Konsultasi Islam

Mengatasi Masalah dengan Syariah

Mengatur Waktu

Posted by Farid Ma'ruf pada 6 September 2013

Pertanyaan :

Assalamu’alaikum Wr.Wb

Ibu Pengasuh Rubrik Konsultasi Keluarga yang saya hormati, saya memiliki teman yang kesulitan dalam mengatur waktu. Sudah beberapa tahun berkeluarga, dikaruniai dua anak usia 9 tahun dan 8 bulan. Pekerjaan rumah tidak tertangani dengan baik, anak-anak juga kurang terperhatikan. Apalagi tugas dan amanahnya sebagai pengemban dakwah, banyak yang tidak dijalankan. Saya ingin membantu agar dia bisa mengatur waktu dengan baik. Semua kewajiban dapat dilaksanakan tanpa mengabaikan kewajiban yang lainnya, tetap semangat dan istiqamah. Apa yang semestinya saya sampaikan kepadanya. Jazakillah untuk sarannya.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Dewi

Bogor

 

Jawaban :

Wa’alaikumsalam Wr.Wb

Ibu Dewi yang baik,

Perubahan besar akan terjadi setelah seorang  perempuan menikah dan punya anak. Maka, semestinya perubahan keadaan ini sudah tergambar sebelum seorang perempuan memutuskan untuk menikah. Setiap peran yang kita miliki adalah sebuah anugerah dari Allah. Begitu pula menjadi ibu rumah tangga sekaligus pengemban dakwah. Semua ini membutuhkan keahlian, pengetahuan dan ketrampilan dalam menjalankannya agar berjalan dengan baik.

Ibu Dewi yang baik,

Mengatur waktu dengan baik bisa dimulai dengan membuat perencanaan. Cara ini akan membuat hidup lebih teratur. Mintalah teman Anda untuk menyusun agenda harian, mingguan, bulanan, dan seterusnya. Juga target yang ingin dicapai, meski hanya pekerjaan rumah tangga. Tuliskan daftar pekerjaan rumah tangga yang harus dilakukan, tempelkan di tempat yang terlihat. Misalnya kapan harus mencuci piring, berbelanja, menyuapi si kecil, menjalankan amanah-amanah dakwah dan lain-lain. Sejatinya, anak-anak pun lebih menyukai keteraturan dan rutinitas dalam kegiatan mereka. Jadi, jika seorang ibu pandai mengatur waktunya, anak-anak juga akan senang dan terbiasa.

Ibu Dewi yang baik,

Selain membiasakan untuk mengatur waktu, maka setiap kita semestinya memiliki prioritas dalam beraktivitas. Salah satu hal yang membantu dalam penentuan prioritas adalah status hukum aktivitas tersebut. Status hukum yang dimaksud adalah, wajib, sunah, mubah, makruh, dan haram. Yang wajib tentu saja harus diprioritaskan. Maka, seorang Muslim semestinya tidak menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak penting. Rasulullah SAW telah mengingatkan kita dalam sabdanya, untuk memanfaatkan lima kesempatan yang diberikan Allah SWT sebelum datang kesempatan yang lain.  Sehat sebelum sakit, lapang sebelum sempit, muda sebelum tua, kaya sebelum miskin, hidup sebelum mati. Biasakan untuk tidak menunda pekerjaan. Islam mengajarkan kepada kita bersungguh sungguh dalam suatu pekerjaan, kemudian segera beralih kepada pekerjaan yang lain bila pekerjaan yang pertama selesai. “Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain.” (TQS.Al-Insyirah: 7).

Ibu Dewi yang baik,

Pekerjaan berat akan terasa lebih ringan jika dilakukan secara bersama-sama. Sampaikan pada teman Anda untuk membuat tim yang solid dalam keluarga. Lakukan kerja sama dengan suami dan anak-anak. Bangunlah komunikasi yang baik dengan suami. Anak yang sudah besar biasanya sudah bisa diandalkan untuk menyelesaikan beberapa tugas tertentu. Misal dengan mengajari mereka untuk mengembalikan mainan pada kotak mainannya, membersihkan sendiri tempat tidur mereka, meletakkan pakaian kotor pada tempatnya hingga membereskan barang-barang pribadi mereka sendiri. Tanamkanlah kebiasaan ini sedini mungkin agar mereka pun terbiasa melakukannya. Jika memungkinkan, ajarkanlah pekerjaan-pekerjaan sederhana pada anak sesuai usianya.

Ibu Dewi yang baik,

Semangat atau ghirah dakwah dan sikap istiqamah memang harus selalu terjaga dalam kondisi apapun, sebelum atau sesudah menikah. Ghirah dakwah akan menurun biasanya jika mulai muncul persoalan. Langkah awal yang mesti dilakukan adalah sama-sama berkomintmen bahwa keluarga yang  dibentuk merupakan sebuah keluarga dakwah. Untuk menjaga agar semangat dakwah terus menyala,  ingatkan selalu padanya tentang pahala yang dijanjikan Allah SWT untuk para pengemban dakwah. Perhatikan dan pelajari perjuangan para pengemban dakwah di masa lalu, Rasulullah SAW dan para sahabat. Bagaimana mereka dapat selalu istiqamah dalam menegakkan kebenaran, walaupun rintangan terus menghadang. Jadikan mereka sebagai teladan sekaligus motivator agar semangat dakwah terus menyala. Perkuat perasaan Islam (nafsiyah Islamiyah), dengan melaksanakan shalat berjama’ah, shaum sunnah, qiyamul lail dan tadarus qur’an bersama-sama. Suasana ruhiyah yang terus terjaga akan membantu meringankan dalam menjalankan aktivitas dakwah dan pekerjaan rumah tangga. Pertolongan Allah kadang tidak terduga datangnya. Sampaikan juga pada teman Anda untuk melakukan shillah ukhuwah terhadap teman-teman seperjuangan yang memiliki komitmen tinggi terhadap dakwah untuk mendapatkan energi baru dalam berdakwah melalui contoh dari orang lain. Semoga Allah SWT memudahkan semua urusannya.

Sumber : Tabloid MU edisi 106

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: