Konsultasi Islam

Mengatasi Masalah dengan Syariah

Ayah dan Ibu Harus Kompak

Posted by Farid Ma'ruf pada 26 Februari 2014

Pertanyaan : 

Assalamu’alaikum Wr.Wb

Ibu Pengasuh Rubrik Konsultasi Keluarga yang saya hormati, saya seorang ibu dengan dua anak. Dalam mendidik anak-anak, terkadang ada hal-hal yang saya tidak sepakat dengan suami.  Saya bilang itu tidak boleh, tetapi suami membolehkan.  Sebagai contoh, di sekolah anak-anak  dikenalkan makan makanan yang halal dan thayib, menghindari makanan ber MSG, di rumah saya berusaha meminimalisir. Tapi jika anak-anak sedang bersama ayahnya, saat jajan dibiarkan membeli makanan ringan yang biasanya ber-MSG.  Begitu juga masalah belajar anak. Saya tahu suami  mungkin sudah  lelah, meski begitu, saya ingin  suami tetap bisa meluangkan waktu  untuk membangun suasana belajar yang menyenangkan bagi anak-anak. Dalam hal belajar, akhirnya saya yang lebih banyak berperan karena suami sibuk. Jika sedang berada di rumah pun juga sibuk dengan hal yang lain. Terkadang saya jadi kurang sabar,  marah dengan anak. Seharusnya seperti apa peran suami (ayah) dalam pendidikan anak-anak. Mohon saran, apa yang semestinya saya lakukan.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

UJ

Samarinda

Jawaban : 

Wa’alaikumsalam Wr.Wb

Ibu UJ yang baik,

Insya Allah saya bisa memahami kegelisahan yang Anda rasakan. Keluarga merupakan tempat pendidikan pertama bagi anak. Peran orang tua sangat besar dalam membentuk karakter anak. Bagaimana gaya pengasuhan yang diterapkan ayah dan ibu, aturan dalam keluarga, interaksi yang terbentuk, akan  berpengaruh pada  perkembangan anak. Sebagai orang tua, kita tentu sama-sama ingin mendidik anak-anak menjadi anak yang shalih dan shalihah. Cobalah sepakati bersama bentuk pola asuh yang akan diterapkan pada anak-anak. Ketika anak merasakan perbedaan pola asuh antara ayah dan ibunya, dikhawatirkan interaksi dalam keluarga menjadi tidak berjalan optimal.  Bisa jadi, anak akan cenderung memilih untuk dekat dengan ayahnya yang lebih longgar, sementara itu, sosok ibu yang lebih tegas akan dijauhi. Atau, anak hanya akan menaati aturan ketika sosok yang dia takuti ada di rumah. Padahal, yang diperlukan bukan anak takut kepada orang tua, tetapi anak bisa memiliki pengendalian diri yang bagus serta tetap dekat dengan orang tuanya.

Ibu UJ yang baik,

Sesibuk apapun suami Anda tentu tidak bisa begitu saja menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak pada Anda saja. Bagaimanapun peran ayah juga sangat penting, karena memang mendidik anak merupakan tanggung jawab bersama. Perlu diatur keseimbangan antara kehidupan kerja dan keluarga karena peran utama ayah dalam keluarga sebagai pencari nafkah. Artinya, ketersediaan waktu para ayah akan terbatas. Di sini, prinsip kualitas hubungan dengan anak harus lebih diutamakan dari pada kuantitas. Tentang bagaimana peran ayah dalam pendidikan anak, dapat kita lihat pada surat Luqman, yang di dalamnya terdapat kisah tentang Luqman (seorang ayah)  yang memberikan pengajaran pada anaknya. Nabi  SAW pun mencontohkan, bahkan ketika beliau sedang disibukkan dengan urusan menghadap Allah SWT (shalat), beliau tidak menyuruh orang lain untuk menjaga kedua cucunya yang masih kanak-kanak, Hasan dan Husain. Bagi Nabi, setiap waktu yang dilalui bersama kedua cucunya adalah kesempatan untuk mendidik, termasuk ketika beliau sedang shalat.

Ibu UJ yang baik,

Jadi, jika suami sibuk, dan meski Anda memiliki intensitas waktu lebih banyak bersama anak, sebaiknya suami  tetap harus ikut berperan dalam mendidik anak-anak. Bicarakan baik-baik dengan suami, sampaikan padanya kegelisahan Anda selama ini dengan bahasa yang pas. Anda tentu lebih paham sifat dan karakter suami Anda. Carilah suasana yang tepat agar tidak menimbulkan kesalahpahaman yang justru akan mengakibatkan persoalan baru. Insya Allah jika dibicarakan dengan cara baik-baik, suami akan dapat memahaminya. Toh semua ini demi kebaikan anak-anak juga. Sampaikan juga pentingnya mengarahkan anak-anak dengan pendekatan dan cara asuh yang sama.   Kerja sama atau bagi tugas antara Anda dan suami,  bisa dilakukan dalam hal apa saja. Misal, sesekali suami diminta mengantar anak ke sekolah, Anda yang menyiapkan keperluan anak. Atau, suami  membantu anak belajar, Anda memperhatikan masalah kesehatan anak. Kuncinya adalah kesepakatan antara Anda dan suami, serta  konsistensi dalam menerapkannya. Semoga Allah SWT menjadikan keluarga Anda sakinah, dan anak-anak yang shalih shalihah. Amiin…

(www.konsultasi.wordpress.com)

Sumber : Tabloid Media Umat edisi 120

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: