Konsultasi Islam

Mengatasi Masalah dengan Syariah

Notulensi Kajian Arisan dalam Islam bersama Ust Shiddiq Al-Jawi

Posted by Farid Ma'ruf pada 25 Maret 2017

Pentingnya sebuah amal bagi seorang muslim agar selalu sesuai dengan syariah Islam karena untuk mendapatkan keridhaan Allah, begitu pula dengan forum arisan. Realitasnya saat ini, banyak ibu-ibu ataupun bapak-bapak yang mengikuti kegiatan arisan baik di sekolah, kampung, ataupun komunitas tertentu. Arisan penting untuk dikaji karena merupakan salah satu amalan yang sering dilakukan, sayangnya banyak kaum muslimin yang minim dalil salah melakukan model arisan.

Fakta arisan

Arisan adalah kegiatan sekelompok orang untuk mengumpulkan uang atau barang yg nilainya sama secara teratur untuk periode tertentu, kemudian dilakukan undian. Kegiatan undian dilakukan secara berkala sampe semua anggota kelompok mendapatkan hasil arisan. Arisan bisa berupa arisan barang maupun uang. Contohnya di ciilacap ada arisan gula, barang yg dikumpulkan adalah gula. Pada periode yang telah disepakati akan dilakukan pengundian, nama yang keluar dalam undian adalah pihak yang mendapatkan gula. Namun, arisan yg biasa dilakukan oleh masyarakat umumnya adalah arisan uang. Pelaksanaan arisan bisa mingguan, bulanan, 3 bulanan, artinya dalam periode tertentu. Pada setiap periode, uang atau barang yg dikumpulkan memiliki nilai sama. Contoh: setiap seminggu besar iuran 100 rb per orang, kalau ada 3 anggota dalam seminggu maka total iurannya menjadi 300 rb. Diundi dan ada nama yg keluar, maka orang tsb akan mendapat uang sebesar 300 rb. Begitu seterusnya untuk periode selanjutnya sampai semua anggota dalam arisan mendapatkan hasil undian. Dalam bahasa arab, arisan disebut jam’iyyah al muwazhzhafiin. Istilah lain al Furuud at ta’awuniyah, dll.

Hukum Arisan

Menurut ulama kontemporer, ada perbedaan pendapat mengenai aktivitas arisan. Ada ulama yg membolehkan dan ada ulama yg mengharamkan. Yg mengharamkan sheikh salif al-fauzan. (Tidak dijelaskan lebih detail dalil kenapa arisan diharamkan dan lupa bertanya.) Sedangkan sheik muhammad bin salih bin utsainin dan sheikh abdul aziz bin al-jibrin membolehkan dilakukannya arisan tapi ada syarat yang berlaku. Hukum arisan adalah mubah seperti mubah nya Qard menurut Sheikh Al-Jibrin. Qard yaitu pinjaman yang memiliki sifat khusus. Sehingga syarat arisan adalah tidak boleh melanggar hukum Qard atau pinjaman. Realitas arisan disamakan dengan Qard contohnya adanya iuran dari setiap anggota arisan sebanyak 100 rb, maka akan terkumpul 300 rb dari 3 anggota. Orang yg menang arisan mengambil uang sendiri (karena membayar iuran wajib arisan sebesar 100 rb) dan mengambil pinjaman dari kedua anggota lainnya (iuran wajib dari anggota lainnya sebesar 200 rb). Iuran wajib dari anggota lain inilah yg sejatinya adalah pinjaman yang akan dikembalikan oleh si pemenang undian di periode selanjutnya. Kapan mengembalikannya? Yaitu periode selanjutnya ketika membayar iuran wajib arisan kembali. Karena sejatinya arisan adalah aktivitas untuk memberikan pinjaman atau hutang satu sama lain. Sehingga dapat disimpulkan hukum syariat yg berlaku dalam aktivitas arisan adalah Qard. Hukumnya boleh TAPI syaratnya harus sesuai dengan hukum-hukum pinjaman. Selama arisan tidak melanggar hukum Qard, maka arisan hukumnya mubah, jika sampai melanggar hukum Qard maka hukumnya menjadi haram.

Contoh Arisan yangg Melanggar Qard

Haram hukumnya, jika ada anggota membayar iuran lebih banyak, agar anggota ini mendapat arisan lebih awal. Misal Si A ada keperluan membeli sesuatu, pada saat periode tertentu menambah jumlah iuran wajib arisan. Iuran wajib 100 rb, lalu ditambah uangnya 50rb untuk dibagikan kepada anggota lainnya agar si A menjadi pihak yg dimenangkan dalam arisan pada periode tersebut. Hal ini tidak boleh, baik menambah sendiri atau dilelang. Karena dalam Qard antara yg dipinjam dan yg dikembalikan haruslah sama. Begitupun dalam arisan, jumlah iuran harus tetap tidak boleh ada kelebihan ketika masa iuran. Sehingga, jika ada penambahan karena ada anggota yg ingin mendapatkan arisan lebih dulu, maka aktivitas ini termasuk dalam kategori riba. Contoh lainnya haram pula terjadi pemotongan iuran arisan dengan alasan untuk uang konsumsi atau biaya administrasi. Iuran yg didapat 300rb, ketika ada yg menang hanya diberikan 275 rb, karena 25 rb digunakan untuk membayar uang konsumsi ataupun administrasi. Hal ini tidak boleh. Karena aktivitas ini termasuk riba. Biaya konsumsi dan administrasi seharusnya bukan memotong uang arisan, tapi menggunakan iuran tersendiri tidak masuk iuran arisan. Dalam hukum Qard, jumlah pinjaman harus dikembalikan dengan jumlah yg sama tidak boleh ada penambahan maupun pengurangan. Hal ini dijelaskan oleh Sheikh Taqiyyudin An-Nabhani dalam kitabnya berjudul nizdhamul iqtishad fil islam halaman 256.

Contoh arisan yg tidak boleh lainnya yaitu haram pula aktivitas arisan barang. Contohnya arisan buku, hp, alat elektronik, krudung, dsb. Hukumnya haram. Realitas arisan barang yaitu pengumpulan uang dari beberapa orang lalu dibelikan barang senilai uang arisan. Diharamkan karena melanggar hukum Qard. Mengapa? Dalam Qard, jika yang dipinjam adalah uang maka yang dikembalikan haruslah dalam bentuk uang. Misalnya Si A pinjam uang B senilai 1 jt, maka harus dikembalikan dalam uang sejumlah 1 jt. Bukan dalam bentuk emas atau pun barang lainnya. Pinjam uang harus kembali dalam bentuk uang. Atau meminjamkan dalam bentuk rupiah, lalu dikembalikan dalam bentuk dollar AS, ini juga tidak boleh. Rupiah diganti rupiah. Begitu pula ketika dalam arisan iuran berupa barang namun dikembalikan dalam bentuk uang, hal ini juga diharamkan. Contoh arisan gula, tp yg didapat pemenang adalah uang. Ini tidak boleh. Jika barang dikembalikan dalam bentuk uang, atau uang dikembalikan dalam bentuk barang, bisa terkategori riba. Sehingga perlu dipahami hukum arisan agar tidak terjebak riba.

Sesi Tanya Jawab:

  1. Biasa melakukan arisan barang, apalagi untuk barang yang harganya mahal. Ex: buku yg mahal. Uang ditukar barang. Sekarang udah jalan, tinggal 2 bl lagi. Lantas bagaimana?

Arisan barang masih bisa diberi solusi. Ada dua solusinya yaitu arisan barang diteruskan tetapi peserta diberi opsi bisa menerima uang atau boleh barang. TIDAK BOLEH harus menerima barang. Kalau opsi ini tidak dibuka bisa melanggar hukum Qard. Jika tidak ada opsi lain pasti melanggar hukum Qard. Solusi kedua, kalau peserta arisan memilih barang HARUS dilakukan akad jual beli. Pertama di awal ada aqad arisan, kedua ada akad jual beli. Misal: harga buku 4 jt, dibuka opsi dapat uang atau barang. Jika minta uang, maka diberikan uang. Jika minta barang, barang ditunjukkan, maka buat akad jual beli. Jika tidak ada akad jual beli, nanti bisa terjadi dua akad dalam 1 aktivitas. Hal ini tidak boleh. Sehingga perlu adanya pelafalan akad yg lain. Tidak cukup hanya akad arisan di dalam, agar tidak terjadi multi akad atau akad gabungan. Kalau arisan barang ada dua akad: Qard dan Jual Beli. Ibnu Mas’ud RA berkata,”Nabi SAW melarang dua kesepakatan dalam satu kesepakatan (shafqatain fi shafqatin)” (HR Ahmad, Al-Musnad, I/398). Para ulama sepakat bahwa kesepakatan yang dimaksud dalam hadits tersebut didefinisikan sebagai akad.

Haram hukumnya satu akad menjadi syarat untuk akad yg lain. Jika dua akad terpisah, maka diperbolehkan.Contoh akad gabungan: gabungan akad antara sewa dengan jual beli. Misal ada kasus si A jual motor kepada si B, dengan syarat si B harus mengontrak rumah si A. Disini akad mengontrak rumah menjadi syarat akad jual beli motor, termasuk akad gabungan, karena ada akad jual beli dan ijarah dalam satu waktu.

Contoh lainnya: akad jual beli ditambah dengan jual beli juga tidak boleh. Misalnya si A membeli laptop dari si B, si B diharus mau beli Hp si A. Hal ini juga termasuk akad gabungan. Contoh lainnya: akad jual beli dg akad nikah. Misalnya ada janda punya rumah. Dia membuat sayembara jika ada yg mau menikahi dia, harus juga dengan membeli rumah si janda tadi. Hal ini juga termasuk multi akad, karena akad beli menjadi syarat akad nikah. Beda kasusnya jika si Janda menjual rumah, dan memberikan opsi kalau cocok boleh juga dengan menikahinya. Sehingga, menikah bukan menjadi syarat pembeliah rumah. Ada dua opsi.

Maka solusi untuk masalah pertanyaan tadi dengan memberikan opsi kepada pemenang undian untuk mendapatkan arisan dalam bentuk uang atau barang. Kalau pemenang minta uang, maka uang harus diberikan. Akan tetapi jika meminta buku maka ada aqad jual beli yg dibedakan dengan aqad arisan. Misal pemenang dapat uang sekian kemudian ditawari mau beli buku X? Kalau ketika ditawari mau baru terjadi aqad jual beli. Intinya kalau ada dua akad, maka harus ada pelafalan kedua akad tersebut jangan disatukan. Karena arisan uang yg mengharuskan mendapatkan barang termasuk dalam kategori menggabungkan dua akad. Sehingga dua akad ini harus dipisah dengan memberi opsi BUKAN mengharuskan. Sehingga akad beli dan arisan bisa berbeda.

  1. Si A ikut arisan., lalu A meninggal dalam periode arisan masih ada dan ada yg belum dapat arisan, bagaimana solusinya ustadz?

Jika ada anggota arisan yg wafat maka diteruskan oleh ahli waris. Arisan sama dengan Qard. Iuran arisan diambil dari harta si Mayyit sebelum harta di bagi dg ahli waris. Hal ini terkait dg hukum warisan. Biaya yg harus dikeluarkan dari harta mayyit yaitu harta yg digunakan untuk biaya penyelenggaraan jenazah. Kedua untuk wasiat. Wasiat yaitu ketika semasa hidupnya mau memberikan sesuatu pada orang lain tp pemberian sesuatu dilakukan setelah dia meninggal: Wasiat, diperbolehkan dalam islam, tapi max 1/3 dari harta warisan. Ketiga untuk membayar utang, termasuk arisan. Harus dihitung berapa besarnya lalu dibayarkan. Atau adanya zakat mal, zakat perdagangan tp belum membayar saat meninggal maka masuk sebagai hutang dan harus dibayarkan.

  1. Arisan barang diperbolehkan jika sama2 barang yg didapat. Ada kasus arisan barang dengan harga yg berbeda-beda: ex di satu periode bisa dapat TV, dispenser atau barang lainnya. Dan setiap periode biaya iuran berbeda beda. Jika barang murah, maka besar iuran kecil, jika barang harga mahal, maka iuran menjadi mahal.

Hal ini lebih parah karena namanya judi secara bergilir. Karena ada pihak yg menang ada pihak yg kalah. Satu periode dg periode setelahnya memiliki perbedaan barang dan beda jumlah iuran. Jika ingin dapat barang, maka jumlah setoran harus sama, barang sama, dan ada opsi bagi si pemenang. Solusi atas masalah ini yaitu jika pengen barang, tp tidak punya uang tunai, maka sebaiknya menabung.

  1. Dalam sebuah aktivitas rental motor ada sistem lelang: Tetapi tidak boleh dilakukan adanya pengecekan terhadap kondisi motor. Kasusnya yg dilelang 140 motor, yang didapat 21 motor, pas di cek mesin ngebul alias tidak normal. Bagaimana hukumnya?

Hal ini termasuk hukum gharar yaitu adanya ketidakpastian. Hukumnya haram. Adapun larangan jual beli gharar dalam hadis Nabi sesuai dengan hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa,“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli alhashah dan jual beli gharar”.

  1. Apakah hukum tukar tambah?

Ustadz sidiq belum berani menjawab, masih perlu melakukan pengkajian fakta.

(www.konsultasi.wordpress.com)

Sumber : Sumber : https://www.facebook.com/notes/halimah-nur-fitriyani/notulensi-kajian-arisa-dalam-islam-bersama-ust-sidiq-al-jawi/1020118738089348

Tulisan terkait :
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: