Konsultasi Islam

Mengatasi Masalah dengan Syariah

Parfum Beralkohol, Najiskah?

Posted by Farid Ma'ruf pada 29 Desember 2010

Tanya :

Ustadz, apa hukumnya menggunakan parfum yang beralkohol?

Jawab :

Parfum beralkohol adalah setiap parfum yang mengandung alkohol (etanol). Banyak orang mengira kadar alkohol dalam parfum lebih sedikit dibanding kadar parfum murninya. Padahal faktanya kadar alkoholnya lebih banyak. Menurut Al-Dhumairi, umumnya kadar parfum murninya hanya 10 % sedang kadar alkoholnya 90 %. Paling banyak kadar parfum murninya hanya sekitar 25 %. Jadi, sebutan yang tepat sebenarnya alkohol berparfum, bukan parfum beralkohol. (Abu Malik Al-Dhumairi, Fathul Ghafur fi Isti’mal Al-Kuhul Ma’a al-‘Uthur, hal. 14-15).

Para ulama berbeda pendapat mengenai boleh tidaknya menggunakan parfum beralkohol. Sebagian ulama tidak membolehkan, karena menganggap alkohol najis. Sedang sebagian lainnya membolehkan, karena tak menganggapnya najis. Perbedaan pendapat tentang kenajisan alkohol berpangkal pada perbedaan pendapat tentang khamr, apakah ia najis atau tidak.

Khamr itu sendiri dalam pengertian syar’i adalah setiap minuman yang memabukkan (kullu syaraabin muskirin) (Abdurrahman al-Maliki, Nizhamul ‘Uqubat, hal. 25). Di masa modern kini telah diketahui, unsur yang membuat khamr memabukkan adalah alkohol (etanol). Maka dalam pengertian teknis kimia, khamr didefinisikan sebagai setiap minuman yang mengandung alkohol (etanol) baik kadarnya sedikit maupun banyak. (Abu Malik Al-Dhumairi, ibid., hal. 13).

Menurut jumhur (mayoritas) fuqaha, seperti Imam Abu Hanifah, Maliki, Syafi’i, Ahmad, dan Ibnu Taimiyah, khamr adalah najis. Namun sebagian ulama, seperti Imam Laits bin Sa’ad, Muzani, dan Rabi’ah Al-Ra`yi, menganggap khamr itu suci, tidak najis. (Wahbah Zuhaili, Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu, 1/260 & 7/427; Imam Al-Qurthubi, Ahkamul Qur`an, 3/52; Abdurrahman al-Jaziri, Al-Fiqh ‘Ala Madzahib al-Arba’ah, 1/18).

Ulama yang menganggap khamr najis antara lain berdalil dengan ayat (artinya),“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah adalah perbuatan keji (rijsun) termasuk perbuatan syaitan.” (QS Al-Ma`idah : 90). Ayat ini menunjukan kenajisan khamr, karena Allah SWT menyebut khamr merupakan rijsun, yang berarti najis. Karena itu, menurut ulama Hanafiyah pakaian yang tersiram khamr seukuran koin dirham tidak boleh digunakan sholat karena dianggap terkena najis. (Wahbah Zuhaili, ibid., 7/427).

Namun ulama yang menganggap khamr tak najis membantah pendapat tersebut. Menurut mereka kata rijsun dalam ayat tersebut artinya adalah najis secara maknawi, bukan najis secara hakiki. Artinya khamr tetap dianggap zat suci, bukan najis, meskipun memang haram untuk diminum. Karena zat yang haram tak selalu najis, meski zat yang najis pasti haram. (Tafsir Al-Manar, 58/7; Imam Shan’ani, Subulus Salam, 1/36; Sayyid Sabiq, Fiqih As-Sunnah, 1/19).

Adapun menurut kami, yang rajih adalah pendapat jumhur bahwa khamr itu najis. Dalilnya memang bukan ayat tentang khamr (QS Al-Ma`idah : 90), namun hadits Nabi SAW dari Abu Tsa’labah Al-Khusyani RA. Dia pernah bertanya kepada Nabi SAW,”Kami bertetangga dengan Ahli Kitab sedang mereka memasak babi dalam panci-panci mereka dan meminum khamr dalam bejana-bejana mereka.” Nabi SAW menjawab,”Jika kamu dapati wadah lainnya, makan makan dan minumlah padanya. Jika tidak kamu dapati wadah lainnya, cucilah wadah-wadah mereka dengan air dan gunakan untuk makan dan minum.” (HR Ahmad & Abu Dawud, dengan isnad shahih).(Subulus Salam, 1/33; Nailul Authar, hal. 62).

Hadits di atas menunjukkan kenajisan khamr, sebab Nabi SAW tidak memerintahkan untuk mencuci wadah mereka dengan air, kecuali karena khamr itu najis. Ini diperkuat dengan riwayat Ad-Daruquthni, bahwa Nabi SAW bersabda,”maka cucilah wadah-wadah mereka dengan air karena air itu akan menyucikannya.” (farhadhuuhaa bil-maa`i fa-inna al-maa`a thahuuruhaa) (Mahmud Uwaidhah, Al-Jami’ Li Ahkam Al-Shalah, 1/45).

Kesimpulannya, alkohol (etanol) itu najis karena khamr itu najis. Maka, parfum beralkohol tidak boleh digunakan karena najis. Wallahu a’lam. (www.konsultasi.wordpress.com)

Yogyakarta, 28 Desember 2010

Muhammad Shiddiq Al-Jawi

Sumber : http://khilafah1924.org/index.php?option=com_content&task=view&id=797&Itemid=33

6 Tanggapan to “Parfum Beralkohol, Najiskah?”

  1. Saifullah Hasan said

    Assalamualaikum wr. wb.
    Berdasarkan dalil-dalai yang dikemukan oleh ustad Muhammad Shiddiq Al-jawi saya berpendapat kalau alkohol dalam parfum tidak merupakan najis. karea:

    Yang dikatakan najis dalam QS Al-Maidah : 90 tersebut jelas ditekankan pada perbuatan meminumnya. dan

    hadits Nabi SAW dari Abu Tsa’labah Al-Khusyani RA. tentang memakai bejana yang ber khamar juga untuk tempat minum.

    Terima kasih
    Mohon maaf
    Wassalam

  2. Assalamu’alaikum wr.wb.
    Kalo alkohol utk pengobatan, apakah tidak najis?

    Wassalam wr.wb.

  3. asking said

    khamr = minuman yg memabukkan dan didalamnya terdapat alkohol
    kalo semua alkohol diharamkan, maka bberapa jenis buah2an yang mengandung alkohol adalah haram/najis donk? gimana tu?
    trus kalo ada peralatan rumah tangga yg pake alkohol sbagai bhan campurannya seperti pembersih kaca, itu juga haram/najis donk?
    trus kalo kedokter mau disuntik trus kulitnya diolesi alkohol brarti juga kena najis donk?

    gimana tu hayo?

  4. Dicky said

    Menurut saya tidak semua alkohol itu etanol, tergantung cara penyulingan nya mau dibuat etanol atau bukan. karena khamr itu haram tapi bukan Alkohol itu haram. Kalau alkohol yg untuk makan biasanya bukan Alkohol etanol tetapi lain cara penyulingan nya, yang haram Alkohol yg di suling berlebihan yg dpt membuat mabuk, kalau Alkohol yg bukan disuling untuk khamr tidak memabuk kan

  5. syafi'i said

    Perlu pendalaman fakta yang lebih dalam terkait alkohol selain etanol, apakah memabukan atau tidak.

  6. kot ken said

    dari Abu Tsa’labah Al-Khusyani RA. Dia pernah bertanya kepada Nabi SAW,”Kami bertetangga dengan Ahli Kitab sedang mereka memasak babi dalam panci-panci mereka dan meminum khamr dalam bejana-bejana mereka.” Nabi SAW menjawab,”Jika kamu dapati wadah lainnya, makan makan dan minumlah padanya. Jika tidak kamu dapati wadah lainnya, cucilah wadah-wadah mereka dengan air dan gunakan untuk makan dan minum.” (HR Ahmad & Abu Dawud, dengan isnad shahih).(Subulus Salam, 1/33; Nailul Authar, hal. 62).

    hadits diatas bukan menunjukkan khamer najis, tapi babi yg najis. jika mmg khamer najis pasti sdh banyak hadits yg mengulasnya spt kenajisan babi dll

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: