Konsultasi Islam

Mengatasi Masalah dengan Syariah

Membatalkan Puasa Selasa, Shalatnya Rabu, Bolehkah?

Posted by Farid Ma'ruf pada 7 Desember 2011

Tanya :

Ustadz, pada tahun 1432 ini ada dua versi Idul Fitri. Bolehkah kita membatalkan puasa pada hari Selasa 30 Agustus 2011 (1 Syawal menurut versi pertama), tapi shalat Idul Fitrinya hari Selasa 31 Agustus 2011 (1 Syawal menurut versi kedua)?

 

Endar, Bogor

 

Jawab :

 

Shalat Idul Fitri dan Idul Adha mempunyai waktu yang sudah ditentukan oleh syara’. Waktunya dimulai pada saat matahari mulai meninggi atau mulai berwarna putih (setelah sebelumnya berwarna kuning), atau kira-kira mulai jam 06.00 pagi, dan berakhir pada saat matahari telah tergelincir (zawal) dari posisi tengahnya di siang hari pada waktu Zhuhur. Jadi waktunya sama dengan waktu shalat Dhuha. (Mahmud Abdul Lathif Uwaidhah, Al-Jami’ li Ahkam Ash-Shalah, 2/275).

 

Dalilnya adalah hadits dari Yazid bin Humair Ar-Rahbi RA, dia berkata, ”Abdullah bin Busr seorang sahabat Rasulullah SAW telah keluar bersama orang-orang pada hari Idul Fitri atau Idul Adha. Dia mengingkari lambatnya imam, lalu dia berkata, ’Sesungguhnya dahulu kami telah selesai [shalat Idul Fitri atau Idul Adha] pada saat kita yang seperti ini, waktunya adalah pada saat tasbih.” (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah). Yang dimaksud “pada saat tasbih” (hiina at-tasbiih) adalah pada saat berakhirnya waktu makruh untuk shalat (saat terbitnya matahari) dan saat mulai bolehnya melakukan shalat Dhuha. Kalau shalat Idul Fitri atau Idul Adha tidak dikerjakan pada waktu yang ditetapkan tersebut, misalnya dikerjakan sebelum matahari terbit atau dikerjakan setelah tengah hari, shalatnya tidak sah. (Mahmud Abdul Lathif Uwaidhah, ibid.).

 

Maka dari itu, menurut kami, mereka yang meyakini 1 Syawal 1432 jatuh pada hari Selasa 30 Agustus 2011 tidak boleh mengerjakan shalat Idul Fitri pada hari berikutnya (Rabu 31 Agustus 2011). Karena berarti mereka mengerjakan shalat Idul Fitri sudah di luar waktu yang ditetapkan, yang telah berakhir waktunya pada saat tengah hari pada Selasa 30 Agustus 2011 itu. Dengan kata lain, mereka shalat setelah tiadanya sebab shalat. Masuknya waktu shalat adalah sebab untuk bolehnya mengerjakan shalat. Maka jika sebab ini sudah tiada, yakni waktunya sudah habis, berarti shalat tidak boleh lagi dikerjakan. Kaidah fiqih dalam masalah ini menyebutkan : Zawal al-ahkam bi zawal asbabiha. (Hukum-hukum itu menjadi tiada disebabkan tiadanya sebab-sebabnya) (Izzuddin bin Abdis Salam, Qawa’id Al-Ahkam fi Mashalih Al-Anam, Juz II hlm. 4).

 

Kecuali jika berita terlihatnya hilal datang terlambat, yakni baru diketahui setelah tengah hari, maka boleh hukumnya mengerjakan shalat Idul Fitri pada hari berikutnya. Dalilnya hadits Umair bin Anas dari paman-pamannya golongan Anshar, mereka berkata, ”Hilal Syawal telah tertutup bagi kami, maka kami pun tetap berpuasa pada keesokan harinya. Lalu datang satu rombongan pada sore hari dan merekapun bersaksi di hadapan Rasulullah SAW bahwa mereka telah melihat hilal kemarin. Maka Rasulullah SAW memerintahkan orang-orang agar mereka berbuka pada hari itu, dan memerintahkan pula agar mereka keluar untuk shalat Idul Fitri keesokan harinya.” (HR Khamsah, kecuali Tirmidzi. Lihat Imam Syaukani, Nailul Authar, hlm. 698, hadits no. 1304; Imam Shan’ani, Subulus Salam, Juz II hlm. 64).

 

Menurut Imam Syaukani hadits ini adalah dalil bahwa shalat Idul Fitri boleh dikerjakan pada hari kedua, jika berita tentang Idul Fitri baru diketahui setelah habisnya waktu shalat Idul Fitri. Inilah pendapat Imam Auza’i, Tsauri, Ahmad, Abu Hanifah, Abu Yusuf, Muhammad bin Hasan, dan juga satu versi pendapat Imam Syafi’i. (Imam Syaukani, Nailul Authar, hal. 698; Imam Shan’ani, Subulus Salam, Juz II hlm. 64).

 

Kesimpulannya, mereka yang meyakini 1 Syawal 1432 jatuh hari Selasa 30 Agustus 2011 tidak boleh mengerjakan shalat Idul Fitri pada Rabu 31 Agustus 2011. Karena berarti mereka mengerjakan shalat setelah habis waktunya. Kecuali jika berita terlihatnya hilal Syawal baru diketahui setelah tengah hari, boleh hukumnya mengerjakan shalat Idul Fitri pada hari berikutnya. Wallahu a’lam.[www.konsultasi.wordpress.com]

Sumber : http://mediaumat.com/ustadz-menjawab/3316-66-membatalkan-puasa-selasa-shalatnya-rabu-bolehkah.html

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: