Konsultasi Islam

Mengatasi Masalah dengan Syariah

Trauma Anak Pasca Bencana

Posted by Farid Ma'ruf pada 19 Januari 2011

Pertanyaan :

Assalamu’alakum Wr. Wb
Ibu Pengasuh Rubrik Konsultasi Keluarga yang saya hormati. Begitu banyak bencana yang melanda negeri ini beberapa hari terakhir. Bukan hanya orang dewasa yang menjadi korban, tetapi juga anak-anak. Apakah bencana-bencana tersebut dapat menimbulkan trauma yang mendalam pada anak-anak, sehingga menghambat perkembangan mereka? Gejala-gejala seperti apa yang muncul jika anak mengalami trauma, dan bagaimana mengatasinya. Syukron atas jawabannya.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Mila
Bandung

Wa’alaikumsalam Wr.Wb


Jawaban :

Mila yang baik,
Trauma merupakan suatu kejadian yang sangat membekas dan amat mendalam pada diri anak karena anak pernah menyaksikan, mengalami, dan merasakan langsung kejadian yang secara aktual mengerikan, menakutkan atau bahkan mengancam jiwanya. Seperti peristiwa kecelakaan, bencana alam, kebakaran, kematian seseorang, kekerasan fisik maupun seksual, pertengkaran hebat orangtua, perceraian, dan sebagainya. Bagi anak-anak, kejadian seperti ini biasanya akan membekas dalam ingatannya dan tak mudah untuk dilupakan. Bencana alam yang melanda sebagian tempat akhir-akhir ini, seperti banjir di Wasior, tsunami di Mentawai  atau meletusnya gunung Merapi merupakan kejadian yang datangnya tiba-tiba dan membuat perubahan secara mendadak dalam kehidupan anak-anak sehari-hari. Kehidupan yang biasanya tenang, tempat tinggal yang nyaman, tiba-tiba harus berpindah dan tinggal di bawah tenda atau tempat pengungsian. Tidak hanya itu, kehilangan sesuatu yang sangat bernilai, seperti orang-orang yang  dicintai, hubungan sosial dan komunitas secara tiba-tiba bisa jadi akan menimbulkan stres dan trauma.

Mila yang baik,
Bentuk-bentuk dari trauma psikologis ini bervariasi, mulai dari yang ringan sampai yang berat. Yang ringan di antaranya adalah kecemasan dan yang paling berat adalah post-traumatic stress disorder (PTSD). Yang manifestasinya bisa berbentuk halusinasi dan depresi berat serta gangguan fisik antara lain pada pendengaran dan mata. Dalam  bencana apapun, anak-anak adalah kelompok usia yang rentan akan dampak trauma psikologis. Dalam jangka panjang, jika tidak ditangani dengan baik akan bisa berpengaruh pada perkembangan anak selanjutnya. Masalah ini akan semakin berat ketika anak-anak ini harus kehilangan orang tua atau sosok yang dekat dengan mereka selama ini.

Mila yang baik,
Berdasarkan riset yang pernah dilakukan, ditemukan bahwa kebanyakan trauma psikologis akan muncul setelah 2-3 minggu setelah bencana. Mengatasi trauma pasca bencana pada anak dapat dilakukan dengan mengajak mereka bermain dengan permainan yang dapat mengekpresikan perasaannya. Atau kegiatan lain yang bersifat fun (menyenangkan) seperti menggambar dan aneka permainan yang disenangi anak-anak. Kegiatan seperti ini, diharapkan akan dapat  memberikan terapi pada anak, meledakkan emosinya yang dibalut dengan aneka permainan sehingga berkurang kecemasan dan traumanya. Aneka permainan ini kelihatannya memang sederhana, namun akan memberikan manfaat yang luar biasa karena anak akan kembali bergembira, ceria  sehingga diharapkan akan mampu melupakan pengalaman traumatiknya. Selain itu, orang tua juga harus tetap  terus memberikan dukungan. Seperti misalnya dengan membuat anak selalu merasa nyaman dan tenang, bantulah mereka untuk bisa bersikap sabar atas situasi yang sedang mereka alami. Jangan panik, karena akan membuat anak semakin panik dan merasa takut. Besarkan hati anak supaya kuat menghadapi cobaan. Yakinkan mereka bahwa mereka tidak sendiri dan cobaan itu akan dihadapi bersama-sama.

Mila yang baik,
Selain berbagai permainan dan dukungan dari orang tua, berikan pula latihan, atau bimbingan praktis dan sederhana kepada anak-anak ketika menghadapi bencana. Dan yang tak kalah penting tentunya mempersiapkan mereka secara psikologis dengan memberikan pemahaman yang berkaitan dengan musibah dan ujian yang datangnya bisa kapan saja. Sampaikan juga pemahaman pada anak tentang bagaimanan seharusnya seorang muslim menyikapi sebuah bencana. Kajian tentang dua ayat  dalam surat Al-Baqarah bisa diberikan. Ayat 155 dan 156 yang menjelaskan tentang bagaimana seharusnya seorang Muslim bersikap dan berucap ketika cobaan atau musibah itu datang. “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Sesungguhnya semua ini berasal dari Allah dan sesungguhnya kepada-Nya akan kembali. [www.konsultasi.wordpress.com]

Diasuh oleh: Dra (Psi) Zulia Ilmawati

Sumber : Tabloid Media Umat edisi 46

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: