Konsultasi Islam

Mengatasi Masalah dengan Syariah

Memahami Hubungan Pakistan-AS

Posted by Farid Ma'ruf pada 7 Oktober 2012

Pertanyaan:
Sekarang sudah lebih dari satu tahun media lokal dan internasional telah secara konsisten melaporkan bentrokan yang terjadi antara militer Amerika Serikat dan militer Pakistan. Kejadian ini diawali dengan kasus Davis Raymond, kemudian diikuti dengan serangan ke wilayah Abottabad yang membunuh Osama bin Laden dan akhirnya kami harus menutup jalur pasokan NATO setelah terjadi serangan di perbatasan Salala oleh pasukan ISAF.

Apakah bentrokan antara Angkatan Darat Pakistan dan Amerika benar-benar murni? Mengenai apakah sebenarnya bentrokan ini bisa terjadi? Apakah benar jika dikatakan bahwa militer Pakistan menggagalkan rencana-rencana  Amerika untuk menarik diri dari wilayah itu sehingga mereka bisa melakukan tawar-menawar peran yang lebih besar bagi dirinya sendiri di Afghanistan, setelah sebagian besar pasukan NATO meninggalkan Afghanistan? Apakah benar bahwa Pakistan dan Amerika memiliki perbedaan pendapat mengenai masalah bagaimana menghadapi kelompok Haqqani? Apakah Pakistan melindungi kelompok Haqqani dari serangan Amerika?

Jawab:

1. Sangat penting untuk memahami bahwa militer di Pakistan adalah lembaga paling penting di negara itu dan terdapat hubungan dengan AS dalam beberapa tahun. Selama periode ini, militer telah mengalami banyak perubahan dan perubahan yang paling dramatis terjadi selama era Zia-ul-Haq. Zia melakukan Islamisasi militer untuk mendukung perpanjangan perang Amerika dalam melawan Uni Soviet di Afghanistan. Perubahan-perubahan yang diperkenalkan oleh PM Zia telah meninggalkan kesan yang kuat pada militer, khususnya para kader tentaranya. Disamping terdapat juga kelompok nasionalis dan unsur-unsur sekuler dalam tentara.

2. Ketika Pervez Musharraf menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (COA), dia harus bersaing dengan tiga faksi lainnya, namun dia lebih memperhatikan kelompok Islam. Setelah Peristiwa 11 September 2001, Amerika membalikkan kebijakan Islamisasi Pakistan dan berkolusi dengan Musharraf mulai melakukan de-Islamisasi tentara, masyarakat Pakistan dan lembaga-lembaga lainnya (termasuk lembaga pendidikan, madrasah dll). Musharraf memburu kelompok Islamis di  dalam tubuh tentara. Dia mempensiunkan dini sebagian tentara ,  sementara yang lainnya ditempatkan pada post yang jauh dan sebagian lagi dajukan ke meja hijau. Dia juga mengubah kurikulum untuk memberikan penekanan sekuler yang baru dan mempromosikan pejabat militer yang memiliki kecendrungan pemikiran sekularis pada posisi-posisi penting.

3. Musharraf bukan saja tidak berhasil untuk menghapuskan pengaruh para perwira yang berpikiran Islam, dia juga gagal untuk mengubah konsep militer yang berkaitan dengan keamanan Pakistan, terutama dalam membela Pakistan untuk menghadapi India dan untuk memiliki pemerintahan Pasthun yang ramah di Afghanistan. Ide-ide tersebut juga mendapatkan dukungan yang kuat diantara kaum nasionalis dan telah mempersulit setiap COA – seberapapun setianya dia terhadap AS – untuk menekan sifat-sifat terebut dalam tubuh tentara.

Oleh karena itu, perlu bagi Kepala Staf Angkatan Darat untuk tampil seolah-olah dia bersengketa dengan Amerika Serikat. Hal ini untuk menunjukkan seolah-olah apa yang dia ingin terapkan adalah untuk kepentingan Pakistan dan bukan untuk kepentingan Amerika. Hal ini untuk melawan sikap mereka yang menentang dan enggan mengikuti Amerika Serikat, terlepas dari sejauh mana instruksi tersebut dilaksanakan oleh Kepala Staf Angkatan Darat dalam kapasitas pribadinya.

4. Adapun yang tampaknya merupakan krisis yang terjadi antara militer AS dan Pakistan; Kayani tidaklah berbeda dengan para pendahulunya, dan mengalami kendala kelembagaan yang sama seperti yang dikenakan oleh tentara, serta tuntutan keras Amerika yang ditempatkan di pundaknya. Hal ini sering berarti bahwa dia harus melangkah secara hati-hati di antara dua kekuatan yang bertentangan untuk memastikan bahwa tuntutan Amerika terpenuhi. Namun, serangan Abbottabad oleh pasukan AS dan pembunuhan tentara Pakistan di Salala oleh pasukan NATO telah menjadikannya lebih sulit lagi baginya untuk melaksanakan tuntutan-tuntuan Amerika. Kredibilitasnya telah sangat rusak di dalam angkatan bersenjata maupun di dalam masyarakat Pakistan. Penangkapan atas Brigadir Ali Khan menunjukkan resistansi internal yang dihadapi Kayani.

5. Untuk meredakan kekhawatiran tersebut, Kayani memilih untuk menunda Operasi di Waziristan Utara dan menolak untuk membuka kembali jalur pasokan NATO. Tindakannya disambut dengan banyak keluhan dan ancaman dari para pejabat AS. Menteri Pertahanan Amerika Serikat mengeluarkan kata-kata kasar untuk Pakistan. Dia mengatakan, “Kesabaran kami telah habis di sini. Sulit untuk mencapai perdamaian di Afghanistan selama ada tempat yang aman bagi para teroris di Pakistan. Adalah sangat penting bagi Pakistan untuk mengambil langkah-langkah. Tempat perlindungan yang aman telah menjadi keprihatinan yang meningkat. “

6. Pada akhirnya, para pemimpin Pakistan menyerah pada tuntutan AS untuk membuka kembali jalur pasokan NATO. Pada tanggal 1 Juli 2012, berlangsung pembicaraan antara para pejabat Amerika dan pejabat Pakistan di Islamabad yang mengakibatkan dibukanya kembali jalur pasokan sebagai imbalan atas permintaan maaf yang diutarakan Menteri Luar Negeri AS Hilary Clinton. Pihak AS diwakili oleh Wakil Menteri Luar Negeri Thomas Nides, Komandan ISAF, Jenderal John Allen, dan Duta Besar AS, Cameron Munter, sedangkan pihak Pakistan diwakili Kayani dan diantaranya Menteri Luar Negeri, Hina Rabbani Khar. Kepemimpinan Pakistan, sekali lagi muncul sebagai pecundang.

7. Adapun yang tampak dari Kayani sebagai sikap diam atas kelompok Haqqani, hal ini tidak di luar konteks dari apa yang kita telah sebutkan sebelumnya, yakni bahwa dalam rangka melaksanakan instruksi Amerika, Kayani tampak seolah-olah menentang Amerika. Untuk menjelaskannya, hal-hal berikut patut dijadikan pertimbangan:

a. Kayani melanjutkan serangan terhadap Taliban dan wilayah-wilayah perbatasan suku

b. Roket-roket dipasang pada pesawat drone mata-mata Amerika untuk menyerang kelompok mujahidin di wilayah perbatasan dan di luar wilayah mereka.

Kedua masalah itu menimbulkan kebencian pada masyarakat Pakistan untuk melawan Kayani dan institusi militer. Jadi sikap diam Kayani atas kelompok Haqqani adalah ketakutan akan kemarahan rakyat, terutama sejak kelompok Haqqani sudah diketahui secara umum berada di wilayahnya. Meskipun demikian, Kayani tidak membolehkan kelompok itu untuk melakukan serangan efektif apapun atau berkelanjutan yang melintasi perbatasan dan untuk mendesak Amerika mengejar mujahidin di seberang perbatasan. Jadi, dalam rapat gabungan antara Kayani dan Jenderal John Allen, dia (Kayani) mengangkat isu untuk menyerbu kelompok militan, sehingga juru bicara militer mengatakan: “Kami mengangkat isu serangan lintas perbatasan dari Afghanistan pada institusi militer di Pakistan dan meminta ISAF untuk melakukan operasi terhadap wilayah-wilayah perlindungan bagi kelompok ekstrimis di Afghanistan dan pembubaran kelompok-kelompok  militan yang berpartisipasi dalam serangan lintas perbatasan di Pakistan “Dan. Inilah yang sedang dilakukan oleh Kayani, sambil menipu rakyat bahwa dia mendukung kelompok Haqqani.

25 Shaaban 1.433 AH-15/07/2012

Sumber : www.hizbut-tahrir.or.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: