wilayah Azerbaijan di Karabakh dan sekitarnya. Juga tidak ada satu kata pun yang membahas masalah pengungsi Azerbaijan dari wilayah tersebut. Padahal dahulu Turki memutuskan hubungan dengan Armenia dan menutup perbatasan dengan Armenia pada tahun 1993 sebagai protes atas pendudukan Armenia terhadap wilayah Karabakh serta tujuh daerah yang keseluruhannya mencapai 20 % – 24 % dari luas wilayah Azerbaijan. Dari wilayah itu sekitar satu juta orang bangsa Azeri terusir dan harus mengungsi… Akan tetapi Turki sekarang telah berlepas diri dari semua itu yang membuat marah Azerbaijan dan menyerahkannya kepada KTT yang ada di tangan negara-negara besar yang terrepresentasi pada kelompok Minsk yang ada di bawah Organisasi Keamanan dan Kerjasama Eropa yang diwakili oleh Amerika, Rusia dan Prancis. Kelompok ini mulai bekerja sejak berhentinya perang antara Azerbaijan dan Armenia pada tahun 1993 -perang tersebut mulai berlangsung pada akhir tahun 1987- untuk mengadakan solusi masalah Azerbaijan-Armenia.

5.       Rusia telah campur tangan dalam masalah itu di pihak Armenia dan membantu Armenia selama serangan ke Azerbaijan. Akan tetapi penguasa Turki dan Iran, dua negeri kaum muslim, tidak campur tangan untuk membela Azerbaijan yang juga merupakan negeri muslim yang berbatasan dengan Iran dan berimpitan dengan Turki itu! Seandainya bukan karena Rusia yang ikut campur di pihak Armenia dan Iran yang tidak membela Azerbaijan yang berbatasan dengannya, bahkan Iran tidak memutus hubungannya dengan Armenia dan tidak menutup perbatasannya, begitu pula Turki tidak campur tangan secara militer dan tidak memberikan dukungan kepada Azerbaijan dalam bentuk dukungan militer untuk mengusir agressor Armenia yang dibelakangnya adalah Rusia, seandainya bukan karena semua itu niscaya Armenia tidak akan bisa menang terhadap Azerbaijan yang seorang diri sanggup melawan Armenia dan Rusia dalam jangka waktu lebih dari lima tahun.

Begitulah, penguasa Turki dan Iran telah mengkhianati negeri muslim Azerbaijan selama perang tersebut sehingga Armenia dengan bantuan Rusia berhasil menduduki tanah Azerbaijan.

6.       Penguasa Turki bukan hanya mengkhianati Azerbaijan selama perang. Bahkan sekarang mereka juga mengkhianatinya dengan menadatangani perjanjian tersebut sebelum tanah Azerbaijan yang diduduki Armenia kembali ke tangan pemiliknya dan penduduknya yang terusir kembali ke wilayah tersebut. Reaksi Azerbaijan menunjukkan kemarahan yang sangat terhadap Turki. Azerbaijan menganggap penandatanganan perjanjian itu telah menentang kepentingan Azerbaijan. Menteri luar negeri Azerbaijan mengeluarkan keterangan. Di dalamnya dikatakan: “implementasi hubungan antara Turki dan Armenia sebelum penarikan mundur militer Armenia dari wilayah Azerbaijan yang diduduki bertentangan langsung dengan kepentingan-kepentingan Azerbaijan dan mencederai hubungan-hubungan persaudaraan antara Azerbaijan dan Turki yang dibangun diatas akar yang dalam”. Keterangan itu juga menyatakan: “Azerbaijan memandang bahwa pembukaan perbatasan tersebut mengancam perdamaian dan kestabilan di kawasan”. Menteri luar negeri Azerbaijan mengatakan di dalam keterangannya: “Sesungguhnya Baku mengharapkan dipenuhinya janji yang diberikan oleh para pejabat Turki untuk tidak membuka perbatasan sampai militer Armenia ditarik dari wilayah pegunungan Karabakh yang dipersengketakan”. Keterangan itu juga mengatakan: “sikap Azerbaijan seputar masalah ini sangat jelas” (AFP dan al-‘Alam al-Iraniyah, 11/10/09).

7.       Adapun sebab yang mendorong Erdogan merubah pandangannya dan pemerintah Turki menandatangani perjanjian dengan Armenia itu di Zurich adalah perintah-perintah Amerika dikarenakan adanya manfaat besar yang diberikan oleh perjanjian tersebut kepada Amerika. Dari perjanjian itu Amerika bermaksud menarik keberpihakan Armenia dan Azerbaijan ke pihaknya, dan sebaliknya menjauhkan pengaruh Rusia dari keduanya sehingga daerah pengaruh Amerika pun makin meluas di selatan Kaukasus:

Adapun Armenia, setelah Amerika melalui revolusi berwarna berhasil mengambil Georgia yang berbatasan langsung dengan Armenia dari arah utara dari pengaruh Rusia, maka Amerika mengincar Armenia untuk melemahkan pengaruh Rusia di kawasan pengaruh tradisional Rusia yang sudah ada sejak lama. Penandatanganan perjanjian antara Turki Armenia ini merupakan kesempatan besar bagi Amerika untuk mengambil Armenia dari Rusia untuk diletakkan di bawah kontrol Amerika, dan memenangkan Amerika atas Rusia. Amerika akan melakukan hal itu secara langsung melalui Turki. Hal itu tampak dari pernyataan menteri luar negeri AS ketika meninggalkan Zurich dimana ia menampakkan kegembiraannya. Hillary menyatakan bahwa: “negaranya akan menggunakan segala potensinya untuk mensukseskan protokol yang ditandatangani antara Turki dan Armenia”. (Kantor berita Anatolia, 11/10/09). Untuk itu Amerika akan menggunakan tekanan penuh agar parlemen Turki menandatangani perjanjian itu. Orang mereka yakni Erdogan akan bekerja untuk itu dengan segala cara dan rekayasa untuk membuat anggota-anggota partainya di Parlemen menandatangani perjanjian tersebut. Tampak bahwa masalahnya berjalan ke arah ditandatanganinya perjanjian itu. Dan tidak tampak adanya penolakan serius dari Partai Rakyat Republik di Turki yang anggota-anggotanya mengganggap diri mereka sendiri sebagai saudara bagi bangsa Armen dan bukan musuh. Suara-suara kedua partai tersebut menyetujui perjanjian di Parlemen Turki. Dari sisi Armenia juga tidak tampak adanya penentangan serius. Sejak beberapa bulan masalah tersebut sudah dipersiapkan di sana dan tidak dikaitkan dengan penarikan mundur militer Armenia dari tanah-tanah Azerbaijan yang diduduki. Sehingga persetujuan untuk perjanjian itu di Armenia juga akan mudah …

Sedangkan Azerbaijan, Azerbaijan masih bimbang di dalam hubungannya antara Rusia dan Amerika dimana Azerbaijan membuka pintu kepada kedua negara untuk menanamkan investasi di bidang perminyakan dan gas. Karena itu Azerbaijan menerima perluasan jaringan pipa Baku-Tbilisi-Ceyhan untuk mencapai laut Kaspia dan memberi izin kepada perusahaan-perusahaan Amerika untuk menanamkan investasi di sektor perminyakan terutama Chevron, disamping perusahaan-perusahaan Rusia. Sebagaimana Azerbaijan juga memberi izin kepada Rusia untuk membangun pangkalan militer di wilayahnya. Rusia memiliki pangkalan Gabala di Azerbaijan. Di sana Rusia membangun instalasi radar yang kuat. Rusia juga memiliki pangkalan militer yang telah digunakan oleh Rusia sejak tahun 1984 M. Perjanjian penggunaan pangkalan tersebut telah diperbaharui pada tahun 2006 dan diperpanjang untuk sepuluh tahun lagi. Ini menunjukkan sejauh mana pengaruh Rusia di Azerbaijan. Jadi keterkaitan Azerbajan dengan Rusia masih tetap kuat. Meski demikian, Rusia telah menawarkan kepada Amerika untuk membangun instalasi radar disamping instalasi Rusia di pangkalan Gabala dengan kompensasi Amerika mengurungkan pembangunan instalasi radar di Cheko dan instalasi peluncur rudal di Polandia. Azerbaijan tidak menentang tawaran Rusia kepada Amerika itu … Artinya Azerbaijan berupaya menyenangkan Rusia dan Amerika sekaligus. Hanya saja Amerika ingin agar pengaruhnya eksis secara efektif di Azerbaijan. Amerika memandang perjanjian Turki Armenia itu sebagai sarana penekan yang kuat terhadap Azerbaijan untuk menerima pengaruh Amerika secara penuh, dan berikutnya menerima campur tangan Amerika untuk menyelesaikan masalah Armenia Azerbaijan jauh dari campur tangan Rusia.

Meskipun perjanjian itu menimpakan pukulan kuat terhadap Azerbaijan yang mengontrol jaringan pipa Baku-Tbilisi-Ceyhan. Azerbaijan bisa menutup jaringan pipa itu sebagai reakasi. Namun Amerika bersandar kepada Turki untuk menjinakkan Azerbaijan sehingga Azerbaijan tidak bisa mengambil sikap permusuhan dengan Turki sehingga berani menutup jaringan pipa itu atau mengambil reaksi yang buruk seperti mempersulit perusahaan-perusahaan Amerika di bidang perminyakan dan gas … Artinya Amerika percaya dengan apa yang dilakukan oleh Erdogan dalam bentuk tindakan-tindakan penyesatan konspiratif terhadap Azerbaijan yang menjadikan kepentingan Amerika sebagai yang utama, tanpa memperhatikan tanah Azerbaijan yang diduduki dan penduduknya yang terusir. Seandainya hal itu penting niscaya Turki bertindak dan membantu Azerbaijan pada waktu itu dan mendukungnya dengan kekuatan militer dan niscaya Turki ikut serta secara militer dalam mengembalikan tanah-tanah yang diduduki itu kepada Azerbaijan. Dan ketika pemerintahannya menandatangani perjanjian yang terakhir itu yang mengkhianati saudara mereka bangsa Azerbaijan maka seperti dahulu mereka membual dengan terus mengatakan “sungguh hubungan persaudaraan antara Turki dan Azerbaijan memiliki akar yang dalam”.!

8.       Sedangkan pernyataan Erdogan pada tanggal 11 Oktober 2009 M, sehari setelah penandatanganan perjanjian tersebut, ia menyatakan di dalamnya: “jika Armenia tidak menarik diri dari tanah Azerbaijan yang diduduki maka Turki tidak akan mengambil sikap yang positif”. Ia juga mengatakan: “kami ingin masalah pegunungan Karabakh dan wilayah yang diduduki diselesaikan dengan jalan yang sama. Dan jika masalah Azerbaijan Armenia berhasil diselesaikan maka pada saat itu akan mudah bagi masyarakat Turki mendukung normalisasi hubungan antara Turki dan Armenia. Juga akan memudahkan parlemen Turki mengadopsi perjanjian yang ditandatangani antara Turki dan Armenia” (Reuters, AFP, 11/10/2009). Pernyataan itu merupakan kebohongan yang jelas dan merupakan kedustaan dan penyesatan. Apakah orang yang berakal bisa mempercayai bahwa pemerintahan Erdogan menandatangani semua perjanjian dengan Armenia itu dengan dihadiri pihak internasional, kemudian setelah itu Erdogan menyatakan bahwa Turki tidak akan mengambil sikap positif terhadap perjanjian itu dan bahwa implementasinya tidak akan mudah? Sesungguhnya hal itu tidak lain merupakan tipudaya terhadap opini umum di Turki dan sebagai upaya mempedaya bangsa Azerbaijan yang telah menyadari janji-janji dusta Erdogan!

Pernyataan itu dan semacamnya hanyalah perkataan yang berbelit-belit dan permainan kata yang tidak akan bertahan lama!

23 Syawal 1430 H

12 Oktober 2009 M

Sumber : http://hizbut-tahrir.or.id/2010/01/09/soal-jawab-hakikat-sikap-erdogan-dan-pemulihan-hubungan-turki-armenia/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: