Konsultasi Islam

Mengatasi Masalah dengan Syariah

Mengapa Kirgistan Melakukan Referendum?

Posted by Farid Ma'ruf pada 22 Juli 2010

Soal :

Pada tanggal 27 Juni 2010 dilangsungkan referendum seputar konstitusi baru Kirgistan. Darah yang tertumpah dalam tragedi buruk belum kering! Pemerintah transisi juga tidak menerima penundaan referendum hingga keadaan kembali normal, dan para pengungsi kembali ke tempat tinggal dan rumah-rumah mereka yang hancur. Akan tetapi pemerintah justru bersikeras melangsungkan referendum meskipun keadaan yang ada masih seperti itu!

Kenapa muncul sikap keras kepala pemerintah untuk melangsungkan referendum itu dan sebaliknya tidak bersikeras untuk merekonstruksi apa yang telah rusak dan hancur serta menyelesaikan darah yang mengalir dalam peristiwa pertikaian antara etnis Uzbek dengan etnis Kirgis di selatan?

Jawab:

Sebelum masuk ke rinciannya, kami tunjukkan fakta mencolok yang muncul akhir-akhir ini atas tindakan federasi Rusia. Yaitu kembalinya uslub Uni Soviet dahulu dalam bentuk penindasan menggunakan besi dan api terhadap para penentangnya di negara-negara yang dahulu menjadi bagian Uni Soviet bahkan setelah Uni Soviet tercerai berai dan hancur sekalipun! Hal itu tampak dalam sejumlah kejadian, mulai pendudukan utara Georgia sampai tragedi Kirgistan. Adapun peristiwa Georgia, maka peristiwa pendudukan utara Georgia itu sangat menonjol. Sedangkan peristiwa Kirgistan maka sebelum menyebutkan peristiwa paling akhir, kita sedikit kembali ke peristiwa kudeta terhadap Bakiyev agar gambarannya menjadi jelas:

1.       Rusia dahulu mendukung pemilihan Bakiyev pada tanggal 23 Juli 2009. Dukungan Rusa untuk pemilihan Bakiyev itu tampak begitu menonjol. Presiden Rusia Medvedev sendiri datang ke Kirgistan dan berpartisipasi dalam pelantikan Bakiyev yang dilakukan pada tanggal 2 Agustus 2009!

2.       Rusia memperhatikan bahwa Bakiyev telah mulai mendekat ke Amerika. Hal itu terlihat dalam dua peristiwa yang menjadi penanda:

Pertama, kunjungan utusan presiden Amerika untuk Afganistan Richard Holbrooke ke Kirgistan pada tanggal 19 Februari 2010. Ia bertemu dengan presiden kedua negara. Laman Russia Today menyebutkan mengutip dari Interfax Russia pada tanggal 19 Februari 2010 bahwa Holbrooke bersama presiden Kurman Bek Bakiyev membahas: “Prospek hubungan bilateral dan situasi di Afganistan dan pertukaran kedua pihak jauh dari peneropongan, seputar situasi di Afganistan dan mencakup metode untuk meningkatkan kerjasama yang saling menguntungkan di antara kedua negara”. Juga menyebutkan bahwa kantor media kepresidenan Kirgistan mengutip Bakiyev bahwa ia menyatakan “Negaranya menekankan pentingnya dan prioritas untuk mengembangkan hubungan Kirgistan Amerika dan meningkatkan kerjasama bilateral di antara kedua negara”. Kantor berita Interfax Russia yang mengutip berita tersebut berpandangan menambahkan kalimat “Dan pertukaran kedua pihak jauh dari penropongan” yaitu secara rahasia jauh dari penglihatan orang-orang Rusia sehingga mereka tidak mengetahui apa yang disepakati oleh antek mereka Bakiyev dengan pejabat Amerika itu. Ini adalah tanda dan isyarat dari Rusia bahwa sesuatu telah terjadi antara presiden Kirgistan dan orang-orang Amerika.

Kedua, harian Russia Today pada tanggal 17 Maret 2010 menyebutkan bahwa “Amerika Serikat baru-baru ini mengumumkan pengalokasian 5,5 juta Dolar untuk membantu Kirgistan dalam membangun pusat Latihan Satuan Khusus Kontraterorisme di kota Batken”. Russia Today menanyai Alexander Kinazov, manajer Institut Persemakmuran Negara-Negara Independen (CIS) cabang Bishkek, tentang masalah pusat latihan itu. Kinazov mengatakan: “Washington mungkin menggunakan pusat itu untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya di Asia Tengah. Dan slogan perang melawan terorisme tidak lain hanyalah dalih untuk merealisasi tujuan-tujuan Amerika sebagaimana di Irak dan Afganistan”. Ia menambahkan: “Melalui proyek di Asia Tengah, Washington berupaya untuk merespon persaingan Rusia dan China di kawasan tersebut”.

3.       Rusia merasa khawatir terhadap kunjungan Holbrooke ke Kirgistan dan pertemuannya dengan presiden Bakiyev yang jauh dari percermatan dan tercapainya kesepakatan rahasia antara Amerika dan Kirgistan. Puncak semua itu adalah pendirian pusat Amerika di Kirgistan untuk pelatihan satuan khusus dan merekrut agen-agen dengan dalih memerangi terorisme. Hal itu digunakan Amerika untuk memperkuat pengaruhnya di Kirgistan kemudian dari sana bertolak ke daerah-daerah lainnya.

Pendirian pusat Amerika untuk pelatihan satuan khusus itu dengan ungkapan lain adalah untuk menghasilkan agen-agen Amerika di Kirgistan. Masalah itu merupakan alarm tanda bahaya. Sekaligus merupakan lompatan ke arah melampaui garis merah terkait dengan Rusia. Karena itu Rusia mempercepat kudeta untuk menghalangi kegigihan Bakiyev dalam menjalin hubungan dengan Amerika. Tampak jelas dalam diri Rusia rasa puas akan kemenangan dalam pelaksanaan kudeta terhadap Bakiyev dan menggulingkannya pada tanggal 8 April 2010.

Begitulah, Rusia memberi pelajaran kepada mantan agennya Bakiyev ketika Rusia memperhatikan adanya upaya menjauhkan diri darinya.

4.       Bagi Rusia tinggal menyelesaikan masalah Karimov di Uzbekistan yang memutuskan hubungan dengan Rusia dan berjalan ke arah Amerika, setelah sebelumnya berjalan bersama Rusia, khususnya Rusia telah membantu Karimov secara militer dalam tragedi Andijan. Hanya saja Amerika mensuport Karimov secara ekonomi dan keamanan yang membuat Karimov memperlihatkan kecenderungan yang terus meningkat kepada Amerika dan sebaliknya menjauh secara signifikan dari Rusia.

Fenomena itu mulai terlihat sejak awal tahun lalu ketika Rusia memutuskan untuk membangun kekuatan reaksi cepat atau dengan sebutan lain penyebaran cepat pada tanggal 4 Februari 2009. Mereka menandatangani kesepakatan itu di Moskow pada tanggal 14 Juni 2009. Uzbekistan tidak bersedia menandatanganinya. Uzbekistan juga tidak berpartisipasi dalam manuver tanggal 26 Agustus 2009 di kawasan Organisasi Keamanan Kolektif dan yang berlangsung hingga 15 Oktober 2009. Tindakan Uzbekistan itu dianggap sebagai semi pembekuan keanggotaannya di organisasi tersebut, hanya saja Uzbekistan tidak mengumumkan hal itu secara resmi. Bukan hanya itu saja. Bahkan Uzbekistan menolak pendirian pangkalan militer kedua Rusia di Kirgistan karena akan mengancam institusinya. Karena pangkalan itu akan dibangun dekat perbatasan Uzbekistan di daerah lembah Fargana. Kantor berita Novosty pada tanggal 5 Agustus 2009 mengutip bahwa Uzbekistan mengumumkan seperti yang tertera di dalam release yang disebarkan kantor berita Jakhon yang berada di bawah kementerian luar negeri Uzbekistan pada tanggal 3 Agustus 2009, bahwa Uzbekistan tidak melihat adanya kebutuhan atau kelayakan pelaksanaan rencana khusus dengan menyebarkan pangkalan militer Rusia baru tambahan terhadap pangkalan Rusia di Kant, selatan Kirgistan. Itu mengindikasikan bahwa penyebaran pangkalan baru menyebabkan instabilitas di kawasan”.

Pada tanggal 18 Agustus 2009 presiden rezim Uzbekistan Karimov dalam pertemuannya dengan jenderal Amerika David Petraeus di Tashkent ibu kota Uzbekistan, menyatakan: “Uzbekistan siap untuk memperluas kerjasama konstruktif dengan Amerika Serikat di atas asas doktrin saling menghormati dan kerjasama sederajat” (kantor berita Novosty Russia, 18/8/2009).

Amerika telah menandatangani kesepakatan dengan Uzbekistan untuk mentransfer kargo NATO dari Uzbekistan ke Afganistan (sumber: Pusat Kajian Strategis Nasional, 4/4/2009). Hanya saja hubungan antara pemerintah Uzbekistan dan Amerika tidak hanya terbatas pada yang demikian. Akan tetapi pemerintah Amerika telah mengeluarkan surat ucapan selamat atas peringatan kemerdekaan Uzbekistan yang ke-18. Dan kemudian Karimov menerima kunjungan duta besar Amerika di Uzbekistan Richard Norland. Sebelum itu pada tanggal 18 Agustus Karimov menerima kunjungan panglima komando sentral Amerika Serikat jenderal Davit Petraeus dan kemudian terjadi penandatanganan kesepakatan kerjasama di antara kedua negara yang meliputi program militer, pelatihan dan pendidikan kejuruan.

Begitulah Karimov menjauh dari Rusia dan mendekat ke Amerika.

5.       Berdasarkan metode Russia maka harus ditetapkan batas bagi mendekatnya Karimov ke Amerika. Begitulah yang terjadi. Rusia ingin menciptakan masalah bagi Uzbekistan. Maka penduduk dalam jumlah besar dari minoritas Uzbek diusir dari Kirgistan ke Uzbekistan. Maka akan terwujud justfikasi untuk melakukan intervensi guna menyelesaikan permasalahan melalui Organisasi Keamanan Kolektif yang Uzbekistan telah membekukan keanggotaannya sejak beberapa waktu sebelumnya… Dan karena permasalahan tersebut akan membesar, maka Uzbekistan terpaksa kembali ke Organisasi Keamanan Kolektiv untuk menyelesaikan permasalahan, tentu saja dengan dipimpin oleh Rusia. Maka Uzbekistan pun kembali ke lingkup kepatuhan kepada Rusia dan berikutnya menjauh dari Amerika.

6.       Karena itu, Russia mendorong pemerintahan transisi dan anak panah Russia di Kirgistan, dan bukan orang Kirgis yang terhormat, untuk menyerbu etnis Uzbek dengan melakukan pembakaran, perusakan dan pembunuhan… untuk mengusir mereka ke arah perbatasan Uzbekistan. Rencana itu hampir berhasil. Maka Uzbekistan setuju untuk bergabung di Organisasi Keamanan Kolektiv dan mengirimkan militer di bawah komando Russia untuk menyelesaikan permasalahan. Rencana Russia itu hampir berhasil seandainya tidak ada intervensi duta besar Amerika di Tashent melalui lisan pemerintah Amerika yang menjalin kontak dengan pemerintah Uzbekistan dan meyakinkannya untuk tidak bergabung dengan kekuatan Organisasi Keamanan Kolektiv. Pemerintah Uzbekistan memenuhi seruan AS itu dan menutup perbatasan terhadap pengungsi etnis Uzbek setelah sempat membukanya di awal dan sekitar 100 ribu pengungsi telah tiba di Uzbekistan. Tampak jelas bahwa mereka yakni Russia dan pemerintah boneka di Kirgistan ingin mengirim ratusan ribu orang etnis Uzbek ke Uzbekistan untuk menciptakan krisis di antara kedua negara, kemudian Organisasi Keamanan Kolektiv setelah Uzbekistan kembali aktif, akan melakukan intervensi untuk menyelesaikan permasalahan dibawah pimpinan Russia. Berikutnya dilakukan perundingan untuk mengembalikan para pengungsi itu. Dengan begitu Russia bekerja dan memanfaatkan situasi dengan menekan Uzbekistan untuk kembali ke pangkuannya dan memaksakan syarat-syarat lain sebagai kompensasi kembalinya pengungsi ke tempat asal mereka di Kirgistan. Hanya saja Uzbekistan, sebagaimana yang kami katakan, menolaknya dengan adanya intervensi dari pemerintah Amerika. Karena itu, wakil menteri luar negeri Amerika Robert Blake memuji tindakan Uzbekistan yang menutup perbatasan bagi pengungsi.

7.       Sesuatu yang menegaskan bahwa Russia ingin memanfaatkan para pengungsi ke Uzbekistan untuk menarik kembali Uzbekistan ke Organisasi Keamanan Kolektif adalah tindakan perdana menteri transisi Kirgistan Rosa Otunbayeva. Seperti yang dikutip kantor berita Novosty Russia pada tangal 12 Juni 2010, ia meminta presiden Russia Medvedev agar mengirimkan militer untuk membantu menenangkan situasi. Akan tetapi Russia sebagaimana yang dinyatakan melalui lisan Natalia Tymokova juru bicara presiden Russia “Menolak seruan itu dengan alasan bahwa itu adalah pergolakan internal dan bahwa keadaan yang ada tidak menuntut pertisipasi Russia secara aktif”, yaitu tidak menuntut partisipasi Russia sendirian. Hal itu ditegaskan oleh apa yang dikutip oleh surat kabar Vedomosty Russia yang mengutip seorang pejabat di kementerian pertahanan Russia yang mengatakan, “Penyebaran militer di Kirgistan dan pendanaannya adalah masalah yang sulit tanpa bantuan Uzbekistan”. Hal itu menunjukkan bahwa Uzbekistan adalah pihak yang disasar dalam peristiwa itu untuk memaksanya kembali aktif dan mengaktifkan keanggotaannya di Organisasi Keamanan Kolektif dan berikutnya bergabung di dalam kekuatan reaksi cepat di bawah kepemimpinan Russia. Akan tetapi ketika Uzbekistan tidak menyambutnya, Russia memutuskan atas nama Organisasi Keamanan Kolektif pada tangal 14 Juni 2010 mengirimkan peralatan militer dan udara ke Kirgistan.

8.       Ketika Russia gagal menarik Uzbekistan ke dalam Organisasi Keamanan Kolektif dan kekuatan reaksi cepat, Russia ingin memanfaatan peristiwa yang terjadi untuk menampakkan bahwa itu adalah perang sektarian dan bahwa minoritas Uzbek tidak nasionalis seperti etnis Kirgis… Dan bersikeras untuk melaksanakan referendum pada waktu yang ditetapkan tanpa menundanya untuk mewujudkan popularitas pemerintah transisi dengan anggapan bahwa pemerintah transisi berpihak kepada kepentingan-kepentingan etnis Kirgis dan menentang Uzbek (yang tidak nasionalis). Karena itu, wakil presiden pemerintah transisi Kirgistan Azim Beck Nazarov menyatakan: “Situasi di Osh mulai stabil. Kami memiliki kekuatan yang memadai. Dan kami wajib mengadakan referendum. Setiap orang yang mengklaim diri mereka adalah rakyat Kirgis wajib memberikan suara dalam referendum (Aljazera, 17/6/2010).” Dengan itu terwujud keterpautan rasial antara etnis Kirgis dengan pemerintah transisi dan hal itu terlihat dalam hasil referendum konstitusi yang diselenggarakan pada tangal 27 Juni 2010.

9.       Ringkasnya, kejadian Kirgistan adalah kejadian yang direkayasa dan direncanakan oleh Russia bersama pemerintah transisi dengan menyerang minoritas etnis Uzbek untuk membuatnya bermigrasi ke Uzbekistan untuk menciptakan masalah bagi Uzbekistan yang memaksa Uzbekistan kembali ke Organisasi Keamanan Kolektif dan Kekuatan Reaksi Cepat guna menghentikan permasalahan. Kejadian itu bukanlah perang rasial karena yang terjadi adalah anak panah Russia dan pemerintah transisi dari etnis Kirgis telah menyerang etnis Uzbek dengan aksi-aksi brutal dan bengis. Kejadian itu bukanlah perang antara dua pihak sehingga bisa disebut perang antar ras.

Beberapa agensi menyatakan komentar testimoni bahwa itu adalah aksi-aksi yang terencana, bukan aksi spontan. Kantor berita Frans Pers pada tanggal 17 Juni 2010 menyebutkan bahwa “Kesaksian korespondennya dan kerugian yang mereka perhatikan pada beberapa hari terakhir di selatan Kirgistan menyatakan bahwa etnis Uzbek menjadi korban aksi-aksi pembersihan terkoordinir yang menyebabkan jatuhnya ratusan korban tewas”. Ia menambahkan: “Beberapa testimoni yang sesuai di Osh di mana di sana meletus tragedi seminggu sebelumnya, juga di Jalalabad dan di kamp-kamp pengungsi di Uzbekistan menyatakan bahwa tank-tank membuka jalan bagi milisi bersenjata untuk menyapu lingkungan etnis Uzbek dalam sebuah serangan terkoordinasi. Sementara lingkungan yang ditinggali mayoritas dari etnis Kirgis relatif utuh. Rumah-rumah di lingkungan minoritas Uzbek hancur hingga pondasinya setelah penjarahannya dan dalam aksi-aksi yang terorganisir dengan baik. Tank-tank menembakkan peluru yang menyebabkan berkobarnya api di rumah-rumah sementara orang-orang bersenjata menembakkan senjata kalashnikov ke arah penduduk yang berupaya memadamkan kobaran api”.

Beberapa orang syabab kami pergi ke pusat-pusat negara di daerah tersebut untuk masuk guna menghalangi pembakaran dan penghancuran. Akan tetapi pusat-pusat itu tidak menjawab syabab kami bahkan sebagian dari syabab kami ditangkap!

New York Times pada tanggal 16 Juni 2010 mengutip pernyataan Rupert Colville, juru bicara Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia: “Serangan-serangan yang menewaskan minimal seratus orang dan menyebabkan seratus ribu atau lebih etnis Uzbek mengungsi meninggalkan rumah-rumah mereka, merupakan serangan terkoordinasi dan terencana dengan baik bukan letusan spontan karena kekerasan etnis”.

Ketika Russia gagal mengembalikan Uzbekistan ke dalam dekapannya, maka Russia memanfaatkan kejadian untuk menciptakan kumpulan di sekitar pemerintah transisi dari Kirgis dalam referendum atas konstitusi dengan menampakkan bahwa apa yang terjadi adalah pergolakan ras antara minoritas Uzbek yang bukan putera asli dan etnis Kirgis putera asli yang kepentingan mereka diadopsi oleh pemerintah transisi.

10.   Hanya saja yang menyedihkan dalam masalah ini adalah bahwa persaingan memperebutkan pengaruh di Asia Tengah antara Russia dan Amerika berlangsung menggunakan alat-alat lokal dan korbannya berasal dari kaum muslim. Semua itu karena ikatan yang menghimpun kaum muslim yaitu Islam, berupaya ditanggalkan oleh kaum kafir imperialis dan antek-antek mereka. Mereka ingin menggantinya dengan ikatan sektarian. Maka darah sebagian kaum muslim akan mengalir karena tangan sebagian lainnya.

Di bagian penutup jawaban ini kami menyeru ikhwah Uzbek dan Kirgis yang telah dihimpun oleh Islam selama berabad-abad agar menyadari bahwa kemuliaan dunia dan akhirat ada di dalam Islam yang menghimpun mereka. Dan bahwa apa yang dilakukan Russia dan Amerika serta antek-antek keduanya adalah untuk membuat kesengsaraan kaum muslim ditengah mereka makin keras dimana darah mereka ditumpahkan dengan tangan mereka sendiri demi kepentingan kaum kafir.

Kami memohon kepada Allah SWT kemenangan dan jalan keluar dengan tegaknya Khilafah sehingga menghimpun kaum muslim diatas kebaikan, saling bersaudara dan saling mencintai, sebagai sebaik-baik umat yang dikeluarkan untuk umat manusia.

وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya. (QS Yusuf [12]: 21)

15 Rajab 1431 H/28 Juni 2010 M

Sumber : http://www.hizbut-tahrir.or.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: