Konsultasi Islam

Mengatasi Masalah dengan Syariah

Poligami Mubah, Bukan Sunnah. Memahami Ayat (Perintah) Poligami

Posted by Farid Ma'ruf pada 2 Agustus 2016

Pertanyaan: 
Assalamualaikum…
Maaf Ustadz saya ingin bertanya di sini, soalnya kalau di kolom komentar saya malu, he…, Saya membaca postingan ustadz yang tentang poligami itu, bisa dijelaskan? Mengapa hukum poligami itu mubah bukan sunnah? Kedua, saya mendengar orang berpendapat terhadap Al-Qur’an surah An-Nisa ayat empat “nikahilah perempuan lain dua, tiga atau empat. Tetapi jika tidak mampu berlaku adil maka nikahilah seorang”. Bunyi ayat tersebut memerintahkan kepada kaum laki-laki untuk berpoligami terlebih dahulu, kalau tidak mampu berlaku adil baru menikah dg satu istri, sebab bunyi ayat tersebut bukan “nikahilah seorang perempuan, jika mampu berlaku adil maka nikahilah dua, tiga, atau empat”. Bagaimana pendapat ustadz mengenai hal ini?

Jawaban:

Ayat yang dimaksud adalah QS. An-Nisa ayat 3 (bukan ayat 4), yang bunyinya sbb:

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَىٰ فَانكِحُوا مَا طَابَ لَكُم مِّنَ النِّسَاءِ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ ۖ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَلَّا تَعُولُوا

Artinya:
Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.

 

Ibnu Katsir menjelaskan sababun nuzul ayat ini dalam kitab tafsirnya. Yaitu, ada seorang lelaki yang ingin menikahi anak perempuan yatim yang berada dalam asuhan walinya dan berserikat dengannya dalam harta bendanya. Si wali menyukai harta dan kecantikannya, maka timbullah niat untuk mengawininya tanpa berbuat adil dalam maskawinnya. Maka dia dilarang menikahi anak-anak yatim seperti itu kecuali jika berlaku adil dalam maskawinnya. Jika para wali tidak mampu berbuat demikian, maka dia diperintahkan menikahi wanita manapun selain dari anak yatim tersebut: jika suka boleh menikahi mereka dua orang, tiga orang, atau empat orang.

 

Ayat ini MEMBOLEHKAH LELAKI BERPOLIGAMI, sekaligus membatasi jumlahnya, MAKSIMAL 4 ISTRI saja.

 

Pengungkapan matsnâ wa tsulâsa wa rubâ‘ (dua-dua, tiga-tiga, atau empat-empat) di dalam ayat ini maksudnya adalah Allah SWT berfirman bahwa hendaknya setiap orang dari kalian mengawini wanita-wanita yang baik-baik: dua, tiga, atau empat. Artinya kawinilah oleh kalian semua dua-dua, tiga-tiga atau empat-empat orang wanita. Yakni setiap orang dari kalian (boleh) menikahi dua, tiga atau empat orang wanita.

 

Pengertian matsnâ wa tsulâsa wa rubâ‘ di dalam ayat ini sama dengan ayat lain:

جَاعِلِ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا أُولِي أَجْنِحَةٍ مَّثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ

“Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat” (QS. Fathir, 35: 1). Maksudnya di antara para malaikat itu ada yang punya 2 buah sayap, 3 buah sayap, ada pula yang punya 4 sayap.

 

Jadi, menjawab pertanyaan di atas, yang dimaksud QS An-Nisa ayat 3 ini bukanlah lelaki itu diperintahkan untuk berpoligami lebih dulu, yaitu menikahi dua, tiga atau empat, kemudian jika takut tidak akan dapat berlaku adil, maka menikahnya dengan seorang saja. Adanya bilangan di dalam ayat ini adalah PEMBATASAN JUMLAH WANITA yang boleh dipoligami dalam waktu bersamaan, maksimal 4 orang saja.

 

Makanya, ketika Ghailan ibnu Salamah ats-Tsaqafi masuk Islam beserta 10 istrinya, Rasulullah pun berkata: “Pilihlah olehmu di antara mereka empat orang saja”. Kepada Naufal ibnu Muawiyah ad-Daili yang masuk Islam bersama-sama 5 istrinya, Rasul memerintahkan kepadanya, “Pilihlah 4 orang istri saja, mana yang kamu sukai, dan ceraikanlah yang lainnya”. Lalu Naufal menceraikan salah seorang istrinya.

 

Hal ini menunjukkan ketidakbolehan memiliki istri lebih dari 4 orang dengan alasan apa pun. Jika ini berlaku untuk istri-istri yang telah ada atau sudah dinikahi, maka terlebih-lebih lagi bagi yang baru mau berpoligami. Tidak boleh lebih dari 4 istri. Andaikan diperbolehkan beristri lebih dari 4 orang, niscaya itu akan disebutkan dalam firman Allah.

 

Mengenai hukum poligami, sekalipun di dalam ayat ini bentuknya perintah menikah, tapi itu menunjukkan kemubahan. Tidak ubahnya perintah makan dan minum (كلؤا و اشربؤا), sekalipun bentuk kalimatnya adalah perintah, akan tetapi status hukumnya adalah: mubah, jaiz, boleh.

 

Tentang matsnâ wa tsulâsa wa rubâ‘ (dua-dua, tiga-tiga, atau empat-empat), Syaikh Taqyuddin An-Nabhani rahimahullah, dalam kitab an-Nidzam al-Ijtima’i fil Islam, mengilustrasikan seperti ini:

Hal itu seperti ketika kita berkata kepada sekelompok orang, ‘Bagilah oleh kalian harta ini’. Misalnya, harta itu sebanyak 1000 dinar. Kemudian kita mengatakan, ‘Bagilah oleh kalian harta itu sebanyak dua dinar dua dinar, tiga dinar tiga dinar, atau empat dinar empat dinar’. Jika bilangan yang anda ucapkan itu dalam bentuk mufrad (tanpa pengulangan), tentu tidak akan ada artinya. Karena itu, pengungkapan dengan bentuk matsnâ wa tsulâsa wa rubâ‘ (dua-dua, tiga-tiga, atau empat-empat) di dalam ayat di atas merupakan suatu keharusan sehingga apa yang ingin diungkapkan berupa jumlah (hitungan) tertentu itu bisa mengena setiap orang. Allah SWT berfirman bahwa hendaknya setiap orang dari kalian mengawini wanita-wanita yang baik-baik: dua, tiga, atau empat. Ini artinya, kawinilah oleh kalian semua dua-dua, tiga-tiga atau empat-empat orang wanita. Yakni setiap orang dari kalian (boleh) menikahi dua, tiga atau empat orang wanita

***

Itu sama dengan penjelasan Ibnu Katsir dalam tafsirnya, yang menyamakan itu dengan keterangan bahwa malaikat itu ada yang sayapnya dua, tiga, atau empat.

Kalau ada yang punya penjelasan bahwa BILANGAN di ayat ini BUKAN PEMBATASAN JUMLAH WANITA YANG BOLEH DIPOLIGAMI, melainkan urutan prioritas bahwa lelaki disuruh menikah 2,3,4, dan kalau tidak mampu adil baru 1 saja, SILAKAN TUNJUKKAN REFERENSINYA. Sebab kita sungguh takut dengan ancaman Nabi:

من فسر القرآن برأيه فليتبوأ مقعده من النار

Barangsiapa yang menafsirkan Al-Qur’an dengan pendapatnya sendiri, maka bersiaplah menempati tempatnta di neraka.

Naudzu billah min dzalik

Sumber jawaban : Status Ustadz Muhammad Ihsan Abdul Djalil di akun FB beliau di alamat sbb :
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: