Konsultasi Islam

Mengatasi Masalah dengan Syariah

Hukum Rokok

Posted by Farid Ma'ruf pada 27 Maret 2010

Tanya :

Ustadz, mohon penjelasan yang paling rajih tentang hukum merokok? (Afif, Amuntai. Rif’ah, Gresik)

Jawab :

Terdapat khilafiyah hukum rokok menjadi 3 (tiga) versi. Pertama, haram. Antara lain pendapat Muhammad bin Abdul Wahab, Abdul Aziz bin Baz, Yusuf Qaradhawi, Sayyid Sabiq, dan Mahmud Syaltut. Kedua, makruh. Antara lain pendapat Ibnu Abidin, Asy-Syarwani, Abu Sa’ud, dan Luknawi. Ketiga, mubah. Antara lain pendapat Syaukani, Taqiyuddin Nabhani, Abdul Ghani Nablusi, Ibnu Abidin, dan pengarang Ad-Durrul Mukhtar. (Wizarat al-Awqaf Al-Kuwaitiyah, al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, Juz 10, Bab “At-Tabghu”; Abdul Karim Nashr, Ad-Dukhan Ahkamuhu wa Adhraruhu, hal. 23; Ali Abdul Hamid, Hukm ad-Din fi al-Lihyah wa At-Tadkhin, hal. 42).

Menurut kami, pendapat yang rajih (kuat) adalah yang memubahkan, kecuali bagi individu tertentu yang mengalami dharar (bahaya) tertentu, maka hukumnya menjadi haram bagi mereka.

Rokok hukum asalnya mubah, karena rokok termasuk benda (al-asy-ya`) yang dapat dihukumi kaidah fiqih Al-ashlu fi al-asy-ya` al-ibahah maa lam yarid dalil at-tahrim (hukum asal benda mubah selama tak ada dalil yang mengharamkan). (Ibnu Hajar ‘Asqalani, Fathul Bari, 20/341; Suyuthi, Al-Asybah wa An-Nazhair, hal. 60; Syaukani, Nailul Authar, 12/443). Maka rokok mubah karena tak ada dalil khusus yang mengharamkan tembakau (at-tabghu; at-tanbak).

Namun bagi orang tertentu, rokok menjadi haram jika menimbulkan dharar (bahaya) tertentu, sedang rokok itu sendiri tetap mubah bagi selain mereka. Dalilnya kaidah fiqih Kullu fardin min afrad al-amr al-mubah idza kaana dhaarran aw mu`addiyan ilaa dhararin hurrima dzalika al-fardu wa zhalla al-amru mubahan (Setiap kasus dari sesuatu (benda/perbuatan) yang mubah, jika berbahaya atau mengantarkan pada bahaya, maka kasus itu saja yang diharamkan, sedangkan sesuatu itu tetap mubah). (Taqiyuddin Nabhani, Asy-Syakhshiyah al-Islamiyah, 3/457). Berdasarkan ini, rokok haram hanya bagi individu tertentu yang terkena bahaya tertentu, semisal kanker jantung atau paru-paru. Namun tak berarti rokok lalu haram seluruhnya, tetapi tetap mubah bagi selain mereka.

Kriteria bahaya yang menjadikan rokok haram ada 2 (dua). Pertama, jika mengakibatkan kematian atau dikhawatirkan mengakibatkan kematian. Bahaya semacam ini haram karena termasuk bunuh diri (QS An-Nisaa` : 29). Kedua, jika mengakibatkan seseorang tak mampu melaksanakan berbagai kewajiban, semisal bekerja, belajar, sholat, haji, jihad, berdakwah, dll. Bahaya ini diharamkan berdasar kaidah fiqih al-wasilah ila al-haram haram (Segala perantaraan yang mengantarkan pada yang haram, hukumnya haram). (M. Husain Abdullah, Mafahim Islamiyah, 2/155).

Jika bahaya belum sampai pada kriteria di atas, maka rokok tetap mubah. Namun lebih baik meninggalkan rokok. Sebab merokok (tadkhin) dalam kondisi ini (tak menimbulkan kematian atau meninggalkan yang wajib), adalah tindakan menimbulkan bahaya pada diri sendiri yang hukumnya makruh.

Dalilnya, Nabi SAW pernah ditanya tentang seorang lelaki yang bernadzar akan berdiri di terik matahari, dan tidak akan duduk, berbuka pada siang hari (berpuasa), berteduh, dan berbicara. Nabi SAW bersabda,”Perintahkan ia untuk berteduh, berbicara, dan duduk, namun ia boleh menyempurnakan puasanya.” (HR Bukhari). Dalil ini menunjukkan larangan menimbulkan bahaya pada diri sendiri. Namun karena larangan ini tidak tegas (jazim), maka hukumnya makruh, bukan haram. (M. Husain Abdullah, ibid, 2/147). Wallahu a’lam. (www.faridm.com)

Yogyakarta, 27 Maret 2010

Muhammad Shiddiq Al-Jawi

Iklan

6 Tanggapan to “Hukum Rokok”

  1. Tyas said

    Asssalamualaikum Wr.Wb
    Ustadz
    Bagaimana Hukumnya merokok, apabila itu untuk menghilangkan rasa sakit pada gifi?
    apakah tetap haram?
    wassalamualaikum.Wr.Wb

  2. iqbal said

    Assalamualaikum, ustadz.

    Banyak otoritas fikih yang mengharamkan rokok, terutama belakangan ini. Nah, alasan yg dipakai adalah karena rokok merusak kesehatan (menurut otoritas kesehatan alias ilmuwan medis). Lalu, bagaimana jika telah terbongkar fakta bahwa sebenarnya otoritas2 kesehatan (baca: terutama WHO) sebenarnya membuat fakta medis hanya berlandaskan order dari kepentingan bisnis mega-korporat, sementara ilmuwan kita sendiri sudah menemukan bahwa “fakta” bahaya rokok tidak sepenuhnya benar?

    Berikut kami sertakan link-nya:

    http://www.mediaindonesia.com/read/2010/12/16/188422/92/14/RPP-Tembakau-Sarat-Kepentingan-Asing

    http://www.thejakartaglobe.com/health/some-indonesian-experts-say-that-smoking-could-be-good-for-you/411743

    terima kasih
    wass wr wb

  3. taupik qurrohman said

    kalau anda bukan perokok jangan memulai untuk merokok,tapi kalau anda perokok berniat berhenti merokok,berhentilah sebagaimana anda memulai dulu .step by step

  4. Sarman said

    Tol…

  5. ali hasan said

    asap obat nyamuk aja yang sangat sangat berbahaya kok gak di haramkan? Haramkan juga donk,,, kalo di suruh pilih,,,biarlah ane ngisep rokok satu BAL dari pada ngisep asap obat nyamuk,,, bayangin aja,,kemakan abu nya aja bisa keracunan,,tapi gak di haramkan,,sementara rokok yang bahayanya rendah di haramkan.aneh kan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: