Konsultasi Islam

Mengatasi Masalah dengan Syariah

Jika Suami Merasa Diduakan

Posted by Farid Ma'ruf pada 18 Januari 2013

Pertanyaan :

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Ibu Pengasuh Rubrik Konsultasi Keluarga yang saya hormati, saya mau bertanya tentang bagaimana caranya supaya suami  tidak merasa diduakan oleh aktivitas dakwah saya. Selama ini, suami merasa aktivitas dakwah saya sudah mengalihkan perhatian saya pada suami. Kebetulan suami belum terlibat aktif dalam kegiatan dakwah seperti yang saya lakukan selama ini. Mohon solusinya.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

ES

Tangerang

Jawaban :

Wa’alaikumsalam Wr.Wb.

Ibu ES yang baik,

Kunci utama keluarga bahagia adalah adanya saling cinta dan kasih sayang antara suami dan istri.  Sang suami akan menghargai dan memberikan segenap cinta dan kasih sayang kepada istrinya, demikian pula sebaliknya. Agar semua itu terjadi, maka ketika akan menikah kita dianjurkan untuk memilih dan mempertimbangkan berbagai hal terhadap calon suami atau istri. Secara khusus Islam memberikan gambaran jelas tentang bagaiamana semestinya pasangan yang harus kita pilih, yaitu dasar utama bahkan satu-satunya dasar pernikahan yang menjamin kebahagiaan dunia akhirat adalah agama (Islam).

“Seorang wanita dinikahi karena empat hal, karena hartanya, martabatnya, kecantikannya, agamanya, maka carilah wanita yang taat beragama agar engkau beruntung”. (HR Al Khamsah/Lima Imam Hadits).

Sebagaimana memilih istri, maka pertimbangan dalam memilih suami pun didasarkan atas nilai agama. Rasulullah SAW telah memberikan petunjuk agar memilih seorang laki-laki yang taat beragama dan memiliki pemahaman terhadap hukum syara’.

“Apabila datang (untuk melamar) kepadamu seorang laki-laki yang kamu pandang baik agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia, sebab jika tidak, akan terjadi fitnah dan kerusakan di muka bumi,” para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, walaupun dia seorang yang miskin dan dari golongan kelas bawah?” Nabi menjawab: “Apabila yang datang kepadamu laki-laki yang baik agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia, ucapan ini beliau ulangi tiga kali”. (HR Tirmidzi).

Saat memilih, yang menjadi pertimbangan utama, adalah pemahaman agama calon suami atau istri.  Namun, ketika pernikahan itu sudah berlangsung, dan seorang laki-laki sudah menjadi suami kita, maka tentu tidak lagi bisa memilih, tetapi berupaya bagaimana supaya tujuan pernikahan bisa tercapai, yaitu terwujudnya keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah.

Ibu ES yang baik,

Keluarga sakinah hanya akan bisa diwujudkan jika antara suami dan istri memiliki visi dan misi yang sama tentang pernikahan, memiliki pandangan yang sama tentang bagaimana memandang, menjalani dan memecahkan problem dalam keluarga. Seperti apa yang Anda ceritakan, bahwa suami saat ini masih belum aktif dalam kegiatan dakwah. Jadi sangat wajar jika kemudian dia  merasa diduakan dengan kesibukan Anda selama ini. Cobalah untuk memberikan gambaran pada suami tentang kewajiban dakwah bagi setiap Muslim. Barangkali suami memang belum paham betul tentang persoalan ini. Jika demikian adanya, maka Anda harus berupaya mengubah pemahaman suami, baik secara langsung mengajaknya berdiskusi atau meminta bantuan orang lain yang tepat. Selain tentang pemahaman kewajiban dakwah, secara bertahap ajaklah suami melibatkan diri dalam aktivitas ini.  Sampaikan padanya tentang bentuk keluarga yang Anda inginkan, bahwa keluarga yang akan dibentuk merupakan sebuah keluarga dakwah, sehingga suami juga  paham tentang keinganan Anda. Gambarkan pahala yang dijanjikan Allah SWT untuk para pengemban dakwah.  Ajaklah suami melakukan shillah ukhuwah kepada teman, atau keluarga yang memiliki komitmen tinggi terhadap dakwah agar termotivasi untuk melakukan hal yang sama,  melalui contoh dari orang lain.

Ibu ES yang baik,

Selain hal-hal di atas, cobalah Anda juga melakukan introspeksi diri. Barangkali selama ini masih ada hal-hal yang kurang pas dalam mengomunikasikan aktivitas Anda pada suami.  Banyak persoalan dalam rumah tangga yang muncul, termasuk di antaranya “kecemburuan” suami terhadap aktivitas istri hanya karena komunikasi yang tidak berjalan dengan lancar.  Usahakan untuk selalu tenang, ketika menemui situasi yang tidak menyenangkan dari suami, dan berikan kenyamanan yang dibutuhkan suami. Yakinkan, bahwa kesibukan Anda dalam aktivitas dakwah tidak akan berimbas pada berkurangnya perhatian pada suami.  Sebaiknya Anda juga harus peka dengan kecemburuan yang muncul. Bila suami mulai mempermasalahkan kesibukan dakwah Anda,  berikan perhatian lebih kepada suami dan tingkatkan komunikasi yang hangat. Perhatikan kebutuhan suami, baik secara biologis maupun psikologis. Ciptakan rutinitas yang mem­­pererat hubungan dengan suami. Misalnya, berbincang dengan suami saat anak tidur, atau hal-hal kecil yang sebetulnya sangat berarti buat suami Anda. Ingatkan suami akan hal-hal yang membuat Anda berdua saling mencintai. Tingkatkan pula rasa saling menghargai dengan banyak mengucapkan terima kasih. Sempatkan untuk melakukan ibadah bersama secara rutin, shalat berjamaah misalnya. Jangan lupa, senantiasa hargai setiap perubahan positif dan kesediaan suami terlibat dalam kegiatan dakwah. Semoga dimudahkan semua urusannya.. Aamiin.. (www.konsultasi.wordpress.com)

Sumber : Tabloid Media Umat, edisi 95, Januari 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: