Konsultasi Islam

Mengatasi Masalah dengan Syariah

Hukum Hadiah dengan Syarat

Posted by Farid Ma'ruf pada 23 Maret 2010

Pertanyaan :

Apa hukum hadiah dengan syarat? (Miladi, Banjarmasin)
Jawaban :
Akhi Miladi, perlu dilihat apa yang disyaratkan. Apabila syarat yang ditetapkan syarat yang mubah makan sah hibah/hadiahnya. Misalkan agar sesuatu yang dihadiahkan tidak digunakan untuk bermaksiat. Akan tetapi apabila syarat yang ditetapkan bertentangan dengan syariat sehingga dapat mengharamkan sesuatu yang halal dan menghalalkan yang haram maka hukumnya syarat seperti ini adalah syarat yang fasad dan haram hukumnya dipenuhi.

Misalnya syarat ditah boleh dijual lagi, tidak boleh dicopy, dan sebagianya. Padahal barang yang sudah dihibahkan maka menjadi hak penuh pihak yang diberi hadiah. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw:
وَالْمُسْلِمُونَ عَلَى شُرُوطِهِمْ إِلاَّ شَرْطًا حَرَّمَ حَلاَلاً أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا
“Kaum Muslim terikat atas syarat-syarat mereka, kecuali syarat yang mengharamkan sesuatu yang halal dan menghalalkan yang haram.” (HR. Tirmidzi no 1403)
Oleh kebanyakan ulama hadist ini dinyatakan dhaif karena ada kutsair bin Abdullah . Akan tetapi Imam Bukhari dan orang yang mengikutinya seperti Tirmidzi dan Ibnu Khuzaimah menguatkannya (lihat fathul bari 7/116)
Hadis ini menunjukkan bolehnya kaum muslimin membuat syarat-syarat yang mereka tetapkan sendiri (disebut syarat ja’liy) dalam berbagai muamalah mereka, misalnya dalam akad jual beli, ijarah (sewa), syirkah, hibah, dan nikah. Namun syarat semacam ini dibatasi oleh batasan syar’i-nya, yaitu tidak boleh menyalahi nash atau hukum syara’. Sebab Nabi SAW bersabda :
كُلُّ شَرْطٍ خَالَفَ كِتَابَ اللَّهِ فَهُوَ بَاطِلٌ وَإِنْ اشْتَرَطَ مِائَةَ شَرْطٍ

“Setiap syarat yang menyalahi Kitabullah adalah batil, meskipun ditetapkan seratus syarat.” (HR Bukhari no 2529; Ibnu Majah no 2512). (Lihat pembahasan syarat ja’liy dan syarat syar’iy [syarat taklif] dalam Wahbah Az-Zuhaili, Ushul Al-Fiqh Al-Islami, 1/101; Taqiyuddin An-Nabhani, Asy-Syakhshiyah Al-Islamiyah (Ushul Fiqih), 3/53; M. Husain Abdullah, Al-Wadhih fi Ushul Al-Fiqh, h. 238).
Akan tetapi yang perlu kami tegaskan disini bahwa. Yang tidak boleh adalah memenuhi syarat yang rusak. Tapi tidak berarti akad hadiahnya rusak. Akad hadiahnya tetap sah selama syarat dan rukunnya terpenuhi. Wallahu ‘alam. (www.konsultasi.wordpress.com)
Yogyakarta, 23 Maret 2010
Abu Syamil Ramadhan (081251188553)

Sumber : http://wahyudiibnuyusuf.blogspot.com/2010/03/hukum-hadiah-dengan-syarat.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: