Konsultasi Islam

Mengatasi Masalah dengan Syariah

Asuransi Takaful Haram

Posted by Farid Ma'ruf pada 16 Agustus 2010

Pertanyaan:

Apa hukum syara’ tentang perusahaan yang muncul dan tumbuh dengan pesat dan kadang disebut perusahaan asuransi ta’awuni atau takaful atau Islami? Perlu diketahui bahwa para pengusung dan pecintanya mengatakan bahwa asuransi ini berbeda dari asuransi komersial yang haram, karena merupakan kerjasama atau tolong menolong di antara kaum Muslim dalam hal sebagian membantu sebagian yang lain ketika terjadi peristiwa terhadap salah seorang di antara mereka sebagai kompensasi angsuran yang mereka bayarkan? Dalam konteks itu mereka menyebutkan hadits pujian Rasul saw kepada keluarga al-Asy’ariyun atas kerjasama dan tolong menolong mereka sebagaimana dijelaskan dalam pembahasan terkait masalah tersebut. Kami berharap jawaban secara rinci, semoga Allah SWT memberi balasan yang lebih baik kepada Anda.

Jawab:

Saya telah menelaah masalah yang Anda kirimkan. Demikian pula saya telah menelaah sumber-sumber lain. Dari semua itu telah jelas bagi saya hal-hal berikut:

Pertama, fakta asuransi tersebut:

1.       Asuransi ta’awuni, takaful dan Islami itu dari sisi metode pembentukannya dan aktifitasnya … tidak berbeda (dengan asuransi komersial). Dan hukum dalam masalah itu adalah sama.

2.       Orang-orang yang menjalankannya, mereka memasarkannya bahwa itu adalah tabarru’ (donasi) dari pribadi-pribadi dalam jumlah tertentu untuk membantu sebagian terhadap sebagian yang lain jika terjadi peristiwa bahaya seperti kebakaran, kecelakaan, atau yang lain… Meski demikian, akad itu ditandatangani (dilakukan) dengan mutabarri’ (para donatur) oleh perusahaan asuransi!

3.       Orang-orang yang menjalankannya mengatakan bahwa asuransi ini tidak berdiri dengan maksud mendapat keuntungan, akan tetapi dia adalah kerjasama atau tolong menolong di atas kebaikan dan ketakwaan.

4.       Orang-orang yang menjalankan asuransi ini mengatakan bahwa asuransi ini berbeda dari asuransi komersial yang haram yang berdiri dengan maksud mengejar keuntungan dan menginvestasikan harta yang dibayarkan oleh para nasabah dengan maksud mendapat keuntungan… Dan yang di dalamnya ada gharar dari sisi nasabah (pihak tertanggung) membayar premi keikutsertaannya dan tidak tahu kapan akan terjadi suatu peristiwa terhadapnya!

5.       Orang-orang yang menjalankan asuransi takaful, asuransi Islami, atau asuransi ta’awuni ini dalam menyatakan kesyar’iannya, mereka berdalil kepada hadits al-asy’ariyun, bahwa ketika kelaparan melanda, mereka menempatkan makanan yang ada pada setiap orang dari mereka di satu tempat, lalu mereka makan bersama-sama. Muhammad ibn al-‘Ala telah menceritakan kepada kami, telah menceritakan kepada kami Hamad ibn Salamah dari Buraid dari Abu Burdah dari Abu Musa, ia berkata: Nabi saw bersabda:

«إِنَّ الْأَشْعَرِيِّينَ إِذَا أَرْمَلُوا فِي الْغَزْوِ أَوْ قَلَّ طَعَامُ عِيَالِهِمْ بِالْمَدِينَةِ جَمَعُوا مَا كَانَ عِنْدَهُمْ فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ ثُمَّ اقْتَسَمُوهُ بَيْنَهُمْ فِي إِنَاءٍ وَاحِدٍ بِالسَّوِيَّةِ فَهُمْ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُمْ.»

Bahwa keluarga al-Asy’ariyun jika mereka kehabisan bekal di dalam peperangan atau makanan keluarga mereka di Madinah menipis, maka mereka mengumpulkan apa yang mereka miliki di dalam satu lembar kain kemudian mereka bagi rata di antara mereka dalam satu wadah, maka mereka itu bagian dariku dan aku adalah bagian dari mereka (Hr Muttafaq ‘alayh)

6.       Perusahaan yang bersifat tolong menolong (asy-syirkât at-ta’âwuniyah) ini… melakukan reasuransi, yaitu perusahaan asuransi takaful lokal atau kecil memberikan premi-premi dari tertanggung yang dimilikinya kepada perusahaan asuransi besar agar mengelola harta dan menginvestasikannya…

Berikut adalah apa yang dinyatakan di dalam buku-buku, leaflet-leaflet mereka seputar reasuransi:

(Karena perusahaan asuransi kecil tidak bisa menutupi kompensasi bahaya-bahaya besar, dan tidak mampu menanggung asuransi yang lebih berresiko terhadap kapal dan pesawat, oleh karena itu kita mendapati diri kita terpaksa, supaya bisa terjamin, untuk mengasuransikan kepada perusahaan-perusahaan asuransi raksasa yang ada di ibukota negara besar seperti Eropa dan Amerika dan ini disebut reasuransi)

7.       Orang-orang yang menjalankan asuransi ta’awuni ini.. mereka tidak mengingkari pengharaman asuransi komersial. Karena fatwa-fatwa yang dikeluarkan oleh berbagai lembaga tentang pengharaman asuransi komersial, mereka akui kesyar’iannya, misalnya:

–          Haiah Kibâr al-‘Ulamâ’ di Saudi

–          Majma’ al-Fiqh al-Islâmî ad-Dawlî di bawah OKI yang bermarkas di Jedah

–          Al-Majma’ al-Fiqhî al-Islâmî dibawah Rabithah al-‘Alam al-Islami dan bermarkas di Mekah

–          Majma’ Buhûts al-Islâmiyah di al-Azhar

Hanya saja, mereka mengatakan bahwa asuransi ta’awuni berbeda dengan asuransi komersial sehingga asuransi ta’awuni adalah halal. Mereka menganggapnya sebagai tabarru’ (donasi), bukan investasi komersial. Mereka mengganggapnya tidak melakukan reasuransi kepada perusahaan asuransi komersial… Mereka berupaya mengeksploitasi keputusan Haiah Kibar Ulama Saudi pada tanggal 4/4/1397 dalam mempromosikan asuransi ini.

Dalam rangka memberikan penjelasan, kami memandang baik untuk menjelaskan bagaimana keputusan itu dikeluarkan dan bagaimana Haiah mengoreksi keputusannya, meski Haiah terkait dengan pemerintah… Di dalam hal itu apa yang ada. Akan tetapi supaya fair kami sebutkan apa yang terjadi:

Orang-orang yang menjalankan asuransi ta’awuni itu menyodorkan perkara kepada Haiah Kibar Ulama Saudi bahwa asuransi yang mereka jalankan adalah tabarru’ untuk kebaikan dan ketakwaan, bukan dengan tujuan investasi atau keuntungan sebagaimana telah dijelaskan di atas. Maka Haiah mengambil keputusan pada tanggal 4/4/1397 H dengan nomor 51. Di dalam keputusan itu Haiah memperbolehkan asuransi ta’awuni berdasarkan informasi-informasi yang diberikan kepada Haiah. Haiah di awal keputusannya mengatakan:

(Asuransi ta’awuni termasuk akad tabarru’ (donasi) yang dimaksudkan untuk mengantarkan pada tolong menolong terhadap kepingan-kepingan bahaya dan partisipasi dalam menanggung tanggungjawab ketika terjadi bencana. Hal itu dengan jalan kontribusi seseorang dengan sejumlah uang tertentu yang dikhususkan untuk memberi kompensasi orang yang ditimpa bahaya. Kelompok asuransi ta’awuni tidak bertujuan komersial, ataupun keuntungan finansial dari harta selain mereka. Melainkan mereka bertujuan mendistribusikan bahaya diantara mereka dan tolong menolong untuk memikul bahaya…) selesai.

Keputusan itu ditutup dengan permintaan dari Haiah (Hendaknya sekelompok ahli dalam masalah ini yang dipilih oleh negara menetapkan point-point rinci untuk perusahaan asuransi ta’awuni ini. Setelah mereka selesai melakukan hal itu, apa yang mereka tulis disampaikan kepada majlis Haiah Kibar Ulama untuk dipelajari dan dikaji berdasarkan kaedah-kaedah syariah, wallâh al-muwaffiq).

Jelas dari keputusan Haiah bahwa Haiah menganggap asuransi ta’awuni itu sebagai tabarru’ (donasi). Di dalamnya tidak ada ruang untuk keuntungan atau mencari keuntungan. Karena sifat aktifitas itu sebagai akad tabarru’ bukan mu’awadhah dari dua pihak. Anggapan Haiah itu berdasarkan informasi-informasi yang diberikan kepada Haiah oleh orang-orang yang menjalankan asuransi ta’awuni itu.

Karena asuransi yang disebutkan ternyata bukan tabarru’, dan perusahaan menyadari hal itu, maka perusahaan berupaya memasarkan aktifitas-aktifitasnya dengan memanfaatkan keputusan Haiah itu. Hal itu mendorong Komite Tetap Pembahasan Ilmiah (al-Lajnah ad-Daimah li al-Buhuts al-‘Ilmiyah) di Haiah mengeluarkan penjelasan yang di dalamnya dinyatakan: (amma ba’du. Sebelumnya telah dikeluarkan oleh Haiah Kibar Ulama keputusan pengharaman asuransi komersial dengan semua jenisnya dikarenakan di dalamnya terdapat dharar dan bahaya besar dan memakan harta manusia dengan cara batil… Sebagaimana telah dikeluarkan oleh Haiah Kibar Ulama akan kebolehan asuransi ta’awuni yaitu asuransi yang dibentuk dari donasi para dermawan dan dimaksudkan untuk membantu orang yang membutuhkan dan mendapat bencara (kesusahan), dan tidak ada pengembalian apapun bagi orang-orang yang berpartisipasi -baik modal, keuntungan ataupun returinvestatif apapun-. Karena maksud orang yang berpartisipasi adalah untuk mendapat pahala Allah SWT dengan membantu orang yang membutuhkan, bukan mengharap pengembalian duniawi. Hal itu tercakup dalam firman Allah :

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. (QS al-Maidah [5]: 2)

 

Dan tercakup dalam sabda Rasul saw :

وَاللهُ فِيْ عَوْنِ الْعَبْدِ مَا دَامَ اَلْعَبْدُ فِيْ عَوْنِ أَخِيْهِ

Allah akan menolong hamba-Nya selama hamba menolong saudaranya

 

Ini adalah jelas dan tidak ada keraguan. Akan tetapi pada waktu-waktu belakangan dari beberapa lembaga dan perusahaan muncul, penyelimutan perkara atas masyarakat dan terjadi perubahan atau pemutarbalikan kebenaran, di mana asuransi komersial yang haram disebut asuransi ta’awuni. Pendapat tentang kebolehannya dinisbatkan kepada Haiah Kibar Ulama dalam rangka mengelabuhi masyarakat dan untuk propaganda perusahaan-perusahaan mereka. Haiah Kibar Ulama berlepas diri dari aktifitas itu secara total. Karena keputusan Haiah adalah jelas dalam membedakan antara asuransi komersial dan asuransi ta’awuni. Perubahan nama tidak bisa merubah hakikat. Dalam rangka memberikan penjelasan kepada masyarakat dan membongkar kover dan mengungkap kebohongan dan pemalsuan, maka penjelasan in dikeluarkan) selesai. (sumber: Bayânât wa Fatâwâ Muhimmah, al-Lajnah ad-Daimah li al-Buhuts al-Ilmiyah wa al-Ifta’, Dar Ibn al-Jawzi, Damam, Saudi. 1999/1421).

Kedua, asuransi ini tidak berbeda dari asuransi komersial kecuali hanya dengan permainan kata saja:

1.       Asuransi ini bukanlah ta’awun dalam rangka kebaikan dan ketakwaan. Akan tetapi dia merupakan investasi untuk harta yang dibayarkan dan mendistribusikan keuntungan kepada orang-orang yang berpartisipasi. Akan tetapi tidak mereka namanan keuntungan atau bunga, sebagaimana penyebutan oleh perusahaan-perusahaan asuransi komersial, bank. Tetapi mereka sebut “surplus”!

2.       Asuransi ta’awuni (takafuli) bukanlah tabarru’. Akan tetapi, partisipasi dengan saham seperti dalam asuransi komersial. Buktinya adalah bahwa partisipan di dalam asuransi ini seandainya tidak diberi keuntungan atas partisipasinya dengan apa yang disebut “surplus”, maka ia akan mengeluh dan mengajukan komplain. Seandainya itu adalah tabarru’ maka ia tidak akan memiliki hak itu. Demikian juga, tabarru’ adalah tasharruf dari satu pihak saja. Tidak perlu penandatanganan akad dan syarat-syarat yang menjadi obyek negosiasi… Karena orang yang berderma maka perannya berakhir dengan donasinya itu.

3.       Asuransi ta’awuni merupakan investasi harta para partisipan. Dana donasi tidak ditempatkan di kotak tanpa investasi. Maka itu sama seperti investasi harta asuransi komersial…

4.       Ia juga mengatakan reasuransi. Yaitu memberikan harta perusahaan kepada perusahaan besar yang lebih mampu melakukan investasi sebagaimana yang dilakukan oleh asuransi komersial…

5.       Manajemen urusannya dilakukan oleh direksi yang mewakili para partisipan sesuai partisipasi mereka “saham mereka”. Orang yang partisipasinya lebih banyak maka dia yang mengendalikan di dalam Dewan Direksi, seperti asuransi komersial.

6.       Gharar terjadi di dalamnya seperti asuransi komersial. Jadi orang yang berpartisipasi tidak tahu kapan peristiwa akan terjadi terhadapnya…

7.       Program-program asuransi tersebut tidak berbeda dari program-program asuransi komersial. Diantaranya program asuransi kebakaran, kecelakaan, komoditas laut, darat dan udara, kapal, minyak dan gas… Perbedaannya hanyalah, asuransi komersial menyebut asuransi secara gamblang, sedangkan asuransi takafuli di dalam programnya tertulis: program asuransi takaful untuk kebakaran, program asuransi takaful atas kecelakaan, program asuransi takaful atas komoditas darat, udara dan laut…. Dsb.

Ketiga, pendapat bahwa asuransi takaful berbeda dari asuransi komersial dari sisi bahwa asuransi ta’awuni, takafuli, atau asuransi Islami memiliki dalil syara’. Yaitu hadits al-Asy’ariyun. Ini adalah istidlal yan tidak benar. Karena hadits al-Asy’ariyun adalah setelah terjadinya kejadian. Mereka tolong menolong dalam menghadapi kejadian yang telah terjadi, dan pada paceklik, kelaparan, atau bencana yang mereka hadapi dengan masing-masing menyerahkan apa yang bisa digunakan untuk menghadapi kejadian itu, bukannya mereka berserikat dalam membayar sebelum terjadinya kejadian.

Teks hadits itu jelas:

«إِنَّ الْأَشْعَرِيِّينَ إِذَا أَرْمَلُوا فِي الْغَزْوِ أَوْ قَلَّ طَعَامُ عِيَالِهِمْ بِالْمَدِينَةِ جَمَعُوا مَا كَانَ عِنْدَهُمْ فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ ثُمَّ اقْتَسَمُوهُ بَيْنَهُمْ فِي إِنَاءٍ وَاحِدٍ بِالسَّوِيَّةِ فَهُمْ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُمْ.»

Bahwa keluarga al-Asy’ariyun jika mereka kehabisan bekal di dalam peperangan atau makanan keluarga mereka di Madinah menipis, maka mereka mengumpulkan apa yang mereka miliki di dalam satu lembar kain kemudian mereka bagi rata diantara mereka dalam satu wadah, maka mereka itu bagian dariku dan aku adalah bagian dari mereka (Hr Muttafaq ‘alayh)

Jadi mereka jika kehabisan bekal mereka… maka pada saat itu mereka mengumpulkan apa yang ada pada mereka di satu pakaian dan mereka bagi sama rata.

Keempat, hukum syara’ dalam hal asuransi ini adalah haram. Hal itu:

1.       Asuransi ini bukan tabarru’. Jadi asuransi ini tidak boleh dibahas berdasarkan asas sebagai tabarru’.

2.       Asuransi ini adalah pertanggungan (dhamân) dari perusahaan asuransi yang terbentuk dari orang-orang yang berserikat terhadap partisipan yang mengalami kejadian. Karena itu syarat-syarat pertangungan (adh-dhamân) di dalam Islam wajib diterapkan terhadapnya:

a.       Di sana wajib ada hak yang wajib ditunaikan yang berada di dalam tanggungan. Yaitu bahwa kejadian yang terjadi kemudian perusahaan memberikan pertanggungan kepada seseorang yang mengalami kejadian. Artinya membayar konsekuensi yang muncul dari kejadian itu.

b.      Di sana harus tidak ada kompensasi. Yakni penanggung tidak mengambil kompensasi baik disebut keuntungan atau surplus atau partisipasi (premi)…

c.       Akad syirkah asuransi harus merupakan akad yang syar’i dengan memenuhi syarat-syarat syirkah di dalam Islam. Yaitu adanya harta dan badan, bukan syirkah harta saja. Asuransi yang dipaparkan untuk dibahas ini adalah syirkah harta. Semuanya hanya menyetor harta. Hingga dewan direksi yang mengelola urusan syirkah adalah representasi dari harta mereka bukan reresentasi bagi badan mereka. Jadi tidak ada seorang pun dari mereka yang berserikat dengan badannya, aka tetapi hanya dengan hartanya. Fakta asuransi itu dilihat dari sisi syirkah adalah sama seperti syirkah musahamah, yaitu syirkah harta.

d.      Di sana tidak boleh ada investasi harta dengan jalan yang tidak syar’i, melalui perusahaan lain, apapun nama dan sebutannya baik disebut investasi ataupun reasuransi…

Dalil-dalil hal itu adalah dalil-dalil syirkah harta dan dalil-dalil adh-dhamân. Semuanya dipaparkan di Nizhâm al-Iqtishâdî.

Ringkasnya, asuransi ta’awuni, takafuli atau Islami tidak memenuhi syarat-syarat adh-dhamân di dalam Islam. Juga tidak memenuhi syarat-syarat syirkah di dalam Islam. Jadi asuransi tersebut secara syar’i tidak boleh.

24 Jumaduts Tsani 1431 H

07 Juni 2010 M

Sumber : www.hizbut-tahrir.or.id

Judul asli : SJ: Hukum Asuransi Takaful

Tulisan Terkait :

1.  Hukum Asuransi Syariah

2.  Askes dan Dana Pensiun

Iklan

36 Tanggapan to “Asuransi Takaful Haram”

  1. Ruqi said

    O ya gan mw tny nih jdi smua jenis ansuransi tu haram y?
    Klo d yg halal tu contohny p aja?

  2. ririn soewadji said

    Jadi intinya, kita tidak boleh berasuransi ya? Meskipun itu diklaim sebagai asuransi murni syariah? Karena saya berasuransi di Takaful

  3. Noffee Frith said

    Sepertinya extreme sekali yaa ? Tolong dhonk d jelaskan juga , mana Asuransi yang memenuhi kaidah kaidah dalam agama Islam ? Jangan cuma bisa mengatakan Asuransi takaful itu haram.. Harus bisa memberikan solusi juga dhonk.. Kita ikut Asuransi dan memilih Asuransi yang Syariah karena ingin memberikan yang terbaik untuk keluarga , apakah itu salah menurut Islam ? Mohon maaf kalau ada kata kata yang kurang berkenan.. Terima kasih atas jawabannya..

  4. Lukman said

    Makanya jangan memakai asuransi (menyerahkan diri kepada selain Allah), ingat dengan percaya penuh pada Allah SWT ya pertolongannya pasti datang kepada kita.
    Dan sejak zaman Mesir Kuno, Persia Kuno, Romawi Kuno, zaman Rasulullah dan para sahabat, tabi’ dan tabi’in, Imperium Islam (Umayyah s/d Ustmani), uang (alat tukar) itu adalah emas dan perak, bukan uang kertas yang nilainya tergantung pada kebijakan pemerintah, perbankan, dan bank dunia.

    • ichwan jufri said

      Aslm.. Pak Asuransi Syariah itu adalah bagian dari bagian-bagian Iman yang sempurna… ketika anda beropini spt diatas, maka itu bisa kita kaitkan dengan kisah sahabat nabi yang memarkirkan untanya tanpa mengikatnya terlebih dahulu… tapi apa kata Nabi? “Tambatkan dulu Untamu, kemudian tawakkal… ”
      Nah, disitu ada bentuk usaha sebelum tawakkal… Asuransi Syariah adalah bentuk usaha seseorang dalam “memelihara diri & keluarganya” dari musibah yang datang tiba2… Asuransi Syariah lebih kearah pencegahan terhadap sst dgn tetap mendahulukan Allah Swt di atas segalanya… silahkan Merujuk lebih jauh ke beberapa buku Asuransi Syariah yg telah banyak beredar di pasar,
      wallahu ‘alam.. wallahul musta’aan…

    • Aldi doank said

      Jika kita selalu mengukur dengan mutlak pada zaman rosul,hidup tidak akan seperti sekarang ini,jika kita juga berpatokan dengan emas dan perak,lihat juga bagaimana kondisi sekarang ini…
      Sama seperti contohnya,mashab yang di keluarkan oleh ulama di timur tengah,apa bisa di pakai di indonesia,gk mungkin,karena beda kondisi…
      Dan jika itu yang menurut anda menjadi tilak ukur mutlak,coba kembalikan kepada diri anda sendiri yang lebih simple,apakah anda sendiri menggunakan emas dan perak dalam setiap bertransaksi,???saya rasa tidak,dan saya yakin anda juga menggunakan alat bayar yang ada saat ini,yaitu uang kertas,,,jadi jika anda katakan itu haram,berarti setiap hari juga anda melakukan hal yang di haramkan…
      Dan coba periksa dompet anda sekarang,saya yakin benda yang anda katakan haram itu juga selalu anda simpan dan anda gunakan setiap hari,jika itu haram,berarti anda makan haram setiap hari karena anda membeli dengan alat tukar yang haram…
      Belajar ilmu agama jangan setengah-setengah ya akhi…

  5. Salafudin said

    Kok gak ada balasannya? Kalo asuransi takaful disebut haram, lalu mana yg halal? Jgn cuma mencari kesalahan tanpa memberikan solusi…Jgn2 iri ni sama kreativitas PT Takaful. Keduluan ya,,,

  6. Cikundul said

    Mana forum tanya jawabnya?

  7. Karjono said

    Apakah seluruh asuransi haram? Apakah hanya asuransi jiwa saja?

    Bagaimana hukumnya asuransi kesehatan yang diberikan perusahaan untuk pekerja, jaminan hari tua, dan sebagainya?

    Bagaimana dengan asuransi pendidikan anak?

    Bingung juga jadinya.
    Kesannya Islam itu apa-apa tidak boleh, apa-apa haram.
    Bank Syariah saja katanya tidak murni syariah., terus mesti simpan uang di celengan?

  8. tahu dikit said

    Baca lagi dg cermat dan obyektif artikel di atas, jangan terbawa emosi krn anda sudah ikut salah satu asuransi. Kalau tdk pernah dicontohkan dalam kehidupan masyarakat islam, maka jangan memaksakan ikut asuransi , Jangan mudah mengikuti cara hidup orang kafir barat, itu akan menyesatkan. Kemerosotan kehidupan islam saat ini dikarenakan sebagian besar umat islam mengikuti millah mereka dalam hal pengaturan kehidupan. Kalau sekedar memakai hasil teknologi mereka sih no problem. Jadi solusinya tinggalkan asuransi dan terapkan cara hidup islami di segenap lini kehidupan. Jangan mudah melabel dengan istilah islami di belakang sistem ekonomi barat.( bank syari’ah , asuransi syari’ah dll ). Dari Zakat, sadaqah, infaq dll, bila dikelola dengan benar akan dapat mengatasi kesusahan orang yg tidak mampu ketika mengalami kemalangan. Masak orang yang kaya raya ketika mengalami kemalangan masih mengarapkan asuransi spt skrg ini.

    • Abdul Rohim said

      Artikel ini ditutup dengan simpulan : Ringkasnya, asuransi ta’awuni, takafuli atau Islami tidak memenuhi syarat-syarat adh-dhamân di dalam Islam. Juga tidak memenuhi syarat-syarat syirkah di dalam Islam. Jadi asuransi tersebut secara syar’i tidak boleh. Kalau ada asuransi yang memenuhi syarat-syarat tersebut apakah menjadi halal atau boleh? Sampai hari ini umat islam juga belum bisa mengelola ZIS secara maksimal. Jadi perlu solusi. Bukankah katanya islam bisa memberi solusi terhadap semua persoalan umat manusia? Pemikiran teman “Tahu Dikit” pasti sangat diperlukan untuk memperkaya khazanah ilmu ke-islaman kita. Afwan.

    • “Jangan mudah mengikuti cara hidup orang kafir barat”

      hahaha… Anda menggunakan internet dan komputer dengan OS windows apakah tidak mengikuti cara orang kafir?

  9. chedir said

    Saya ikut saja fatwa MUI, kalau mereka bilang asuransi syariah itu haram, berarti haram. Selesai.

  10. f said

    memang benar kalau agama kita (islam) banyak mengajarkan tutunan hidup kenapa kita cari penyelesaian hidup dari cara lain? islam mengajarkan yg terbaik.

  11. muadzin said

    ya….mari kita kaji…

  12. agus susilo said

    asalamualaikum…

    alquran assunah ( syariah ) sbg pedoman umat dalam kehidupan, termasuk solusi dalam mengentaskan permasalahan yg ada,termasuk asuransi syariah adalah untuk memberikan ketentraman bagi seseorang dalam menjalani kehidupanya

    asuransi ituharus dibangun atas dasar ta’awun , tolong menolong, saling menjamin, tidak berorentasi bisnis atau keuntungan materi semata. Allah SWT berfirman, Dan saling tolong menolonglah dalam kebaikan dan ketaqwaan dan jangan saling tolong menolong dalam dosa dan permusuhan.

    Sistem asuransi itu tidak boleh bersifat mu’awadhoh atau akad jual beli yang menguntungkan. Tidak boleh menjadi sebuah perusahaan yang berorientasi kepada keuntungan material. Yang dbolehkan hanyanya sebuah kerja sosial yang bersifat tabarru’ . Dan tabarru’ itu sama dengan hibah , oleh karena itu haram hukumnya ditarik kembali. Kalau terjadi peristiwa, maka diselesaikan menurut syariat.

    Setiap anggota yang menyetor uangnya menurut jumlah yang telah ditentukan, harus disertai dengan niat membantu demi menegakan prinsip ukhuwah. Kemudian dari uang yang terkumpul itu diambillah sejumlah uang guna membantu orang yang sangat memerlukan.

    Tidak dibenarkan seseorang menyetorkan sejumlah kecil uangnya dengan tujuan supaya ia mendapat imbalan yang berlipat bila terkena suatu musibah. Akan tetepi ia diberi uang jamaah sebagai ganti atas kerugian itu menurut izin yang diberikan oleh jamaah.

    Apabila uang itu akan dikembangkan, maka harus diinvestasikan pada lembaga keuangan non ribawi. Tidak boleh dengan menggunakan sistem bunga, melainkan dengan sistem bagi hasil .

    Dan untuk terpenuhinya syarat itu, dikembangkanlah asuransi syariah. Sebab pada dasrnya di dalam akad asuransi itu memang ada manfaat yang baik. Namun ada juga transaksi yang haram.

    Asuransi syariah adalah sebuah upaya untuk mendapatkan manfaat asuransi tapi dengan membuang semua sisi yang haram.

    Wallahu a’lam bishshawab. wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

  13. perdamaian said

    ikuti arus hidup coy,,jgn sedikit2 mengharamkan…
    ada asuransi karena kita perlu ketenangan,dan planing keselamatan.
    istilahnya buat jaga2…hidup mati di tangan allah…klo mati nah,,…baru deh tau manfaatnya..
    mending hidup nyante yang halal,,daripada tau hukum tapi koruptor bangsat!!

  14. buruburukeliru said

    Tolong dijelasin juga alternatifnya dengan kondisi masyarakat seperti sekarang, yg sudah jelas tidak menerapkan hukum islam, potensi zakat belum maksimal dan optimal, pajak dikorupsi, biaya hidup makin tinggi..

    Jangan cuma sekedar pasang label haram tapi gak bisa ngasih alternatif, kalo kayak begini mekanismenya orang juga bakal ngeledek, kalo memang itu haram sementara situasinya gak mendukung dengan kata lain gak ada alternatif lain yg halal, apakah ini bisa dikategorikan darurat? kalo sudah darurat yg haram boleh dong..

    Jangan terlalu suka nyama2in situasi disini dan di arab tempat fuqaha lajnah daimah (rahimahullahu ta’ala anhuma) tinggal, terutama kondisi ekonominya yg jelas2 beda 360 derajat! itulah kenapa ada MUI (walaupun terkadang lamban bereaksi).
    proporsional lah dalam menilai sesuatu, jangan terburu2 pasang stempel/label..

  15. ichwan jufri said

    assalamu alaikum wr wb..

    sungguh naif penulis dgn mudahnya mengatakan bahwa asuransi yg sifatnya ta’awuni ata takafuli dan yg memiliki label syariah yang dikeluarkan oleh MUI dengan FATWA HARAM!!!
    Fatwa yang anda keluarkan adalah Fatwa yang menyesatkan dan sangt gegabah!! Buat apa ada MUI bila ternyata anda jg yang memutuskan sesuatu itu HARAM, buat apa diadakan DEWAN PENGAWAS SYARIAH yg ujung2nya juga HARAM… dalail yang anda sebutkan diatas sangat tidak berdasar dan hanya berdasarkan dzhonni (prasangka buruk semata), dan anda tidak pernah melakukan studi koprehensif mengenai operasionalnya..
    sekali lagi opini dan fatwa anda sangat bertentangan islam / syariah itu sendiri.

    syukron
    wsslm.. wr .. wb.

  16. ki joko pinter said

    semoga allah subhanahuwatta’alla memberikan hidayah dan magfirah kepada semua manusia, amin.

  17. sidiq said

    HALAL dan HARAM.. Asuransi Haram.. Perbankan Haram.. Leasing juga haram dong.. Berarti apalagi yang halal…

    yang saya tau saya berasuransi bukan ingin mendahulukan Tuhan.. Saya yakin dengan saya berasuransi pun saya gak bisa lebih cepat mati atau lebih lama matinya..

    Saya punya kewajiban yang harus saya bayar, kalau saya mati saya akan mewariskan hutang kepada anak2 saya dan keluarga saya. Makanya saya berasuransi. Namun demikian pun, saya tetap berusaha sekuat mungkin agar segera bisa melunaskan hutang saya.. Pertanyaan.. Salahkah apa yang saya lakukan??

    Memang asuransi menawarkan ketidakpastian, kapan kita mati, kapan kita sakit, kapan kita kena resiko, itu semua tidak pasti, tapi yang saya tau, semua hal yang saya sebutkan tadi PASTI terjadi cuma gak tau kapannya kan?

    Saya selalu percaya Tuhan saya pasti memperhatikan saya, dan saya juga lebih percaya kalau Tuhan saya juga menginginkan saya berusaha untuk mendapatkan perhatian dari Nya.. Saya selalu menyerahkan semuanya kepada Tuhan saya, tapi saya juga harus berusaha untuk segala sesuatunya.. Ini apa2, sedikit2, pasrah… Kadang kita dikasih sesuatu ujian itu untuk di hadaapi, bukan di pasrahi..

    so Saya Tetap berasuransi.. Masalah Dosa dan Pahala, saya serahkan kepada Tuhan saya, saya cuma ingin melaksanakan yang terbaik buat saya, keluarga saya, dan orang di sekitar saya..

  18. […] 1.  Asuransi Takaful Haram […]

  19. […] 2.  Asuransi Takaful Haram […]

  20. cute_kharisma said

    Mohon di jawab dan di jelaskan, dr sekian pertanyaan di atas. jangan bikin ricuh umat Islam di Indonesia.. Tebarkan kedamaian n pemahaman secara jelas mengingat , lain orang lain juga dlam memahami.

  21. Kaji Lagi Hidup Anda said

    Islam itu Rahmatan Lil A’lamin…. kalo anda mau ikutin sunah rasul tuh kepala pakein tutupin.

  22. Hamba Allah Yang Lagi Belajar said

    Yang mudah mengharamkan ternyata yang bersangkutan belum melakukan studi komprehensif tentang praktek asuransi yang sesungguhnya. Bisa jadi pengambilan dalilnya memang kurang pas, tetapi sesungguhnya dalam praktek malah cocok dengan dalil. Ini memang rumit dan perlu ruang khusus untuk membahasnya. Tapi saudaraku, berfikirlah sederhana dan cermati kenyataan bahwa setiap yang batil itu akan musnah meskipun dibungkus dengan istilah yang syar’i. Dan sebaliknya setiap yang membawa maslahat bagi orang lain akan tetap eksis, kan ini masalah muamalah, khususnya masalah ekonomi. Lha selama ini orang pada gampang memukul bahwa asuransi itu haram tapi ternyata asuransi itu memang benar-benar dibutuhkan. Dan peserta asuransipun tidak pernah berfikir bahwa dengan berasuransi segalanya akan beres, ya tidak juga. Tetap ada saja hal yang tidak bisa dijangkau oleh usaha manusia termasuk berasuransi sekalipun. Oleh karena itu asuransi itu hanyalah upaya, bukan sandaran. Asuransi adalah ikhtiar, bukan kemestian.

    Ini opini saya yang dulunya sama meragukan kehalalan asuransi (syariah) sekalipun. Bangsa lain sudah maju bung, jangan kerdil dalam berfikir sepanjang kita tetap sujud kepada Allah SWT, bertaubat kepadaNya setiap waktu, dan menjalankan amanah kita sebagai khalifah di muka bumi, jangan menjadi orang yang kerdil karena berikhtiar untuk sebuah keadilan, menghilangkan ketidakjelasan (ghoror), dan menjadi profesional itu tidaklah mudah. Yang mudah itu memukul dari belakang ketika saudara kita berupaya untuk kejayaan ummat manusia. Kasihan dong kalau begitu……….

  23. menurut pendapat Sata dari tulisan diatas, bahwa si penulis memiliki pengetahuan yang DANGKAL terhadap asuransi. sebelum menulis, mohon dipelajari secara mendalam. jangan melihat sesuatu hanya di permukaan atau setengah2.

  24. Ayah Ojak said

    Assalamualaikum. Bismillah
    HARAM ada HALAL juga pasti ada. Hidup ini sangat sederhana, seperti dua sisi mata uang. Permudah hidup orang lain, pasti Allah mempermudah hidupmu. Dibalik kesederhanaan hidup, ada sesuatu yang selalu Allah rahasiakan kepada kita yaitu jodoh, rejeki, dan maut.

    Ketika kita TIDAK SUKA terhadap sesuatu pastikan kita mencari (minimal satu) alternatif yang kita SUKA, sehingga klaim kita menjadi lebih berharga untuk Umat. Tanpa itu, segala ide atau hukum yang susah-susah kita buat tidak pernah akan dihargai orang lain, justru akan dicela sana-sini. Tentu kita tidak ingin tercela gara-gara ide kita sendirikan?

    Asuransi (jiwa) dengan maksud tolong menolong yang telah mendapat label HALAL dari MUI seharusnya menjadi sebuah alternatif SUKA terhadap berbagai label TIDAK SUKA/HARAM yang banyak beredar. Setiap orang berhak mengeluarkan kajian hukum terhadap keputusan MUI, tapi tolong, sediakan juga solusinya. Hanya memberikan nasi tanpa memberikan benih padi, tujuannya membunuh juga.

    Usaha anak bangsa mendirikan ASURANSI TAKAFUL, harusnya kita apreseasi secara positif sebagai solusi berasuransi secara syariah di Indonesia. Jika ada lubang, sama-sama kita tambal, karena sifat manusia yang tak mungkin sempurna. Manusia diberi kelebihan bukan untuk mencela, tapi untuk memberikan SOLUSI, yang sangat menyedihkan adalah CELAAN TERHADAP SEBUAH SOLUSI.

    Tentu tidak butuh orang bijak untuk mengatakan ini. Yang pasti mari kita berikan solusi, bukan maki. Mari berikan lahan dan benih padi bukan nasi, karena Allah mencintai orang-orang yang mencintai sesamanya. Wassalam

  25. ical said

    menurut saya alternatifnya ialah dengan menabung atau dengan membeli emas untuk persiapan masa depan.
    karena percuma kita di masa depan nanti punya uang banyak dari asuransi tetapi statusnya haram, apakah tidak takut di minta pertanggung jawaban oleh Allah SWT?
    memang pada kenyataanya semua institusi keuangan menggunakan sistem riba , baik bank, leasing, maupun asuransi.
    janganlah kita memaki-maki orang yang menyampaikan kebenaran, coba merenung sejenak sambil mencari informasi dari sumber2 lain.
    dan untuk ahli ekonomi islam diharapkan memberikan pemahaman mengenai alternatif selain bank, leasing, maupun asuransi ini. karena sudah begitu kuatnya sistem keuangan ini di negara kita dan di dunia.
    tapi kebenaran sudah disampaikan oleh penulis, tinggal kita mau melaksanakannya atau tidak. kita mencari kebenaran atau mencari pembenaran?
    semua pahala dan dosa adalah ditanggung kita masing2.

    • daviq said

      Nah, subhanallah saya paling suka sama komentar yg satu ini…..setuju gan… respon yg kontra terhadap haramnya asuransi kelihatan sangat skeptis…….memang benar2 dajal itu sudah menebar fitnah sampai ke dalam rumah kita masing2, klo lihat komentar2 yg menyangkal bahwa asuransi itu haram seperti seakan2 kembali ke jaman para rasul, selalu mendapatkan peetentangan dari masyarakat sekitarnya….ngeri gan kiamat memang benar2 sudah dekat klo liat komentar2 yg pro asuransi, ketika dajal di kedua tangannya membawa air dan api, kebanyakan umat yg terkena fitnah dajal malah memilih air padahal itu adalh api….allahumma inni audzubika min adzabi fitnati massihiddajjal

    • Nugrah W Raharjo said

      setuju…..!!! mending ikut asuransi di masjid – masjid….. di anak yatim…. jamin bunganya lebih gede…..hehehehe… ngapunten…. menurut saya kalau ikut asuransi berarti saya udah yakin bahwa saat mati, keluarga saya sengsara….. bahwa saat tua,saya ga punya pensiun….. ( Asuransi = persiapan / jaga – jaga / buat masa tua / mati ) sprtnya koq saya………. Allah Maha Kaya…!!!! bukan saya takabur dan tidak ada persiapan saat “nanti”… hanya saja saya lebih bisa memahami jika apa yg kita perdagangkan di jalan Allah keuntungannya tidak bisa dihitung…….. ” lebih baik saya mati saat sakit, dari pada sembuh tapi riba”… ( suherman rosidi, univ airlangga )

  26. deb said

    menghalalkan yang haram itu dosa besar.

    mengharamkan yang halal juga dosa besar.

    makanya jangan terlalu cepat membuat fatwa, apalagi dalam hal muamalah.

    semakin mudah mengeluarkan fatwa, makin terlihat kedangkalannya.

  27. tri mulyono said

    BISMILLAH.
    tulisan di atas bagus, rekan-rekan perlu membacanyadg pelan2 dan memahaminya.

  28. Eko said

    Sampaikan solusi … atau memang tidak ada solusi??? mana yang boleh… kalo tidak ada bisakah dihukum darurat.. dengan mencari mana yang paling mendekati benar atau yang mudhorot paling kecil dari mudhorot yang besar . Sebab asuransi buat saya perlu.

    Trims..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: