Konsultasi Islam

Mengatasi Masalah dengan Syariah

Jika Anak Suka “Mengganggu”

Posted by Farid Ma'ruf pada 12 November 2013

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Ibu Pengasuh Rubrik Konsultasi Keluarga yang saya hormati. Saya seorang ibu yang memiliki anak usia 3,5 tahun. Bagaimana mengatasi anak usia 3,5 tahun yang kadang suka “mengganggu” saat ibunya  sedang mengisi kajian? Anak sering minta beli jajan, dan kalau tidak dituruti menangis. Padahal sudah disiapkan dari rumah, baik makanan, minuman maupun mainan kesukaannya. Sebelumnya juga sudah diberi pengertian, kalau ibu sedang mengaji tidak boleh rewel atau menggangu. Jazakillah untuk jawabannya.

Wassalaamu’alaikum Wr.Wb.

SH

Jateng

Jawaban :

Wa’alaikumsalam Wr.Wb

Ibu SH yang baik,

Mendidik anak memang bukan pekerjaan mudah, butuh ilmu dan kesabaran. Apa yang Anda alami, saya rasa juga banyak dialami oleh ibu-ibu lainnya. Dua peran sekaligus yang kadang mesti dilakukan bersama, mengasuh dan mengaji atau mengisi kajian. Tentu ini bukan pekerjaan mudah. Anak usia 3,5 tahun biasanya  sudah mulai mandiri, tetapi emosinya masih cepat berubah. Jadi sangat wajar, bila muncul kejadian di luar dugaan, meski Anda sudah menyiapkan keperluan anak sebelum berangkat, dan memberikan pengertian pada ananda untuk tidak rewel selama Anda mengaji. Cobalah Anda pahami dengan cermat karakter dan perkembangan Ananda. Belajarlah berpikir positif terhadap perilakunya. Bukankah anak seusianya masih terus  dalam proses belajar?

Ibu SH yang baik

Setiap anak diberikan potensi hidup oleh Allah SWT, salah satunya berupa naluri untuk mempertahankan diri. Tangisan, merupakan salah satu manifestasi dari naluri mempertahankan diri pada anak, yang biasanya dijadikan senjata ampuh anak-anak usia balita ketika meminta sesuatu yang diinginkan. Tangisan,  juga menjadi cara efektif yang dilakukan anak-anak untuk menarik perhatian orang tuanya. Anda sebaiknya  menghadapi setiap  rengekan Ananda dengan cara yang tepat. Selalu mengabulkan permintaannya ketika menangis saat menginginkan sesuatu, minta jajan misalnya, akan  membuatnya belajar bahwa ia bisa mendapatkan apapun yang ia inginkan dengan menangis. Dan tentu saja ini bukan suatu pendidikan yang baik buat ananda. Anak yang kemudian menjadi susah diatur, biasanya berawal dari lemahnya aturan yang dibuat orang tua,  ketidakmampuan orang tua untuk berkata tidak pada anak, dan disiplin yang tidak konsisten.

Ibu SH  yang baik,

Yang Anda lakukan selama ini sudah baik. Menyiapkan keperluan si kecil dari rumah. Makanan kesukaan, minuman ataupun mainannya. Kebiasaan ini bisa diteruskan.  Ketika ananda mulai rewel, sebenarnya yang dia butuhkan adalah perhatian Anda. Cobalah Anda alihkan konsentrasinya pada hal lain yang menarik perhatiannya. Hal ini bukan berarti menghindarkan anak pada suatu masalah. Tapi mengajarkan pada ananda untuk menunda atau mengalihkan, bahwa setiap keinginan yang merupakan manifestasi dari naluri  tidak harus dipenuhi. Ajak ananda bicara seperlunya, dengarkan keluhannya, ajak bermain sebentar, putarkan lagu-lagu atau film kesukaannya yang sudah Anda simpan di HP misalnya.  Hal-hal yang menyenangkan akan menjadi sarana yang baik bagi anak untuk menyalurkan emosinya. Sentuhan juga terbukti ampuh untuk meredam emosi anak. Anda bisa memeluknya sebentar atau mengusapnya, kalau dia mau. Atau, biarkan saja ananda menangis. Seringkali, dengan bersikap tidak mempedulikan anak yang sedang rewel juga jadi cara yang tepat,   berangsur-angsur anak akan normal kembali dengan sendirinya. Anda memang harus sedikit ”tega” mendengar ananda menangis. Jika memungkinkan, berpindahlah tempat kajian yang tidak merangsang anak untuk kepingin jajan.

Ibu SH yang baik,

Mempunyai anak yang patuh tentunya sangat menyenangkan. Berikan pujian, perhatian dan hadiah sebagai penghargaan,  jika ananda menunjukkan perilaku yang baik, sesuai dengan yang Anda kehendaki. Pelukan, tepukan, beberapa kata pujian, atau hadiah sederhana, akan membuat anak ingin mengulang kembali perilaku baiknya. Untuk mempertahankan perilaku yang baik, pastikan Ananda mendapat lebih banyak perhatian atas perilaku baiknya dari pada perilaku buruknya. Islam juga telah memberikan gambaran tentang pentingnya memberikan hadiah. Disunnahkan untuk memberikan hadiah apabila dalam rangka menyambung silaturahim, memupuk kasih sayang dan rasa cinta. Memberikan hadiah pada anak di samping untuk menumbuhkan motivasi, harga diri dan kepercayaan diri, tentu juga merupakan ekspresi kebahagiaan dan bentuk kasih sayang yang diberikan orang tua, karena anak berhasil melakukan suatu kebaikan.  Rasulullah SAW bersabda:

“Hendaknya kalian saling memberi hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR. Bukhari)

Semoga ananda menjadi anak yang shalih, yang senantiasa membahagiakan kedua orang tuanya.

Sumber : Tabloid MU edisi 115

Tulisan terkait :

1.  Jika Anak Sering “Berulah”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: